Sabar dan Syukur Menjadi Tolak Ukur Nilai Kehambaan Manusia Kepada Rabb Nya

Sabar dan Syukur Menjadi Tolak Ukur Nilai Kehambaan Manusia Kepada Rabb Nya

Almunawwar.or.id – Sebuah makna penting untuk di jadikan sebagai tolak ukur bagi seorang manusia ketika mengalami dua hal yang berbeda, yaitu di saat di berikan kesenangan dan kebahagiaan juga ketika di berikan kesedihan ataupun dari hal yang membuat berat dalam hati karena sesuatu yang madharat dan memberatkannya.

Dimana saat itu pemaknaan mengenai peletakan rasa syukur dan sabar sangat mempengaruhi terhadap nilai kehambaan seorang manusia yang hakikatnya makluq Alloh S.W.T yang sempurna dan di percaya untuk di jadikan sebagai pemimpin di muka bumi ini (Kholifatu Fil Ard).

Sehingga kepastian akan dua hal dari penerimaan dan penyikapan bathin dan kekuatan hati tentang bagaimana kita mengartikan rasa sabar dan syukur yang merupakan bagian dari pada kekuatan keimanan seseorang untuk mampu di amalkan dan di aplikasikan dalam setiap sendi kehidupan.

Meskipun tidak begitu mudah dan gampang untuk bisa melaksanakan arti penting dari dua hal tersebut, akan tetapi semestinya sebagai seorang hamba Alloh S.W.T (Ibaadurohmaan) mampu menunjukan kesungguhannya dalam menyatakan dan meyakinkan bahwa sabar dan sykur adalah letak dari pada tolak ukur seorang manusia yang beriman.

Dari keyakinannya tersebut maka muncullah ketetapan hati tentang bagaimana cara meletakan dan menafsirkan antara sabar dan syukur yang memang masih banyak orang yang belum faham dan mengerti betul akan makna dan maksud dari pada sabar dan syukur tersebut.

1. SHOBAR

وقال علي بن أبي طالب، رضي الله عنه: الصبر من الإيمان بنزلة الرأس في الجسد.وقال أبو القاسم الحكيم: قوله تعالى: “واصبر” أمر بالعبادة، وقوله: “وما صبرك إلا بالله” عبودية، فمن ترقىَّ من درجة لك إلى درجة بك؛ فقد انتقل من درجة العبادة إلى درجة العبودية.قال صلى الله عليه وسلم: “بك أحيا وبك أموت”.

Artinya : ” Menurut Ali bin Abi Thalib, sabar merupakan bagian dari iman sebagaimana kepala merupakan bagian dari tubuh.Menurut Abul Qasim, yang dimaksud firman Allah SWT,”Sabarlah engkau (yaa Muhammad)” adalah pondasi ibadah. Sedangkan firman Allah SWT,”tiada kesabaranmu kecuali dengan pertolongan Allah”. Adalah ubudiyah (penghambaan). Barang siapa yang naik dari satu derajat ke derajat yang lain karena pertolongan Allah maka dia pindah dari derajat kaidah menuju derajat ubudiyah. RasuluLlah SAW bersabda, “BiKa ahya wa biKa amuut” dengan pertolongan-Mu aku hidup, dan dengan pertolongan-Mu aku mati”.

Dimana perlu pemahaman khusus bagi seorang manusia dari bagaimana meletakan sabar tersebut ke dalam ketetapan hati yang tentunya sangat berpengaruh besar terhadap titik pemberangkatan nilai hidup dan kehidupan di dunia ini.

Dari sebab itulah mengapa sabar di katakan sebagai pondasi dari nilai keimanan seseorang, Sebab pada umumnya mereka yang di berikan keprihatinan dan kegalauan hati dari berbagai hal yang menimpanya sering sekali menyikapi dengan penuh rasa keluh dan kesah.

Hal ini tentunya tidak di anjurkan dan tidak pula di perbolehkan oleh agama, sebab salah mengartikan dan meletakan sabar yang sesungguhnya, untuk itu secara umum para Ulama mendifinisikan sabar ke dalam dua bagian yaitu

م الصبر على أقسام: صبر على ما هو كسب للعبد، وصبر على ما ليس بكسب له.فالصبر على المكتسب، على قسمين: صبر على ما أمر الله تعالى به، وصبر على من نهى عنه.وأما الصبر على ما ليس بمكتسب للعبد: فصبره على مقاساة ما يتصل به من حكم الله فيما يناله فيه مشقة.

Artinya : “Sabar itu terbagi menjadi dua, yaitu sabar yang berkaitan dengan usaha hamba dan sabar yang tidak berkaitan dengan usaha hamba. Sabar yang berkaitan dengan usaha hamba terbagi menjadi dua, yaitu sabar terhadap apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan sabar terhadap apa yang dilarang-Nya. Sedang sabar yang tidak berkaitaan dengan usaha adalah sabar terhadap penderitaan yang terkait dengan hukum karena mendapatkan kesulitan”.

