Peradaban Wali Pitu Penyebar Islam di Bali dan Tingkatan Golongan Pada Masanya

Peradaban Wali Pitu Penyebar Islam di Bali dan Tingkatan Golongan Pada Masanya

Almunawwar.or.id – Terlahirnya sebuah pandangan dan gagasan dalam memecahkan sebuah permasalahan hidup yang nantinya akan menjadi sebuah buih bagi kemasalahatan dan kemanfaatan banyak orang itu tidak lepas dari pola pikir dan dedikasi seorang tokoh yang relevan dan bijak.

Termasuk dalam urusan kemasalahatan umat sendiri yang memang sangat di butuhkan satu figur penting dalam memimpin sekaligus mengomandoi dalam semua tatanan nilai kemasalahatan tersebut, salah satunya dari manfaat besar yang bisa di rasakan oleh masyarakat di sebuah lingkungan tersebut dan sekitarnya.

Sebab hadirnya satu itu merupakan hasil dari pada perjuangan yang tidak kenal henti-hentinya yang di lakukan oleh seorang tokoh ataupun pejuang dan juga seorang Ulama yang sealu senantiasa menyebarkan dakwah-dakwah islamiyyahnya supaya dapat melahirkan sebuah tuntunan masyarakat yang madani.

Meskipun harus berjibaku dengan nilai minoritas sebuah lingkungan dan kepercayaan masyarakat setempat, akan tetapi luhurnya perjuangan tersebut senantiasa akan memberikan pelita baru untuk tetap menunjukan nila-nilai panji islam yang sesungguhnya di bumi nusantara ini.

Dan hal inilah rupanya yang menjadi tapak tilas dari hasil perjuangan beberapa Ulama terdahulu di sebuah pulau yang terkenal akan keindahan panorama alamnya juga kental akan kultur dari kehinduannya yaitu pulau Bali, dimana wali pitu ataupun wali tujuh adalah bagian dari tonggak sejarah tersebut.

Jika di jawa di kenal oleh masyarakat luas dalam sgi penyebaran islam itu adalah wali songo, maka di Bali sendiri itu di kenal dengan sebutan wali pitu,

Bali yang termasyhur sebagai Pulau Dewata dan tujuan wisata nomor wahid di Indonesia juga menyimpan khazanah dakwah Islam. Jika di Jawa di ketahui ada Wali Songo, di Bali ada Wali pitu (7) alias Sab’atul Awliya’ . Sebagaimana makam para wali di Jawa, makam tujuh wali di Bali juga di ziarahi kaum muslimin.

Di beberapa tempat terdapat makam para wali, seperti di Denpasar, Karangasem, Tanah Lot. Jumlahnya tujuh, karena itu disebut juga Wali Pitu. Seperti halnya makam Wali Songo di Jawa, makam ketujuh wali di Bali juga sering di ziarahi kaum muslimin dari berbagai penjuru tanah air.

Seperti halnya di kompleks makam para wali di Jawa, di sekitar makam Wali Pitu di Bali juga tumbuh pasar rakyat tradisional seperti warung-warung makan, pedagang bakso, toko buku dan kitab. Tentu saja juga ada yang berjualan berbagai peralatan ibadah seperti baju koko, sarung, kopiah, tasbih, minyak wangi.

Pulau Bali menyimpan jejak dakwah Islam yang masyhur yang turut menambah deret tujuan pariwisata di pulau yang dikenal sebagai pulau dewata. Terdapat 7 (tujuh) makam wali yang dianggap keramat yang tersebar di beberapa tempat, karena itu disebut juga Wali Pitu atau Wali Tujuh, yang hingga saat ini kerap diziarahi kaum muslim maupun non muslim dari berbagai penjuru tanah air.

