Pentingnya Literasi Bagi Santri Untuk Filterisasi Hoax dan Radikalisme

Pentingnya Literasi Bagi Santri Untuk Filterisasi Hoax dan Radikalisme

Almunawwar.or.id – Dalam mengimbangi perkembangan dunia informasi saat ini memang sangat dibutuhkan sebuah literasi bagi setiap diri, tidak terkecuali bagi seorang santri sebagai salah satu tunas harapan bagi negara dan Agama ini.

Makna dan harapan yang di tumbuh kembangkan dalam jiwa samtri ini memang sangat di harapkan oleh publik akan mampu menunjukan peranannya terhadap sisi negatif dari perkembangan dunia informasi saat ini. Khususnya yang berbau hoax dan radikalisme sebagai biang dari adanya ketidaknyamanan bagi orang banyak.

Untuk itu penting sekali kiranya menerapkan metode pembeljaran akan santri-santri yang moderat, yang di bekali dengan ilmu dunia dan akhirat. Dalam hal ini beberapa tokoh penting ulama terkemuk di indonesia mengadakan penelitian sekaligus penyurveian terhadap pentingnya literasi bagi seorang santri.

Santri harus melek literasi. Minimal bisa menulis berita, opini dan syukur-syukur bisa menulis buku dan kitab. Jangan sampai ada santri yang menjadi korban berita hoaks.

Maka prinsip bermedsos, karena saat ini banyak ponpes memperkenankan santrinya membawa gawai, para santri harus memegang teguh etika, logika dan juga prinsip muamalah medsosiyah sesuai Fatwa MUI.

Dengan penegasan terhadap aspek dalam membuat, membagikan, memviralkan suatu berita tanpa adanya tabayun, maka sama saja membagikan kotoran pada orang lain. Itulah sebabnya sistem literasi ini harus di tanamkan pada setiap jiwa santri.

Disiplin tabayun harus diutamakan ataupun secara minimal mampu menerapkan pola kerja wartawan, terutama dalam kemampuan baca-tulis. Tapi secara umum didefinisikan sebagai kemampuan melek aksara melalui kegiatan catur tunggal bahasa, yaitu membaca, menulis, menyimak dan berbicara.

Meskipun belakangan ini ada pendapat penambahan aspek melek komputer, IT dan media, itu salah satu definisi literasi. Makanya tahap literasi itu ada tiga, praliterasi, literasi dan pascaliterasi.

Kita juga harus melakukan gerakan literasi untuk melawan serangan hoaks yang selama ini banyak ditujukan pada kiai dan ulama kita. Makanya, pilar literasi berupa baca, tulis dan arsip harus jalan.

Selain itu juga Santri harus lihai membaca, wajib melakukan publikasi dan pengarsipan, baik itu berupa artikel di koran, buletin, majalah maupun buku bahkan kitab kuning.

Sebab yakin, kalau kemampuan literasi semua santri mapan, maka soal memperkuat persatuan, kesatuan dan kebhinekaan akan mudah digapai dan dipertahankan.

Untuk itu tradisi menulis di kalangan santri tidak boleh hanya sekadar formalitas, tetapi mampu memaknai hal-hal yang terjadi dan berkembang selama ini terutama yang menyoroti agama Islam.

Minimal santri harus menguasai unsur berita itu yaitu 5 W dan 1 H, kalau tidak ada itu, itu berarti belum memenuhi kaidah jurnalistik.

Sebab dalam jurnalistik ada istilah bad news is good news. Makanya, banyak media yang mengedepankan opini daripada berita. Padahal dalam berita, tidak boleh ada unsur opininya. Maka pilihlah berita yang tidak bombastis, karena biasanya yang bombastis itu hoaks.

Dengan merespon positif dukungan kepada para santri agar melek literasi, itu artinya santri zaman sekarang berada dalam zona banjir informasi.

Untuk sesungguhnya prestasi santri terbaik tidak hanya di bidang kajian Islam, namun yang paling terlihat adalah bisa memaksimalkan karya jurnalistik yang nyata, agar senantiasa berhati-hati serta bisa memfilterisasi dampak dari pesatnya dunia informasi saat ini.

Wallohu A’lamu
Semoga Bermanfaat.