Selengkapnya Mengenai Perihal Tentang Doa Aqiqah Serta Hukum Dan Tata Caranya

Selengkapnya Mengenai Perihal Tentang Doa Aqiqah Serta Hukum Dan Tata Caranya

Almunawwar.or.id – Memberikan kebahagiaan dan nilai kasih sayang yang sungguh luar biasa dari orang tua terhadap anaknya itu merupakan salah satu dari bentuk rasa tanggung jawabnya yang sangat besar, termasuk ketika memberikan sesuatu yang menjadi hak seorang anak seperti mengaqiqahkan, memberikan nama dan yang lainnya.

Hal ini tentunya sangat berorientasi sekali terhadap nilai dari pada pengamalan tersebut, baik di tinjau dari segi kemampuan orang tua tersebut maupun dari segi hukum yang memberikan kepastian tentang kedudukan perihal kewajiba dan hak dari seorang anak itu sendiri.

Selain itu juga, tidak hanya sebatas mewujudkan rasa kasih sayang yang teramat dalam pada seorang anak, langkah dan cara yang di lakukan oleh orang tua sendiri dalam yang sejatinya adalah titipan yang senantiasa di pelihara dan di jaga semestinya sebagaimana yang telah di anjurkan oleh Agama.

Di mulai sejak pertama kali di lahirkan ke dunia, disaat itu juga peran dari orang tua untuk mencetak seorang anak yang shalih sesuai dengan tuntunan agama dan negara itu sangatlah berpengaruh sekali, karena anak laksana kain putih yang bisa tetap putih dan juga kotor tergantung dari didikan orang tuanya.

Nah sebagai bentuk dari pada pertanggungjawaban tersebut adalah dengan mengakikahkannya, memberikan nama yang terbaik, menghiasi ahlaq dengan yang mulia termasuk mengarahkan dan memasukannya ke lembaga-lembaga pendidikan baik formal maupun non formal jika jenjang selanjutnya sudah datang.

Hal ikhwal seperti ini juga adalah bagian dari pada cara salah satu pengamalan sunnah yang selalu di lakukan oleh para Ulama terdahulu sebagai wujud dari pada nilai kasih sayang dan bentuk tanggung jawab yang tinggi dari orang tua terhadap anaknya, berikut penjelasan mengenai permasalahan seputar aqiaqah tersebut.

Tentang Aqiqah
Aqiqoh menurut bahasa adalah rambut yang ada dikepala bayi waktu dilahirkan,menurut syara’ aqiqoh adalah menyembelih hewan ketika memotong rambutnya bayi. Dasarnya adalah banyak hadis, di ataranya hadis :” seorang anak tergadaikan dengan aqiqohnya, yang disembelih atasnya pada hari ke 7 dan rambutnya dicukur “dan juga hadis bahwa Nabi shollallohu alaihi wasallam memerintahkan untuk menamai bayi pada hari ketujuhnya .

Kedua hadits tersebut diriwayatkan oleh imam turmudzi, hadits yang pertama Imam Turmudzi berkata bahwa hadisnya hasan shohih dan hadis kedua hasan. Lihat dalam kitab asnal matholib (1/ 547) :

بَابُ الْعَقِيقَةِمن عَقَّ يَعِقُّ بِكَسْرِ الْعَيْنِ وَضَمِّهَا وَهِيَ لُغَةً الشَّعْرُ الذي على رَأْسِ الْوَلَدِ حين وِلَادَتِهِ وَشَرْعًا يُذْبَحُ عِنْدَ حَلْقِ شَعْرِهِ لِأَنَّ مَذْبَحَهُ يُعَقُّ أَيْ يُشَقُّ وَيُقْطَعُ وَلِأَنَّ الشَّعْرَ يُحْلَقُ إذْ ذَاكَ وَالْأَصْلُ فيها أَخْبَارٌ كَخَبَرِ الْغُلَامُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عنه يوم السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى وَكَخَبَرِ أَنَّهُ صلى اللَّهُ عليه وسلم أَمَرَ بِتَسْمِيَةِ الْمَوْلُودِ يوم سَابِعِهِ وَوَضْعِ الْأَذَى عنه وَالْعَقِّ رَوَاهُمَا التِّرْمِذِيُّ وقال في الْأَوَّلِ حَسَنٌ صَحِيحٌ وفي الثَّانِي حَسَنٌ

Aqiqah adalah sunnah Rasul yang didefinisikan sebagai penyembelihan hewan dalam rangka penebusan seorang anak. Sebab, sebagaimana sabda Nabi saw dalam hadits riwayat Abu Dawud nomor 1522, tubuh seorang anak itu tergadaikan sampai ia diaqiqahi:

الْغُلاَمُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ اْلسَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسَهُ وَيُسَمَّى

Artinya : “Seorang anak tergadaikan dengan (tebusan) aqiqah yang disembelih untuknya di hari yang ke tujuh, dicukur rambut kepalanya dan diberi nama.”

