Perbedaan Antara Ittifaq dan Ijma Serta Penjelasan Makruh Tahrim Dan Makruh Tanjih

Perbedaan Antara Ittifaq dan Ijma Serta Penjelasan Makruh Tahrim Dan Makruh Tanjih

Almunawwar.or.id – Adalah sebuah penyelesaian hukum yang berdasarkan keterangan dalil dari beberapa sumber hukum islam untuk di mufatakan sebagai jalan dari seuah keputusan berdasarkan hasil musyawarah para Ulama dalam dan pada menetapkan sebuah persoalan dan kedudukan masalah.

Itulah salah satu gambaran yang di maksud dengan Ittifaq dan Ijma yang memang keduanya memiliki persamaan juga perbedaan, meskipun dalam penegertian tersebut mengarah pada sebuah hasil masalah yang keluar dari sebuah kesepakatan dari mereka para ahli ilmu agama (Ulama).

Dan kedua istilah tersebut sering sekali di gunakan dalam memecahkan berbagai permasalahan umat, terlebih yang sedang di hadapi saat ini. Dimana kemufakatan berdasarkan ijtihad nya para Ulama yang melalui berbagai macam pemikiran serta keapikannya dalam memberikan sebuah putusan kedudukan hukum.

Yang dimana untuk bisa menetapkan kedudukan hukum tersebut mereka (Para Ulama) melaksanakannya dengan amalan-amalan penting yang sangat di anjurkan seperti shalat sunat istikharah, shalat tahajjud bahkan berpuasa sambil memohon petunjuk dari Allah S.W.T supaya di berikan jalan keluar dari segi kemaslahatannya.

Sehingga tidak serta merta para Ulama dalam menetapkan ksespakatan sebuah hukum, namun itu melalui mekanisme proses yang di jalaninya dan penuh pertimbangan pasti yang di tilik dari hukum agama dan hukum negara, sebelum pada akhirnya bisa memberikan kemufakatan berdasarkan musyarah yang di adakan.

Ataupun dalam memfatwakan kedudukan sebuah objek hukum, seperti tingkatan dari hukum haram, halal ataupun yang di maksud dengan makruh tahrim (sesuatu yang makruh namun mendekati pada haram) juga dari permasalahan makruh tanjih lainnya yang memang menjadi buah bibir di semua kalangan umat.

Nah supaya lebih luas dan mengerti terhadap permasalahan yang di bahas tadi, berikut penjelasan mengenai perbedaan antara ittifaq dan ijma juga penjelasan mengenai bedanya haram dan makruh tahrim menurut pandangan ilmu fiqh berdasarkan keterangan dan dalil yang terlampir dari qaul para Ulama.

Perbedaan Ittifaq dan Ijma

والجواب على سؤالك أن الظاهر كون وجود الفرق بين المصطلحين، فاختلاف المبنى يدل على اختلاف المعنى، ومما درست أن الاجماع يشمل الاتفاق والاتفاق لا يشمل الاجماع، لأن الاجماع دلالته أعم، فنقول اتفق أهل العلم في مسألة من المسائل رغم عدم وجود الاجماع فيها مثل حكم غسل الجمعة فهناك في المسألة اتفاق بين البعض على الوجوب وهو الأظهر وهناك اتفاق البعض على الاستحباب والأمر فيه سعة ولم يرد في حكمه اجماع.

Dalam satu sisi Ittifaq dan Ijma’ adalah kata yang murodif. Namun dalam bahasan dan cakupannya, Ijma’ mencakup Ittifaq, namun Ittifaq tidak mencakup Ijma’, karena Ijma’ memiliki dalil yang sifatnya lebih umum daripada ittifaq.

Sehingga bisa di katakan jawaban dari persoalan yang di tanyakan itu adalah “Sesungguhnya Ijma’ itu mencakup terhadap ittifaq dalam artian ijma itu lebih luas makna, maksud dan penjelasannya jika di banding dengan Ittifaq, Sedangkan Ittifaq sendiri itu tidak mencakup terhadap Ijma itu sendiri, dalam artian penjelasan dan maksudnya itu masih di bawah Ijma.

Dikatakan begitu karena, Ijma itu berisikan tentang dalil-dalil yang mengarah pada hal yang bersifat Umum, contohnya seperti permasalahan hukum mandi pada hari jum’at. Dimana para Ulama Ittifaq itu hukumnya sebagian wajib ini menurut qaul adhar, dan ittifaq pula bagi sebagian lainnya itu sunat. Yang di maksud pada masalah ini adalah luasnya waktu dan tidak tertolak pada hukumnya yaitu yang di maksud dengan Ijma;.

Bisa dikatakan Ittifaq adalah kesepakatan ulama. Sedangkan ijma’ menurut istilah adalah :

اتّفاق كلّ مجتهدي علماء الفقه أهل العصر من أمّة سيّدنا محمّد ص م بعد وفاة نبيّها ص م على حكم الحادثة

(Kesepakatan para mujtahid yang terdiri dari para ulama’ fiqih, dari ummat Muhammad saw, yang hidup atas hukumnya suatu perkara yang baru datang dalam satu periode, setelah wafatnya nabi kita saw atas hukumnya perkara yang baru datang.)

