Perihal Alasan Mengapa Niat Puasa Harus dilakukan Pada Malam Hari Bulan Puasa

Perihal Alasan Mengapa Niat Puasa Harus dilakukan Pada Malam Hari Bulan Puasa

Almunawwar.or.id – Dalam masalah niat ketika akan mengawali sebuah peribadahan itu hukumnya wajib meskipun secara pengaplikasianya tersebut ada perbedaan dari segi awal mengucapkan niat juga dari segi pelaksanannya. Karena pada umumnya itu harus berbarengan antara pengucapan niat dan pelaksanaannya.

Namun dalam hal ini ada perbedaan contoh seperti mengucapkan lapadz niat dalam berpuasa yang harus dilakuakn ataupun dilaksanakan pada malam hari, sedangkan waktu pelaksanaan puasa tersebut di muali pada awal terbitnya fajar atau pas waktu shubuh datang.

Dan tentunya hal seperti ini tidak sama dengan ta’rif atau definisi niat itu sendiri yaitu “Muqtaronan Bifi’lihi” di barengi dengan pelaksanaannya ketika pertama kali niat itu di ucapkan. lantas bagaimana pandangan atau tinjauan hukum fiqih mengenai hal tersebut.

Berikut beberapa redaksi tentnag penjelasan mengenai kedudukan hukum membacakan niat puasa pada malam hari menurut beberapa sumber kajian kitab fiqih.

1, Dari kitab Almughniy Ibnu Qudamah:

قال: [ ولا يجزئه صيام فرض حتى ينويه أي وقت كان من الليل ] وجملته أنه لا يصح صوم إلا بنية إجماعا فرضا كان أو تطوعا, لأنه عبادة محضة فافتقر إلى النية كالصلاة, ثم إن كان فرضا كصيام رمضان في أدائه أو قضائه والنذر والكفارة اشترط أن ينويه من اللي
ل عند إمامنا ومالك, والشافعي وقال أبو حنيفة: يجزئ صيام رمضان وكل صوم متعين بنية من النهار لأن النبي -صلى الله عليه وسلم- أرسل غداة عاشوراء إلى قرى الأنصار التي حول المدينة: (من كان أصبح صائما فليتم صومه ومن كان أصبح مفطرا فليصم بقية يومه, ومن لم يكن أكل فليصم) متفق عليه وكان صوما واجبا متعينا ولأنه غير ثابت في الذمة فهو كالتطوع
المغنيموفق الدين أبو محمد عبد الله بن قدامة المقدسي الحنبلي

Maksudnya : “Tidak dicukupkan berpuasa fardhu sehingga orang yang berpuasa otu mengucapkan niat yaitu pada waktu malam hari, Dan secara keseluruhan itu adalah sesungguhnya puasa itu tidak sah terkecuali dengnan niat menurut ijma; para ulama, baik itu puasa fardhu maupun puasa sunat. karena sesungguhnya puasa itu sebuah ibadah yang khusus maka di butuhkan perbedaan dengan ibadah lainnya seperti sholat, Selanjutnya jika berpuasa itu wajib seperti puasa romadhon, baik itu ada (langsung) maupun qadha atau[un puasa nadzar dan puasa kifarat, maka di syaratkan untuk membacakan niatnya pada malam hari.

Sebagaimana yang di terangkan oleh Imam Malik dan Imam Syafi’i. Namun menurut imam abu hanifah mengatakan bahwa : “Dicukupkan berpuasa di bulan ramadhan dan puasa yang telah di tentukan seperti yang di sebutkan tadi dengan mengucapkan niat pada siang hari, karena sesungguhnya Nabi S.A.W pernah berkata : “Barangsiapa pada waktu pagi hari baru mengucapkan niat maka sempurnakanlah puasanya tersebut, dan barang siapa pada waktu shubuhnya berbuka, maka berpuasalah pada waktu sisanya dan barang siapa yang tidak makan pada waktu itu maka berpuasalah. Muttafaq ‘Alaih.