Hewan yang disembelih dalam Aqiqoh ialah dua ekor kambing bagi anak lelaki dan satu ekor kambing bagi anak perempuan. Kriteria tentang kambing yang bagaimana yang layak dijadikan sebagai aqiqoh sama dengan kambing yang layak untuk berkurban.

Doa ketika Menyembelih Hewan

بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ [ اللهم مِنْكَ وَلَكَ ] اللهم تَقَبَّلْ مِنِّي هَذِهِ عَقِيْقَةُ

Bismillâhi walLâhu Akbar. Allahumma minka wa laka. Allahumma taqabbal minni. Hadzihi ‘aqiqatu…(sebutkan nama bayi)

Artinya : “Dengan menyebut asma Allah. Allah Maha Besar. Ya Allah, dari dan untuk-Mu. Ya Allah, terimalah dari kami. Inilah aqiqahnya … (sebutkan nama bayi)

Doa Ketika Mencukur Rambut Bayi

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَللهم نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَنُوْرُالشَّمْسِ وَالْقَمَرِ, اللهم سِرُّ اللهِ نُوْرُ النُّبُوَّةِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm. Alhamdulillâhirabbil ‘âlamîn. Allâhumma nûrus samâwâti wa nûrusy syamsyi wal qamari, Allâhumma sirruLlâhi nûrun nubuwwati RasuluLlâhi ShallaLlâhu ‘alaihi wasallam walhamduliLlâhi Rabbil ‘âlamin.

Artinya : “Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Ya Allah, cahaya langit, matahari dan rembulan. Ya Allah, rahasia Allah, cahaya kenabian, Rasululullah SAW, dan segala puji Bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

Doa meniup ubun-ubun bayi setelah dicukur:

اللَّهُمَّ إِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Allâhumma innî u’îdzuhâ bika wa dzurriyyatahâ minasy syaithânir rajîm

Artinya : ““Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan untuk dia dan keluarganya dari setan yang terkutuk.”

Doa Walimah Al-‘Aqiqah

اللهم احْفَظْهُ مِنْ شَرِّالْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَأُمِّ الصِّبْيَانِ وَمِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ وَالْعِصْيَانِ وَاحْرِسْهُ بِحَضَانَتِكَ وَكَفَالَتِكَ الْمَحْمُوْدَةِ وَبِدَوَامِ عِنَايَتِكَ وَرِعَايَتِكَ أَلنَّافِذَةِ نُقَدِّمُ بِهَا عَلَى الْقِيَامِ بِمَا كَلَّفْتَنَا مِنْ حُقُوْقِ رُبُوْبِيَّتِكَ الْكَرِيْمَةِ نَدَبْتَنَا إِلَيْهِ فِيْمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ خَلْقِكَ مِنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَأَطْيَبُ مَا فَضَّلْتَنَا مِنَ الْأَرْزَاقِ اللهم اجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَهْلِ الْخَيْرِ وَأَهْلِ الْقُرْآنِ وَلَا تَجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنْ أَهْلِ الشَّرِ وَالضَّيْرِ وَ الظُّلْمِ وَالطُّغْيَانِ

“Allâhummahfadzhu min syarril jinni wal insi wa ummish shibyâni wa min jamî’is sayyiâti wal ‘ishyâni wahrishu bihadlânatika wa kafâlatika al-mahmûdati wa bidawâmi ‘inâyatika wa ri’âyatika an-nafîdzati nuqaddimu bihâ ‘alal qiyâmi bimâ kalaftanâ min huqûqi rububiyyâtika al-karîmati nadabtanâ ilaihi fîmâ bainanâ wa baina khalqika min makârimil akhlâqi wa athyabu mâ fadldlaltanâ minal arzâqi. Allâhummaj’alnâ wa iyyâhum min ahlil ‘ilmi wa ahlil khairi wa ahlil qur`âni wa lâ taj’alnâ wa iyyâhum min ahlisy syarri wadl dloiri wadz dzolami wath thughyâni.”

