Sembilan Ulama Terpilih Sebagai AHWA Muktamar NU 34 Berikut Profil Singkatnya

Sembilan Ulama Terpilih Sebagai AHWA Muktamar NU 34 Berikut Profil Singkatnya

Almunawwar.or.id – Muktamar NU ke 34 yang di selenggarakan di provinsi lampung ini merupakan sebuah pertemuan kader dan pengurus NU dari seluruh Indonesia untuk membahas agenda tentang semua permasalahan yang ada baik di intern maupun extern, Termasuk dari pembentukan kepengurusan untuk periode masa datang. Salah satunya adalah Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) sebagai bagian penting dalam membentuk struktur kepemipinan dari pusat sampai cabang.

AHWA sendiri merupakan wadah berkumpul orang-orang terpilih yang keanggotaanya bersifat tetap di struktur NU, Mereka yang terpilih adalah para Ulama yang memiliki sisi kepribadian dan karakter ulama-ulama yang beraqidah Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah, bersikap adil, ‘alim, memiliki integritas moral, tawadhu’, berpengaruh, dan memiliki pengetahuan untuk memilih pemimpin yang munadzdzim (organisatoris) dan muharrik (penggerak) serta wara’ dan zuhud.

Hal ini sebagaimana di tegaskan dalam ART Pasal 40 Ayat 1 Hasil Muktamar Ke-33 NU Tahun 2015 lalu yang di selenggarakan di Jombang yang menyebutkan para anggota AHWA dipilih dalam rangka untuk menunjuk Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui musyawarah mufakat. Dan Ulama yang di berikan mandat sebagai Ahwa itu di tunjuk oleh para Muktamirin (Peserta Muktamar)dari berbagai pengurus cabang, pengurus cabang istimewa dan pengurus wilayah Se-Indonesia.

Berikut profil singkat sembilan anggota Ahwa terpilih pada Muktamar ke-34 NU di Lampung yang terlansir dari website resmi nu.or.id:

1. KH Dimyati Rois
KH. Dimyati Rois atau yang lebih dikenal dengan panggilan Abah Dim lahir pada 5 juni 1945 di Tegal Glagah Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah. Beliau merupakan putra kelima dari sepuluh bersaudara yaitu dari pasangan KH. Rois dan Nyai Djusminah. Setelah selesai pendidikan formal, kemudian pada sekitar tahun 1956 beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Pondok Pesantren APIK, Kauman, Kaliwungu, Kendal yang diasuh oleh KH. Ahmad Ru’yat. Beliau mondok di Pondok Pesantren APIK selama kurang lebih 14-15 tahun. KH Dimyati Rois saat ini menjadi Pengasuh Pesantren APIK Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah.

2. KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus)
KH. Ahmad Mustofa Bisri atau yang biasa disapa Gus Mus, lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944. Beliau lahir dari seorang ibu yang bernama Nyai Marafah Cholil dan seorang ayah yang hebat bernama KH. Bisri Mustofa sang pengarang Kitab Tafsir Al Ibriz li Ma’rifah. Selain itu, Kakeknya, KH. Zaenal Mustofa adalah seorang saudagar ternama yang dikenal sangat menyayangi ulama. Pada tahun 1955, KH. Zaenal bersama keluarganya mendirikan Taman Pelajar Islam (Roudlotut Tholibin). Pondok pesantren tersebut kini diasuh oleh Gus Mus. Alumnus dan penerima beasiswa dari Universitas Al Azhar Cairo (Mesir, 1964-1970) untuk studi islam dan bahasa arab ini, sebelumnya menempuh pendidikan di SR 6 tahun (Rembang, 1950-1956), Pesantren Lirboyo (kediri, 1956-1958), Pesantren Krapyak (Yogyakarta, 1958-1962), Pesantren Taman Pelajar Islam (Rembang, 1962-1964).

3. KH Ma’ruf Amin Prof Dr (HC)
KH Ma’ruf Amin lahir di Kresek, Tangerang, pada 11 Maret 1943. Ia merupakan Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara, Serang, Banten. Ayahnya, Mohamad Amin dan kakeknya merupakan seorang kiai. Sebelum masuk pesantren Ma’ruf Amin sempat menempuh pendidikan dasarnya di sekolah rakyat di Kecamatan Kresek. Kiai Ma’ruf Amin kemudian melanjutkan pendidikannya di pesantren berpengaruh yang didirikan oleh pendiri NU, Hasyim Asy’ari. Ma’ruf Amin kemudian meraih gelar sarjana di bidang Filsafat Islam dari Universitas Ibnu Khaldun di Bogor, Jawa Barat. Sebelum menjabat sebagai wakil presiden RI, Ma’ruf Amin memiliki pengalaman legislatif sejak 1971 hingga 1999.

