Rahasia Mencapai Derajat Tinggi Dari 5 Kunci Sukses Dalam Alfiyah Ibnu Malik

Rahasia Mencapai Derajat Tinggi Dari 5 Kunci Sukses Dalam Alfiyah Ibnu Malik

Almunawwar.or.id – Penting sekali mengenal dan mengetahui salah satu yang menjadi landasan ilmu ketika seseorang akan mempelajari berbagai macam kaidah-kaidah agama yang tentunya bersumber pada Alquran dan sunnah, sehingga sangat dibutuhkan sebuah metode terbaik untuk menggali semua itu.

Terutama bagi para pelajar dan santri yang memang di tuntut untuk harus lebih menguasai dasar dari pada penggalian sebuah ilmu untuk mampu menjawab tantangan semua permasalahan hidup dan kehidupan ini agar tetap bisa berjalan sesuai dengan tujuan dari kaidah yang sesungguhnya.

Dan hal inilah rupanya yang perlu di perhatikan dan di garis bawahi dalam memaknai sebuah kandungan ilmu-ilmu yang menerangkan bahkan menjadi dasar pengetahun bagi ilmu lainnya, seperti yang bisa di tuai dari lima kunci sukses yang terdapat pada kajian alfiyah ibnu malik.

Nama tersebut mungkin sudah tidak asing lagi bagi mereka para santri dan para pelajar yang menimba ilmu di berbagai lembaga pendidikan agama, dengan menjadikan literasi bahasa arab yang di bahas tuntas secara detail an mendasar lewat bait-bait dan sarah yang terdapat pada kitab alfiyyah ibnu malik tersebut, dan berikut kelima rahasia tersebut.

Dalam hal ini, Ibnu Malik Al-Andalusi dalam kitab Alfiyah-nya mesdiskripsikan cara itu. Ada lima syarat yang bisa mengantarkan seseorang (thalibul ‘ilmi) pada derajat yang tinggi. Lima point tersebut yang nantinya akan membedakan antara thalibul ‘ilmi yang taat dan tidak. Hal itu beliau torehkan dalam bait syair Alfiyah-nya yang berbunyi:

بالجر والتنوين والنداء وال ومسند للاسم تمييز حصل

“Bil jarri wat tanwini wan nida wa al # wa musnadin lil ismi tamyizun hashal”

1.  Bil jarri Artinya, Seseorang thalibul ‘ilmi harus mempunyai dan bersifat, pertama, jar. Dalam artian tunduk dan tawadduk terhadap semua perintah (baik dari Allah SWT maupun pemerintah). Sesuai dengan apa yang di firmankan Allah swt. yang berbunyi, “athi’ullaha wa athi’ur rasul wa ulil amri minkum”.

2.  Tanwin. Artinya kemampuan (baca: niat) yang tinggi mencari ridha Allah SWT. Dengan adanya kemauan yang tinggi seorang thalibul ‘ilmi akan mencapai apa yang ia inginkan. Sesuai dengan apa yang di sabdakan nabi Muhammad saw. yang datangnya dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh, Umar bin Khattab r.a. bahwa nabi Muhammad saw. pernah bersabda yang bunyinya, “innamal a’malu binniyati, wa innama likullimriin ma nawa… (al-Hadits)”.

3.  Nida’. Artinya dzikir. Setelah adanya niat yang baik untuk mencapai tempat yang layak di sisi Allah swt., seorang thalibul ‘ilmi diharapkan berdzikir mengingat-Nya. Dengan ini, niat awal tidak akan menjadi ‘ashi (bis safar/fis safar).

4.  Al, yang berarti berfikir. Karena berfikir manusia mempunyai derajat yang lebih tinggi dari makhluk Allah lainnya. Maka dari itu, setidaknya seseorang yang ingin menggapai sesuatu seyogyanya menggunakan akal pikirannya sebaik mungkin, dengan tidak menggunakannya pada jalan yang salah, tidak berpikiran licik. Tidak seperti apa yang jamak dilakukan para aktivis yang kadang menggunakan akal pikirannya untuk mengkorup uang bawahannya, instansi, dan sejenisnya.

5.  Musnad ilaih. Beramal nyata (ikhlas). Cara yang kelima ini merupakan puncak dari semuanya. Dengan ikhlas semuanya akan gampang,  bahkan hal yang selama ini sulit untuk di dapatkan itu bisa terealsasiakn rahasianya hanya dengan bisa melapangkan hati untuk senantiasa ikhlas dalam segala amal.

Jadi sejatinya dari lima konsep di atas tidak hanya untuk thalibul ‘ilmi semata, akan tetapi bisa juga untuk mereka yang ingin menjadi lebih baik dan lebih maju, termasuk para pemimpin kita yang berada dalam angka krisis yang mampu di aplikasikan secara penjabaran yang berjalan di semua sisi kehidupan.

Wallohu A’lamu Bishowab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id