Secara Definisi Hukum Berikut Perbedaan Penting dari Sebuah Masjid dan Musholla

Secara Definisi Hukum Berikut Perbedaan Penting dari Sebuah Masjid dan Musholla

Almunawwar.or.id – Dalam istilah tempat beribadah dalam islam itu tidak mengakar pada sebuah tempat saja, akan tetapi tersudutkan pada nilai sebuah tempat tentang kelayakan, kebersihan dan kesucian di tempat tersebut untuk di jadikan sebagai fasilitas khusus dalam melaksanakan peribadahan.

Terutama dari ibadah-ibadah yang memang di anjurkan bahkan di kaitkan secara khusus pula untuk dilakukan di sebuah tempat, Termasuk dari keunggulan serta kemanfaatan yang besar yang terdapat pada sebuah tempat yang di jadikan sebagai sarana peribadahannya itu.

Dalam artian nilai ibadah seseorang akan jauh lebih sempurna dan paripurna apabila di laksanakan sesuai dengan tempat pelaksanaannya di samping mengerjakan apa yang menjadi sebuah kehaursan (fardu), jauh dari pembatalan (sesuatu yang merusak amalan ibadah dan tentunya dari kesunahannya pula.

Sehingga timbullah sebuah konsekuensi tentang pelaksanaan amalan ibadah itu tidak hanya terbtasa oleh ruang dan waktu saja, akan tetapi selama memungkinkan dan sah menurut pelaksanaan hukumnya, maka amalan ibadah tersebut bisa di lakukan sedemekian halnya.

Hal inilah yang menjadi salah satu wacana khusus tentang bagaimana perbedaan tempat yang di jadikan sebagai fasilitas beribadah seperti mesjid dan musholla, dimana keduanya meiliki keidentikan antara waktu dan tempat serta sebagai fasilitas dalam melaksanakan amalan beribadah,

Meskipun di antara keduanya itu memiliki perbedaan yang cukup signifikan, atau bahkan memiliki kriteria tertentu antara amalan ibadah yang di lakukan di mesjid ataupun yang di laksananakan di sebuah musholla, lalu apa perbedaan mendasar dari kedua istilah tempat tersebut?

Di bawah ini merupakan salah satu kriteria khusus yang di miliki oleh keduanya (pembeda antara mesjid dan musholla) atau bisa di katakan pula sebagai salah satu ciri khusus yang di miliki oleh salah satu dari kedua tempat tersebut.

Sebagaimana yang tersabda pada perkataan Rasululah S.A.W, bahwasannya “Dijadikan bagiku bumi sebagai tempat sujud dan suci”. (HR. Bukhari). Tetapi masjid yang berlaku hukum fiqih adalah tempat yang ditentukan untuk shalat ataupun diwakafkan dan tertahan agar digunakan khusus untuk shalat.

Sedangkan musholla adalah tempat shalat dan berdoa, tidak disyaratkan harus diwakafkan, tapi sah berupa wakaf atau selainnya. Jadi, musholla itu mencakup masjid dan selain masjid. Setiap masjid adalah musholla dan setiap musholla tidak tentu masjid.

Dari adanya kedua definisi tersebut, maka muncullah beberapa pertanyaan penting tentang pelaksanaan peribadahan dan kriteria khusus yang di miliki oleh keduanya, seperti yang terkait dengan keterselubungan definisi yang mencuat di antara keduanya.

Dimana secara umum adalah sebuah definisi hukum yang menjadi perbedaan penting antara meskida dan musholla, di antara perbedaannya sebagai berikut:

1. Masjid sebagaimana kami sebutkan adalah tempat yang diwakafkan untuk shalat, maka tidak boleh bertindak di dalamnya dengan jual beli dan semacamnya. Imam Nawawi berkata:

“Yang jelas bahwa dalam penjagaan barang wakaf berpindah kepada Allah Ta’ala, maksudnya terlepas dari orang tertentu, bukan milik pemberi wakaf dan bukan pula milik yang diberi wakaf”. (Minhaj ath Thalibin hal. 170).
Adapun musholla maka sah keberadaannya dimiliki oleh orang tertentu, sah penjualannya ataupun memindahkannya ke tempat lain, sah pula disewakan.

2. Haram bagi wanita haid dan orang junub berdiam di dalam masjid, tapi boleh bagi keduanya berdiam di musholla. Imam Nawawi berkata:

“Haram sebab janabah apa yang diharamkan sebab hadats dan berdiam di masjid, tidak haram melewatinya”. (Minhaj ath Thalibin hal. 12).

3. I’tikaf ataupun shalat tahiyyatul masjid tidak sah keduanya kecuali di dalam masjid. Al Khathib asy Syarbini berkata: Tidak butuh kepada masjid sesuatupun dari beberapa ibadah kecuali shalat tahiyyatul masjid, i’tikaf dan thawaf”. (Mughniy al Muhtaj juz 5 hal. 329).

