Perihal Keputihan Terhadap Keberlangsungan Sahnya Shalat Seorang Perempuan

Perihal Keputihan Terhadap Keberlangsungan Sahnya Shalat Seorang Perempuan

Almunawwar.or.id – Seorang wanita memang memiliki ketentuan dan cara pandang tertentu dalam tinjauan Agama ketika akan melaksanakan sebuah amalan ibadah, yang dalam hal ini tentu sangat berkaitan dengan masalah-masalah yang sudah hakikatnya di alami oleh serang perempuan.

Mulai dari haidh, kehamilan, nifas samapi dengan masalah keputihan yang sering di alami oleh semua kaum hawa, berlanjut dengan itu maka penting kiranya untuk mengetahui lebih lanjut tentang sisi hukum fiqih dari keabsahannya dalam melaksanakan sebuah kewajiban seorang wanita tersebut khususnya dalam shalat.

Karena sebagaimana di ketahui bersama tinjauan penting yang berdasarkan kaidah fiqh dari sahnya sebuah pelaksanaan amalan ibadah adalah di samping tahu akan syarat dan rukunnya amalan tersebut, juga senantiasa harus menjauhi setiap pembatalan ataupun dari hal yang mungkin bisa merusaka terhadap syahnya ibadah tersebut.

Terlebih khusus dari masalah keputihan sekali apakah memang termasuk dari perkara yang bersifat najis yang tentunya tidak memungkinkan bagi seorang wanita untuk melaksanakan shalat misalnya sebelum keputihannya tersebut di bersihkan dan di sucikan.

Sebab jika hal tersebut terjadi dan sering di alami, dalam kaidah ilmu fiqh itu disebut dengan orang yang Daimul hadats (orang yang selamanya mempunyai hadats / tidak suci) karena secara terus menerus keluar najis dari kelaminnya.

Tentang Keputihan

(قوله رطوبة فرج)معطوف على بلغم.أي فهي طاهرة أيضا,سواء خرجت من آدمي أو من حيوان طاهر غيره.(قوله:على الأصح)مقابله أنها نجاسة.(قوله:وهي)أي رطوبة الفرج الطاهرة على الأصح.(قوله:متردد بين المذي ووالعرق)أي ليس مذيا محضا ولا عرقا كذالك.(قوله:الذي لايجب غسله)خالف فى ذالك الجمال الرملي,وقال:إنها إن خرجت من محل لايجب غسله فهي نجسة,لأنها حينئذ رطوبة جوفية.وحاصل ما ذكره الشارح فيها أنها ثلاثة أقسام:طاهرة قطعا,وهي ما تخرج مما يجب غسله فى الإستنجاء,وهو ما يظهر عند جلوسها.ونجسة قطعا,وهي ما تخرج من وراء باطن الفرج,وهو ما لايصله ذكر المجامع.وطاهرة على الأصح,وهي ما تخرج مما لايجب غسله ويصله ذكر المجامع.وهذا التفصيل هو ملخض ما فى التحفة.وقل العلامة الكردي :أطلق فى شرحي الإرشاد نجاسة ما تحقق خروجه من الباطن,وفى شرح العباب بعد كلام طويل.والحاصل أن الأوجه مادل عليه كلام المجموع.أنها متى خرجت مما لايجب غسله كانت نجسة.

Keputihan (rutubatul farji) adalah lendir normal pada tiap perumpuan dan dapat pula karena infeksi,maka bila normal ditafshil:
1. Lendir atau kelembaban yang keluar dari organ farji yang wajib dibasuh ketika istinja’ (organ farji yang tampak ketika wanita duduk) maka hukumnya suci.
2. Bila keluar dari balik farji (organ farji yang tidak tersentuh dzakar mujami’) maka hukumnya najis karena tergolong keluar dari dalam (jauf).
3. Bila keluar dari organ farji yang tidak wajib dibasuh namun dapat terjangkau dzakar mujami’ maka hukumnya suci menurut qoul ashoh.

Nah menyinggung permasalahan keputihan sendiri, maka sering sekali terlontar satu pertanyaan Bagaimana hukumnya apabila seorang wanita sedang keputihan, waktu ia berwudhu keputihannya tidak keluar. Tapi ketika sholat baru dapat 1 atau 2 rokaat keputihannya keluar sedikit. Itu sholatnya batal tidak? Dan apakah harus dihentikan wudhu lagi atau dilanjutkan?

