Sambut Ramadhan Dengan Muhasabah Diri Sebagai Manifestasi Syukur Yang Berarti

Sambut Ramadhan Dengan Muhasabah Diri Sebagai Manifestasi Syukur Yang Berarti

Almunawwar.or.id – Bulan ramadhan sebagai salah stu bulan yang sangat di mulyakan oleh Alloh S.W.T tentunya bisa di jadikan sebagai sarana dan waktu yang tepat bagi setiap umat islam untuk tetap bisa bersyukur atas semua nikmat dan karunia yang telah di berikan kepada kita semua.

Termasuk ketika datng bulan yang penuh dengan pengampunan ini tentu berbagai harapan yang telah di bentangkan jauh-jauh hari sebelum memasuki bulan suci bisa menjadi ukuran seberapa besar niat dan ketulusan dalam melaksanakan semua amalan ibadah terutama di bulan yang penuh dengan berkah ini.

Sehingga sangat di butuhkan pengevaluasian diri ataupun muhasabah terhadap semua amalan yang pernah dan akan di lakukan selama hidup khususnya dalam menjadikan ramadahn ini sebagai waktu yang tepat untuk bisa intropeksi diri atas semua kelalalaian dalam melaksanakan amalan ibadah tersebut.

Dan hal ini juga yang perlu di perhatikan secara seksama tentang bagaimana kita bisa mengekploitasi lebih bulan yang penuh hikmah dan ampunan ini sebagai sarana paling tepat dalam menggapai ridho nya, termasuk di dalamnya dalam menjadikan puasa ini sebagai manifestasi syukur dengan cara bermuhasabah untuk meraih hakikat dan fitrah seorang manusia.

Salah satunya dengan mencermati secara seksama beberapa poin penting yang berkaitan erat dengan keutamaan dalam melaksanakan amalan ibadah puasa yang tentunya sangat ber prospek pada perubahan diri untuk bisa meraih yang terbaik dan teristimewa dalam pelaksanaannya tersebut, di antaranya :

1. Ibadah puasa adalah ibadah istimewa perlambang keikhlasan hamba, sehingga dinyatakan oleh Allah Ta’ala sebagai ibadah untuk-Nya, disebabkan kekhususan penisbatannya kepada Allah. Sebagaimana tersebut dalam sebuah hadis qudsi :

Yang artinya ”Setiap perbuatan kebaikan memperoleh pahala sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali, kecuali puasa : ia adalah milik (untuk)-Ku, dan Aku-lah yang menentukan besar pahalanya. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

2. Puasa sendiri yang dalam pengertian dasarnya adalah sebagai upaya menahan diri itu juga merupakan sebuah piranti yang efektif untuk menundukkan ‘musuh’ utama manusia, yaitu berperang melawan ‘diri sendiri’ (hawa nafsu) yang dalam bahasa Rasulullah S.A.W disebut dengan Jihad Akbar aatu Mujahadatun Nafsi (perang melawan hawa nafsu). Bahkan dinyatakan oleh Rasulullah, jihad ini lebih utama dari jihad perang.

3. Ramadhan di mana Al-Quran turun pada bulan mulia ini, adalah bulan motivasi beribadah. Dari Ubadah bin Ash-Shamit, bahwa Rasulullah bersabda:

“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini.” (HR. Ath-Thabarani)

Dalam Ramadhan pula ada satu malam yang paling utama di sisi Allah yang selalu diburu hamba-Nya, yaitu datangnya malam Lailatul Qadr yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Qadr.

Sehingga sangat mendorong kepada setiap jiwa dan pribadi umat islam dalam meraih kesempurnaan dalam segi pengalaman khususnya dari setiap waktu dan derik di bulan ramadhan.

4. Ramadhan mengajarkan awal kebiasaan baru dan kedisiplinan selama sebulan penuh. Dan adanya awal dari perubahan itu adalah jika kita mau bertekad dalam hati untuk menampilkan kebiasaan baru dengan teratur disiplin, maka Ramadhan menawarkan hal penting ini lebih daripada hari-hari dalam bulan lainnya. Selama satu bulan, selalu berbuka puasa sebelum maghrib, sahur sebelum munculnya fajar shadiq shubuh, dan bertarawih dan kebiasaan itu adanya di bulan suci ramadhan.

