Ruang Lingkup Diri Sebagai Batas Awal Dari Pembiasan Kebaikan Bagi Orang Lain

Ruang Lingkup Diri Sebagai Batas Awal Dari Pembiasan Kebaikan Bagi Orang Lain

Almunawwar.or.id – Tiada harapan yang mampu menjadi keinginan bagi seorang hmba terkecuali harapan tersebut mampu di wujudkan dan di realisasikan sesuai dengan apa yang di inginkannya tersebut, sehingga bisa menuai apa yang selama ini dirinya inginkan selama ini.

Karena dari hal tersebut, lahirlah empat hal yang memang tidak lepas dari sisi kehidupan manusia ini yaitu harapan keinginan, kegelisahan dan juga penderitaan yang merupakan buah dari pada adanya keingnan tersebut, yang kiranya bisa menemukan jati diri yang sesunguhnya.

Dan dari keempat hal tersebut, maka muncul adanya tatanan dan tatapan untuk kehidupan dimasa yang akan datang dan selanjutnya mewarnai sisi dari raung aktifitas sehari-hari yang di rajut sebagai asa dari pada bagian dari harapan tersebut.

Jangan sampai merasa terbelenggu dan terpenjara oleh keempat hal yang di maksudkan tadi, karena justru akan terlena dengan duniawi saja lupa akan tujuan hidup yang sesungguhnya, hingga tiada kehidupan yang sejati dalam diri dan dari pencahayaan batinnya.

Tapi sebaliknya, seorang manusia di tuntut untuk lebih berkreasi berifikir positif dan tetap optimis dalam menjalankan arti dari pada tujuan hidup ini yang kelak akan kekal di akhirat nanti sebagai tujuan pasti dalam menganrungi dan menaungi buah dari pada harapan tersebut.

Sebab dalam kehidupan ini, manusia sering dirundung masalah, dari mulai yang biasa-biasa saja, sampai dengan yang terberat. Kadangkala dalam posisi tertentu tidak sedikit yang merasa kesulitan dan lelah menghadapi masalah. Padahal, jika kita mau berpikir, masalah terbesar kehidupan manusia bukanlah masalah, tapi tanpa masalah.

Kenapa? Karena sesungguhnya sejati dari pada seorang manusia itu akan mengalami kekosongan, manusia tidak akan “menjadi”, ia berada pada ruang hampa, tanpa bisa dinilai dan tanpa penilaian. Artinya, ia kehilangan eksistensinya ketika terbelenggu oleh sebuah hal yang di anggap masalah tersebut.

Padahal jika di renungkan kembali, berpikir jernih dan tetap husnudzon dengan segala yang ada, sesungguhnya hal yang di sebut masalah tersebut tidak akan merasa jadi masalah, sebab mampu di jawab dan di manage pasti oleh segenap jiwa, hati dan perasaan dalam menemukan dan memecahkan sesuatu yang bisa di rasa sebagai sebuah masalah.

Dan rupanya hal tersebut memang tidak bisa di tinggalkann dan di abaikan begitu saja, sebab perjalanan dalam proses “menjadi”—manusia dipaksa untuk berhadapan dengan manusia lainnya, yang sama-sama punya keinginan, punya harapan, punya kegelisahan, dan punya penderitaan.

Sehingga antara manusia satu dengan manusia lainnya mengalami benturan kepentingan. Di sini terkadang manusia lupa diri dan lupa akan dirinya. mengengesampingkan nilai keutuhan kebersamaan yang justru itu akan menemukan kebahagiaan yang memang selama ini menjadi tujuan dari hidup dan kehidupan ini.

Ingatlah manusia dilemparkan ke dunia di awali dengan masalah, Nabi Adam dan Siti Hawa menghuni dunia ini dimulai dengan kisah “masalah”, putra Nabi Adam saling membunuh adalah “masalah”. Itu sebagai cara Allah S.W.T agar manusia “menjadi”, tanpa kekosongan.

Karena dalam proses menjadi itu manusia berbuat, bertindak, berpikir, dan berkenalan. Perjalanan itu berlaku hingga sekarang, semua manusia berusaha untuk “menjadi” dan bereksistensi.

Serta mampu berinteraksi dengan orang lain sebagai langkah bijak dalam menyelerasikan antara kepentingan pribadi serta kemaslahatan dan kemanfaatan orang banyak, Berlomba dalam kebaikan, berarti tidak melakukan kecurangan hanya untuk meraih kemenangan dan rasanya asa diri yang tinggi.

Meskipun jauh dari mengenali diri itu praktiknya tidaklah mudah. Tidak setiap orang dengan sendirinya kenal terhadap kesejatian diri. Setiap orang bisa saja mengenali wajahnya melalui cermin atau foto, namun bukan itu maksudnya, ini perjalanan ke dalam diri. Kenapa orang buta yang tak pernah melihat wajahnya tapi mengenali dirinya, karena ‘menjabat tangan sendiri’ tidak hanya sekedar fisik, tetapi kedalaman jati diri.

Dan tidak hanya di rasakan oleh diri sendiri, orang lain yang berada di sekitar termasuk dalam lingkungan itu juga turut merasakan manfaat besar yang mampu di tebarkan dan di sebarkan dalam dan mewarnai setiap rutinitas keseharian.

Ingatlah Allah S.W.T Berfirman:
1. “Dan Allah telah menyempurnakan bagimu nikmat zahir dan nikmat batin.” (QS. Lukman: 20)

لَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً ۗ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.

2. Dalam surat Adh-Dhariyat ayat 21, Allah berfirman :

وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

3. Dalam Hadits Qudsi, “Aku jadikan dalam rongga anak Adam itu mahligai,dan dalam mahligai itu ada dada, dan dalam dada itu ada hati (qalbu) namanya, dan dalam hati (qalbu) ada mata hati (fuad), dan dalam mata hati (fuad) itu ada penutup mata hati (saghaf), dan dibalik penutup mata hati (saghaf) itu ada nur/cahaya (labban), dan di dalam nur/cahaya (labban) ada rahasia (sirr), dan di dalam rahasia (sirr) itulah Aku kata Allah.”

Dengan demikian, mengenali diri selalu bersifat ke dalam dirisebagai manhaj/metode memahami Tuhannya, agar kita tidak lupa bahwa kita adalah manusia, tidak sepantasnya berlaku seperti Tuhan. Manusia diciptakan tidak lain untuk beribadah kepada Allah.

Serta proses perjalanan ke dalam diri harus dengan penghayatan yang mendalam, jujur akan setiap tindakan dan tidak boleh merasa benar.Tetapi justru semua itu tergantung tentang bagaimana cara kita memberikan eksistensi dan manfaat dan maslahat yang begitu luar biasa bagi orag yang ada di sekitar.

Semoga selamanya senantiasa di berikan hidayah, perlindungan dan juga naungan ampun dari Alloh S.W.T atas kelalaian diri dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, juga berada dalam bimbinganYA selamanya.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
nu.or.id