Artinya : “Ya Allah, jagalah dia (bayi) dari kejelekan jin, manusia ummi shibyan, serta segala kejelekan dan maksiat. Jagalah dia dengan penjagaan dan tanggungan-Mu yang terpuji, dengan perawatan dan perlindunganmu yang lestari. Dengan hal tersebut aku mampu melaksanakan apa yang Kau bebankan padaku, dari hak-hak ketuhanan yang mulia. Hiasi dia dengan apa yang ada diantara kami dan makhluk-Mu, yakni akhlak mulia dan anugerah yang paling indah. Ya Allah, jadikan kami dan mereka sebagai ahli ilmu, ahli kebaikan, dan ahli Al-Qur’an. Jangan kau jadikan kami dan mereka sebagai ahli kejelekan, keburukan, aniaya, dan tercela.”

Tata Cara Pemberian Nama Dan Perihal Setelah Itu
Sunnah memberi nama pada hari ketujuh saat penyembelihan hewan aqiqoh, dan nama yang afdhol adalah abdulloh dan Abdur Rahman, memakai nama nabi atau malaikat juga tidak makruh bahkan nama nabi Muhamamd terdapat keutamaan di dalamnya.haram hukumnya menamai anak dengan nama rajanya para raja, qodhinya para qodhi dan hakimnya para hakim, begitu juga haram memberi nama anak dengan nama abdun nabi (hambanya nabi), jarulloh (tetangganya Allah) dan haram di kuniyahi abul qosim. keterangan bisa di lihat dari pada kitab fathul mu’in (1/304) :

وأن يذبح سابع ولادته ويسمى فيه وإن مات قبله بل يسن تسمية سقط بلغ زمن نفخ الروح.وأفضل الأسماء: عبد الله وعبد الرحمن ولا يكره اسم نبي أو ملك بل جاء في التسمية بمحمد فضائل علية.ويحرم التسمية بملك الملوك وقاضي القضاة وحاكم الحكام.

Waktu Aqiqah
Afdhol, yaitu aqiqah pada hari ketujuh sekalian memotong rambut dan memberinya nama. Keterangan bisa di telaah kembali pada kitab minhajul qowim (1/ 310-311) :

“والأفضل” ذبحها “في اليوم السابع” من الولادة فيدخل يومها في الحسابالي ان قال”و” يسن “حلق شعره بعد الذبح” كما في الحج وأن يكون كالتسمية يوم السابع “و” يسن “التصدق بزنته” أي شعر رأسه “ذهبًا

Kesunahan Aqiqah Bagi Orang Tua Gugur, Setelah Anaknya Baligh
Masalah seperti ini memang terkadang sering di alami bagi mereka orang tua yang belum cukup secara ekonomi untuk melaksanakan kesunahan aqiqah tersebut, namun sebenarnya Islam tidak mempersulit justru mempermudah, dimana kesunahan aqiqah bagi ortu hanya sampai anaknya baligh, jika sampai baligh belum di-akikahi maka kesunahannya sudah gugur dan terserah si anak mau akikah sendiri setelah dewasa. Keterangan bisa di lihat pada kitab kifayatul akhyar (1/534)

وَالْمُخْتَار أَن لَا يتَجَاوَز بهَا النّفاس فَإِن تجاوزته فيختار أَن لَا يتَجَاوَز بهَا الرَّضَاع فَإِن تجَاوز فيختار أَن لَا يتَجَاوَز بهَا سبع سِنِين فَإِن تجاوزها فيختار أَن لَا يتَجَاوَز بهَا الْبلُوغ فَإِن تجاوزه سَقَطت عَن غَيره وَهُوَ الْمُخَير فِي العق عَن نَفسه فِي الْكبر

Karena Sebenarnya orang yang disunatkankan menyembelihkan hewan aqiqoh bagi seseorang adalah orang yang wajib menafkahi orang tersebut (seperti orang tua) dari hartanya, bukan dari harta anak yang akan diaqiqohi, dan anjuran ini masih berlanjut sampai anak tersebut baligh. Apabila sampai baligh orang tersebut belum diaqiqohi maka disunatkan baginya menyembelih hewan aqiqoh untuk dirinya sendiri. Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَ النُّبُوَّةِ

Artinya : “Bahwasanya Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam aqiqoh untuk dirinya sendiri setelah nubuwwah (menjadi Nabi).” (Sunan Kubro, no.19273)

Meskipun Imam Baihaqi menyatakan bahwa hadits ini munkar yang berarti tidak dapat dijadikan dasar hukum, namun Syekh Zainuddin Al-Iroqi dalam “Torhut Tatsrib” menyatakan bahwa hadits ini memiliki sanad lain yang diriwayatkan oleh Abusy Syaikh dan Ibnu Hazm dari Al-Haitsam bin Jamil yang dapat dipakai sebagai dalil.

