Sa’atul Ijabah (Waktu diijabahnya Doa) dan Hukum Mengamalkan Wirid Tanpa Ijazah

Sa'atul Ijabah (Waktu diijabahnya Doa) dan Hukum Mengamalkan Wirid Tanpa Ijazah

Almunawwar.or.id – Berdoa merupakan salah satu amalan penting yang senantiasa harus di lakukan oleh segenap umat muslim, karena selain terdapat sebuah keberkahan di balik pengucapannya tersebut, doa merupakan senjata paling ampuh bagi mereka orang muslim yang selalu menadahkan tangannya untuk berdoa.

Termasuk di dalamnya adalah mengetahui dua perkara penting yang berkaitan langsung dengan berdoa yaitu saatul ijabah (waktu di ijabahnya doa) dan maqom ijabah (tempat di ijabahnya doa) yang kedua-duanya merupakan bagian penting dari pada tata cara pelaksanaan ibadah berdoa tersebut.

Meskipun untuk poin pertama yaitu saatul ijabah menurut keterangan dari beberapa sumber kitab para Ulama itu hanya ada di luar kota suci mekkah al mukarromah dan madinah al munawwaroh, namun tidak ada salahnya bagi mereka yang erkehendak melakukan ibadah berdoa mengetahui hal-hal semacam itu.

Oleh karena itu penting kiranya bagi seorang muslim untuk tahu betul tentang kapan waktu doa itu di kabulkan, meskipun secara umum masalah doa itu tidak tergantung pada waktu dan tempat, namun jika melihat dari anjurannya memang harus dilakukan seperti itu.

Nah demikian halnya, ketika berdoa melalui sebuah rangkaian ijazah yang biasanya tidak sedikit orang yang melaksanakannya, sehingga secara prosedural adanya ijazah doa dari seorang guru mursyid itu berpengaruh terhadap isi doa dari yang di bacakannya tersebut. Berikut penjelasannya.

Waktu-Waktu di Ijabah Doa
1. Doa diantara adzan dan Iqaamah dan setelahnya
2. Doa dikala sujud
3. Doa setelah shalat lima waktu
4. Doa disaat menjalani puasa dan ketika berbuka
5. Doa setelah membaca alQuran dan menghatamkannya
6. Doanya orang bepergian
7. Doa saat perang sabilillah
8. Doa saat kaum muslimin berkumpul dalam sebuah majlis adz-dzikri
9. Do’a seorang muslim terhadap saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya
10. doa orang tua kepada anaknya
11. Orang yang teraniaya, tertindas dan orang kesusahan
12. Doa saat turun hujan
13. Doa orang sakit
14. Doa saat menjadi kekasih allah
15. Doa saat ia bersungguh-sungguh dengan sebelumnya di dahului penyebutan asma-asma Allah yang Agung.
Almausuu’ah al-Fiqhiyyah 39/225-233

أ – الدُّعَاءُ بَيْنَ الأَْذَانِ وَالإِْقَامَةِ وَبَعْدَهَا
ب – الدُّعَاءُ حَال السُّجُودِ
ج – الدُّعَاءُ بَعْدَ الصَّلاَةِ الْمَفْرُوضَةِ
د – حَال الصَّوْمِ وَحَال الإِْفْطَارِ مِنَ الصَّوْمِ :
هـ – الدُّعَاءُ بَعْدَ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَبَعْدَ خَتْمِهِ
و – دَعْوَةُ الْمُسَافِرِ
ز – الدُّعَاءُ عِنْدَ الْقِتَال فِي سَبِيل اللَّهِ
ج – حَال اجْتِمَاعِ الْمُسْلِمِينَ فِي مَجَالِسِ الذِّكْرِ :
ط – دُعَاءُ الْمُؤْمِنِ لأَِخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ
ي – دَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ وَعَلَيْهِ
ك – دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ وَالْمَكْرُوبِ
ل – الدُّعَاءُ عِنْدَ نُزُول الْغَيْثِ
م – دَعْوَةُ الْمَرِيضِ
ن – حَال أَوْلِيَاءِ اللَّهِ
س – حَال الْمُجْتَهَدِ فِي الدُّعَاءِ إِذَا وَافَقَ اسْمَ اللَّهِ الأَْعْظَمَ

