Spekulasi Tentang Hukum Memajang Foto Di Medsos dan Berdoa Melaluinya

Spekulasi Tentang Hukum Memajang Foto Di Medsos dan Berdoa Melaluinya

Almunawwar.or.id – Tidak dapat di pungkiri memang hadirnya media internet saat ini sudah menjadi bagian dari sendi-sendi kehidupan banyak orang tanpa terkecuali, Salah satunya adalah media sosial seperti Facebook dan yang lainnya yang di jadikannya sebagai fasilitas bagi orang dalam mempublikasikan apa yang menjadi captionnya.

Baik itu yang bersifat pribadi maupun bagi yang di tujukan untuk kepentingan umum semuanya tidak lepas dari pada sosialisasi yang di curahkan pada media sosial tersebut. Sehingga tidak menutup kemungkinan di balik publikasinya itu ada manfaat dan juga madharat yang di dapatkan.

Karena itu spekulasi tentang penggunaan media sosial sebagai sarana dan fasilitas ruang publik sangatlah tergantung pada maksud dan tujuan dari pada postingan yang di buat oleh penggunanya, apakah itu di peruntukan hanya kepentingan pribadi semata atau sengaja untuk bisa berbagi ilmu terhadap orang banyak.

Terlebih khusus bagi seorang wanita yang memang memiliki ketentuan khusus dalam pandangan Islam ketika harus berinteraksi dengan dunia luar baik itu secara langsung maupun hanya sebatas media saja, ataupun yang banyak di publikasikan saat ini seperti berdoa melalui media sosial ini.

Nah menyikapi kedua hal yang sudah menjadi khalayak publik bahkan di katakan sudah lumrah dilakukan oleh banyak orang itu tentu perlu pencermatan pasti tentang bagaimana tinjauan hukum agama terhadap kedua hal yang di maksud tadi, apakah di perbolehkan atau sebaliknya. Untuk lebih jelasnya mari kita simak dan tela’ah kembali keterangan yang di ambil dari beberapa kitab berikut ini :

1. Hukum Memajang Foto di Media Sosial
Gambar wanita yang berada pada foto itu bisa disamakan dengan gambar yang ada pada cermin, dalam hal sama-sama bukan wujud asli dari bendanya. Jika gambar yang ada dicermin adalah bayangan dari suatu benda, gambar yang dihasilkan dari kamera yang berupa foto adalah pantulan cahaya pada suatu benda. Karena itulah hukum melihat gambar wanita pada foto bisa disamakan dengan melihat gambar pada cermin.

Menurut pendapat ulama’, melihat bayangan wanita yang berada dikaca atau dipermukaan air itu diperbolehkan, karena tidak melihat secara langsung, dan yang dilihat hanyalah bayangan yang menyerupai wanita bukan wujud dari wanitanya. Hal ini dikuatkan dengan penjelasan para fuqoha’ yang menyatakan, apabila seorang laki-laki menggantungkan talaknya dengan melihat seorang wanita, maka dengan hanya melihat gambarnya dicermin belum dianggap ta’liq talaknya jatuh.

Namun diperbolehkannya melihat foto seorang wanita bagi laki-laki yang bukan mahromnya dengan ketentuan ketika melihatnya tidak syahwat, apabila ketika melihatnya syahwat, maka hukumnya harom, dan ketentuan bagi orang yang memasang fotonya adalah tidak memasang foto yang merangsang timbulnya syahwat bagi orang yang melihatnya.

Walhasil, Hukum memasang foto wanita sebagai banner atau sebagai foto profil akun facebook yang dapat dilihat oleh laki-laki yang bukan mahromnya, itu diperbolehkan asalkan foto yang dipasang bukan foto yang dapat menarik kepada kemaksatan atau dapat menimbulkan fitnah dan syahwat, seperti foto yang memperlihatkan aurot.

Referensi :

1. Tafsir Ayatul Ahkam Lisy-Sayis, Juz : 1 Hal : 677

ولعلك تريد بعد ذلك أن تعرف حكم ما يسمى بالتصوير الشمسي أو الفتوغرافي فنقول: يمكنك أن تقول: إنّ حكمها حكم الرقم في الثوب، وقد علمت استثناءه نصا. ولك أن تقول: إن هذا ليس تصويرا، بل حبس للصورة، وما مثله إلا كمثل الصورة في المرآة

2. Hasyiyah I’anatut Tholibin, Juz : 3 Hal : 301

مهمة [في بيان النظر المحرم والجائز وغير ذلك] يحرم على الرجل ولو شيخا هما تعمد نظر شيء من بدن أجنبية حرة أو أمة بلغت حدا تشتهى فيه ولو شوهاء أو عجوزا وعكسه خلافا للحاوي كالرافعي وإن نظر بغير شهوة أو مع أمن الفتنة على المعتمد لا في نحو مرآة

قوله: لا في نحو مرآة) أي لا يحرم نظره لها في نحو مرآة كماء وذلك لانه لم يرها فيها وإنما رأى مثالها. ويؤيده قولهم لو علق طلاقها برؤيتها لم يحنث برؤية خيالها والمرأة مثله فلا يحرم نظرها له في ذلك. قال في التحفة: ومحل ذلك، كما هو ظاهر، حيص لم يخش فتنة ولا شهوة

3. Fatawi Darul Ifta’ al-Mishriyah, Juz : 7 Hal : 220

والذى تدل عليه الأحاديث النبوية الشريفة التى رواها البخارى وغيره من أصحاب السنن وترددت فى كتب الفقه، أن التصوير الضوئى للإنسان والحيوان المعروف الآن والرسم كذلك لا بأس به، إذا خلت الصور والرسوم من مظاهر التعظيم ومظنة التكريم والعبادة وخلت كلذلك عن دوافع تحريك غريزة الجنس وإشاعة الفحشاء والتحريض على ارتكاب المحرمات

2. Hukum Berdo’a di Media Sosial
Boleh-boleh saja, malah dianjurkan kalau memang ia meyakini bahwa dindingnya adalah tempat majlis adz-dzikri atau dengan harapan mendapatkan doa dari saudara muslim lainnya dengan tanpa sepengetahuannya.