Kesimpulannya, jika sampai dewasa seseorang belum diaqiqohi oleh orang tuanya, disunatkan baginya untuk mengaqiqohi dirinya sendiri.

Hukum Aqiqah Setelah Baligh Karena Belum di Aqiqahi
Anak yang sudah baligh tapi tidak diaqiqohi oleh walinya maka anak tersebut sunah melakukan aqiqoh sendiri. :

.فلو بلغ ولم يخرجها الولي سن للصبي أن يعق عن نفسه ويسقط الطلب حينئذ عن الولي. إعانة الطالبين ٢/٣٣٦

Akan tetapi bila walinya tidak mengaqiqohi anak tersebut karena tidak mampu terhitung dari semenjak lahirnya anak tersebut sampai masa paling lamanya nifas (60 Hari) maka bagi anak tersebut tidak sunah melakukan aqiqoh sendiri setelah baligh, begitu juga tidak sunah aqiqoh bagi wali setelah mampu kalau mampunya telah melewati paling lamanya masa nifas.

Alasan Anak Laki-laki Aqiqahnya Dua Kambing
Anak laki-laki aqiqohnya dengan dua kambing sedangkan anak perempuan dengan satu kambing, karena disamakan dengan diyat / denda, diyatnya orang perempuan separohnya diyatnya orang laki-laki, disamakan dengan diyat karena tujuan aqiqoh itu adalah menebus jiwa.

الباجوري ٢/٣٠٤
.و سن لذكر شاتان وغيره شاة و بين الغير في شرحه بالأنثى والخنثى واستند في ذلك الى القياس على الدية فان كلا من الأنثى والخنثى على النصف من دية الرجل و وجه قياسها على الدية أن الغرض من العقيقة استبقاء النفس فأشبهت الدية لأن كلا منهما فداء للنفس.

فتح الوهاب ٢/١٩٠
وإنما كانا على النصف من الذكر لأن الغرض من العقيقة استبقاء النفس فأشبهت الدية لأن كلا منهما فداء للنفس

Hukum Aqiqah Dengan Sapi
Imam At Thabarani dan Abusysyaikh meriwayatkan dari Anas, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من ولد له غلام فليعق عنه من الإبل والبقر والغنم

Barang siapa dilahirkan seorang putera untuknya maka hendaklah beraqiqah untuknya dengan onta, sapi dan kambing (Tharhuttatsriib fii syarhittaqriib lil ‘Iraaqi juz VI halaman 88).

Boleh mengadakan aqiqoh dengan menggunakan sapi untuk tujuh orang anak, karena dalam Masalah ini hukumnya sama dengan qurban. Sebagai Referensinya bisa di telaah kembali dari:

& حاشيتا قليوبي وعميرة الجزء 4 صحـ : 257 مكتبة دار إحياء الكتب العربية
( يُسَنُّ أَنْ يُعَقَّ عَنْ ) مَوْلُودٍ ( غُلاَم ) أَيْ ذَكَرٍ ( بِشَاتَيْنِ وَجَارِيَةٍ ) أَيْ أُنْثَى (بِشَاةٍ ) بِأَنْ يَذْبَحَ بِنِيَّةِ الْعَقِيقَةِ مَا ذُكِرَ وَيَطْبُخَ كَمَا سَيَأْتِي وَالْعَاقُّ مَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَةُ الْمَوْلُودِ وَلاَ يَعُقُّ عَنْهُ مِنْ مَالِهِ قَوْلُهُ ( بِشَاتَيْنِ ) وَأَفْضَلُ مِنْهُمَا ثَلاَثٌ وَمَا زَادَ إلَى سَبْعٍ ثُمَّ بَعِيرٌ ثُمَّ بَقَرَةٌ وَكَالشَّاتَيْنِ سَبُعَانِ مِنْ نَحْوِ بَدَنَةِ فَأَكْثَرَ وَتَجُوزُ مُشَارَكَةُ جَمَاعَةٍ سَبْعَةٍ فَأَقَلَّ فِي بَدَنَةٍ أَوْ بَقَرَةٍ سَوَاءٌ كَانَ كُلُّهُمْ عَنْ عَقِيقَةٍ أَوْ بَعْضُهُمْ عَنْ أُضْحِيَّةٍ أَوْ لاَ وَلاَ كَمَا مَرَّ وَفُضِّلَ الذَّكَرُ كَالدِّيَةِ

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
piss-ktb.com
almunawwar.or.id