Petuah Bijak Dari Gus Mus Tentang Nikmat, Anugerah dan Alasan Untuk Bersyukur

Petuah Bijak Dari Gus Mus Tentang Nikmat, Anugerah dan Alasan Untuk Bersyukur

Almunawwar.or.id – Adalah sebuah kebijakan yang terlahir berdasarkan ilmu dan pengalaman sehingga melahirkan dan mencetuskan petuah bijak untuk lebih memberikan dan berpandangan bagaimana cara kita dalam menyikapi dan mensyukuri nikmat hidup dan kehidupan ini.

Karena di satu sisi itu adalah bagian yang semestinya di sadari akan satu nilai keharusan bagi seorang manusia yang sejatinya mahkluq paling smepurna di banding dengan mahluk lainnya, hingga terlahirlah upaya untuk bisa memaknai kedudukan dan arti dari pada hidup ini.

Termasuk menjadi salah satu warga dan juga orang yang bernaung dalam satu organisasi keislaman yang di jadikannya sebagai langit kedua ketika dalam memprakarsai apa yang menjadi cara berpikir dan berpandangannya terhadap nilai dari pada keutuhan menjadi seorang manusia.

Oleh sebab itulah penting kiranya mampu mengambil hikmah yang terpetik dan yang terlahir dari petuah-petuah bijak para Ulama, salah satunya adalah petuah KH. Ahmad Mustofa Bisri atau yang populer di sapa (Gus Mus) yang memberikan nasihat dan cara berpikirnya dalam sendi-sendi kehidupan ini.

Tentang KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus)
Dilahirkan di Rembang , 10 Agustus 1944, Gus Mus (KH. Ahmad Mustofa Bisri) beruntung dibesarkan dalam keluarga yang patriotis, intelek, progresif sekaligus penuh kasih sayang. Kakeknya (H. Zaenal Mustofa) adalah seorang saudagar ternama yang dikenal sangat menyayangi ulama.

Alumnus dan penerima beasiswa dari Universitas Al Azhar Cairo (Mesir, 1964-1970) untuk studi islam dan bahasa arab ini, sebelumnya menempuh pendidikan di SR 6 tahun (Rembang, 1950-1956), Pesantren Lirboyo (kediri, 1956-1958), Pesantren Krapyak (Yogyakarta, 1958-1962), Pesantren Taman Pelajar Islam (Rembang, 1962-1964).

Dinaungi bimbingan para kiai dan keluarga yang saling mengasihi, yatim sejak masih kecil tidak membuat pendidikan anak-anak H. Zaenal Mustofa terlantar dalam pendidikan mereka. Buah perpaduan keluarga H. Zaenal Mustofa dengan keluarga ulama bahkan terpatri dengan berdirinya “Taman Pelajar Islam” (Roudlatuth Tholibin), pondok pesantren yang kini diasuh Gus Mus bersaudara.

Pondok ini didirikan tahun 1955 oleh ayah Gus Mus, KH. Bisri Mustofa. Taman Pelajar Islam secara fisik dibangun diatas tanah wakaf H. Zaenal Mustofa, dengan pendiri dan pengasuh KH Bisri Mustofa sebagai pewaris ilmu dan semangat pondok pesantren Kasingan yang terkemuka diwilayah pantura bagian timur waktu itu, dan bubar pada tahun 1943 karena pendudukan Jepang.

KH. Bisri Mustofa sendiri adalah menantu KH. Cholil Harun, ikon ilmu keagamaan (Islam) di wilayah pantura bagian timur (Anshari, et.al.,2005: 34). Ayah Gus Mus sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya, lebih dari sekedar pendidikan formal. Meskipun otoriter dalam prinsip, namun ayahnya mendukung anaknya untuk berkembang sesuai dengan minatnya.

Menikah dengan Hj. Siti fatmah (1971), mereka dikaruniai 7 anak (6 putri, 1 putra bernama M. Bisri Mustofa), dan 13 cucu. Yang semakin langka dalam keluarga masa kini, namun nyata berlangsung dalam keluarga Gus Mus adalah hubungan saling menghormati, saling menyayangi diantara sesama anggota keluarga.