Diantara saat-saat yang diduga kuat waktu ijabah :
Doa saat kaum muslimin berkumpul dalam sebuah majlis adz-dzikriBerdasarkan beberapa hadits Nabi :

“Tidaklah duduk suatu kaum dalam majlis berdzikir kepada Allah, kecuali para malaikat mengelilinginya, rahmat menyelimutinya dan turun kepada mereka ketenangan, serta Allah memujinya di hadapan makhluk yang berada di sisinya”. (Riwayat Muslim, IV/2074 dari hadits Abu Hurairoh dan Sa’id al-Hudzry)

“‘Sungguh Aku telah mengampuni mereka”Para malaikat itu berkata, ‘Wahai Rabbku, di antara mereka ada si fulan, seorang hamba yang telah banyak melakukan dosa, sesungguhnya dia hanya lewat kemudian duduk bersama mereka.’.” Nabi mengatakan, “Maka Allah berfirman, ‘Dan kepadanya juga Aku akan ampuni. Orang-orang itu adalah sebuah kaum yang teman duduk mereka tidak akan binasa.’.” (HR. Muslim)

Dan berdasarkan hadits riwayat dari Ummi ‘Athiyah berkata, saat keluarnya para wanita dihari raya”Kami diperintahkan agar wanita yang bersih dan yang sedang haidh keluar pada Dua Hari Raya, hadir menyaksikan kebaikan dan seruan kaum muslimiin” (Muttafaqun ‘alaihi)Berkata as-Syaukaany “ini adalah dalil bahwa perkumpulan orang-orang muslim untuk dzikir termasuk tempat-tempat ijabahnya doa.

Do’a seorang muslim terhadap saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya

Terdapat riwayat hadits anjuran mendoakan kepada saudara muslim lainnya dengan tanpa sepengetahuannya

“Doa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui olehnya adalah doa mustajabah. Di atas kepalanya (orang yang berdoa) ada malaikat yang telah diutus. Sehingga setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan, “Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.” (HR. Muslim).
Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah 39/229-230.

Referensi :

حَال اجْتِمَاعِ الْمُسْلِمِينَ فِي مَجَالِسِ الذِّكْرِ : 20 – اجْتِمَاعُ الْمُسْلِمِينَ فِي مَجَالِسِ الذِّكْرِ مِنْ مَوَاطِنِ الإِْجَابَةِ لِحَدِيثِ : لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَل إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ (3) .وَلِحَدِيثِ : إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُول لِمَلاَئِكَتِهِ : قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَيَقُولُونَ : رَبِّ فِيهِمْ فُلاَنٌ عَبْدٌ خَطَّاءٌ إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ قَال : فَيَقُول : وَلَهُ غَفَرْتُ، هُمُ الْقَوْمُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ (4)(3) حديث : ” لا يقعد قوم يذكرون الله إلاَّ حفتهم الملائكة . . . ” . أخرجه مسلم ( 4 / 2074 ) من حديث أبي هريرة وأبي سعيد الخدري . (4) حديث : ” إن الله يقول لملائكته : قد غفرت لهم . . . ” . أخرجه مسلم ( 4 / 2070 ) من حديث أبي هريرة .وَلِحَدِيثِ أُمِّ عَطِيَّةَ فِي خُرُوجِ النِّسَاءِ يَوْمَ الْعِيدِ وَفِيهِ : يَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ (1) .قَال الشَّوْكَانِيُّ : فَهَذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ مَجَامِعَ الْمُسْلِمِينَ – أَيْ لِلذِّكْرِ – مِنْ مَوَاطِنِ الدُّعَاءِ . (2) ط – دُعَاءُ الْمُؤْمِنِ لأَِخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ 21 – وَرَدَ فِي اسْتِجَابَةِ دُعَاءِ الْمُؤْمِنِ لأَِخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ (3) حَدِيثُ أَبِي الدَّرْدَاءِ مَرْفُوعًا :دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَِخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَِخِيهِ بِخَيْرٍ قَال الْمَلَكُ الْمُوَكَّل بِهِ : آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

Catatan : Mengenai kedua permasalahan tadi itu tergantung pada caranya tujuan dan niat kita bersosialisasi terutama efek manfaat dan madharatnya, jika banyak manfaat maka di perbolehkan, namun jika sebaliknya itu tidak di perbolehkan, terlebih khusus bagi wanita (bukan muhrim dan wanita sudah menikah) yang memang memiliki kententuan tersendiri dari sosialisasi di semua aktifitasnya itu alangkah lebih baiknya jangan sama sekali bagi wanita (bukan muhrim dan wanita sudah menikah) karena hakikatnya itu akan menimbulkan fitnah.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id