Jawabannya adalah “Da’imul hadats yang hendak shalat fardlu, wudlunya wajib dilaksanakan setelah masuknya waktu shalat. Setiap akan bersuci (wudlu/tayamum), dan wajib membersihkan kemaluannya dengan air atau istinja’ dengan benda padat dan sebagainya. Lalu menyumbat lubang kemaluannya dengan sejenis kapas yang suci. Bila setelah disumbat hadasnya (darah/kencing) masih merembes keluar, ia wajib memakai pembalut dan bercelana dalam yang kuat. Untuk pria hal ini dilakukan dengan cara membalut kepala penis lalu mengikatnya. Semua ini dilakukan bila memang :

1. Tidak membahayakan diri, misalnya menimbulkan rasa sakit atau panas dengan terhentinya aliran darah. Bila hal itu dirasa membahayakan atau menyakitkan, maka boleh tidak melakukan penyumbatan atau pembalutan.
2. Tidak berpuasa, Bagi mereka yang berpuasa tidak boleh melakukan penyumbatan. Sebab bisa membatalkan puasa.

Jika setelah disumbat atau memakai pembalut hadasnya masih merembes keluar karena darah/kencingnya sangat kuat –bukan karena kurang kuat dalam membalut-, tidak menjadi masalah. Artinya salatnya sah, karena wudlunya tidak batal. Berbeda halnya jika hadas tersebut merembes karena kurang kuat dalam membalut.

Ketika menyumbat tidak boleh ada bagian kain/kapas penyumbat yang keluar, atau berada pada vagina/penis bagian luar. Meskipun sedikit. Sebab bila ada penyumbat yang keluar ke vagina/penis luar –walaupun hanya sehelai benang-, maka salatnya tidak sah. Sebab dianggap membawa barang najis. Yang dimaksud vagina bagian luar adalah daerah yang tampak ketika sedang jongkok buang air.

Semua hal di atas (membasuh kelamin, menyumbat sampai dengan salat) harus dilaksanakan setelah masuknya waktu dan tidak boleh lamban. Bila setelah wudlu, ia tidak langsung salat, maka wudlunya batal. Kecuali jika kelambanannya tersebut untuk kemaslahatan salat, semisal untuk menutup aurat, menunggu adzan /iqamah, mencari arah qiblat atau menunggu jamaah.

Perlu diketahui bahwa, wudlu bagi orang yang selalu berhadas (termasuk mustahadhah) hukumnya sama dengan orang bertayammum. Dalam artian, niat wudlunya sama dengan niat tayammum. Tidak boleh niat wudlu sebagaimana biasa.
Contoh niat wudlu bagi mustahadhah adalah :

a. Niat wudlu agar diperbolehkan salat Ashar,
b. Niat wudlu agar diperbolehkan membaca al-Qur’an, atau lainnya.

Satu kali wudlu yang diniatkan untuk salat fardlu hanya dapat dipakai untuk satu kali salat fardlu dan beberapa salat atau ibadah sunnat, sampai dengan keluarnya waktu salat. Jadi misalkan wudlunya untuk salat Zuhur, maka setelah melakukan salat Zuhur ia boleh melaksanakan ibadah-ibadah sunnah yang lain –tanpa mengulangi wudlunya– sampai keluarnya waktu Zuhur. Setelah itu wudlunya dianggap batal.

Da’imul hadats yang setelah wudlu hadasnya (darah/kencing) berhenti cukup lama (cukup untuk salat dan wudlu), maka wudlunya batal. Demikian juga sebaliknya, wudlu yang dilaksanakan saat darahnya berhenti (lama) tersebut batal dengan keluarnya darah.

Mustahadhah yang memiliki kebiasaan kadang-kadang darahnya bersih (yang lama) dan kadang-kadang keluar, wajib melaksanakan salat dan wudlu pada saat masa bersih. Kecuali bila khawatir kehabisan waktu salat. Maka wajib wudlu dan salat pada saat darahnya mengalir, tanpa menunggu masa bersih.

Mustahadhah yang jika melaksanakan shalat berdiri darahnya lebih deras daripada saat duduk, maka harus shalat dengan duduk. Karena ini adalah salah satu cara terbaik dan syah menurut kaidah hukm fiqih berdasarkan ketentuan yang di terapkan bagi seorang wanita.

Soal membaca Alquran bagi seorang wanita yang sedang mengalami keputihan
1. Boleh kalau sudah wuduk, karena keputihan ada yang membatalkan wudhu,
2. Boleh kalau hanya membaca asal tidak menyentuh mushaf nya, kalau menyentuh maka sama dengan pertanyaan yang pertama

Sebab Keputihan ada yang membatalkan wudhu’ dan ada yang tidak :
1. Yang membatalkan wudhu, yaitu yang keluar dari dalam kemaluan wanita atau kemaluan anda sendiri heee dari dinding kemaluan wanita bagian dalam yang tidak wajib terkena air ketika mandi jinabah
2. Yang tidak membatalkan wudhu yaitu yang keluar dari dinding kemaluan yang yang wajib terkena air saat mandi jinabah Dan tentang kenajisan air lendir keputihan khilaf antara imam ibnu hajar dan imam Romli.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id