2. Kitab Asnal matholib juz 1 hal 28 :

أسنى المطالب في شرح روض الطالب – (ج 1 / ص 28)
وَإِنَّمَا لم يُوجِبُوا الْمُقَارَنَةَ في الصَّوْمِ لِعُسْرِ مُرَاقَبَةِ الْفَجْرِ وَتَطْبِيقِ النِّيَّةِ عليه

Maksudnya “Dan sesungguhnya tidak wajib muqoronah / mbarengno niat pada puasa karena sulitnya meneliti / mengantisipasi / nginjen-nginjen fajar dan menyesuaikannya.

3. Kitab Tuhfatul muhtaj :

تحفة المحتاج في شرح المنهاج – (ج 2 / ص 341)
( قَوْلُهُ : مُقْتَرِنًا بِفِعْلِهِ ) أَيْ فِعْلِ ذَلِكَ الشَّيْءِ فَيَجِبُ اقْتِرَانُهَا بِفِعْلِ الشَّيْءِ الْمَنْوِيِّ إلَّا فِي الصَّوْمِ فَلَا يَجِبُ فِيهِ الِاقْتِرَانُ بَلْ لَوْ فَرَضَ وَأَوْقَعَ النِّيَّةَ فِيهِ مُقَارِنَةً لِلْفَجْرِ لَمْ يَصِحَّ لِوُجُوبِ التَّبْيِيتِ فِي الْفَرْضِ فَهُوَ مُسْتَثْنًى مِنْ وُجُوبِ الِاقْتِرَانِ أَوْ أَنَّ الشَّارِعَ أَقَامَ فِيهِ الْعَزْمَ مَقَامَ النِّيَّةِ لِعُسْرِ مُرَاقَبَةِ الْفَجْرِ ، وَهُوَ الصَّحِيحُ شَيْخُنَا عِبَارَةُ سم .قَوْلُهُ مُقْتَرِنًا بِفِعْلِهِ اعْتِبَارُ الِاقْتِرَانِ فِي مَفْهُومِ النِّيَّةِ يَشْكُلُ بِتَحَقُّقِهَا بِدُونِهِ فِي الصَّوْمِ وَلَا مَعْنَى لِلِاسْتِثْنَاءِ فِي أَجْزَاءِ الْمَفْهُومِ

Maksudnya : “Yaitu melaksanakan amal ibadah tersebut, maka wajib bersamaan antara melaksanakannya dengan ibadah yang di niatinya terkecuali dalam ibadah shaum maka tidak di wajibkan berbarengan antara niat dan pelaksanannya. akan tetapi maksud dari pada di berbarengannya tersebut adalah jika di fardhukan dan tiba pada niatnya itu harus berbarengan karena datangnya waktu fajar, maka tidak sah membacakan niatnya tersebut karena wajibnya pada malam hari pada puasa fardhu, dan hal ini merupakan pengecualian dari pada di wajibkannya berbarengan niat.

Ataupun sesungguhnnya hukum syara’ didirikian pada malam hari yaitu mengajam pada tempatnya niat karena susahnya mendekati waktu fajar dan itu benar sebagaimana yang di ucapkan oleh guru kita semua. Adapun ucapan “Muqtaroanan bifi’lihi itu adalah sebuah ibarat di barengi niat pada sebuah pertanyaan tentang niat yang sukar sekali untuk di ucapkan kecuali pada ibadah shaum dan tidak ada makna karena pengecualian dalam perkara yang dipertanyakan.

4. Kitab Hasyiyah qolyubi :

حاشية قليوبي – (ج 2 / ص 66)
( لما تعذر اقترانها ) لعل المراد لما تعذر صحة الصوم مع اقترانها لأنه جزء من النهار , ولو كان مراده مشقة الاقتران لقال لعسر مراقبة الفجر كما قاله غيره

Maksudnya : “Mudah-mudahan yang di maksud susuahnya shahnya puasa degan di barengi niatpada malam hari karena sesungguhnya itu mencukupkan pada waktu siang hari, walaupun yang di maksudnya itu bersifat masyqh atau susah, karena susuahnya berbarengan niat puasa.

Walhasil perbedaan antara niat puasa bulan ramadhan harus di bacakan pada malam hari itu karena puasa di bulan ramadhan selain hukumnya wajib itu merupakan sebuah ibadah khusus, maak di btuhkan pula tingkat kekhususan dari segi pelaksanaan niatnya.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com