Mereka adalah Wali Pitu (7) Sab’atul Awliya’:
1. Raden Mas Sepuh/ Pangeran Amangkuningrat (Keramat Pantai Seseh)
2. Habib Umar bin Maulana Yusuf Al Maghribi (Keramat Bukit Bedugul)
3. Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar Al Hamid (Keramat Pantai Kusamba)
4. Habib Ali Zainal Abidin Al Idrus (Keramat Karangasem)
5. Syeikh Maulana Yusuf Al Baghdadi Al Maghribi (Keramat Karangasem)
6. Syeikh Abdul Qodir Muhammad (Keramat Karangrupit)
7. Habib Ali bin Umar bin Abu Bakar Bafaqih (Jembrana)

Islam telah masuk ke Pulau Bali semenjak abad ke-15 M, yang dibuktikan oleh catatan lokal saat Dalem Ketut Ngelesir menjadi raja Gelgel pertama (1380—1460 M) dan mengadakan kunjungan ke keraton Majapahit atas undangan Prabu Hayam Wuruk. Beliau pulang ke Bali dengan diiringi 40 (empat puluh) orang dari Majapahit, yang konon di antara mereka terdapat Raden Modin dan Kiai Abdul Jalil.

Peristiwa ini dijadikan patokan masuknya Islam di Pulau Bali yang bermula di kerajaan Gelgel, dan berkembang terus hingga saat ini.

Tujuh Golongan Masyarakat di Zaman Wali Songo
Menurut Sejarawan NU, Agus Sunyoto, pada zaman Walisongo terdapat tujuh struktur atau golongan masyarakat yang ditetapkan secara unik.

1. Golongan Brahmana
Golongan tersebut diukur dari keterikatan seseorang dengan kebutuhan duniawi. Makin kuat keterikatan dengan materi duniawi, posisi seseorang paling rendah. Sementara orang yang tak memiliki keterikatan dengan duniawi, posisinya paling atas.

“Itulah golongan Brahmana. Mereka ini tinggal di hutan, di pertapaan, tidak pula punya kekayaan pribadi. Nah, mereka menempati posisi paling tinggi.

2. Golongan Ksatria
Golongan orang yang tidak diperbolehkan memiliki kekayaan pribadi tapi kehidupannya dijamin oleh institusi negara. “Waktu itu sudah ada istilah korupsi, korupsi itu kan mengumpulkan harta untuk pribadi.

“Jadi, kalau ada ksatria punya kekayaan pribadi disebut ksatria panten: ksatria yang jatuh martabatnya. Dia tidak boleh dilayani. Kalau perlu dikucilkan.

3. Golongan Waisya
Yaitu golongan petani. Dia memiliki tugas menumbuhkan tanaman makanan untuk manusia. “Dia lebih rendah. Kenapa? Karena sudah punya rumah, sawah, dan ternak.

4. Golongan Sudra
Menurut kitab Salokantara dan Nawanadya, yang dimaksud kaum Sudra itu ada beberapa kalangan:
(1) Saudagar yaitu orang yang memiliki kekayaan lebih pikirannya selalu tentang keuntungan
(2) Rentenir (orang yang membungakan uang)
(3) Orang yang meminjamkan perhiasan, pakaian, termasuk juga tuan tanah dan pemilik aneka kekayaan lainnya.

“Jadi, makin besar kekayaan seseorang, makin rendah kedudukannya. Mungkin konglomerat sekarang zaman dulu disebut Mahasudra. Karena kekayaannya berlebihan.

5. Golongan Candala
Yakni orang yang hidup dari membunuh makhluk lain. “Jagal, pemburu, itu masuk di sini. Bahkan, aparat negara yang bergelar Singanegara dan Singamenggala, yaitu algojo yang membunuh pelanggar aturan pun masuk golongan ini.

6. Golongan Mleca
Yaitu semua orang asing yang bukan pribumi dan saudagar. Itu salah satu sebab Islam tidak mudah diterima masyarakat waktu itu. “Yang bawa Islam ke sini kan orang asing, dan saudagar yang sudra.

7. Golongan Tuja
Mereka yang hidupnya selalu merugikan masyarakat. Siapa mereka? Disebutkan riil, mereka adalah para penipu, pencuri (maling), perampok, begal, dan sejenisnya.

Lalu jika di definiskan termasuk golongan manakah Walisongo tersebut? Menurut Agus, para Walisongo menempati posisi Brahmana. Para sunan tersebut dianggap masyarakat sebagai orang suci. Oleh karena itu, Islam dengan mudah diterima penduduk.

Jika ditarik ke era kekinian, kiai merupakan gelar kebangsawanan brahmana. Bahkan, zaman Majapahit sudah ada gelar tersebut. Hingga zaman Mataram, orang yang tidak bergelar kiai tidak boleh mengajar.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
gusdurfiles.com
nu.or.id