Perumpamaan Istilah Pelajaran Nahwu Dengan Hadirnya Rasa Asmara Versi Santri

Perumpamaan Istilah Pelajaran Nahwu Dengan Hadirnya Rasa Asmara Versi Santri

Almunawwar.or.id – Di dunia ke pesantrenan juga di kenal memiliki daya kemampuan dalam mengaplikasikan sebuah tutur bahasa arab pada hal yang memang sudah menjadi fitrah bagi seorang manusia, katakanlah seperti perasaan asmara yang memang tidak bisa lepas dari pada lubuk hati seseorang.

Dimana dalam penjabaran istilah tersebut kelaziman suatu bahasa ataupun istilah bahasa arab (dalam hal ini ilmu nahwu) mampu lebih real lagi dalam di jadikan perumpaan ataupun contoh yang memang sangat sinonim sekali dengan istilah-istilah yang ada pada perasaan asmara seseorang itu sendiri.

Begitu juga dengan seorang santri sendiri yang dengan kepiwaiannya dalam mengolah suatu bahasa itu mampu melahirkan sebuah karya satra yang bisa di katakan sebagai wujud kreasi pengaplikasian mereka dalam mengolah dan menterjemahkan suatu bahasa ke sesuatu yang sudah lumrah dan lazim bahkan jadi hak setiap orang.

Meskipun tidak begitu penting untuk di bahas lebih lanjut, namun tidak ada salahnya dalam berkarya pada penjabaran sebuah ilmu mampu memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, terlebih istilah sseperti ini sudah pasti setiap orang merasakannya.

Lalu apa saja istilah ilmu nahwu yang di maksud jika di umpamakan pada hadirnya sebauh asmara pada jiwa seseorang? Berikut adalah salah satu karya seorang santri dalam mengaplikasikan sebuah perumpaan istilah-istilah yang ada pada kajian ilmu nahwu terhadap rasa asmara tersebut.

Saat itu, aku seperti ISIM MUFROD, tunggal sendirian saja…
seperti kalimat HURUF, sendiri tak bermakna…
seperti fi’il LAAZIM, mencintai tak ada yang dicinta…

Tak mau terpuruk dan terdiam, aku harus jadi MUBTADA’, memulai sesuatu..
menjadi seorang FA’IL, yang berawal dari fi’il..
namun aku seperti FI’IL MUDHOORI’ ALLADZII LAM YATTASHIL BIAAKHIRIHII SYAIUN
mencari sesuatu, tapi tak bertemu sesuatupun di akhir…

Bertemu denganmu adalah KHOBAR MUQODDAM, sebuah kabar yang tak disangka…
Aku pun jadi MUBTADA’ MUAKKHOR, perintis yang kesiangan….

Aku mulai dengan sebuah KALAM, dari untaian susunan beberapa lafadz…
yang MUFID, terkhusus untuk dirimu dengan penuh mak’na…

Dari sini semua bermula…
Aku dan kamu, bagaikan IDHOFAH
aku MUDHOF,sedang kamu adalah MUDHOF ILAIH nya….
Sungguh Tak bisa dipisahkan….

Cintaku padamu, beri’rob ROFA’. Betul-betul tinggi …
Bertanda DHUMMAH. Bersatu….Cinta kita bersatu, mencapai derajat yang tinggi…..

Saat mengejar cintamu, aku cuma isim beri’rob NASHOB. Susah payah….
yang bertanda FATHAH. Terbuka…. Sehingga hanya dnegan bersusah payah maka cinta itu kan terbuka.

Setelah mendapatkan cintamu, tak mau aku seperti isim yang KOFDH. Hina dan rendah
Bertanda Kasroh. Terpecah belah….Sehingga jika kita berpecah belah tak bersatu, Rendahlah derajat cinta kita.

Karenanya, kan kujaga CINTA kita, layaknya fiil beri’rob JAZM. Penuh kepastian
Bertanda dengan SUKUN. Ketenangan… Kan kita gapai cinta yang penuh damai…saat semua terikat dengan kepastian tanpa ragu-ragu,,,

Seperti MUBTADA’ KHOBAR,,,,,
dimana ada mubtada’ pasti ada khobar.
Setiap ada kamu pasti ada aku yang selalu mendampingi mu disetiap langkahmu.

Seperti tarkib IDHOFAH,,,,
Dimana mudlof dan mudlof ilaih menyebabkan hubungan dan tak boleh ditanwin, karena tanwin menunjukkan perpisahan. Hubungan pertalian antara aku dan kamu yang menyebabkan tumbuhnya cintaku.

Seperti ISIM ALAM,,,
Perasaanku padamu itu menyebabkan adanya NAMA,,,, yaitu “cinta”.

Seperti isim ISYAROH,,,,
Daun waru ini sebagai lambang cintaku padamu.

Seperti NIDA’,,,,
Dimana ini adalah sebuah panggilan.
Aku memanggilmu dengan sebutan “cayang”.
Bila dirimu dekat aku memanggilmu “hai, yang”.
Bila dirimu jauh aku memanggilmu “wahai cayang”.

Seperti MAF’UL LIAJLIH,,,,
Perasaan yang didatangkan untukku ini menjelaskan penyebb terjadinya cintaku padamu.

Seperti MUSTASNAA,,,
Tak ada seseorang yang kucinta kecuali dirimu.

Seperti MASDAR,,,
Kamu berada diurutan yang ketiga diantara yang kucinta.
Pertama adalah cintaku kepada Allah dan rasul.
Kedua kepada orang tuaku guru dan ulama.
Ketiga adalah cintaku padamu.

Seperti MAF’UL BIH,,,
Kamu adalah yang menjadi subjek seseorang yang aku idamkan.

Seperti hal,
Tingkah lakumu yang membuat diriku jatuh cinta padamu…..

Cinta itu seperti KALIMAT ISIM
Cinta itu tidak dibatasi oleh waktu

Cinta itu seperti MUBTADA KHOBAR
Andai Adinda Mubtada, maka Kakanda akan menjadi khobarnya
Seorang Kakanda akan selalu ada untuk Adinda

Cinta juga bagaikan FI’IL dan FA’IL
Dirinya tak ada artinya tanpa kehadiran kekasihnya

Dan Juga bagaikan JAR MAJRUR
Kemanapun kekasihnya pergi, Ia kan slalu menemaninya.
Atau bahkan seperti SYARAT JAWAB
Bila kekasihnya tidak ada, apalah arti hidupnya?

Wahai Ternyata tidak selamanya perasaan ini MABNI. Tapi sungguh sulit mengADZFU bayangmu. Padahal aku sudah mencoba memasukkan AMIL-AMIL lain. Namun tetap saja sulit mencari pemBADALmu. Kamu memang benar-benar FAIL yang sempurna. Yang membuat perasaan ku semakin mengTAUKID. Walau antara kita mungkin tak pernah terATHOFkan. Aku ingin mengIDHOFkan perasaanku ini padamu. Lalu bagai mana HAL-mu atas perasaanku???

Mungkin perumpaan istilah tersebut bisa di katakan lebay (berlebihan) namun setidaknya itu cara mengungkapkan dan mencurahkan isi hati seorang santri ketika kefitrahannya di semayamkan oleh yang maha suci dalam lubuk hatinya, sehingga terinspirasi dan termotivasi untuk menjabarkan semua itu melalui karya literasi bahasa arabnya pada sebuah perumpaan istilah asmara.

Wallohu A’almu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
santri.net