Sabar Terhadap Tanggungan Dari Akhlak Anak dan Juga Memberi Nafkahnya

Sabar Terhadap Tanggungan Dari Akhlak Anak dan Juga Memberi Nafkahnya

Almunawwar.or.id – Soal kebahagiaan itu memang sudah menjadi sebuah tujuan khusus bagi banyak orang, meskipun dalam mengartikan makna bahagia itu beragama dan berbeda sangat tergantung pada sisi kebutuhan seseorang yang sangat berpengaruh sekali terhadap sisi ketenangan dan kenyamanan dalam dirinya.

Dan rupanya hal tersebut mencakup ke beberapa titik dan sendi hidup dan kehidupan ini tanpa terkecuali, termasuk pada bagian hal masalah kehadiran seorang anak, cara mendidiknya juga ketaatan dan kesbaran orang tua dalam memberikan dan mengarahkan anak-anknya tersebut sesuai dengan tuntunan agama.

Hal inilah yang mungkin seolah sudah menjadi sebuag proyeksi khusus dalam menjalankan sebuah kewajiban sebagai seorang muslim yang taat sekaligus sebagai orang tua yang bertanggung jawab yang mengerti betul akan keadaan dan kemampuan dari pada keluarga khususnya anak2nya tersebut.

Meskipun terkadang permasalahan sering timbul di kala waktu dan kemantapan hati belum siap untuk menerima dan memberikan jawaban atas semua itu, akan tetapi yaqinilah apa yang sudah di perbuat demi membahagiakan seseorang yang sudah menjadi kewajiban itu akan bernilai jika di barengi dengan keikhlasan dalam hatinya.

Untuk itu sangat penting kiranya apabila menata kembali apa yang menjadi kekurangan dan faktor penyebab terhadap sisi pembentukan karakteristik yang tercermin dari pada ahlaq seorang anak terhadap orang tuanya, juga dari cara orang tua dalam menyikapi permasalahan seperti itu.

Seperti hal-hal yang penting berikut ini yang senantiasa di perhatikan betul oleh para orang tua dalam menjalankan apa yang menjadi kewajibannya tersebut, seperti yang terkutip dari beberapa hasanah penting mengenai perihal pembentukan akhlaq anak, bersabar dalam segala hal juga sisi penanggung

Pendidikan Akhlak Untuk Anak-anak
Dalam siklus kehidupan manusia, masa kanak – kanak merupakan sebuah periode yang paling penting, namun sekaligus juga merupakan suatu periode yang sangat berbahaya dalam artian sangat memerlukan perhatian dalam kesungguhan dari pihak – pihak yang bertanggung jawab mengenai kehidupan anak – anak. Sebab, seorang anak pada hakekatnya telah tercipta dengan kemampuan untuk menerima kebaikan maupun keburukan. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya cenderung kearah salah satu dari keduanya. Sebagaimana dalam sabda Nabi Saw :

ما من مولود إلا يولد على الفطرة وإنما أبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه (رواه مسلم)

Artinya : “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah ( bersih dan suci ); maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani ataupun Majusi”. (HR. Muslim)

Oleh karena itu, penanaman pendidikan pada masa itu sangatlah penting agar anak memiliki bekal dalam hidup selanjutnya. Dan pendidikan yang relevan ditanamkan pada masa ini adalah pendidikan akhlak. Pendidikan akhlak harus dilakukan sejak dini, sebelum kerangka watak dan kepribadian seorang anak yang masih suci itu diwarnai oleh pengaruh lingkungan (millieu) yang belum tentu paralel dengan tuntunan agama.

Al-Qur’an telah memberikan gambaran yang jelas mengenai pendidikan akhlak pada anak – anak yang tertuang dalam surat Lukman.

1. Akhlak Kepada Allah S.W.T

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (لقمان : 13)

Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Luqman mengatakan kepada anak-anaknya untuk memberikan pelajaran : Hai anakku ! janganlah engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah itu adalah suatu kesalahan besar”. (Q.S. Luqman : 13)

Ayat tersebut mengisyaratkan bagaimana seharusnya para orang tua mendidik anaknya untuk mengesakan penciptanya dan memegang prinsip tauhid dengan tidak menyekutukan Tuhannya. Kemudian anak – anak hendaklah diajarkan untuk mengerjakan sholat. Sehingga terbentuk manusia yang senantiasa kontak dengan penciptanya.

يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ (لقمان: 17)

Artinya : “Hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan mencegah (mereka) dari perbuatan yang munkar…”. (Q.S. Luqman : 17). [4]

2. Akhlak Kepada Orang Tua

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (لقمان : 14)

Artinya : “Dan kamu perintahkan kepada manusia (berbuat baik) terhadap dua orang ibu bapaknya : ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada Akulah kamu kembali ”. (Q.S. Luqman : 14). [5]
Islam mendidik anak-anak untuk selalu berbuat baik terhadap orang tua sebagai rasa terima kasih atas perhatian, kasih sayang dan semua yang telah mereka lakukan untuk anak-anaknya. Bahkan perintah untuk bersyukur kepada orang tua menempati posisi setelah perintah bersyukur kepada Allah.

3. Akhlak Kepada Orang Lain

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي الاَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّه َ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ(لقمان18)

Artinya : “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (Q.S. Luqman :18).

Kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat. Anak-anak haruslah dididik untuk tidak bersikap acuh terhadap sesama, sombong atas mereka dan berjalan dimuka bumi ini dengan congkak. Karena perilaku-perilaku tersebut tidak disenangi oleh Allah dan dibenci manusia.

4. Akhlak Kepada Diri Sendiri

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (لقمان : 19)

Artinya : “Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk – buruk suara ialah suara keledai”. (Q.S. Luqman : 19)

Berbarengan dengan larangan berjalan dengan congkak. Allah memerintahkan untuk sederhana dalam berjalan, dengan tidak menghempaskan tenaga dalam bergaya, tidak melengak-lengok, tidak memanjangkan leher karena angkuh, akan tetapi berjalan dengan sederhana, langkah sopan dan tegap.

Memelankan suara adalah budi yang luhur. Begitu pula percaya diri dan tenang karena berbicara jujur. Suara lantang (melengking) dalam berbicara termasuk perangai yang buruk.

Demikian Allah Swt telah memberikan contoh kongkret mendidik akhlak anak-anak. Jika setiap orang tua dapat melaksanakannya dengan baik, maka besar harapan anak-anak akan tumbuh menjadi manusia-manusia muslim yang berakhlak luhur.

Dari faktor inilah sesungguhnya kita bisa merasakan bahkan setidaknya mampu menerawang apa yang menjadi kendala bagi anak tersebut dalam menemukan jati dirinya, karena hal tersebut berdasarkan pedoman dan anjuran agama yang sudah semestinya menjadi pedoman dalam hidup dan kehidupan.

Meskipun sangat di butuhkan kesabaran yang extra dalam menyikapi dan menjalani semua itu, akan tetapi yaqini dan percayalah semua itu akan bernilai harganya apabila ketulusan dan keihklasan dalam hati menjadi faktor subjektifitas terhadap pelaksanaannya tersebut di samping sekedar melaksanakan kewajiban saja.

1. wajib bersabar dalam arti ia menerima dan pasrah serta ada ikhtiar dan usaha untuk bisa melewati cobaan tersebut dengan tanpa kehilangan ganjaran dan pahala dari mushibah/cobaan tsbFirman Allah dalam Al-Baqoroh 155-157

( ولنبلونكم بشيء من الخوف والجوع ونقص من الأموال والأنفس والثمرات وبشر الصابرين ( 155 ) الذين إذا أصابتهم مصيبة قالوا إنا لله وإنا إليه راجعون ( 156 ) أولئك عليهم صلوات من ربهم ورحمة وأولئك هم المهتدون ( 157 ) )

Artinya : “Dan sungguh kami akan menguji kalian dengan rasa takut,kelaparan,kekurangan harta,jiwa dan buah-buahan,Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar-Yaitu orang-orang yang ketika tertimpa mushibah mereka mengatakan : sesungguhnya kami milik Allah,Dan sesungguhnya kami hanya kembali kepadaNya-Mereka adalah orang-orang yang memperoleh pengampunan dan kasih sayang dari tuhannya,Dan mereka adalah golongan yang mendapat petunjuk Sabar juga termasuk ibadah batin yang tinggi nilainya dalam pandangan Allah. Banyak firman Allah tentang sabar di dalam al-Qur’an, antara lain:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابرُوْنَ أَجْرَهُمْ بغَيْرِحِسَابٍ

Artinya : “Sesungguhnya hanya orang-orang yang sabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”.

يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اسْتَعِيْنُوْا بالصَّبْرِِوَالصَّلاَةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابرِيْنَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (menjalankan) shalat, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.Sebaliknya, orang yang tidak sabar, yaitu putus asa, menggerutu, gegabah, terburu-buru, dan sebagainya, berat sekali akibat yang dideritanya; bahkan diperingatkan oleh Allah SWT, seperti disebutkan di dalam hadis qudsi:

أنَا اللهُ لآ إِلهَ إِلاَّ أَنَا مَنْ لَمْ يَشْكُرْ عَلَى نَعْمَآئِي وَلَمْ يَصْبِرْ عَلَى بَلآئِي وَلَمْ يَرْضَ بِقَضَآئِي فَلْيَتَّحِذْ رَبًّا سِوَآئِي

Artinya: “Aku Allah, tiada Tuhan melainkan Aku; siapa tidak bersyukur atas nikmat-nikmat pemberian-Ku, tidak bersabar atas ujian-Ku dan ridla terhadap kepastian qadla-Ku, maka carilah Tuhan selain Aku.Pengertian dan praktek sabar luas sekali, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW:

الصَّبْرُ ثَلاَثَةٌ فَصَبْرٌ عَلَى الْمُصِيْبَةِ وَصَبْرٌ عَلَى الطَّاعَةِ وَصَبْرٌ عَنِ المَعْصِيةِ
… (رواه ابن أبي الدنيا عن علي)

2. Ujian atau mushibah sakit,atas ini wajib muhasabah kepada diri sendiri karena sakit tsb disebabkan karena dosa. perbanyak memohon ampunan kepada allah dan berdo’a serta berikhtiar dengan berobat.
– Tafsir Baghowi
[ ص: 169 ]

( ولنبلونكم بشيء من الخوف والجوع ونقص من الأموال والأنفس والثمرات وبشر الصابرين ( 155 ) الذين إذا أصابتهم مصيبة قالوا إنا لله وإنا إليه راجعون ( 156 ) أولئك عليهم صلوات من ربهم ورحمة وأولئك هم المهتدون ( 157 ) )

1. Menafkahi orang tua menjadi kewajiban anak-anaknya dengan dibagi rata (bilamana anaknya lebih dari satu). Jad jika sama rata itu bagus

وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّل مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَبِّي ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. 17:23-24).

Dalam Kitab al Iqna’ 2/480-481

قال ابن المنذر وأجمعوا على أن نفقة الوالدين اللذين لا كسب لهما ولا مال واجبة في مال الولد

Ibnul Mundzir berkata: “Ulama sepakat bahwasanya memberi nafkah untuk kedua orang tua yang tidak mempunyai pekerjaan adalah wajib didalam harta anak

ويعتبر حاله في سنه وزهادته ورغبته

(Pemberian nafkah terhadap kerabat) memperhitungkan kondisi kerabat tsb dalam hal usia, kezuhudan dan kesenangan.

البجيرمي على الخطيب ٤/٦٥
ولو تعدد المنفق من المولودين كاثنين فإن استويا كابنين أو بنتين فعليهما النفقة بالسوية فإن غاب أحدهما أخذ قسطه من ماله فإن لم يكن مال إقترض عليه.

2. Mungkin jarang yang tahu, jika mengutamakan anak perempuan maka akan mendapatkan pahala yang lebih.
www.piss-ktb.com/2012/02/644-fadhilah-menjadi-wanita-sholehah.html

Point-point ini terdapat di dalam kitab Kanzul ‘Ummal, Misykah, Riadlush Shalihin, Uqudilijjain, Bhahishti Zewar, Al-Hijab, dan lain-lain :

Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya diibaratkan seperti orang yang senantiasa menangis karena takut kepada Allah SWT dan orang yang takut Allah SWT akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

Barang siapa yang membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedakah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan terhadap anak laki-laki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail AS

Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa taqwa serta bertanggung jawab, maka baginya adalah syurga.

Dari ‘Aisyah r.a : “Barang siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ أَنَّ عُرْوَةَ بْنَ الزُّبَيْرِ أَخْبَرَهُ أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَتْهُ قَالَتْ جَاءَتْنِي امْرَأَةٌ مَعَهَا ابْنَتَانِ تَسْأَلُنِي فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِي غَيْرَ تَمْرَةٍ وَاحِدَةٍ فَأَعْطَيْتُهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ فَدَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَدَّثْتُهُ فَقَالَ مَنْ يَلِي مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ شَيْئًا فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنْ النَّارِ

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id