Sebagai ilustrasi, kiprah sang ayah di dunia politik (Anggota Majelis Konstituante, 1955; Anggota MPRS, 1959; Anggota MPR, 1971), tidak dengan sendirinya membuat Gus Mus tertarik kepada dunia politik. Jika akhirnya Gus Mus terjun juga ke dunia politik (1982-1992 anggota DPRD Jawa Tengah; 1992-1997 Anggota MPR RI) itu lebih karena pertimbangan tanggung jawab yang tak bisa dielakkannya, mengingat kapasitas-kapasitasnya. Dengan mengambil sikap-sikap politik yang sulit, Gus Mus sangat memperhitungkan restu keluarganya, terutama ibundanya Hj. Ma’rufah, selain istri dan anak-anaknya.

Tiga Nikmat yang Tak Disadari
1. Pikiran dan nurani
“Menjadi seorang manusia yang lengkap dengan akal pikiran dan nurani. Keduanya adalah sesuatu yang tidak dimiliki oleh mahkluk lain, kita dapat bebas mengekspresikan segala hal. Berbeda dengan mahkluk lain seperti hewan dan malaikat, mereka tidak sempurna dalam mengekspresikan sesuatu. “Misalnya malaikat, apabila sujud ya sujud terus. Kalau rukuk ya selamanya rukuk.

2. Menjadi umat Nabi Muhammad SAW
Rasulullah Muhammad SAW adalah satu-satunya manusia yang mengerti manusia, memikirkan manusia dan memanusiakan manusia. “Perlu disyukuri kita yang hidup di zaman sekarang masih bisa mengikuti beliau dan menjadi umatnya, karena belum tentu jika kita hidup di zaman Rasulullah dulu kita akan ikut beliau. Jangan-jangan malah bisa jadi kita mengikuti Abu Jahal.

3. Dititahkan kita menjadi orang Indonesia
Gus Mus bercerita ketika orang dari luar mengunjungi Indonesia, khususnya orang Arab. Mereka sangat mengagumi Indonesia bahkan mengatakan orang Indonesia tidak akan heran jika besok masuk surga, karena tanah airnya adalah sepotong surga.

Gus Mus mengenang ketika dirinya tinggal di Mesir. Di dalam ruangan gerah, keluar juga gerah pada musim panas. “Pada musim dingin, satu jari saja terbuka, rasanya langsung beku seluruh badan. Berbeda sekali dengan hidup di Indonesia,” kata Gus Mus.

Tiga Anugerah yang Lupa Disyukuri
1. Anugerah Pertama diciptakannya kita sebagai manusia oleh Allah SWT
Takdir mahluk diciptakan sebagai manusia adalah anugerah terbesar, sebab termasuk ciptaan-Nya yang terbaik. Dengan itu kita diberi akal, anggota tubuh beserta potensinya, hati dan kekuasaan untuk memilih jalan hidup, tidak sebagaimana makhluk lainnya. “Beda halnya dengan malaikat, sekali diperintah ruku’ dia akan ruku’ selamanya.

2. Anugerah terbesar kedua yaitu sholat
Demikian itu merupakan kesempatan untuk bernegosiasi langsung dengan Allah SWT sebanyak lima kali dalam sehari. “Kalau kita saja bangga bertemu presiden, menteri bahkan gubernur, maka sholat lebih utama karena kita diberi kesempatan bertemu dengan Yang Maharaja di atas segalanya.

3. Anugerah ketiga adalah menjadi warga negara Indonesia
Sebab katanya, tidak ada yang lebih sempurna dari Indonesia. Tidak seperti di Eropa, Amerika dan benua-benua lainnya yang penuh dengan ketimpangan. “Di Indonesia nyaman, tidak terlalu panas juga tidak terlalu dingin, bahkan Grand Syeikh-nya Mesir pernah berkata kepada saya kalau Indonesia adalah serpihan surga,” tandasnya.

