Sekilas Mengulas Tentang Perbedaan Takwil Tafsir dan Hermeneutika

Sekilas Mengulas Tentang Perbedaan Takwil Tafsir dan Hermeneutika

Almunawwar.or.id – Pada pandangannya banyak orang saat ini terutama dari kalangan kaum intelek islam yang mempelajari beberapa hal yang mendalam dan lebih menarik pada penafsiran Al quran, sehingga dari dasar pengembangan pemikiran seperti itulah lahirlah banyak pendapat yang memang perlu di perinci lebih jelas dan pasti.

Jangan sampai sesuatu hal yang memang tidak layak untuk di artikan atau di tempatkan pada perkaranya itu terjadi, sebab itu justru akan mempersulit kaum awam tentang arti dan tujuan dari pada ayat al quran yang di maksudkan tersebut.

Sebab secara pemahaman ataupun penafsiran sebuah ayat itu sangatlah di butuhkan sebuah dasar dan rujukan yang kuat untuk menempatkan makna dan arti dari pada ayat tersebut sesuai dengan haqiqatnya, tidak boleh menafsirkan secara tektual saja, karena ada ayat al quran yang memang perlu di jelaskan secara takwil.

Maka dalam penafsiran tersebut lahirlah beberapa istilah di dalamnya yaitu takwil, tafsir dan juga hermeneutika yang kini sangat populer di kalangan kaum pemikir atau para orientalis ataupun oleh para pemikir islam moderenis seperti sekarang ini.

Dan tentu sangat di butuhkan secara pasti dari ketiga istilah tersebut yang sangat berarti bagi orang awwam agar tidak terjerumus pada pengertian sebuah ayat alquran yang tidak sesuai dengan haqiqat maknanya. Untuk itu mengetahui arti perbedaan dari takwil, tafsir dan juga hermeneutika itu layak bahkan penting untuk di pahami.

1. Tafsir
Secara etimologis, kata tafsir berasal dari bahasa Arab, Fassara, yang bermakna menerangkan atau menjelaskan. Kata tafsir disbutkan secara eksplisit di dalam al-Qur’an surat Al-Furqon (25: 33)

وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا

Artinya: “Tidaklah engkau orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya”.

Artinya secara terminologis, tafsir dimaksud adalah ilmu yang dengannya, pemahaman terhadap kitab Allah swt yang diturunkan kepada Rasulullah saw, penjelasan mengenai makna-makna kitab Allah swt dan penarikan hukum-hukum beserta hikmahnya itu dapat diketahui.

2. Takwil
Ta’wil secara asalnya bermakna kembali. Namun secara syara’ ia brmakna memalingkan lafadz dari maknanya yang dhohir kepada makna yang mungkin terkandung didalamnya, apabila makna yang mungkin itu sesuai dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah. Contohnya seperti firman Allah swt “Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati ” (al-Anbiya’: 95), apabila yang dmaksudkan disitu adalah mengeluarkan burung dari telur, maka itulah tafsir. Tetapi apabila yang dimaksud disitu adalah mengeluarkan orang yang berilmu dari orang yang bodoh, maka itulah ta’wil. (Imam Al-Jurjani (w. 816/1413) dalam kitab Ta’rifatnya menyatakan tentang hubungan tafsir dan ta’wil).

3. Hermeneutika
Kata hemeneutika merupakan derivasi dari bahasa Yunani dari akar kata hermÇneui, yang berarti menafsirkan. Hermeneutika di asosiasikan kepada Hermes, seorang utusan dewa dalam mitologi Yunani Kuno yang bertugas menyampaikan dan menerjemahkan pesan dewata yang masih samar-samar kedalam bahasa yang dipahami manusia.

Sumber-sumber perkamusan menyatakan, Istilah hermeneutika dimulai dari usaha para ahli teologi Yahudi dan Kristen dalam mengkaji ulang secara kritis teks-teks dalam kitab suci mereka untuk mencari “nilai kebenaran Bible”. Mengapa dengan hermeneutika itu para teologi bertujuan mencari nilai kebenaran dadalam Bible? Jawabannya adalah, karena mereka memiliki sejumlah masalah dengan teks-teks kitab suci mereka. Mereka mempertanyakan apakah secara harfiyah Bible itu bisa dianggap Kalam Tuhan atau perkataan manusia. Hal itu disebabkan adanya perbedaan gaya dan kosa kata yang ditemukan pada berbagai pengarang Bible.

Setelah Rasulullah saw wafat, para sahabat menafsirkan ayat al-Qur’an dengan sangat hati-hati. Abu Bakar ra misalnya, mengatakan : “Bumi mana yang akan membawaku, dan langit mana yang akan menaungiku, jika aku mengatakan didalam Kitab Allah apa yang aku tidak ketahui”.

Para sahabat menafsirkan al-Qur’an dengan berpegang kepada penafsiran yang telah diberikan oleh Rasulullah saw. Ketika menafsirkan al-Qur’an, para sahabat pertama-tama menelitinya dalam ayat-ayat al-Qur’an yang lain, karena ayat-ayat al-Qur’an satu sama yang lain saling menafsirkan. Setelah itu mereka merujuk pada penafsiran Rasulullah saw, sesuai dengan fungsi beliau sebagai penjelas terhadap ayat-ayat al-Qur’an.

Sekiranya penjelasan tertentu tidak ditemukan didalam al-Qur’an dan Hadits, maka para sahabat berijtihad. Setelah generasi para sahabat, para tabi’in menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an, Hadits dan pendapat para sahabat, setelah itu baru dilakukan ijtihad. Pada masa para tabi’in, tafsir, belum merupakan disiplin ilmu tersendiri. Tafsir merupakan bagian dari Hadits.

Walhasil, hermaneutika jelas berbeda dengan tafsir ataupun ta’wil, hermeneutika tidak sesuai untuk kajian al-Qur’an, baik dalam arti teologis atau filosofis. Dalam arti teologis, hermeneutika akan brakhir dengan mempersoalkan ayat-ayat yang sudah dhohir dari al-Qur’an dan menganggapnya sebagai problematik.

Dan diantara kesan hermeneutika teologis ini adalah adanya kesan keragu-raguan terhadap Mushaf Utsmani yang telah disepakati oleh kaum Muslimin. Keinginan para pemikir moderen, Muhammad Arkon misalnya, untukmen-“Deconstruct” (merubah ulang) Mushaf Utsmani , adalah pengaruh dari hermeneutika teologis ini.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id