Pergunakanlah Akal Pikiran Untuk Dapat Meraih Derajat Kemuliaan

Pergunakanlah Akal Pikiran Untuk Dapat Meraih Derajat Kemuliaan

Almunawwar.or.id – Adalah seorang manusia yang mempunyai derajat istimewa di pandangan sang khaliq ketika dengan akal fikirannya tersebut mampu menghantarkan nilai kehambaannya ke tempat yang lebih di ridhoi dengan hasil pencapaian akhir yang mengarahkan akal fikirannya sebagai gerbang dalam meraih kemuliaan.

Karena kemulyaan yang di dapat dari seorang manusia adalah dengan menjadikan akal dan fikirannya tersebut sebagai cara terbaik untuk bisa beramal secara maksimal, dan dengan akal dan fikirannya tersebut seorang manusia bisa meraih pada yang di sebut dengan makhluq mulya.

Sebagai salah satu jalan untuk lebih mengamalkan nilai keimanan dan ketaqwaan yang memang dengan dua derajat tersebut mampu menjadikan manusia seorang hamba yang mempunyai nilai sempurna di hadapan Alloh S.W.T.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
”Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.” (HR Ibn Hibban)

Manusia yang mempergunakan akal adalah manusia yang menundukkan akal pikirannya kepada akal qalbu dan dan mengikuti tata cara dalam memahami Al Qur’an. Untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah, tidak cukup dengan arti bahasa.

Diperlukan kompetensi menguasai alat bahasa seperti Nahwu, Shorof, Balaghoh (ma’ani, bayan dan badi’) dan lain lain. Apalagi jika ingin menetapkan hukum-hukum syara’ bedasarkan dalil syar’i diperlukan penguasaan ilmu ushul fiqih.

Karena dengan dapat memilih memuliakan dirinya dengan menggunakan akal mengikuti petunjukNya atau menghinakan dirinya dengan memperturutkan hawa nafsu. Pilihan ini yang dimaksud dengan keimanan yang kadang naik (menuju kemuliaan) dan kadang turun (menuju kehinaan).

Sebagaimana yang tersirat dalam Firman Allah ta’ala yang artinya

“…Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah..” (QS Shaad [38]:26 )

“Katakanlah: “Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS An’Aam [6]:56 ).

Karena manusia sebagai makhluk yang mulia dengan dikaruniakan akal dan akan mendapatkan kemuliaan jika manusia mempergunakan akal di jalan Allah ta’ala dengan meneladani dan mengikuti RasulNya.

Dan juga kemuliaan diraih dengan mempergunakan akal untuk mengikuti petunjukNya dan sebaliknya akan mendapatkan kehinaan jika manusia tidak mempergunakan akalnya atau memperturutkan hawa nafsu.

Selain kemampuan pemahaman secara ilmiah, manusia yang telah bersyahadat atau kaum muslim memungkinkan untuk mendapatkan karunia hikmah dari Allah Azza wa Jalla yang diberikan kepada siapa yang dikehendakiNya. Karunia hikmah tentu tidak diberikan kepada kaum Zionis Yahudi, kaum yang dimurkai Allah.

Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya “Allah menganugerahkan al hikmah (pemahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya Ulil Albab yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)“. (QS Al Baqarah [2]:269 ).

“Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan Ulil Albab” (QS Ali Imron [3]:7 )

Sehingga kaum muslim selain bersandarkan pemahaman secara ilmiah diikuti pemahaman secara hikmah berdasarkan karunia hikmah sebagaimana Ulil Albab.

Firman Allah ta’ala yang artinya,
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Ali Imran: 191).

Ulil Albab dari asal kata lubb (hati) yakni kaum muslim yang menundukkan akal pikirannya kepada akal qalbu.

Karunia hikmah dihujamkan kepada jiwa manusa, Firman Allah ta’ala yang artinya,
“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya“. (QS Asy Syams [91]:8)
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (QS Al Balad [90]:10)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallm bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا حَفْصٌ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ رَآهُ بِقَلْبِ

Artinya : “Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Hafsh dari Abdul Malik dari ‘Atha’ dari Ibnu Abbas dia berkata, “Beliau telah melihat dengan mata hatinya.” (HR Muslim 257).

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id