Perspektif Fiqih Tentang Putusan Verstek Cerai Seorang Istri Terhadap Suami

Perspektif Fiqih Tentang Putusan Verstek Cerai Seorang Istri Terhadap Suami

Almunawwar.or.id – Tidak menutup kemungkinan memang apabila hal yang tidak di inginkan bahkan tidak terbayang sebelumnya terjadi itu bisa di alami, Sama seperti permasalahan yang persfektif di alami oleh banyak orang yang sudah mengalami akad pernikahan.

Dimana konsekuensi tali rumah tangga yang di ikat oleh akad nikah itu sejatinya adalah sebuah amanat yang harus di jaga, di pertahankan juga harus senantiasa di bina agar dengan nilai-nilai kultur islami supaya senatiasa bahtera rumah tangga itu tidak mengalami hal yang bersifat fatal seperti perceraian.

Hal semacam ini memang tidak cenderung hanya di alami dan dirasakan oleh seorang laki-laki saja (Suami) namun kaum wanita juga sering sekali mengalami hal semacam itu sehingga lahirlah sebuah keinginan untuk berpisah karena memang sudah tidak ada kecocokan lagi dengan suaminya tersebut.

Dinamika kehidupan pasangan suami istri terkadang berujung perceraian. Masyarakat modern khususnya di perkotaan tidak jarang memilih menempuh sidang di pengadilan dibanding bercerai secara langsung, terlebih ketika yang menghendaki perceraian adalah istri, di mana biasanya, karena suami menikah lagi tanpa seizinnya atau karena istri sudah tidak cinta lagi pada suami.

Dalam kondisi demikian, istri mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama. Namun tidak jarang, karena suami masih menghendaki menjalin hubungan dengan istri, suami tidak menghadiri persidangan. Sehingga setelah dilakukan pemanggilan, hakim Pengadilan Agama memutuskan terjadinya cerai meski tidak dihadiri suami yang dalam istilahnya dikenal dengan sebutan putusan verstek.

Putusan verstek adalah putusan yang dijatuhkan apabila tergugat tidak hadir atau tidak juga mewakilkan kepada orang yang dikuasakannya untuk menghadap, meskipun ia sudah dipanggil dengan patut. Apabila tergugat tidak mengajukan upaya hukum verzet(perlawanan) terhadap putusan verstek itu, maka putusan tersebut dianggap sebagai putusan yang berkekuatan hukum tetap.

Berdasarkan Pasal 125 Herzien Indlandsch Reglement (HIR) (S.1941-44) hakim dapat menjatuhkan putusan verstek, jika suami (sebagai tergugat) sama sekali tidak datang dan juga tidak mewakili sama sekali kepada kuasanya.

Pada prinsipnya setiap orang yang diajukan sebagai Tergugat mempunyai hak untuk mengajukan pembelaan diri. Suatu putusan Verstek hanya dapat dijatuhkan dengan syarat:

Tergugat telah dipanggil secara sah dan patut, namun tidak hadir tanpa alasan yang sah, dan juga Tergugat tidak mengajukan eksepsi kompetensi (kewenangan) pengadilan. Dari keputusan ini, sudah banyak wanita yang menikah lagi dengan lelaki lain karena menganggap dirinya sudah tidak bersuami.

Dari permasalahan yang sudah di bahas dan di singgung tadi maka timbullah beberapa pertanyaan penting yang menyangkut khusus tentang permasalahan hal seperti ini, dan tentunya sangat penting sekali untuk lebih di mengerti dan di fahami secara seksama terlebih bagi mereka yang sudah dan sedang menjalankan bahtera rumah tangga.

1. Bagaimana pandangan fikih terkait dengan putusan verstek yang dijatuhkan hakim pengadilan hanya karena istri tidak cinta lagi atau karena suami menikah lagi tanpa izin?
Jawabannya : “Hakim tidak boleh memutuskan Verstek. adapun jika ada kondisi yang lebih parah maka bisa dengan cara khulu’, Referensi bisa di lihat dari :

