Seolah Menjadi Sebuah Urgensi, Dua Sisi Ilmu Pasti Dari Nahwu Dan Filosofi

Seolah Menjadi Sebuah Urgensi, Dua Sisi Ilmu Pasti Dari Nahwu Dan Filosofi

Almunawwar.or.id – Sejatinya ilmu nahwu adalah kendaraan yang mampu menuntun kemana langkah dan tujuan yang di maksud, sehingga bisa terarah sesuai dengan tujuan di awal pemberangkatan untuk bisa menggapai ke tempat tujuan, begitulah kira-kira satu filsafat dari keberadaan ilmu nahwu itu sendiri.

Bisa dikatakan sababiah atau faktor penyebab dari pada keberhasilan seseorang dalam mengatur liguistik sebuah pembacaan bahasa arab, itu adalah ilmu nahwu yang mampu menyokong semua itu di tambah lagi dengan hadirya ilmu shorop untuk lebih melengkapi dan memastikan arti dan makna sebuah kalimah arab yang di bacakan.

Karena di balik mengetahui akan begitu besarnya ilmu nahwu, maka seseorang akan hafal bahkan mengetahui tujuan dan rahasia apa yang terdapat pada kalimah tersebut, yang tentunya sesuai dengan ketentuan dan sarat kaidah yang di berlakukan pada ilmu nahwu itu.

Dari pembelajaran dan pengetahuan yang lebih mengerti terhadap apa yang di maksud dalam satu kalimah tersebut, maka lahirlah satu pengertian yang timbul dari adanya gerakan pemikiran dan pemahaman sebagai buah dari pada pola penerapan ilmu nahwu dalam satu objek bahasa dan kalimah arab.

Dan dari sini pula pentingnya sisi lain yang mendukung terhadap pembelajaran pasti dari ilmu nahwu itu sendiri, seperti ilmu filsafat, sebab salah satu unsur pokok dalam nahwu adalah Isim, Fi’il dan Huruf. Karena ketiganya merupakan hal pertama yang ditetapkan dan disepakati di awal peletakan nahwu. Maka, ketiga kalimat inilah yang menjadi pondasi pokok agenda realisasi nahwu sebagai objek filsafat.

Dalam kategori derajat, Isim menempati urutan teratas, karena Isim bisa membentuk kalam tanpa adanya Fi’il dan Huruf. Isim adalah kalimat yang independen. Isim juga merupakan kalimat yang Qiyamuhu qinafsihi. Fakta lain, isim tidak terikat dengan waktu. Dan sifat-sifat ini hanya dimiliki oleh Allah, sehingga dapat disimpulkan bahwa Isim adalah bentuk dari filsafat ketuhanan.

Sedangkan Fi’il menempati urutan kedua. Ini disebabkan karena Fi’il tidak bisa membentuk kalam sendirian tanpa adanya Isim. Ketiadaan isim berarti ketiadaan jumlah fi’liyah. Sebab lain, kalimat Fi’il merupakan cetakan dari Isim (mashdar).

Fi’il juga terikat dengan waktu, sangat berbeda dengan Isim. Jika kita berfikir secara mendalam (radikal), maka kita akan sampai kepada satu kesimpulan bahwa substansi Fi’il ada dalam alam. Karena alam tidak bisa berdiri sendiri. Alam juga merupakan hasil ciptaan Allah sang maha kuasa.

Alam terikat dengan waktu sedangkan tuhan tidak. Adanya alam merupakan bentuk representasi bagi eksistensi tuhan. Fi’il merupakan simbol dari filsafat alam.

Yang terakhir adalah Huruf. Kalimat ini paling rendah derajatnya. Karena Huruf tidak bisa membentuk kalam tanpa adanya Isim dan Fi’il. Bahkan tanpa adanya kalimat lain, makna aslinya tidak bisa ditentukan. Sama halnya dengan manusia, yang eksistensinya akan dipertanyakan tanpa adanya tuhan dan alam. Jenis terakhir adalah filsafat kemanusiaan.

Mengapa filsafat itu penting?
Al-Jabiri dalam kitabnya Takwin al-Aql al-Araby mengatakan “Jika filsafat adalah mukjizat bagi bangsa Yunani, maka tata bahasa adalah mukjizat bagi bangsa Arab”. Dengan filsafat, pengetahuan yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Dengan nahwu, pengetahuan yang awalnya belum dipahami menjadi terberdaya.

Menurut penulis, nahwu harus “berselingkuh” dengan filsafat, meninggalkan sharaf. Sehingga dua mukjizat ini bisa bersinergi untuk menghasilkan pengetahuan baru dengan cara yang berbeda. Sehingga bisa menghasilkan sebuah arah yang tertuju pada sebuah penentuan sebuah pembacaan kalimah.

Meskipun di kalangan pesantren, filsafat kurang begitu populer, hal ni disebabkan karena adanya anggapan bahwa filsafat selalu menyesatkan pemikiran agama. Hal ini tentu saja tidak sepenuhnya benar dan tidak pula sepenunya salah.

Memang, al-Ghazali dalam kitabnya Tahafuth al-Falasifah membatasi filsafat dalam dimensi ketuhanan. Namun, perlu diketahui juga bahwa filsafat tidak hanya berkutat tentang masalah ketuhanan. Karena objek filsafat secara umum ada tiga macam.