Dan perlu di ketahui bahwa sesungguhnya kesempurnaan dari pada kesabaran seseorang itu adalah pada “pukulan pertama” artinya serentak di rasakan oleh hati ketika pertama merasakan dampak dari pada hal tersebut, dalam hal ini ‘Aisyah RA, diceritakan bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “Inna shabra ‘inda shadmatil uula”. ‘Sesungguhnya sabar yang sempurna itu pada pukulan yang pertama’.

وأخبرنا علي بن أحمد قال: أخبرنا بن عبيد قال: حدثنا أحمد بن عمر، قال: حدثنا محمد بن مرداس قال: حدثنا يوسف بن عطية، عن عطاء بن أبي ميمونة، عن أنس بن مالك، رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “الصبر عند الصدمة الأولى”.

Artinya : ” Dari sahabat Anas bin Malik diriwayatkan bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “Sabar yang paling sempurna adalah pada pukulan (ketika menghadapi cobaan) yang pertama”.

Sehingga dari kekuatan bathin saat menerima hal yang tidak di inginkan (cobaan yang pertama) itu sagat menentukan pada tingkah dan pola hati selanjutnya jika memang hal yang lebih pedih lagi akan datang menimpa lagi, Sehingga rasa bathin sudah terbiasa mengalami hal seperti itu.

Itulah sebabnya mengapa sangat penting sekali memaknai dan memposisikan sabar yang sesungguhnya, supaya keistiqomahan bathin tetap terjada dalam melaksanakan amalan ibadah yang selalu senantiasa menghantarkan nilai keimanan kita kepada keridhoannya.

قال الله، عزَّ وجلَّ: “واصبر وما صبرك إلا بالله”.وأخبرنا عليُّ بن أحمد الأهوازي، قال: أخبرنا أحمدبن عبيد البصري، قال: حدثنا أحمد بن علي الخراز قال: حدثنا أسيد بن زيد قال: حدثنا مسعود بن سعد، عن الزيات، عن أبي هريرة، عن عائشة، رضي الله عنها، رفعته، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إن الصبر عند الصدمة الأولى”.

Artinya : ” Allah SWT berfirman, “Washbir, mawaa shabruka illa biLlaah” yang artinya, “Sabarlah engkau yaa Muhammad, dan tidaklah kesabaranmu itu kecuali dengan pertolongan Allah”. (An-Nahl 27). Dari ‘Aisyah RA, diceritakan bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “Inna shabra ‘inda shadmatil uula”. ‘Sesungguhnya sabar yang sempurna itu pada pukulan yang pertama’.

Sehingga dari kekuatan hati itulah terdapat nilai-nilai dari pada hati menerima segala hal yang di berikan oleh Alloh S.W.T karena meyakini itulah yang terbaik, masalahat dan manfaat baginya dan mampu di aplikasikan ketika mata mulai terbangun dari tidur sampai menutup kembali.

Perlu diketahui bahwa sabar itu tebagi menjadi dua, yaitu kesabaran orang yang beribadah, dan kesabaran orang yang cinta. Sebaik-baik sabar orang yang beribadah adalah terjaga. Dan sebaik baik kesabaran orang yang cinta adalah tertinggal.

Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Nabi Ya’qub telah mengoptimalkan perjanjian sabar dengan dirinya sendiri dengan mengatakan, “As-shabrun jamiil “ Namun ketika tidak mendapatkannya, beliau mengatakan, “Aduh alangkah duka citaku mengenang yusuf”.

فصبر العابدين، أحسنه: أن يكون محفوظاً، وصبر المحبين أحسنه: أن يكون مرفوضاً. وفي معناه أنشدوا:تبـــــــين يوم الـــــــبـــــــين أن اعـــــــتـــــــزامــــــــــه على الصبر من إحدى الظنون الكواذبوفي هذا المعنى سمعت الأستاذ أبا علي، رحمه الله، يقول: أصبح يعقوب، عليه السلام، وقد وعد الصبر من نفسه فقال: “فصبر جميل أي: فشأني صبر جميل، ثم لم يمس حتى قال: يا أسفاً على يوسف”.

Imama Al-Ghazali mengatakan :

واعلم أن الصبر أيضاً ينقسم باعتبار حكمه إلى فرض ونفل ومكروه ومحرم فالصبر عن المحظورات فرض وعلى المكاره نفل والصبر على الأذى المحظور محظور كمن تقطع يده أو يد ولده وهو يصبر عليه ساكتا وكمن يقصد حريمه بشهوة محظورة فتهيج غيرته فيصبر عن اظهاره الغيرة ويسكت على ما يجري على أهله فهذا الصبر محرم

Artinya : “Sabar dapat dibagi menjadi beberapa kategori sesuai dengan hukumnya: sabar wajib, sunah, makruh, dan haram. Sabar dalam menahan diri dari segala sesuatu yang dilarang syariat adalah wajib. Sementara menahan diri dari yang makruh merupakan sabar sunah. Sedangkan menahan diri dari sesuatu yang dapat membahayakan merupakan terlarang (haram) seperti menahan diri ketika disakiti. Misalnya orang yang dipotong tangannya, atau tangan anaknya sementara ia hanya berdiam saja. contoh lainnya, sabar ketika melihat istrinya diganggu orang lain sehingga membangkitkan cemburunya tetapi ia memilih tidak menampakkan rasa cemburunya. Begitu juga orang yang diam saat orang lain mengganggu keluarganya. Semua itu sabar yang diharamkan.”

