Pesan Terdalam Bagi Para Perusak Bumi Dari Isi dan Kandungan Bait Kitab Alfiyyah

Pesan Terdalam Bagi Para Perusak Bumi Dari Isi dan Kandungan Bait Kitab Alfiyyah

Almunawwar.or.id – Banyak hikmah dan pesan kesan tertentu yang terkandung dalam sebuah karya-karya para Ulama dahulu yang notabane nya mereka adalah orang beramal sesuai dengan amaliyahnya juga berilmu yang di manfaatkan untuk kepentingan umat di muka bumi ini.

Tidak hanya manfaat besar yang bisa di rasakan dan di nikmati oleh kaum muslimin saja, namun dari pengamalan sesuai dengan pengalaman, dalam artian apa yang telah di buat melalui karya itu adalah sebuah pengalaman berharga semasa hidupnya, Sehingga semua orang merasakan manfaat besar dari keberkahan ilmunya tersebut.

Mereka para Ulama selalu beramal sesuai dengan ilmu dan apa yang di rasakan oleh ruhaninya, berbeda dengan kaum awam yang hanya bisa beramal namun tidak pernah merasakan apa yang di sampaikan atau apa yang di amalkannya tersebut, meskipun sebagian masih bisa melakukannya.

Sehingga buah hasil karya seorang Ulama itu sangat begitu besar manfaatnya, walaupun hanya terulis dalam coretan pena-pena dan kalam, namun pesan dan kesan yang begitu terdalam dan mengandung makna tertentu dari karyanya tersebut nampak bisa terlihat dan bisa menjadi pembelajaran pasti bagi kemaslahatan kehidupan di muka bumi ini.

Salah satunya seperti makna yang terkandung dalam satu bait kitab Alfiyyah karangan Imam Ibn Malik Al Andalusy, lebiuh tepatnya pada bab “Al Hal” dimana terdapat diksi dan narasi kuat terhadap posisi serta kontribusi dari adanya bab tersebut.

Terutama bagi mereka para penikmat dunia ini yang kurang memikirkan kemanfaatan bumi untuk ke depannya sebagai tempat kita bersinggasana, beramal sesuai dengan hakikat dari penciptaan manusia ke muka bumi ini. Bukan jadi perusak akan tetapi menjadi seorang ‘Kholifatu Fil Ardly” Pemimpin di muka bumi. Sebagaimana yang tersirat dalam sebuah kutipan karya Muhammad Al-Fayyadl tentang pemaknaan dari isi bait kitab alfiyyah

PESAN KITAB ALFIYYAH UNTUK PARA PERUSAK BUMI

Barangsiapa mengaji sungguh-sungguh kitab “Alfiyyah” karangan Ibnu Malik di bidang ilmu Nahwu, dia insya Allah tidak akan menjadi aktor-aktor perusakan di muka bumi, seperti bekerjasama dengan para pemodal tambang, ikut dalam bisnis ekstraktif yang merusak lingkungan, atau ikut-ikutan mendukung proyek tambang serta proyek-proyek perampas ruang hidup rakyat lainnya yang dibuat oleh pemerintah.

Ini karena Ibnu Malik menulis di dalam baitnya,

وعَامِلُ الحَالِ بهَا قد أُكِّدَا # فِي نَحْوِ لَا تَعْثَ فِي الأرْضِ مُفْسِدَا

Artinya :

“Dan sungguh-sungguh ‘Amil-nya Haal (kalimat yang melahirkan Haal) hadir dalam bentuk di-Tawkid, seperti dalam contoh: ‘Janganlah engkau berbuat kerusakan di bumi seraya (dalam keadaan, Haal) benar-benar membuat kerusakan nyata’”.

Pengertian bait tersebut, menurut Ilmu Nahwu: terkadang Haal hadir dalam bentuk Tawkid, artinya memiliki fungsi signifikasi memperkuat pengertian kata sebelumnya, atau meradikalisasinya, menajamkannya.

Haal adalah istilah ulama Nahwu (gramatika Arab) untuk menyebut suatu sifat yang mencirikan sesuatu, namun tidak permanen dan aksidental, serta dapat berubah-ubah. Kita mengenal ini dengan kata “seraya”, “sembari”, “sambil”, atau “dalam keadaan”. Suatu “state of things”. Seperti, “Saya makan sambil berjalan” (akaltu maasyiyan), atau “saya shalat dalam keadaan menghadap kiblat” (usholli mustaqbilal-qiblati), dan seterusnya.