Yaitu ketuhanan (teologis), alam (kosmologis) dan manusia (antropologis). Jadi, meskipun tidak berfilsafat dalam wilayah sakral, setidaknya santri-santri bisa berfilsafat dalam wilayah profan, yakni alam dan manusia. Kesimpulannya, tidak ada alasan bagi santri untuk tidak berfilsafat. Oleh karena itu, pembelajaran filsafat untuk santri harus sesegera mungkin diselenggarakan.

Dengan catata pola pemkirian yang di hasilkan dari pembelajaran filsafat itu tidak keluar dari koridor hukum isalm yang sesungguhnya, namun justru sebaliknya dengan ilmu filsafat mampu menguatkan sebuah dalil untuk menuju ketauhidan yang kuat dan kokoh.

Dan memang untuk mencapai tujuan ini tentunya tidak lepas dari kendala. Filsafat merupakan jenis keilmuan non agamis, jadi sangat tidak mungkin dimasukkan dalam kurikulum pesantren. Karena sangay di khawatirkan adanya pola pemikiran yang menyimpang dari aturan.

Oleh karena itu diperlukan trik-trik khusus agar filsafat dapat diterima di pesantren, salah satunya adalah dengan menjadikan nahwu sebagai objek filsafat. Hal ini sangat mungkin, karena pada dasarnya ada persamaan mendasar antara nahwu dengan filsafat, yaitu menggunakan penalaran.

Sebagai rujukannya mari kita kembali pada masa-masa lampau terdahulu. dimana lahirnya sebuah pola pemikiran yang menghasilkan buah dari sebuah kedudukan itu tidak lepas dari daya penalaran sebagaimana yang menjadi sarat dari ilmu filsafat itu sendiri.

Perkembangan filsafat dari zaman klasik sampai dengan postmodern telah memberikan sumbangan tak ternilai untuk kelangsungan kehidupan manusia. Masa kejayaan dinasti Abbasiyah sendiri tidak lepas dari campur tangan filosof-filosof hebat.

Misalnya, Ibnu Rusyd, Ibnu Shina, Ibnu Khaldun, Ibnu Razi, al-Ghazali, dan masih banyak lagi. Karena dengan filsafat, manusia mampu menemukan hal yang awalnya tidak mungkin menjadi mungkin. Filsafat merupakan metode berfikir secara radikal dan sistematis yang melahirkan berbagai disiplin pengetahuan.

Di masa dinasti Abbasiyah, para filosof Islam berhasil melahirkan temuan-temuan baru dalam bidang sains, dan teknologi. Sehingga nama-nama mereka masyhur sampai ke daratan Eropa. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa Islam adalah kiblat pengetahuan dunia pada waktu itu.

Selama pola pemkiran itu tidak menympang dantida kelar dari nilai ketauhidan seserang, maka mempelajari ilmu filsafat itu boleh saja dengan tujuan untuk lebih memberikan ruang gerak dari daya pikir dalam menentukan dan mengarahkan sebuah objek pemikiran.

Catatan buat santri dan para pelajar lainnya
Sebagaimana yang terlansir pada kitab Qawaid al-Asasiyah karangan Sayyid Ahmad al-Hasyimi misalnya, diriwayatkan bahwa putri Abu al-Aswad salah dalam mengucapkan shighat ta’ajub ketika melihat gemerlap bintang di langit.

Kalimat yang seharusnya dipakai adalah “Ma ahsana as-sama” namun diucapkan rafa’ sehingga menjadi “Ma ahsanu as-sama”. Selain itu juga diriwayatkan kesalahan bahasa yang lain seperti seorang Ajam yang salah dalam membaca surat at-Taubah ayat 3.

Pembacaan yang benar adalah dengan membaca rafa’ pada lafadz “Rasuluhu” dalam ayat “Innallaaha bariiun min al-musyrikiina wa rasuuluhu” namun orang ajam tersebut membacanya dengan jer. Sehingga makna yang dihasilkan sangat berbeda dan kontradiksi dengan makna asli yang dimaksudkan.

Oleh karena itu ilmu nahwu dicetuskan dengan tujuan menjaga lisan dari kesalahan dalam pengucapan, baik dalam bahasa sehari-hari atau dalam pelafadzan ayat al-Qur’an. Sebab tanpa nahwu maka seseorang tidak akan bisa membaca kitab kuning, sehingga wajar jika nahwu memperoleh julukan “Abu al-Ilmi” bersanding dengan sharaf sang “Ummu al-Ilmi”. Oleh karena itu, indikator keberhasilan santri dalam belajar ditandai dengan penguasaan terhadap gramatikal Arab ini.

Untuk itulah mari kita kaji bersama-sama khususnya bagi mereka para santri, pelajar dan juga pengajar di sebuah lembaga pendidikan untuk meningkatkan mutu dan kualitas dari pada nilai dan tata cara pembacaan kalimah arab yang baik dan benar sesuai dengan hakikat daripada kalimah itu.

Berargumen dengan Nahwu adalah salah satu upaya untuk mempertahankan keislaman. Apa yang ingin saya tekan di sini adalah secara umum, fenomena pemahaman keagamaan yang instans dan simplistik tersebut itu terkait erat dengan krisis akan tingkat pengetahuan masyarakat Islam awam.

Dan juga aktivis-aktivisnya secara khusus atas ilmu Nahwu pada satu sisi dan juga penurunan kualitas pewacanaan Islam di ruang publik secara umum pada sisi yang lainnya. Lihat saja bagaimana media kita yang cenderung simplistik dalam dalam menyajikan program agama dengan dalih apa saja misalnya “pemurnian.”

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id