١) حاشيتا قليوبي وعميرة جز ٣ ص ٦٠٣ – ٧٠٣
دار النشر المصرية (فإن اشتد الشقاق) أي الخلاف بينهما بأن داما على التساب والتضارب (بعث) القاضي (حكما من أهله وحكما من أهلها) لينظرا في أمرهما بعد اختلاء حكمه به، وحكمها بها ومعرفة ما عندهما في ذلك، ويصلحا بينهما أو يفرقا إن عسر الإصلاح على ما سيأتي قال تعالى: {وإن خفتم شقاق بينهما فابعثوا حكما} إلخ وهل بعثه واجب، أو مستحب وجهان صحح في الروضة، وجوبه لظاهر الأمر في الآية (وهما وكيلان لهما وفي قول) حاكمان (موليان من الحاكم) لأن الله تعالى سماهما حكمين، والوكيل مأذون ليس بحكم، ووجه الأول أن الحال قد يؤدي إلى الفراق والبضع حق الزوج، والمال حق الزوجة وهما رشيدان، فلا يولى عليهما في حقهما (فعلى الأول يشترط رضاهما) ببعث الحكمين (فيوكل) هو (حكمه بطلاق وقبول عوض خلع وتوكل) هي (حكمها ببذل عوض وقبول طلاق به)، ويفرق الحكمان بينهما إن رأياه صوابا وعلى الثاني لا يشترط رضاهما ببعث الحكمين، وإذا رأى حكم الزوج الطلاق استقل به ولا يزيد على طلقة وإن رأى الخلع، ووافقه حكمها تخالعا وإن لم يرض الزوجان ثم الحكمان يشترط فيهما على القولين معا الحرية والعدالة والاهتداء إلى ما هو المقصود من بعثهما دون الاجتهاد، وتشترط الذكورة على الثاني وكونهما من أهل الزوجين أولى لا واجب.
٢) الإنصاف جز ٨ ص ٢٨٢
قوله : “وإذا كانت المرأة مبغضة للرجل وتخشى أن لا تقيم حدود الله في حقه فلا بأس أن تفتدى نفسها منه”. فيباح للزوجة ذلك والحالة هذه على الصحيح من المذهب وعليه أكثر الأصحاب وجزم الحلواني بالاستحباب. وأما الزوج فالصحيح من المذهب أنه يستحب له الإجابة إليه وعليه الأصحاب. واختلف كلام الشيخ تقي الدين رحمه الله في وجوب الإجابة إليه. وألزم به بعض حكام الشام المقادسة الفضلاء.

2. Bagaimana status pernikahan istri dengan suami barunya atas dasar keputusan verstek ini?
Jawabannya : “Karena keputusan verstek dengan alasan di atas tidak bisa dibenarkan dalam pandangan fikih, maka pernikahannya tidak sah. Dan apabila keputusan verstek didasari fakta-fakta hukum yang dibenarkan secara syariat, maka hukum pernikahannya sah.

Fakta-fakta hukum yang dibenarkan secara syariat di antaranya sebagai berikut:
1. Vonis cerai harus dilakukan setelah penetapan ketidak mampuan suami menafkahi istrinya berdasarkan pengakuan suami, saksi atau pengetahuan hakim secara langsung, dan setelah memberi batas tenggang waktu selama 3 hari.
2. Vonis cerai disebabkan tindak kekerasan suami harus berdasarkan bukti dua saksi laki-laki.

Catatan:
Pada dua permasalahan di atas, hakim hanya berhak menjatuhkan satu kali talak. Apabila hakim tidak memenuhi ketentuan di atas dan tetap menjatuhkan vonis talak, sementara hubungan suami istri tidak mungkin dapat dipertahankan lagi, maka suami dianjurkan menjatuhkan talak. Referensi bisa di lihat dari :