4. Haram meninggikan masjid dengan bangunan atau loteng. Tertulis dalam Hasyiyah Ibnu Abidin juz 3 hal. 371:
“Apabila sifat kemasjidan telah sempurna seseorang menghendaki bangunan, maksudnya membangun rumah untuk imam diatas masjid maka dilarang”.

Adapun musholla maka boleh demikian itu karena tidak diwakafkan, serta memperhatikan penjagaan terhadap kebersihan musholla dan kesuciannya dari najis.

Sah shalat Jum’at di musholla dan lebih afdhalnya dilaksanakan di masjid. Syeikh al Jamal berkata:
“Karena sesungguhnya pelaksanaan shalat Jum’at di masjid bukanlah syarat”. (Hasyiyah al Jamal juz 2 hal. 238).

Berbagai referensi bisa di lihat dan di kaji berdasarkan keterangan berikut ini :

. كل بقعة من الأرض تصح الصلاة فيها تعد مسجداً؛ لقوله صلى الله عليه وسلم: (وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا) رواه البخاري. لكن المسجد الذي تترتب عليه أحكام فقهية هو المكان الموقوف للصلاة، أي الذي وُقف وحُبس ليكون مخصصاً للصلاة. وأما المصلى فهو موضع الصلاة والدعاء، ولا يشترط فيه أن يكون موقوفاً، بل يصح أن يكون موقوفاً وغيره، فالمصلى إذن يشمل المسجد وغير المسجد، فكل مسجد مصلى وليس كل مصلى مسجداً

ويفارق المسجد المصلى في بعض الأحكام منها: أولاً: المسجد – كما ذكرنا – المكان الموقوف للصلاة؛ فلا يصح التصرف فيه ببيع ونحوه. قال الإمام النووي: “الأظهر أن الملك في رقبة الموقوف ينتقل إلى الله تعالى، أي ينفك عن اختصاص لآدمي فلا يكون للواقف ولا للموقوف عليه”. منهاج الطالبين (170)، أما المصلى فيصح كونه مملوكاً لشخص معين، ويصح بيعه أو تحويله إلى مكان آخر، ويصح كونه مستأجراً

ثانياً: يحرم على الحائض والجنب اللبث في المسجد، بينما يصح لهما المكث في المصلى. قال الإمام النووي: “ويحرم بها – أي بالجنابة – ما حرم بالحدث، والمكث بالمسجد لا عبوره”. منهاج الطالبين 1/ 12

ثالثاً: الاعتكاف أو تحية المسجد لا يصحان إلا في المسجد. قال الخطيب الشربيني: “ولا يفتقر شيء من العبادات إلى مسجد إلا التحية والاعتكاف والطواف”. مغني المحتاج 5/ 329
رابعاً: يحرم اعتلاء المسجد ببناء أو طوابق. جاء في “حاشية ابن عابدين”: “لو تمت المسجدية ثم أراد البناء – أي بناء بيت للإمام فوق المسجد – مُنع” (3/ 371)، أما المصلى فيصح ذلك لأنه ليس بموقوف، مع مراعاة المحافظة على نظافة المصلى وتنزيهه عن النجاسة

وتصح صلاة الجمعة في المصلى، والأفضل كونها في المسجد. قال الشيخ الجمل عن صلاة الجمعة: “لأن إقامتها في المسجد ليست بشرط”. حاشية الجمل على شرح المنهج 2/ 238. والله تعالى أعلم

Walhasil :
Dalam bahasa masjid berarti tempat sujud. Tapi yang dimaksud masjid di sini adalah suatu tempat yang tujuan awal didirikannya adalah untuk mengerjakan shalat. Masjid ini berstatus waqaf, jadi tidak ada pemiliknya. Mereka yang biasa mengurus dan memakmurkan masjid disebut ta`mir. Dalam masjid boleh diadakan kegiatan lain selama tidak mengganggu orang shalat dan tidak melanggar ketentuan syari`at.

Berbeda dengan istilah mushalla, meskipun dalam bahasa juga berarti tempat shalat, tapi pada kenyataannya mushalla bisa dimiliki oleh perorangan atau lembaga ataun instansi tertentu. Ketika masuk masjid dianjurkan shalat Tahiyyatul Masjid, tapi tidak ada anjuran shalat ketika memasuki mushalla.

Perintah mendirikan masjid ini zhahirnya ditunjukan pada perorangan, tapi sebenarnya bersifat umum kepada kaum Muslimin, artinya semua orang Islam harus punya niat mendirikan masjid di tempat tinggal mereka. Jadi status perintah ini sebenarnya fardhu kifayah.

Artinya kewajiban ini berubah menjadi sunnah apabila sudah ada orang lain yang melakukannya. Adapun menjaga kebersihan masjid adalah kewajiban setiap Muslim, artinya orang Islam tidak boleh membiarkan masjid dalam keadaan kotor, ketika seseorang melihat masjid yang kotor, maka ketika itu ia berkewajiban membersihkannya, terserah apakah akan dibersihkan sebdiri atau mengupah orang lain untuk membersihkannya.

Wallohu A’lamu bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
fikihkontemporer.com