Perbedaan Pendapat Pada Shalat Jumat Jika Idul Fitri Bertepatan Pada Hari itu

Perbedaan Pendapat Pada Shalat Jumat Jika Idul Fitri Bertepatan Pada Hari itu

Almunawwar.or.id – Ada kalanya hari raya idul fitri ini jatuh pada hari-hari tertentu, dimana pada hari tersebut terdapat pula satu amalan shalat dan khutbah, atau lebih tepatnya hari raya baik itu idul fitri maupun idul adha jatuh pada hari jum’at.

Mengapa hal ini seolah menjadi pengangkatan materi yang penting? Sebab dalam rincian dari pada jawabannya itu terjadi perbedaan pendapat dari ulama-Ulama mujtahid yang empat tentang bagaimana seorang kewajiban seorang muslim dalam melaksanakan kedua amalan ibadah yang bertepatan tersebut meskipun tidak sama dalam segi hukumnya.

Sehingga sangat perlu penjelasan yang real dan dan dapat di pahami oleh semua umat islam, Apalagi untuk idul fitri tahun 2018 ini menurut kalender yang sudah di tetapkan dan juga dari hasil hisab itu jatuh pada hari jum’at. Kiranya layak untuk di jadikan sebagai bahan penela’ahan terkait masalah tersebut.

Termasuk di antaranya dari amalan-amalan yang sudah menjadi rukun pada kedua masalah tersebut, misalnya khutbah idul fitri dan juga khutbah jum’at berikut dengan ketentuan lain yang mengisyaratkan akan pentingnya penjelasan dari segi hukum dan pelaksanaannya.

Ada sebuah hadits dari Zaid bin Arqam , dimana di terngkan tentang cara Rasululloh S.A.W memberikan kebijakan terkait dua peristiwa tersebut yakni jum’at dan idul fitri.

لِخَبَرِ زَيْدِ بن أَرْقَمَ قال اجْتَمَعَ عِيدَانِ على عَهْدِ رسول اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم في يَوْمٍ وَاحِدٍ فَصَلَّى الْعِيدَ في أَوَّلِ النَّهَارِ وقال يا أَيُّهَا الناس إنَّ هذا يَوْمٌ اجْتَمَعَ لَكُمْ فيه عِيدَانِ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَشْهَدَ مَعَنَا الْجُمُعَةَ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْصَرِفَ فَلْيَفْعَلْ رَوَاهُ أبو دَاوُد وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَ إسْنَادَه

Artinya : “Hadits dari Zaid bin Arqom berkata : “Telah berkumpul dua Ied (jumat dan hari raya) pada masa Rosulullah saw pada satu hari itu, maka Beliau shalat ied di awal siang, Beluau bersabda : “Para hadirin, pada hari ini bertemu dua hari raya (jum’at dan ied) barang siapa suka menghadiri jum’at bersama kami maka hadirilah, dan barang siapa yang suka memilih pulang (tidak shalat jumat) maka pulanglah. Diriwayatkan oleh abu dawud dan hakim dan menshahihkan isnadnya”.

Dalam penjelasan memaknai arti dari pada hadits tersebut para ulama berbeda pendapat sesuai dengan argumen dalilnya masing-masing yang bersumber pada Alquran dan Al hadits, Hal ini sebagaimana yang telah di muatkan pada salah satu kajian kitab fiqh yaitu :

(مسألة) : فيما إذا وافق يوم الجمعة يوم العيد ففي الجمعة أربعة مذاهب ، فمذهبنا أنه إذا حضر أهل القرى والبوادي العيد وخرجوا من البلاد قبل الزوال لم تلزمهم الجمعة وأما أهل البلد فتلزمهم ، ومذهب أحمد لا تلزم أهل البلد ولا أهل القرى فيصلون ظهراً ، ومذهب عطاء لا تلزم الجمعة ولا الظهر فيصلون العصر ، ومذهب أبي حنيفة تلزم الكل مطلقاً ، اهـ من الميزان الشعراني.

Artinya : “( Masalah ) Dalam pembahasan “Saat hari Jumat Bertepatan Dengan Hari Raya” Maka dalam kewajiban pelaksanaan menunaikan shalat jumat itu terdapat perbedaan empat madzhab :

1. Menurut madzhab kami (syafi’iyyah) bila penduduk desa dan pedalaman menjalankan shalat Ied dan keluar dari desa sebelum tergelincirnya matahari maka tidak wajib bagi penduduk pedalaman mengerjakan shalat jumat sedang bagi penduduk desa masih diwajibkan mengerjakannya.

2. Menurut madzhab Imam Ahmad, bagi penduduk desa dan pedalaman tidak berkewajiban menjalankan shalat jumat, kerjakanlah shalat dhuhur.

3. Menurut madzhab Imam ‘Atha’ tidak diwajibkan bagi mereka menjalankan shalat Jumat juga shalat dhuhur, kerjakanlah shalat Ashar.

4. Menurut madzhab Abu Hanifah, semua shalat masih diwajibkan bagi mereka. (al-Miizaan as-Sya’rooni).
Keterangan bisa di lihat oada rincian oasti yang terdapat pada kitab : Bughyah al-Mustarsyidiin juz I halaman 187

Dan perbedaan ini nampak wajar karena semua Imam tersebut mempunyai argumen yang sangat kuat dan bersumber secara langsung baik dari dalil AL quran maupun dari Al hadits. jadi bisa mengambil qaul mana saja sesuai dengan amdzhab yang di ikutinya oleh masing-masing umat islam.

Namun jika melihat dan melirik permasalahan lain terutama dalam menghitung jarak rumah dan masjid yang di pakai shalat jum’at tersebut itu baik jauh maupun dekatnya, maka menurut keterangan yang terdapat pada kitab Raudhah at-Thoolibiin juz I halaman 173 di sebutkan bahwa :

فرع إذا وافق يوم العيد يوم جمعة وحضر أهل القرى الذين يبلغهم لصلاة العيد وعلموا أنهم لو انصرفوا لفاتتهم الجمعة فلهم أن ينصرفوا ويتركوا الجمعة في هذا اليوم على الصحيح المنصوص في القديم والجديد. وعلى الشاذ عليهم الصبر للجمعة.

Artinya : ” Bila hari raya bertepatan dengan hari jumah dan penduduk desa yakni mereka-mereka yang mendengan seruan shalat Ied dan mereka yakin andaikan mereka membubarkan diri (meninggalkan masjid dan pulang kerumah masing-masing) mereka akan ketinggalan shalat maka bagi mereka diperkenankan membubarkan diri dan meninggalkan shalat jumah dihari seperti ini menurut pendapat yang shahih, sedang menurut pendapat yang Syadz (ganjil) bagi mereka wajib menunggu pelaksanaan shalat jumat”.

Sehingga bisa di pastikan akan kewajiban bagi seorang muslim jika memang masalah tersebut di alami atau bahkan akan di jumpai itu ada ketetapan khusus mengenai titik dari pada pelaksanaan keduanya (idul fitri dan shalat jum’at). Namun menurut pendapat kami itu cenderung masih di wajibkan shalat jum’at meskipun ada rukshsoh (kemudahan untuk tidak melakukan shalat jum’at) bagi mereka yang jauh tempat tinggalnya dengan masjid yang di dunakan shalat jumat tersebut.

Walhasil masalah seperti ini memang layak untuk di jadikan topik menarik, pasalnya ada dua jadwal sholat dan amalan ibadah yang saling bertepatan atau bahkan lebih real lagi apabila pilihan tepat bagi setiap umat muslim itu sesuai dengann keterangan dari imam madzhab yang di ikutinya.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id