Penjelasan Tentang Syarat Sah Shalat dan Batasan Aurat Saat Mengerjakannya

Penjelasan Tentang Syarat Sah Shalat dan Batasan Aurat Saat Mengerjakannya

Almunawwar.or.id – Shalat yang merupakan salah satu amalan bagi setiap umat islam baik itu shalat sunat maupun shalat fardhu itu bagi setiap musholli (orang yang akan mengerjakan shalat) harus mengethaui terlebih dahulu tentang syarat sah shalat itu sendiri, Karena tidak akan sah sebuah perkara yang di syaratkannya terkecuali harus di penuhi syarat tersebut, Daripada itulah mengetahui, megerjakan dan mengamalkan syarat sahnya shalat itu teramat penting sekali.

Artinya jika kita ingin mengerjakan sebuah amalan contoh shalat misalnya maka sebelumnya harus menyelelesaikan tahapan-tahapan yang menjadi syaratnya, Jangan sampai hal yang di kerejakan tersebut mubadzir atau sia-sia karena memang tidak memperhatikan apa yang di syaratkannya, Jadi sebelum memasuki ke ranah yang pokok yaitu rukun shalat, maka alangkah lebih pentingnya mengetahui terlebih dahulu tentang permasalahan yang menjadi syaratnya.

Syarat di ibaratkan sesuatu yang mengesahkan sebuah perkara, sedangkan rukun itu objek perkerjaan yang bisa jadi kedudukan hukmnya jika bisa melaksanakan syarat tersebut. Terlebih dalam masalah sha;at sendiri itu senantiasa bagi si Musholli tidak hanya memperhatikan syarat lahirnya saja seperti dari tempat, pakaian dan sesuatu yang di bawa ketika shalat, Namun alangkah lebih baiknya untuk senantiasa memperhatikan lebih jauh dari syarat bathin ketika akan shalat.

Mengapa dikatakan demikian? Karena memang dalam islam tidak hanya masalah lahiriyah saja, akan tetapi dalam masalah bathiniyah juga itu hal yang sangat di pentingkan, Jadi sebelum melangkah ke hal yang lebih dalam lagi, Mari kita kaji dan bahas bersama-sama mengenai hal apa saja yang termasuk pada serangkaian syarat sah shalat. Dalam beberapa kitab fiqih di jelaskan di antaranay yang terdapat pada kitab Safinatunnaja menerangkan bahwa :

Syarat Sah Shalat

(فَصْلٌ) شُرُوْطُ الّصَلَاةِ ثَمَانِيَّةٌ : طَهَارَةُ الْحَدَثَيْنِ وَالَّطَهَارَةُ عَنِ الّنَجَاسَةِ فِيْ الّثَوْبِ وَالْبَدَنِ وَالْمَكَانِ وَسَتْرُ الْعَوْرَةِ وَاسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ وَدُخُوْلُ الْوَقْتِ وَاْلعِلْمُ بِفَرْضِيَّتِهَا وَأَنْ لَايَعْتَقِدَ فَرْضًا مِنْ فُرُوْضِهَا سُنَّةً وَاجْتِنَابُ الْمُبْطِلَاتِ

1. Suci dari hadats besar dan kecil.
2. Suci pakaian, badan dan tempat dari najis.
3. Menutup aurat.
4. Menghadap kiblat.
5. Masuk waktu sholat.
6. Mengetahui rukun-rukun sholat.
7. Tidak menganggap fardu dari setiap fardu shalat sebagai sunat ( harus mengerti dengan jelas antara yang fardu dengan yang sunat)
8. Menjauhi semua yang membatalkan sholat.

اْلأَحْدَاثُ اِثْنَانِ : أَصْغَرُ وَأَكْبَرُ . فَالْأَصْغَرُ مَاأَوْجَبَ الْوُضُوْءَ . وَاْلَأكْبَرُ مَاأَوْجَبَ الْغُسْلِ *
اَلْعَوْرَاتُ أَرْبَعٌ : عَوْرَةُ اَلَّرَجُلِ مُطْلَقًا وَاْلأَمَةِ فِيْ الْصَّلاَةِ مَا بَيْنَ الّسُرَّةِ وَالّرُكْبَةِ وَعَوْرَةِ الْحُرَّةِ فِيْ الّصَلَاةِ جَمِيْعُ بَدَنِهَا مَا سِوَئ الْوَجْهِ وَاْلكَفَّيْنِ وَعَوْرَةُ الْحُرَّةِ وَالْاَمَةِ عِنْدَ الْاَجَانِبِ جَمِيْعُ الْبَدَنِ وَعِنْدَ مَحَارِمِهِمَا وَالّنِسَاءِ مَا بَيْنَ الّسُرَّةِ وَالُّرُكْبَةِ

Macam Macam Hadats
Hadats kecil adalah hadats yang mewajibkan seseorang untuk berwudhu’, sedangkan hadats besar adalah hadats yang mewajibkan seseorang untuk mandi.
Macam macam aurat:

Batasan Aurat Saat Shalat
1. Aurat semua laki-laki (merdeka atau budak) dan budak perempuan ketika sholat, yaitu antara pusar dan lutut.
2. Aurat perempuan merdeka ketika sholat, yaitu seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan.
3. Aurat perempuan merdeka dan budak terhadap laki-laki yang ajnabi (bukan muhrim), yaitu seluruh badan.
4. Aurat perempuan merdeka dan budak terhadap laki-laki muhrimya dan perempuan, yaitu antara pusar dan lutut.

Catatan :

Batas aurat adalah antara pusar sampai lutut bagi orang laki-laki. Jadi, misalnya memakai sarung maka gulungan sarung agar berada di atas pusar, sedangkan ujungnya berada di bawah lutut. Ujung sarung sunnat berada di atas mata kaki.

Sedangkan aurat bagi perempuan adalah semua bagian tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Yang perlu diperhatikan dalam pemakaian rukuh, wajah bagian pinggir juga harus ditutupi termasuk juga dagu bagian bawah. Sebaiknya, menggunakan rukuh dengan model tidak terpotong untuk menghindari terbukanya aurat pada saat takbir atau rukû.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id