Perspektif Tiga Tingkatan Hidayah Menurut Imam Al Ghazali

Perspektif Tiga Tingkatan Hidayah Menurut Imam Al Ghazali

Almunawwar.or.id – Adanya keinginan untuk berbuat baik adalah salah satu bentuk cermin hadirnya Hidayah dalam diri kita, tidak akan mengarahkan pada sesuatu yang bersifat amal shalih bagi seorang mukmin terkecuali di dalam hatinya itu terdapat sebuah hidayah. Hidayah merupakan petunjuk suci yang di berikan oleh Ilahi bagi setiap insan di muka bumi, dengan hidayah senantiasa kita bisa berbuat baik kepada sesama manusia ataupun alam sekitar.

Bahkan Imam Al Ghazali menyebutkan bahwa perspektif hidayah itu terdapat tiga tahap dari segi hadir dan pemberangkatan hidayah tersebut yang bersamayam di hati seseorang, hadirnya hidayah tersebut adalah karunia yang sangat luar biasa untuk seorang Mukmin sehingga ada keinginan dalam dirinya untuk bisa bermanfaat bagi orang lain atau setidaknya bisa berbuat baik, Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

Adanya tindak lanjut ingin berbuat baik itu merupakan cermin dari adanya Hidayah dalam dirinya. Berangkat dari situ maka bisa di maklumi bahwa hidayah merupakan nilai spiritual yang sangat istimewa yang hadir dalam jiwa seseorang untuk bisa berbuat baik kepada orang sekitar. Maka Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin menerangkan tiga tingkatan hidayah di alam dunia bagi seorang mukmin:

1. Memahami baik dan buruk, hidayah umum.

وَهَدَيْنٰهُ النَّجْدَيْنِۙ

Artinya, “Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan),” (Surat Al-Balad ayat 10).

Allah menganugerahkan hidayah jenis ini kepada segenap hamba-Nya, sebagian melalui jalan akal pikiran mereka dan sebagian lagi melalui lisan para utusan-Nya. Oleh karena itu, Allah berfirman dalam Surat Fushshilat ayat 17.

وَاَمَّا ثَمُوْدُ فَهَدَيْنٰهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمٰى عَلَى الْهُدٰى

Artinya, “Adapun kaum Samud, mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk itu.” Pada jenjang dasar ini, banyak pintu menuju hidayah terbuka mulai dari kitab suci, para rasul, dan akal pikiran. Hanya kedengkian, kesombongan, dan nafsu duniawi yang menutup pintu-pintu hidayah tersebut.

2. Cahaya ilmu dan amal saleh.
Hidayah ini berada pada satu tingkat di atas hidayah pertama. Hidayah ini dianugerahkan oleh Allah kepada sebagian hamba-Nya setelah melalui tahapan-tahapan dan sejauh kesiapan spiritual (berupa ilmu dan amal saleh) yang bersangkutan. Hidayah kedua ini merupakan buah dari mujahadah, latihan/tempaan spiritual. (Al-Ghazali, 2018 M/1439-1440 H: IV/114).

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ

Artinya, “Orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Al-Ankabut ayat 69).

Pada surat lainnya, Allah mengatakan:

وَالَّذِيْنَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى

Artinya, “Orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka.” (Surat Muhammad ayat 17).

3. Cahaya alam kenabian dan kewalian
Hidayah level ketiga ini berada di atas hidayah kedua. Hidayah ketiga ini merupakan puncak hidayah Allah. Cahaya hidayah ini memancar setelah kesempurnaan mujahadah/tempaan spiritual yang maksimal. Hidayah ini sangat mulia karena dinisbahkan kepada Allah.

قُلْ اِنَّ هُدَى اللّٰهِ هُوَ الْهُدٰىۗ

Artinya, “Katakan, ‘Sungguh, petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya);'” (Surat Al-An’am ayat 71). Pada surat lain, Allah mengatakan sebagai berikut:

اَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَاَحْيَيْنٰهُ وَجَعَلْنَا لَهٗ نُوْرًا يَّمْشِيْ بِهٖ فِى النَّاسِ

Artinya, “Apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak (sama dengan orang yang berada dalam kegelapan?)” (Surat Al-An’am ayat 122). Hidayah ketiga ini menerangkan jalan hidup para nabi dan para wali Allah. Mereka adalah orang-orang pilihan yang senantiasa hidup lahir dan hatinya.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id