2. SYUKUR
Selanjutnya di balik pemaknaan penting dari kekuatan dan keistiqomahan hati dalam menerima segalanya adalah tentang bagaimana kita mampu menyikapi rasa bahagia yang senantiasa di berikan oleh Alloh S.W.T untuk btasa ujiannya yang bukan hanya kesenangan dan kebahagiaan semata.

Akan tetapi ketahuilah seseorang tidak dikatakan bersyukur selagi belum mampu menjadikan nikmat yang telah ia terima sebagai sarana untuk mahabbah (mencintai Allah) bukan untuk kesenangan-kesenangan yang bersifat pribadi, bila ia menjadikan nikmatNya justru sebagai sarana terhadap hal-hal yang Allah murkai sesungguhnya ia benar-benar telah mengkufuri nikmatNya sebagaimana bila ia menganganggurkan nikmat tersebut karena artinya ia telah menyia-menyiakan kesempatan yang telah Allah berikan padanya untuk menggapai kehidupan bahagia.

Keyakinan itu berdasar pada keterangan yang tercantum pada firman Alloh S.W.T dari pemaknaan syukur yang sesungguhnya yang di jadikan washilah bagi seorang hamba sebagai fasilitas dalam mensyukuri dan memolahkan kebahagiaan tersebut ke dalam hal-hal yang di ridhoinya, dalam artian seorang hamba yang pandai bersyukur.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya : “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Dari pada itulah penting kiranya untuk lebih memahami arti dari pada syukur yang sesungguhnya yang merupakan sebuah ujian terbaik bagi seorang hamba apakah bisa tetap istiqomah dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangannya atau malah sebaliknya justru terlena dengan kenikmatan dunia semata.

Berangkat dari situ, maka ketetapan hati dalam menyimbangkan keistiqomahan jiwa ketika menyikapi arti dari pada cara bersyukur atas segala ni’mat yang telah Alloh S.W.T berikan sangat menentukan sekali dalam menguatkan nilai dari pada syukur tersebut, Lalu bagaimana cara terbaik dalam mensyukurinya?

Dalam hal ini para Ulama memberikan pandangan dan dedikasinya tentang tahapan dari seorang yang ingin bersyukur dan mampu di aplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, dan dari ketiga hal tersebut adalah :

1. Bersyukur dengan hati
Bersyukur di dalam hati ialah dengan cara membentuk keyakinan dan keinginan dalam diri untuk menjalani kebajikan-kebajikan yang telah diperintahkan dan tidak gampang memperlihatkan bentuk nikmat yang telah Allah berikan padanya terhadap setiap orang.

2. Bersyukur dengan lisan
Adapun syukur dengan lisan yaitu dengan memperbanyak puji syukur kepada Allah sambil membaca Alhamdulillah.

3. Bersyukur dalam dalam sikap prilaku (Perbuatan)
Adapun bersyukur dalam bentuk sikap tingkah laku dan perbuatan adalah dengan menjadikan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan padanya sebagai sarana amal ibadah serta menjaga diri sedapat mungkin dari tercebur dalam maksiat.

{ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ } ( 7 ) إبراهيم وهو لغة : فعل ينبئ عن تعظيم المنعم بسبب كونه منعماً على الشاكر أو غيره سواء كان ذكراً باللسان أو عملاً بالأركان أو اعتقاداً بالجنان
اعلم أن الشكر ينتظم من علم وحال وعمل فالعلم معرفة النعمة من المنعم والحال هو الفرح الحاصل بإنعامه والعمل هو القيام بما هو مقصود المنعم ومحبوبه ويتعلق ذلك العمل بالقلب وبالجوارح وباللسان أما بالقلب فقصد الخير وإضماره لكافة الخلق وأما باللسان فإظهار الشكر لله تعالى بالتحميدات الدالة عليه وأما بالجوارح فاستعمال نعم الله تعالى في طاعته والتوقي من الاستعانة بها على معصيته
بيان الشكر في حق الله تعالى
اعلم أن العبد لا يكون شاكرا لمولاه إلا إذا استعمل نعمته في محبته أي فيما أحبه لعبده لا لنفسه وأما إذا استعمل نعمته فيما كرهه فقد كفر نعمته كما إذا أهملها وعطلها وإن كان هذا دون الأول إلا أنه كفران للنعمة بالتضييع وكل ما خلق في الدنيا إنما خلق إلة للعبد ليتوصل به إلى سعادته

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id