Ia juga menceritakan pengalamannya saat di Mesir yang harus menyiram tempat tidurnya terlebih dahulu sebelum ditiduri, juga di Jerman yang saat itu suhunya mencapai minus 20 derajat. Warganya juga seragam, tidak sebagaimana Indonesia yang beragam dan menyenangkan.

Empat Alasan Mengapa Kita Harus Bersyukur
1. Bersyukur karena Allah telah menciptakan kita menjadi manusia
Ini merupakan anugrah Allah SWT yang amat luar biasa. Karena kita diciptakan sebagai manusia dapat berpikir, merasa dan mengespresikannya. Sebab, sebenarnya Allah SWT juga menciptakan makhluk lain yang tak bisa apa-apa. Seperti batu, kerikil dan seterusnya. Mereka ini merupakan makhluk-makhluk Allah SWT yang tak berdaya. Tak bisa bepikir dan tak bisa merasa.

Ada juga makhluk Allah yang yang diciptakan Allah SWT bisa berpikir dan merasa, akan tetapi tidak bisa mengekspresikannya. Makhluk ini bernama tumbuhan. Lalu, Allah SWT juga menciptakan makhluk yang bernama hewan. Mereka mampu berpikir, merasa juga mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya tapi tidak sempurna.

“Bersukurlah kita diciptakan Allah SWT menjadi manusia,” Cara bersyukur karena menjadi manusia yaitu tetap menjadi manusia. Dengan menjaga kewarasan akal dan nurani.

2. Bersyukur karena Allah SWT mengangkat Nabi Muhammad SAW menjadi pemimpin kita
Karena Allah mengangkat pemimpin kita dari kalangan manusia yang paling manusia. Sebab Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang paling manusia, manusia yang mengerti manusia dan menuasia yang paling memanusiakan manusia.

Nabi Muhammad sangat mengerti karakteristik umatnya. Dari yang model dan tingkatannya PAUD, TK, MI, MTS, MA atau perguruan tinggi. Makanya hadis Nabi yang jumlahnya ribuan itu isinya bermacam-macam. Tidak ada perintah Kanjeng Nabi yang memberatkan sedikitpun. Nabi juga pemimpin yang tidak hanya memerintah saja, namun juga memberikan teladan.

“Cara bersyukur sebagai umatnya Nabi Muhammad SAW dengan kita memperkenalkan dan menunjukkan akhlak Nabi Muhammad SAW kepada lingkungan sekitar kita”.

3. Bersyukur karena kita diciptakan Allah SWT menjadi orang Indonesia
Beliau memperbandingkan kondisi Indonesia dengan luar negeri khusunya dengan Mesir. Di Mesir ada empat musim yaitu panas, gugur, semi dan dingin. Musim yang paling mirip di Indonesia ialah musim semi. Selain musim semi, sangat ekstrim semua. Rasanya seperti mendapat adzab Allah.

Tak hanya itu, bahkan dulu seorang Grand Syekh Mesir, Syekh Saltut saat berkunjung ke Indonesia juga memuji Indonesia. Indonesia dikatakan bagai negeri potongan dari surga. Bagaimana mungkin kita tidak bersyukur?

“Cara kita bersyukur sebagai orang Indonesia yaitu dengan merawat Indonesia. Menjaga persatuan dan kesatuan serta tetap ber-Ketuhanan yang Maha Esa. Seperti yang tertera dalam pancasila.”

4. Bersyukur karena kita diciptakan Allah SWT menjadi orang NU
Karena NU merupakan organisasi yang didirikan oleh orang-orang muklis yang tidak punya kepentingan apa-apa. NU didirikan bukan hanya untuk berkhidmat kepada masyarakat NU saja, tetapi untuk masyarakat Indonesia.

“Bersyukur sebagai orang NU yakni dengan tetap menjaga khittah Nadlatul Ulama. Di antaranya yakni dalam sikap kemasyarakatan warga Nahdaltul Ulama dan para pengurusnya yang terpenting sak madya. Artinya tidak berlebih-lebihan. Suka dunia, partai, pasangan sekadarnya saja.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
nu.or.id
gusmus.net