Itulah salah satu penjelasan mengenai yang di maksud dari pada Ittifaq dan Ijma berdasarkan keterangan pada Ulama yang ahli dalam masalah agama, Selanjutnya adalah masalah yang di maksud dengan makruh tahrim dan makruh tanjih, penjelasannya sebagai berikut.

Makruh Tahrim ialah makruh yang berakibat pada dosa

الفرق بين كراهة التحريم وكراهة التنزيه: أن الأولى تقتضي الإثم، والثانية لاتقتضيه

Perbedaan antara Makruh TAHRIIM dan Makruh Tanziih adalah makruh yang pertama berakibat dosa sedang makruh yang kedua tidak.

Perbedaan Maktuh Tahrim dan Haram

والفرق بين كراهة التحريم والحرام مع أن كلا يقتضي الإثم أن كراهة التحريم ما ثبتت بدليل يحتمل التأويل والحرام ما ثبت بدليل قطعي لا يحتمل التأويل من كتاب أو سنة أو إجماع أو قياس

Perbedaan antara makruh tahriim dan Haram yang kedua-duanya berakibat dosa
Makruh Tahrim : Ketetapan hukum yang berdasarkan dalil yang masih memungkinkan dita’wil (ditafsiiri)
Haram : Ketetapan hukum yang berdasarkan dalil yang tidak dapat lagi dita’wili baik berdasarkan alQuran, Hadits, Ijma ataupun Qiyas.

وَالتَّحْرِيمُ وَكَرَاهَةُ التَّحْرِيمِ يَتَشَارَكَانِ فِي اسْتِحْقَاقِ الْعِقَابِ بِتَرْكِ الْكَفِّ ، وَيَفْتَرِقَانِ فِي أَنَّ التَّحْرِيمَ : مَا تُيُقِّنَ الْكَفُّ عَنْهُ بِدَلِيلٍ قَطْعِيٍّ .
وَالْمَكْرُوهُ مَا تَرَجَّحَ الْكَفُّ عَنْهُ بِدَلِيلٍ ظَنِّيٍّ (1) .
وَفِي مَرَاقِي الْفَلاَحِ : الْمَكْرُوهُ : مَا كَانَ النَّهْيُ فِيهِ بِظَنِّيٍّ . ، وَهُوَ قِسْمَانِ : مَكْرُوهٌ تَنْزِيهًا وَهُوَ مَا كَانَ إِلَى الْحِل أَقْرَبَ ، وَمَكْرُوهٌ تَحْرِيمًا وَهُوَ مَا كَانَ إِلَى الْحَرَامِ أَقْرَبَ ، فَالْفِعْل إِنْ تَضَمَّنَ تَرْكَ وَاجِبٍ فَمَكْرُوهٌ تَحْرِيمًا ، وَإِنْ تَضَمَّنَ تَرْكَ سُنَّةٍ فَمَكْرُوهٌ تَنْزِيهًا ، لَكِنْ تَتَفَاوَتُ كَرَاهَتُهُ فِي الشِّدَّةِ وَالْقُرْبِ مِنَ التَّحْرِيمِ بِحَسَبِ تَأَكُّدِ السُّنَّةِ (2)
__________
(1) شرح مسلم الثبوت للأنصاري 1 / 57 – 58 ، والتعريفات للجرجاني 228 .
(2) حاشية الطحطاوي على مراقي الفلاح 188 – 189 .

I’aanah at-Thoolibiin I/121, Tuhfah al-Habiib II/43, Hasyiyah al-Bujairami ala al-Khathiib III/416

Dimana antara Haram dan Makruh Tahriim kedua-keduanya dalam kesamaan dalam berhaknya atas siksa akibat pelarangannya, keduanya berbeda dari segi ketetapan hukum haram pelarangannya bersumber dari dalil pasti sedang makruh tahrim dari dalil yang zhonny (dalil dugaan kuat) yang diunggulkan (Syarh al-Muslim ats-tsubuut li anshoory I/57-58 dan Ta’rifat li alJurjaany hal.228).

Dalam kitab Muraaqi al-Falaah dijelaskan “Makruh adalah ketetapan yang pelarangannya berdasarkan zhonny (praduga kuat) dan terbagi atas dua macam :

1. Makruh Tanziih ialah makruh yang lebih cenderung mendekati hukum halal
2. Makruh Tahriim ialah makruh yang lebih cenderung mendekati hukum haram

Maka sebuah perbuatan bila mengandung meninggalkan kewajiban kemaruhannya kearah tahriim sedang bila mengandung meninggalkan kesunahan kemaruhannya kearah tanziih hanya saja kadar dan kedekatan yang terdapat pada makruh tanzih dengan makruh tahriim tentunya juga berbeda disebabkan muakkad (kokokh) dan tidaknya sebuah kesunahan. Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah X/206.

Wallohu A’lamu Bishowaab
semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com