Selain Pertanda Tibanya Waktu Shalat, Azan Juga Disunnahkan Untuk Amalan Ini

Selain Pertanda Tibanya Waktu Shalat, Azan Juga Disunnahkan Untuk Amalan Ini

Almunawwar.or.id – Sebagai bagian penting dalam memberikan petunjuk bahwa waktu shalat telah tiba, maka di kumandangkan suara adzan yang mengajak ke setiap umat islam untuk sesegera mungkin menunaikannya karenan hal tersebut merupakan seruan dan ajakan yang senantiasa harus di laksanakan.

Dan seyogyanya adzan yang merupakan lantunan-lantunan kalimah arab yang di dalamnya terdapat seruan bagi segenap uat islam untuk bisa secepatnya melaksanakan shalat tersebut, rupanya adzan juga menurut para Ulama itu di anjurkan bahkan di sunnahkan untuk di baca ketika beberapa amalan ini dilakukan.

Tidak hanya bersifat sempurna, adzan laksana sebuah obat untuk menghilangkan semua penyakit-penyakit bathiniyah yang memang secara medis itu tida dapat terdeteksi karena memang tidak dan bukan jalurnya, Dengan adzan tentunya ada keistimewaan tersendiri dari hikmah dan manfaat serta sejarah adzan itu sendiri.

Menurut Imam An-Nawawi menyebutkan dalam Al-Minhaj terkait azan-azan yang disunnahkan di luar shalat . Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj yang merupakan kitab syarah dari Al-Minhaj yang merupakan karangan dari Imam An-Nawawi.

قَدْ يُسَنُّ الْأَذَانُ لِغَيْرِ الصَّلَاةِ كَمَا فِي آذَانِ الْمَوْلُود ، وَالْمَهْمُومِ، وَالْمَصْرُوعِ، وَالْغَضْبَانِ وَمَنْ سَاءَ خُلُقُهُ مِنْ إنْسَانٍ، أَوْ بَهِيمَةٍ وَعِنْدَ مُزْدَحَمِ الْجَيْشِ وَعِنْدَ الْحَرِيقِ قِيلَ وَعِنْدَ إنْزَالِ الْمَيِّتِ لِقَبْرِهِ قِيَاسًا عَلَى أَوَّلِ خُرُوجِهِ لِلدُّنْيَا لَكِنْ رَدَدْته فِي شَرْحِ الْعُبَابِ وَعِنْدَ تَغَوُّلِ الْغِيلَانِ أَيْ تَمَرُّدِ الْجِنِّ لِخَبَرٍ صَحِيحٍ فِيهِ، وَهُوَ، وَالْإِقَامَةُ خَلْفَ الْمُسَافِرِ

Artinya : “Disunnahkan azan selain shalat, yaitu saat azan untuk bayi yang baru lahir, orang yang sedang bersedih hati, orang yang menderita penyakit epilepsi, orang yang sedang marah, orang atau binatang yang memiliki perangai buruk, saat perang sedang berkecamuk, saat kebakaran, dan dikatakan juga menurunkan mayat pada liang kubur dengan mengqiyaskan saat awal terlahirnya ke dunia, namun aku (an-Nawawi) menentang kesunnahannya dalam syarh al-‘Ubab, saat terdapat gangguan jin berdasarkan hadits yang shahih di dalamnya, juga azan dan iqamah dalam penyambutan musafir,” (Lihat Ibnu Ḥajar Al-Haitamī, Tuḥfatul Muḥtāj bi Syarḥil Minḥāj, [Beirut, Dārul Kutub: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 330).

Sehingga dari adanya keterangan tersebut tentunya sebagai individual muslim yang ta’at akan perintah agama sudah seyogyanya untuk lebih mementingkan semua amalan yang di sunnahkan di awalnya dengan melantunkan adzan terlebih dahulu sesuai dengan ketentuannya.

Ibarat sebuah kesempurnaan yang sangat di cari oleh setiap umat islam, adzan juga adalah amalan yang begitu menyempurnakan bagi setiap sebuah amalan terutama ketika di waktu-waktu tertentu sebagaimana yang banyak di jelaskan dalam kajian-kajian islam.

Dan dari penjelasan tersebut, jelas sudah bahwa ada beberapa hal yang disunnahkan untuk melakukan azan selain waktu shalat, Di antarnya :

1. Pada bayi yang baru lahir. Biasanya diazani di telinganya oleh ayahnya. Namun, menurut Hasiyyah As-Syaubari yang juga menjadi syarh dari Kitab Al-Minhaj tidak disyaratkan seorang laki-laki, bisa juga perempuan, baik ibunya maupun saudara perempuan lain.

Hal ini ditentang oleh Imam Al-Haitami, menurutnya berdasarkan qaul yang mu’tamad (yang dipegang teguh oleh banyak ulama), disyaratkan yang melakukan azan di telinga bayi yang baru dilahirkan adalah orang laki-laki, baik ayahnya si bayi maupun saudara laki-laki yang lain.

2. Pada seorang sedang bersedih. Bahkan menurut Al-Haitami, jika kesedihan tersebut tidak hilang, maka dianjurkan untuk mengulangi azan tersebut.
3. Pada orang yang menderita penyakit epilepsi.
4. Pada orang yang sedang marah.
5. Pada orang atau binatang yang memiliki perangai buruk.
6. Pada saat perang sedang berkecamuk
7. Pada saat sedang terjadi kebakaran. Namun, bukan berarti mendahulukan azan daripada memadamkan api sehingga tidak ada yang bergegas memadamkan api.
8. Pada saat menurunkan jenazah ke liang kubur. Hal ini diqiyaskan dengan kesunahan mengumandangkan azan pada telinga bayi yang baru lahir.
9. Pada orang yang mendapat gangguan jin (kesurupan).
10. Saat menyambut musafir yang baru datang. Asalkan perjalanannya bukan untuk maksiat. Dalam tradisi beberapa masyarakat di Indonesia, biasanya azan dikumandangkan untuk melepas dan menyambut orang yang berangkat haji.

وقد يسن الأذان لغير الصلاة كما في أذن المهموم والمصروع والغضبان ومن ساء خلقه من إنسان أو بهيمة وعند الحريق وعند تغول الغيلان أي تمرد الجن وهو والإقامة في أذني المولود وخلف المسافر ( يسن ) على الكفاية ويحصل بفعل البعض

Artinya : “Dan terkadang disunahkan menjalankan adzan bukan untuk menunaikan shalat seperti adzan ditelinganya anak yang baru dilahirkan, orang yang sedang bersedih hati, orag yang menderita penyakit epilepsi, orang yang sedang marah, orang atau binatang yang memiliki perangai buruk, saat perang sedang berkecamuk, saat kebakaran dan dikatakan juga menurunkan mayat pada liang kubur dengan mengqiyaskan saat awal terlahirnya kedua namun aku (an-Nawawi) tentang keberadaannya dalam syarh al-‘Ubaab dan saat terdapat gangguan jin berdasarkan hadits yang shahih didalamnya. Adzan dan iqamah dalam penyambutan musafir”.

Demikianlah hal okhwal mengenai keistimewaan dari adzan itu sendiri yang tidak hanay sebagai lanutnan doa pemanggil wktu shalat saja, akan tetapi terdapat pula keistimewaan lain yang menghindikasikan bahwa adzan merupakan amalan yang begitu istimewa.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
nu.or.id