Riwayat KH Miftachul Akhyar Dari Mondok Sampai Menjadi Rais Aam PBNU

Riwayat KH Miftachul Akhyar Dari Mondok Sampai Menjadi Rais Aam PBNU

Almunawwar.or.id – Kehadiran orang yang memiliki ilmu dalam sebuah organisasi tentu akan menjadi sebuah kulturisasi yang kuat terhadap perkembangan dari organisasi tersebut, terutama dari mereka para Ulama yang mengenal betul arti penting dari pada sebuah ahlak dalam kehidupan.

Peran serta yang di tunjukan dari kehadirannya tersebut tentu tidak lepas dari perjuangan panjang yang menghiasi perjalanan panjang hidupnya, dari semasa di lembaga pendidikan sampai dengan di percayanya untuk mengemban amanat dan tugas sebaga pucuk pimpinan dalam sebuah organisasi kemayarakatan dan keagamaan terbesar.

Tidak hanya luhung dalam berilmua agama, Ahklaqul karimah yang selalu di utamakan dalam dirinya menjadi ciri khas dan kelebiahn tersendiri yang di miliki oleh tokoh yang satu ini.Bahkan dari segi genealogi keilmuanya itu sudah dikenal oleh para Ualam semasanya termasuk dari santri-santri yanng mondok di lembaga pesantrennnya.

Ahlak dan tingginya ilmu beliau menjadi pelita untuk kampung halaman juga bagi masyarakat sekitar, sehingga berangkat dari kesederhanaannya tersebut dalam memaparkan ilmu sekaligus mengamalkaannya terutama ketika berkecimpung dalam sebuah wadah organisasi sebesar Nahdlotul Ulama, membuat namanya masuk pada jajaran kepengurusan.

Sebagaimana yang di kutip dalam keterangan yang di tuturkan oleh salah seorang pengurus LTNNU Jawa Timur sekaligus menjadi aktifis penting dalam organisasi tersebut, Berikut penuturannya:

Kiai Miftah adalah Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya. Ia adalah putra Pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah KH Abdul Ghoni. Ia lahir tahun 1953, anak kesembilan dari 13 bersaudara.

Di NU ia pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah PCNU Surabaya 2000-2005, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur 2007-2013, 2013-2018 dan Wakil Rais Aam PBNU 2015-2020 yang selanjutnya didaulat sebagai Pj. Rais Aam PBNU 2018-2020, di Gedung PBNU, Sabtu (22/9).

Menurut catatan PW LTNNU Jatim Ahmad Karomi, genealogi keilmuan KH Miftachul Akhyar tidak diragukan lagi. Ia tercatat pernah nyantri di Pondok Pesantren Tambak Beras, Pondok Pesantren Sidogiri (Jawa Timur), Pondok Pesantren Lasem Jawa Tengah, dan mengikuti Majelis Ta’lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al- Maliki di Malang, tepatnya ketika Sayyid Muhammad masih mengajar di Indonesia.

Penguasaan ilmu agama KH Miftachul Akhyar ini membuat kagum Syekh Masduki Lasem sehingga ia diambil menantu oleh oleh kiai yang terhitung sebagai mutakharrijin (alumnus) istimewa di Pondok Pesantren Tremas.

Kemudian KH Miftachul Akhyar mendirikan Pondok Miftachus Sunnah di Kedung Tarukan mulai dari nol. Awalnya ia hanya berniat mendiami rumah sang kakek, tetapi setelah melihat fenomena pentingnya “nilai religius” di tengah masyarakat setempat, maka mulailah beliau membuka pengajian. Apa sebab?

“Konon, kampung Kedung Tarukan terkenal sejak lama menjadi daerah yang tidak ramah pada dakwah para ulama. Namun berkat akhlak dan ketinggian ilmu yang dimiliki KH Miftachul Akhyar, beliau berhasil mengubah kesan negatif itu sehingga kampung yang “gelap” menjadi “terang dan sejuk” seperti saat ini dalam waktu yang relatif singkat.

Kesederhanaan KH. Miftachul Akhyar, menurut Karomi, yang terekam dengan jelas adalah bentuk penghormatan terhadap tamu. Kiai Miftah tidak segan-segan menuangkan wedang dan menyajikan cemilan kepada tamunya.

“Akhlak ini beliau dapat dari ayahandanya, KH Abdul Ghoni,” lanjut Karomi.

Karomi mengutip penuturan Gus Tajul Mafakhir, bahwa ayah KH Miftachul Akhyar merupakan karib KH M. Usman al-Ishaqi Sawahpulo saat sama-sama nyantri kepada Kiai Romli di Rejoso, Jombang. Terlebih lagi saat sang ayah nyantri kepada Kiai Dahlan Ahyad Kebondalem sang pendiri MIAI dan Taswirul Afkar.

“Tepatlah kiranya pepatah mengatakan: “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. KH Abd Ghoni dalam pandangan Abah Thoyib Krian merupakan salah satu kiai ampuh yang ditutupi oleh keindahan akhlak. Acapkali KH Abd Ghoni mengadukkan wedang, menyuguhkan dan mempersilahkan kepada tamunya. Nah, “lelaku sae” inilah yang oleh KH Miftachul Akhyar tetap dilestarikan. Demikian tutur Ahmad Karomi.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
santrionline.net