Sambut Malam Takbiran Dengan Cara Syar’i Hidupkan Malam Idul Fitri

Sambut Malam Takbiran Dengan Cara Syar'i Hidupkan Malam Idul Fitri

Almunawwar.or.id – Ada makna tertentu di saat menjelang hari raya idul fitri ini terutama semenjak malam harinya, dimana terdapat hal-hal yang menjadi sunah-sunah yang afdhol dan bisa menjadi nilai ibadah yang istimewa ketika akan menambut hari raya istimewa ini.

Bahkan sudah menjadi hal layak publik bagi segenap umat islam di seluruh dunia khususnya yang ada di indonesia, dengan sukaria penuh dengan kebahagiaan mengisi malam takbiran ini dengan berbagai macam aktifitas yang bernilai ibadah seperti takbir keliling ataupun takbiran idul fitri di masjid masing-masing.

Dan inilah keberagaman yang menjadi nilai persatuan tinggi baik untuk umat islam sendiri maupun bagi umat lainnya, dan begitu terasa pula indahnya saling memaafkan, menjaga toleransi dan juga menguatkan tali persaudaran islami dari makna yang hadir di malam takbiran tersebut.

Lalu dalam menanggapi dinamika tersebut dari cara banyak orang menyambut dan mengisi malam idul fitri ini dengan melakukan aktifitas yang di sebutkan tadi, itu memiliki keistimewaan tersendiri yang di ambil dari sudut agama sebagai bagian dari pada cara menghidupkan malam idul fitri selama kegiatan tersebut tidak keluar dari koridor dan norma agama islam tentunya.

Baik itu bagi mereka yang merayakan dan menyambutnya dengan berbondong-bondong melantunkan kalimah takbir, tahmid dan tahlil di luar rumah maupun bagi mereka yang membacakan takbiran tersebut di masjid saja, Semuanya itu adalah bagian dari pada “Ihyau Lailil Fitri”.

Dan dari sini kita dapat mengambil simpulan bahwa masalahnya tidak terletak di dalam atau di luar kampung. akan tetapi masalahnya itu adalah apakah yang bersangkutan itu beribadah atau tidak di dalam maupun di luar kampung. Karena selama masih dalam ketentuan yang berlaku sesuai dengan perintah agama itu sah-sah saja.

Namun alangkah baiknya apabila cara menghidupkan malam idul fitri ini di isi dengan Takbiran di tempat dengan tetap menjaga nilai norma dan kehormatan agama tentunya, Seperti berikut ini keterangan yang mengulas akan cara menghidupkan malam Takbiran sesuai dengan Syar’i.

ويسن إحياء ليلتهما ولو جمعة بالعبادة من نحو صلاة وقراءة وذكر لخبر مَن أَحْيَا لَيْلَتَيِ العِيْدِ أَحْيَا اللهُ قَلْبَهُ يَوْمَ تَمُوْتُ القُلُوْبُ. ويحصل بإحياء معظم الليل وبصلاتي الصبح والعشاء في جماعة، بل وبصلاة الصبح جماعة

Artinya :  “(Kita) dianjurkan untuk menghidupkan dua malam Id sekalipun jatuh pada hari Jumat dengan pelbagai jenis ibadah seperti sembahyang, tadarus, atau zikir berdasarkan hadits, ‘Siapa yang menghidupkan dua malam Id, maka Allah akan menghidupkan hatinya pada hari di mana hati manusia mati.’ Kesunahan itu dianggap memadai dengan menghidupkan hampir semalam suntuk ibadah, dengan sembahyang Isya dan Subuh berjamaah, atau bahkan sekadar sembahyang Subuh berjamaah,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 1433-1434 H/2012 M, juz II, halaman 353).

Jadi bisa dikatakan tradisi takbiran keliling masyarakat yang saat ini sering di lakukan itu juga termasuk pada bagian daripada menghidupkan malam Id. Atau bahkan mereka yang terbaring di rumah sakit juga terbilang telah menghidupkan malam Id hanya dengan zikir, tadarus Al-Quran, sedekah, atau ibadah ringan lainnya.

Inilah keindahan dan kebahagiaan yang hanya bisa di rasakan di malam tersebut, dimana tidak ada hal yang membuat kita sedih, justru terenyuh hati ingin bisa meraih kesempurnaan fitri tersebut dengan melakukan amalan lain ketika kalimah Takbir mampu menengahkan semua itu.

Sementara jika melirik akan hukum dari pada Takbiran di malam takbiran itu, sebagaimana yang tertulis dan tersirat dalam kitab Fathul Qarib disebutkan bahwa takbir pada malam hari raya disunahkan. Kesunahan ini ditujukan untuk semua orang Islam, baik laki-laki maupun perempuan, mukim ataupun musafir, sedang berada di rumah, masjid, ataupun di pasar. Muhammad bin Qasim Al-Ghazi mengatakan:

ويكبر ندبا كل من ذكر وأنثى وحاضر ومسافر في المنازل والطرق والمساجد والأسواق، من غروب الشمس من ليلة العيد، أي: عيد الفطر، ويستمر هذا التكبير إلى أن يدخل الإمام في الصلاة للعيد، ولا يسن التكبير ليلة عيد الفطر عقب الصلاة، ولكن النووي في “الأذكار” اختار أنه سنة

Artinya : “Disunahkan takbir bagi laki-laki dan perempuan, musafir dan mukim, baik yang sedang di rumah, jalan, masjid, ataupun pasar. Dimulai dari terbenam matahari pada malam hari raya berlanjut sampai shalat Idul Fithri. Tidak disunahkan takbir setelah shalat Idul Fithri atau pada malamnya, akan tetapi menurut An-Nawawi di dalam Al-Azkar hal ini tetap disunahkan.”

Dengan demikian bisa di tarik kesimpulan bahwa, untuk lebih menghidupkan malam hari raya idul fitri ini tiada lain adalah dengan melakukan hal-hal yang menjadi sebuah kesunahan sesuai dengan yang telah di anjurkan yaitu membacakan takbiran dan shalat malam dan juga dzikir asmaul husna yang sangat di anjurkan oleh Agama.

Wallohu A’lamu Bishowaa
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id