١) أسنى المطالب الجزء ٧ ص ٩٨٣ دار الكتب العلمية بيروت لبنان ط. ١٠٠٢م
(فصل زوجة المفقود المتوهم موته لا تتزوج) غيره (حتى يتحقق) أي يثبت بعدلين (موته أو طلاقه وتعتد) لأنه لا يحكم بموته في قسمة ماله وعتق أم ولده فكذا في فراق زوجته ولأن النكاح معلوم بيقين فلا يزال إلا بيقين (ولوحكم حاكم بنكاحها قبل تحقق الحكم بموته نقض) لمخالفته للقياس الجلي إذ لا يجوز أن يكون حيا في ماله وميتا في حق زوجته
.
٢) حاشية الجمل – (ج ٤ ص ٩٠٥) ط. دار إحياء التراث العربي
(ولا) فسخ (قبل ثبوت إعساره) بإقراره أو ببينة (عند قاض) فلا بد من الرفع إليه (فيمهله) ولو بدون طلبه (ثلاثة أيام) ليتحقق إعساره وهي مدة قريبة يتوقع فيها القدرة بقرض أو غيره
٣ ) الفقه الإسلامي وأدلته (جز ٧ ص ٧٢٥ – ٨٢٥) دار الفكر ، ط. سنة ٩٨٩١م
المبحث الثالث ـ التفريق للشقاق أو للضرر وسوء العشرة : المقصود بالشقاق والضرر: الشقاق هو النزاع الشديد بسبب الطعن في الكرامة. والضرر: هو إيذاء الزوج لزوجته بالقول أو بالفعل كالشتم المقذع والتقبيح المخل بالكرامة والضرب المبرِّح والحمل على فعل ما حرم الله والإعراض والهجر من غير سبب يبيحه ونحوه.
رأي الفقهاء في التفريق للشقاق: لم يجز الحنفية والشافعية والحنابلة
(1)
التفريق للشقاق أو للضرر مهما كان شديداً؛ لأن دفع الضرر عن الزوجة يمكن بغير الطلاق عن طريق رفع الأمر إلى القاضي والحكم على الرجل بالتأديب حتى يرجع عن الإضرار بها. وأجاز المالكية
(2)
التفريق للشقاق أو للضرر منعاً للنزاع وحتى لا تصبح الحياة الزوجية جحيماً وبلاء ولقوله عليه الصلاة والسلام: «لا ضرر ولا ضرار» . وبناء عليه ترفع المرأة أمرها للقاضي فإن أثبتت الضرر أو صحة دعواها طلقها منه وإن عجزت عن إثبات الضرر رفضت دعواها فإن كررت الادعاء بعث القاضي حكمين: حكماً من أهلها وحكماً من أهل الزوج لفعل الأصلح من جمع وصلح أو تفريق بعوض أو دونه لقوله تعالى: {وإن خفتم شقاق بينهما فابعثوا حكماً من أهله وحكماً من أهلها} [النساء:35/4]. واتفق الفقهاء على أن الحكمين إذا اختلفا لم ينفذ قولهما واتفقوا على أن قولهما في الجمع بين الزوجين نافذ بغير توكيل من الزوجين

3. Jika tidak sah, maka langkah apa yang harus dilakukan terkait pernikahan kedua?

Jawabannya : Wajib diceraikan, Referensi bisa di lihat :

١) أسنى المطالب جز ٧ ص ٩٨٣ دار الكتب العلمية بيروت لبنان ط. ١٠٠٢م
(فصل زوجة المفقود المتوهم موته لا تتزوج) غيره (حتى يتحقق) أي يثبت بعدلين (موته أو طلاقه وتعتد) لأنه لا يحكم بموته في قسمة ماله وعتق أم ولده فكذا في فراق زوجته ولأن النكاح معلوم بيقين فلا يزال إلا بيقين (ولو حكم حاكم بنكاحها قبل تحقق الحكم بموته نقض) لمخالفته للقياس الجلي إذ لا يجوز أن يكون حيا في ماله وميتا في حق زوجته
.٢) فتح المعين هامش إعانة الطالبين ج ٤ ص ٦٦٢ – ٧٦٢ دار الفكر ط. ٥٠٠٢م
(ونقض) القاضي وجوبا (حكما) لنفسه أو غيره إن كان ذلك الحكم (بخلاف نص) كتاب أو سنة أو نص مقلده أو قياس جلي وهو ما قطع فيه بإلحاق الفرع للأصل (أوإجماع) ومنه ما خالف شرط الواقف قال السبكي وما خالف المذاهب الأربعة كالمخالف للإجماع (أوبمرجوح) من مذهبه فيظهر القاضي بطلان ما خالف ما ذكر وإن لم يرفع إليه بنحو نقضته أو أبطلته

4. Bagaimana status anak yang lahir setelah pernikahan kedua?
Jawaban : “Status anak tersebut statusnya bukan anak zina, karena hubungan badan yang dilakukan dalam pernikahan kedua merupakan wathi’ syubhat, dan untuk nasabnya ditafsil:

1. Jika hanya mungkin dinisbatkan kepada salah satu dari keduanya, maka dinisbatkan kepada pihak yang anak tersebut mungkin dinisbatkan kepadanya.
2. Jika memungkinkan untuk dinisbatkan kepada keduanya, maka qoif atau tes DNA yang menentukan penisbatannya.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id