Standarisasi Syar’i Dibalik Keanggunan Seorang Muslimah Dalam Berhijab

Standarisasi Syar'i Dibalik Keanggunan Seorang Muslimah Dalam Berhijab

Almunawwar.or.id – Adalah sebuah kriteria perbedaan yang mendasar bagi seorang muslimah untuk senantiasa bisa berbakti di hadapan Sang Khalik dengan mengaplikasikan apa yang sudah menjadi sebuah kewajiban yang bersumber pada sebuah ketaatan.

Salah satunya dengan selalu senantiasa berhijab, memaknai apa arti muslimah sesungguhnya tidak hanya mengejar popularitas semata yang justru akan mengkelabui jati diri yang sesungguhnya karena tergerus dengan tuntutan model dan jaman saat ini.

Di balik fenomena seperti itu tentu perlu pencermatan pasti tentang bagaimana cara menerapkan sistem syariat yang sesunguhnya terlebih khusus bagi mereka para muslimah, yang dalam hal ini tidak hanya soal keanggunan ketika memakai hijab akan tetapi ini justru sebuah kewajiban semata.

Dalam artian tidak perlu mewah dan wah dalam mengenakan pakaian hijab syar’i itu akan tetapi nilai kultur sebuah ketaatan menjadi dasar dari pada pengaplikasian diri seorang muslimah yang sangat di cintai oleh Alloh S.W.T semata.

Karena jika seseorang selalu mengejar trend fashion yang ada, maka dia akan berjuang untuk mengejarnya, padahal suatu saat nanti akan terganti trend yang lain. Maka bisa dibayangkan, bagaimana betapa sia-sianya sebuah perjuangan jika hanya digunakan untuk mengejar kebanggaan yang sifatnya hanya sementara.

Sedangkan standart yang Allah beri itu, sifatnya everlasting, tidak berpatokan pada nafsu manusia yang selalu berubah-ubah setiap harinya. Hanya saja kita sebagai seorang muslimah harus peka terhadap perubahan sebuah model fashion saat ini yang menuntut untuk lebih real dan pantas lagi dalam sebu

Dan sangat banyak contoh-contoh diluar sana, tapi Allah memberi tutorialnya dalam Surah An-Nur ayat 31, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” Jika sudah begitu, apakah masih mau ikut standart dan tutorial dari manusia?

Standarisasi kewajiban berhijab bagi seorang muslimah itu memang seolah sudah menjadi bagian pasti terhadap nilai ketaatan jati dirinya kepada Alloh S.W.T ketika sebuah tuntutan berbuah menjadi sebuah tuntunan untuk lebih mengarahkan pasti terhadapa nilai kharismatik seorang muslimah yang sejati.

Sebab Hijab syari bukan hanya dipakai untuk mengaji, tapi itu adalah pakaian muslimah sehari-hari. Anggapan bahwa pakaian syari hanya dipakai mengaji sudah mengakar dalam benak kaum muslimah masa kini. Hal itu dikarenakan pakaian muslimah saat ini sudah tidak syari, dan aktifitas yang terlihat syari hanya mengaji.

Padahal kenyataanya tidak begitu, ketika muslimah beraktivitas diluar rumah, baik itu kegiatan sosial, olahraga, bahkan berenang sekalipun juga tetap harus berhijab syari. Dan ini merupakan bentuk dari pada nilai ketaatan seroang muslimah yang sejati ketika harus berinteraksi.

Untuk itu trik dalam memaknai dan cara mengenakan standarisasi berhijab bagi seorang muslimah sesuai dengan perintah Syar’i berdasarkan dalil yang jelas perlu di cermati, hayati dan tentunya harus di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari seperti berikut ini.

1. Gunakan mihnah atau pakaian rumah. Penjelasan tentang batasan aurat wanita telah dijelaskan dalam sebuah hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud yang bersumber dari Aisyah r.a. Disebutkan bahwa Asma’ binti Abu Bakar r.a pernah masuk ke ruangan Nabi saw. dengan menggunakan pakaian tipis, sehingga Rasulullah pun berpaling seraya bersabda kepadanya “wahai Asma, sesungguhnya seorang wanita itu telah baligh tidak pantas untuk dilihat kecuali ini dan itu”. (Beliau mengatakan demikian sambil memberikan isyarat pada wajah dan kedua telapak tangannya).

2. Gunakan jilbab/gamis yang tidak menunjukkan lekuk tubuh “Para wanita yang berpakaian tetapi (pada hakikatnya) telanjang, lenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk surga dan tiada mencium semerbak harumnya.” (HR. Abu Daud).

3. Gunakan khimar/kerudung yang menutupi bagian dada. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, (QS. An-Nur ayat 31).

4. Gunakan kaos kaki. Karena aurat wanita yang boleh diperlihatkan hanya muka dan telapak tangan. Aurat wanita di depan lelaki muslim ajnabi (asing) adalah seluruh tubuh selain wajah dan telapak tangan (Syahr Mukhtashar Khalil, 176).

Sudah saatnya mengganti fashion muslimah dengan hijab syari, syari disini tidak hanya dalam berpakaian, tetapi dalam keseluruhan penampilan. Kesederhanaan dan sifat malu seorang muslimah justru membuat iri para bidadari surga. Mengapa demikian? Karena itu termasuk ibadah. Kita melakukan apa yang Allah perintah.

Sejatinya, style hijab seorang muslimah hanyalah sesuai syariat. Karena dengan begitu, keanggunan dan kehormatan wanita akan terjaga. Namun dengan perkembangan zaman, millenial menjadikan kreatifitas dalam berhijab terlihat absurd.

Terlalu banyak ide mix and match atasan bawahan, outer, hijab, tas, kalung ala-ala hijabers masa kini -entah itu selebgram atau artis- membuat esensi dari hijab syari menjadi kehilangan makna utuhnya. Hal ini menimbulkan tujuan berhijab berbelok dari menuju taat menjadi hanya mengejar fashion semata. Apa-apa yang melanggar syariat memang pasti akan menggiring untuk tidak taat kepada Allah.

“Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari bermata jeli?” Beliau menjawab “wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.” Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?” Beliau menjawab, “Karena salat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah.” (HR. At-Thabrani).

Sumber:
alumnunawwar.or.id
wartaislami.com