Hukum Mengamalkan Aurad Tanpa Ijazah Guru
Mengamalkan wirid atau hizib seperti di atas tetap akan mendapatkan manfaat umum dari doa saja. Adapun manfaat khosshoh atau asror tidak bisa didapatkan melalui amalan-amalan tanpa ijazah dari seorang guru/mursyid. Ibarot :

وفى زبدة الإتقان صحيفة 29، مانصه:
الاجازة من الشيخ غير شرط فى جواز التصدى للاقراء والافادة فمن علم من نفسه الاهلية جازله ذلك وان لم يجزه احد وعلى ذلك السلف والصدر الصالح، وكذلك فى كل علم وفى الاقراء وافتاء خلافا لما يتوهمه الا غبياء من اعتقاد كونها شرطا. اهـ
وفى خزينة الأسرار الكبرى، ص 221، مانصه:
وقال الشيخ أبو على الدقاق لو أن رجلا يوحى اليه ولم يكن له شيخ لايجىء منه شيء من الاسرار. اهـ
وفى تفسير الصاوى، ج 1 ص 24، مانصه:
(قوله فتلقى آدم من ربه كلمات) ‑إلى أن قال‑ ومن هنا ان الذاكر لاينتفع بالذكر ولا ينور باطنه إلا اذا كان الشيخ عارفا واذنه فى ذلك والذاكر مشتاقا كتلقى آدم كلمات. اهـ

• Untuk doa-doa dan aurad yang ma`tsur (diajarkan Baginda Nabi), boleh diamalkan secara mutlak.
• Untuk doa-doa dan aurad yang tidak ma`tsur (tidak diajarkan baginda Nabi secara langsung), tidak diperbolehkan, kecuali telah ia dapatkan dari imam-imam yang masyhur dan guru-guru yang telah terkenal dalam bidang ilmiah dan keteguhan agamanya.

12 – ذهب جمهور الفقهاء إلى جواز كل دعاء دنيوي وأخروي ، ولكن الدعاء بالمأثور أفضل من غيره . (3)
__________
(3) روضة الطالبين للنووي 1 / 265 ، وأسنى المطالب 1 / 16

Mayoritas ulama FIQH menilai bolehnya berdoa baik segala doa yang berhubungan dengan duniawi atau ukhrawi, hanya saja berdoa memakai doa yang ma`tsur lebih utama. [Raudhah at-Thaalibiin I/265, Asnaa al-Mathaalib I/16, Al-Mausuuah al-Fiqhiyyah 20/265].

يجب علي متعاطي هذه الاحزاب والاوراد والاذكار امور منها ان يتلقاها من اهلها ويرويها عن الائمة المشهورين والشيوخ المعروفين باالعلم ويتخير لذلك من حسن فيه اعتقاده وثبت اليه استناده فاذا يتحقق علمه وديانتهه فله ان يعتقده ويقتدي به ولا يضره ما عرض من نقصه من غي موافقة له فيه ولا ايحاس له لان العصمة انما هي للانبياء خاصة

Diwajibkan bagi yang mengamalkan semua hizib, wirid dan dzikir ini beberapa hal, diantaranya ia harus mempertemukannya dengan guru ahlinya, diriwayatkan dari imam-imam yang telah masyhur dan guru-guru yang telah terkenal dalam bidang ilmiah dan keteguhan agamanya, telah dipersilahkan untuk dikerjakan bagi orang-orang yang telah baik keyakinannya serta cara bersandarnnya juga telah tertetapkan.

Bila guru tersebut telah diakui keilmuan dan keteguhan agamanya maka baginya boleh meyakini serta mengikutinya dan tidak akan mempengaruhi kredebilasnya hal-hal yang berkembang dari orang lain akan kekurangan yang ada pada gurunya bahwa ia tidak mencocoki ilmunya sebab sifat ma’sum (terjaga dari dosa) adanya hanya khusus bagi para nabi. (Syarh al-Hizib al-Imaam an-Nawaawy hal. 94).

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com