4. KH Anwar Manshur
KH. M. Anwar Manshur atau yang kerap disapa dengan panggilan Mbah War lahir di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Manshur Jombang dengan Nyai Salamah, putri ketiga pendiri Pesantren Lirboyo KH. Abdul Karim. Sejak kecil, KH M. Anwar Manshur diasuh di Lirboyo. Riwayat pendidikannya dimulai dengan menimba ilmu di Pondok Pesantren Pacul Gowang Jombang (pondok ayahnya sendiri). setelah itu, menimba ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng sampai tingkat tsanawiyah dan untuk selanjutnya meneruskan pendidikannya ke Pesantren Lirboyo, kota Kediri. Saat ini KH Anwar Manshur merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo.

5. TGH Turmudzi Badaruddin
Tuan Guru Bagu atau yang kerap disapa dengan panggilan Tuan Guru Haji (TGH) Turmudzi Badaruddin lahir pada hari Rabu, 1 April 1936 M atau bertepatan dengan 9 Muharram 1355 H di Bagu. Beliau merupakan putra dari pasangan Tuan Guru Haji Raden Badaruddin dengan Hj. Aminah binti Haji Ridwan. Setelah selesai belajar dengan ayahnya, beliau kemudian berguru agama pada seorang tuan guru legendaris di Pulau Lombok, yakni Tuan Guru Shaleh Hambali Bengkel, pendiri Ponpes Darul Qur’an. Di sana, Turmuzi Badaruddin muda menimba ilmu selama 14 tahun sejak 1944-1958. TGH Turmudzi Badaruddin saat ini menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Qomarul Huda Bagu, Lombok Tengah, NTB.

6. KH Miftachul Akhyar
KH. Miftachul Akhyar lahir pada tahun 1953. Beliau merupakan putra kesembilan dari tiga belas bersaudara, dari KH. Abdul Ghoni, seorang pengasuh Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah. Ayah KH. Miftachul Akhyar merupakan karib KH. M. Usman al-Ishaqi Sawahpulo saat sama-sama nyantri kepada KH. Romli di Rejoso, Jombang. Kiai Miftach mondok di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Pondok Pesantren Rejoso, Jombang, Jawa Timur, Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur, Pondok Pesantren Lasem, Jawa Tengah, Majelis Ta’lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al- Maliki di Malang, tepatnya ketika Sayyid Muhammad masih mengajar di Indonesia. KH. Miftachul Akhyar adalah pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya, sebuah paku bumi bagi kota Surabaya, ibukota Jawa Timur dengan penduduk yang mayoritas nahdliyin.

7. KH Nurul Huda Jazuli
KH Nurul Huda Jazuli merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri. KH Ahmad Djazuli Utsman dan Nyai Hj Rodliyah Djazuli yang merupakan muassis Pondok Al-Falah Ploso. KH Nurul Huda Jazuli selalu berpesan tentang pentingnya memondokkan anak di pondok pesantren. Kiai Nurul Huda Jazuli juga kerapkali berpesan bahwa Nahdlatul Ulama merupakan pesantren besar sehingga tidak ada alasan bagi para santri untuk tidak menjaga dan mengurus NU.

8. KH Ali Akbar Marbun
KH. Ali Akbar Marbun lahir di desa Siniang Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan, letaknya kira-kira lebih kurang 28 kilo meter dari kota Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, atau 280 kilo meter dari kota Medan. Dia adalah anak ke 7 dari 8 bersaudara, ayahnya Buyung Marbun dengan ibunya Hj. Chadijah br. Nainggolan (meninggal pada usia + 105 tahun) adalah petani dan orang yang taat beragama Islam. KH Ali Akbar Marbun adalah pendiri dan pengasuh pesantren Al-Kautsar Al-Akbar Medan, Sumatera Utara.

9. KH Zainal Abidin
KH Zainal Abidin merupakan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah. Ia juga menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu. Dalam karir akademik, KH Zainal Abidin menjadi guru besar (profesor) dan Rektor pertama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu.

“Seandainya ada satu atau lebih nama yang diusulkan menjadi anggota Ahwa tidak berkenan, maka urutan nomor 10 dan seterusnya akan naik sebagai pengganti,” Dan hasil tabulasi usulan nama-nama Ahwa di atas oleh PCNU dan PWNU se-Indonesia berdasarkan urutan suara terbanyak. Selanjutnya para anggota Ahwa akan mengadakan rapat, baik secara luring (offline) maupun daring (online). Demikian kata Pimpinan sidang Pleno III, Prof Muhammad Nuh.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id