5. Kegiatan yang dilakukan secara bersama adalah elemen penting perubahan itu sebagaimana salah sati contoh dari ilustrasin yang sederhana saja. Kadang atau mungkin juga kerap kali, ketika kita melakukan ibadah sendirian, terasa kurang semarak dan semangat jika dibanding melakukannya secara bersama, berjama’ah, dankebersamaan di bulan ramadhan adalah sarana paling tepat untuk lebih mengukuhkan nilai ukhwah islamiyah yang kuat.

6. Dan yang terakhir adalah dengan selalu bersyukur dari setiap yang ada serta mampu memolahkanya kepada hal yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang banyak, sehingga hikmah dan berkah dari bulan ramadhan tersebut mulai terasa dan berasa khususnya dalam segi manifestasi terbaik dalam muhasabah diri di bulan suci.

عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ:
خَطَبَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شَعْبَانَ فَقَالَ:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيمٌ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ شَهْرٌ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيضَةً، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعاً مَنْ تَقَرَّبَ فِيهِ بِخُصْلَةٍ مِنَ الخَيْرِ كَانَ كَمْنَ أَدَّى فَرِيضَةً فِيما سِوَاهُ، وَمَنْ أَدَّى فِيهِ فَرِيضَةً كَانَ كَمَنْ أدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ، وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ، والصَّبْرُ ثَوَابُهُ الجَنَّةُ، وَشَهْرُ المُوَاسَاةِ وَشَهْرٌ يَزْدَادُ فِيهِ رِزْقُ الْمُؤْمِنِ، مَنْ فَطَّرَ فِيهِ صَائِماً كَانَ مَغْفِرَةً لِذُنُوبِهِ، وَعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ، وَكَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْتَقِصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْءٌ،
قَالُوْا : لَيْسَ كُلُّنَا نَجِدُ مَا يُفْطِرُ الصَّائِمَ،

فَقَالَ رسولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يُعْطِي اللهُ هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِماً عَلَى تَمْرَةٍ ، أَوْ شَرْبَةِ مَاءٍ أَوْ مَذْقَةِ لَبَنٍ، وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ، مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوْكِهِ غَفَرَ اللهُ لَهُ وَأَعْتَقَهُ مِنَ النَّارِ، وَاسْتَكْثِرُوْا فِيْهِ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ، خَصْلَتَيْنِ تَرْضَوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ ، وَخَصْلَتَيْنِ لاَ غِنَى بِكُمْ عَنْهُمَا، فَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ تَرْضَوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ : فَشَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله، وَتَسْتَغْفِرُوْنَهُ، وَأَمَّا اللَّتَانِ لاَ غِنَى بِكُمْ عَنْهُمَا : فَتَسْأَلُوْنَ اللهَ الْجَنَّةَ، وَتَعُوْذُوْنَ بِهِ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ أَشْبَعَ فِيْهِ صَائِماً سَقَاهُ اللهُ مِنْ حَوْضِيْ شَرْبَةً لاَ يَظْمَأُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ.

(Diriwayatkan) dari Salman Al-Farisi ra, ia berkata : Rasulullah saw telah menyampaikan khutbah kepada kami : Wahai manusia telah menaungi di atas kalian bulan yang agung, bulan yang penuh dengan keberkahan, bulan dimana di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan (Lailatul Qadr), dan di bulan itu Allah jadikan puasa di siang harinya menjadi kewajiban (bagi yang mampu), dan bangun malam/shalat di malam harinya merupakan hal yang disunnahkan. Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan satu kebaikan di bulan ramadhan maka pahalanya sama dengan pahala melakukan perbuatan yang fardhu (wajib) di selain bulan ramadhan. Dan barangsiapa melakukaan satu perbuatan wajib di bulan Ramadhan maka pahalanya sama dengan melakukan 70 perbuatan wajib di selain bulan Ramadhan.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
nu.or.id