Dalam kasus tertentu, ada Haal yang diungkapkan dengan kata berbeda dari kata sebelumnya, namun memiliki pengertian serupa, bahkan lebih mendalam.

Seperti dalam contoh: لا تعث في الأرض

“Janganlah berbuat kerusakan nyata (parah) di muka bumi”.

Kalimat ini saja memiliki pesan sangat kuat. Karena kata “’atsaa’-ya’tsuu’” (عثا – يعثو ) sudah berarti “berbuat kerusakan yang sangat parah”. Lebih-lebih ketika diimbuhi kata Haal “mufisdan” (مفسدا) yang berarti “orang yang berbuat kerusakan”.
Maka, ketika diungkapkan lengkap,

لا تعث في الأرض مفسدا

Dapat diterjemahkan menjadi: “Janganlah engkau berbuat kerusakan nyata di bumi dalam keadaan sebagai orang yang sungguh-sungguh berbuat merusak”.

Kalau di-syarah (diuraikan) begini lebih gamblang:

“Janganlah engkau berbuat kerusakan nyata dan parah, serta dampak merusaknya terus-menerus (hingga diwariskan ke generasi berikutnya), di bumi, yang membuat engkau hari ini dicatat dan diberi identitas (di sisi Allah dan menurut pandangan manusia) sebagai ‘mufsid’ (hamba kriminal yang kerjanya berbuat kerusakan)”.

Ini sejalan dengan redaksi ayat Al-Baqarah: 60 :

وَإِذِ اسْتَسْقَىٰ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ ۖ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۖ قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ ۖ كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan”.

Menggali bait-bait Ibn Malik, ada beberapa yang bisa dipetik dan di mabil hikmahnya :

1. Berbuat kerusakan di muka bumi adalah suatu tindakan (Fi’il), dan itu saja sudah tercela. Lebih-lebih ketika menjadi Haal atau keadaan yang dibiarkan terus-menerus (dilanggengkan).

2. Ketika berbuat kerusakan telah menjadi keadaan (Haal, “state of things”, Status Quo), maka pola perusakannya menjadi sistemik dan dampaknya semakin kuat dan menghancurkan terhadap kehidupan di bumi.

3. Meski begitu, karena berupa Haal, keadaan itu bisa berubah asalkan tindakannya juga berubah. Artinya, perusakan apapun, sesistemik apapun, dapat dihentikan asalkan perilakunya dicegah.

4. Mengubah sistem harus dimulai dari mencegah prakondisi yang memudahkan perilaku. Perilaku merusak terjadi karena pembiaran dan legitimasi. Dalam konteks perusakan lingkungan, wajib hukumnya kita tidak diam membiarkan para pemodal perusak lingkungan berbuat semena-mena, wajib hukumnya melakukan delegitimasi dan pembongkaran atas semua proyek perusakan (Ifsaad fil Ardl). Hal itu semata mencegah agar perbuatan itu tidak ter-Tawkid (terkokohkan) menjadi pola. Di sini letak nilai Jihad Lingkungan, Jihad Ekologi, Jihad Agraria.

Ini baru satu bait. Bagaimana dengan bait yang lain?

Kitab “Alfiyyah” Ibnu Malik memiliki banyak pesona misterius. Syaikhona Kholil Bangkalan konon berfatwa fikih melalui bait “Alfiyyah”. Kalau kita beranjak ke bait berikutnya, lebih asyik lagi. Seperti pada kalimat bait:

وان تؤكد جملة فمضمر

“Dan jika Haal di-Tawkiid sebagai satu Jumlah (rombongan kalimat), maka ‘Amilnya disembunyikan”.

Ini bisa diterjemah, untuk konteks lingkungan hidup hari ini,

“Jika perilaku merusak itu dilakukan secara beramai-ramai, maka biasanya pelaku utamanya (‘Aamil)-nya – yaitu pemodal – tersembunyi (berada di balik layar)”.

Al-Fatihah untuk Imam Ibnu Malik Al-Andalusi, semoga karyanya terus menjadi inspirasi kaum santri untuk tetap termotivasi belajar di Pondok Pesantren sehingga mampu melahirkan tunas-tunas harapan bangsa dan agama yang mampu menciptakan dan menjaga kelestarian bumi ini.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
Muhammad Al-Fayyadl