Struktural Semiotik Dari Cara Menggali Sistem Semiologi Komunikasi Ilmu Al-Qur’an

Struktural Semiotik Dari Cara Menggali Sistem Semiologi Komunikasi Ilmu Al-Qur’an

Almunawwar.or.id – Adalah sebuah pengkajian khusus dalam menerapkan metode-metode ilmyahnya ketika hrus di sandarkan pada kulturisasi yang ada dalam khazanah ilmu, dimana pendalaman sebuah objek yang mencakup beberapa makna penting itu kiranya menjadi sebuah kajian khusus dalam penggaliannya.

Dimana tahpan-tahapan tersebut merupakan dasar dari pada cara seorang muslim yang bermaksud ingin jauh memahami bahasa Al quran yang begitu istimewa sekali. Tidak hanya dari kalangan muslim saja, namun keistimewaan yang terdapat dalam Alquran tersebut mampu menarik para pemikir dunia barat.

Dan tentunya hal ini haruslah menjadi bagian penting terutama bagi para pelajar islam di dunia terlebih khusus bagi para santri yang notabanenya merupakan salah satu penerus perjuangan cita-cita luhur umat islam sekaligus menjadi panji terdepan untuk tetap menjagai nilai kulturisasi Alquran itu sendiri.

Dari sinilah di butuhkan sebuah pemahaman khusus yang lebih detail dan lebih mengenai terhadap sebuah objek perkara, Sebagaimana yang telah di maksudkan dalam ayat-ayat Alquran tersebut. Maka di kenalah istilah struktural semiotik yang merupakan literatur dari sebuah penjelasan dan penjabaran bahasa.

Karena semiotik dan strukturalisme adalah prosedur formalisasi dan klasifikasi bersama-sama. Keduanya memahami keseluruhan kultur sebagai sistem komunikasi dan sistem tanda dan berupaya kearah penyingkapan aturan-aturan yang mengikat.

Analisis tanda sebagai hasil proses-proses sosial menuju kepada sebuah pembongkaran struktur-struktur dalam yang mengemudikan setiap komunikasi. Hal ini menandakan bahwa sistem tanda dan konvensinya merupakan jalan dalam pembongkaran makna, tanpa memperhatikan sistem tanda maka struktur karya sastra tidak dapat dimengerti maknanya secara keseluruhan.

Munculnya kajian struktural semiotik ini sebagai akibat ketidakpuasan terhadap kajian struktural yang hanya menitikberatkan pada aspek intrinsik, semiotik memandang karya sastra memiliki sistem tersendiri.

Karena itu, muncul kajian struktural semiotik untuk mengkaji aspek-aspek struktur dengan tanda-tanda (Endraswara, 2003: 64) sehingga dapat dikatakan bahwa kajian semiotik ini merupakan lanjutan dari strukturalisme.

Dan cara ini merupakan salah satu upaya khusus untuk lebih memahami al-Qur’an sebagai fenomena kemukjizatan yang diyakini tidak pernah ditemukan bandingannya dalam sejarah kitab suci di dunia. Aspek yang dikaji secara serius dalam buku ini adalah bagaimana stilistika al-Qur’an dalam melakukan komunikasi dengan para audien di sekitarnya.

Perspektif teori yang digunakan dalam kajian ini pun tergolong baru, yaitu menggunakan pendekatan struktural semiotik. Dengan fokus objek kajiannya pada surat-surat makkiyah.

Pendekatan struktural memandang bahwa sebuah teks hanya dapat dipahami dalam kerangka totalitas (totality) dan keseluruhan (wholenes). Bahkan sebuah teks memiliki unsur-unsur terkecil seperti fonem dan kata. Antara unsur yang satu dengan unsur yang lain, tidak bisa dipisahkan.

Semua bagian teks harus dilihat secara utuh dan menyeluruh. Makna sebuah teks hanya dapat dilihat dalam keseluruhan unsur-unsur yang terdapat di dalam teks yang menggunakan bahasa sebagai medium komunikasi.

Sementara semiotika sendiri melihat bahasa sebagai sistem tanda. Suatu kata tidak saja merujuk pada benda yang berada di luar dirinya. Tetapi juga memiliki makna lain sesuai dengan kepentingan penuturnya, yang kadang sama sekali tidak merujuk pada bendanya.

Oleh karena itu, bahasa dalam perspektif semiotika dipandang memiliki tingkatan makna, yaitu makna pada tataran literal sekaligus pada tataran kepentingan ideologi penuturnya; makna denotatif dan konotatif.

Secara struktural, al-Qur’an memperlihatkan gaya bahasa yang khas, yaitu totalitas dan koheren. Bahasa al-Qur’an dibangun oleh unsur-unsur, yang satu sama lain tidak bisa dipahami sendiri-sendiri. Unsur leksikal, gramatikal, retorika dan kohesi yang membentuk bahasa al-Qur’an, menunjukkan bahwa gaya bahasa al-Qur’an dibangun oleh sistem tanda yang koheren dan total.

Koherensi dan totalitas inilah yang mampu mengabstraksikan struktur wacana al-Qur’an melebihi jangkauan makna tingkat literalnya. Dari situlah pada akhirnya ditemukan nada kepengarangan (authorial tone) dan kekhasan kepengarangan (idiosyncrasy) al-Qur’an. Kekhasan gaya bahasa al-Qur’an ini terlihat jelas dalam surat-surat makkiyah.

Dari sisi tema sentral (mihwar), dinamikan al-Qur’an periode Makah lebih berpusat pada penegasan mengenai otentikasi wahyu dan risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Penegasan ini muncul di tengah penolakan keras masyarakat Quraisy dan kaum kafir Makah. Maka, al-Qur’an pun harus menegaskan bahwa dirinya bukan buatan Nabi, apalagi gubahan setan atau jin.

Di tengah penolakan dan bantahan yang sangat kuat seperti itu, al-Qur’an selama periode Makkah melakukan komunikasi melalui tiga pola gaya bahasa, yaitu bahasa sumpah, pertanyaan dan bahasa huruf muqatha’ah. Sumpah merupakan strategi berkomunikasi untuk meyakinkan keraguan audien.

Pertanyaan menjadi umpan balik kepada audien atas ketidak-percayaannya terhadap ayat Tuhan, dan ini berarti menantang mereka untuk memberikan jawaban atas penolakan yang dilakukan. Sedangkan huruf muqatha’ah mengisyaratkan modus komunikasi di luar batas penalaran manusia yang dipakai al-Qur’an sebagai respon atas gagalnya komunikasi yang normal antara Tuhan melalui al-Qur’an dan Nabi Muhammad Saw.

Melalui pendekatan struktural-semiotik, buku ini mencermati dan mengulas strategi komunikasi yang dibangun antara Tuhan dengan umatnya melalui Nabi Muhammad Saw dan al-Qur’an. Bagaimanapun teori linguistik modern yang digunakan sebagai perspektif dalam kajian memperkaya kajian al-Qur’an untuk konteks keninian tanpa harus mengesampingkan makna dan tujuan yang sesungguhnya.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoag Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
tasamuh.id