Syarat Bermakmum Shalat Jum’at dan Hukum Mendengarkan Khutbah di Luar Masjid

Syarat Shalat Jum'at dan Hukum Mendengarkan Khutbah di Luar Masjid

Almunawwar.or.id – Pada tata caranya ibadah shalat jum’at ataupun yang berkaitan erat dengan keberlangsungan syahbya sholat jum’at tersebut seperti khutbah itu memiliki kreiteria tertentu terhadap pelaksanannya, terlebih khusus bagi para jama’ah yang menjadi pengesah bagi shalat jum’at itu sendiri.

Karena di antara keduanya yaitu shalat jum’at dan khutbahnya tidak bisa di pisahkan satu sama lain, juga terdapat ketentuan-ketentuan yang telah di syariatkan dalam fiqih dalam segi pelaksanannya. Sehingga sangat wajar apabila kedua amalan wajib tersebut mempunyai penjelasan khusus.

Apalagi jika menyoroti permasalahan yang memang saat ini sudah begitu lumrah di tengah-tengah masyarakat, dimana tidak sedikit dari kebanyakan mereka itu dalam melaksanakan tata cara khutbah khususnya bagi para jama’ah tersebut di lakukan di luar mesjid karena memang ada alasan tertentu.

Misalnya karena kapasitas masjid yang memang tidak muat untuk menampung jama’ah yang banyak ataupun alasan yang memang tidak keluar dari ketentuan hukum fiqh. Dan permasalahan ini kiranya layak untuk di ketahui lebih pasti oleh umat islam karena memang fenomena seperti itu sudah lumrah di tengah-tengah masyarakat.

Menyikapi hal tersebut, keterangan mengenai perihal pelaksanaan baik itu shalat jum’at maupun dari khutbahnya adalah sebuah keterangan yang menjelaskan tentang bagaimana kedudukan hukum fiqih

1. Tentang Hukum Mendengarkan Khutbah Jum’at di Luar Masjid
Dalam pandangan fiqh, bagaimana hukum mendengarkan khutbah di luar masjid? Apakah terhitung jamaah yang mengesahkan pelaksanaan Jumat? Dalam fiqh mazhab Syafi’i, Jumat tidak harus dilaksanakan di masjid. Boleh dilakukan di lapangan, surau atau tempat lainnya. Demikian pula pelaksanaan khutbahnya, tidak wajib dilakukan di masjid.

Syekh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali mengatakan:

وَلَا يُشْتَرَطُ أَنْ يُعْقَدَ الْجُمُعَةُ فِي رُكْنٍ أَوْ مَسْجِدٍ بَلْ يَجُوْزُ فِي الصَّحْرَاءِ إِذَا كاَنَ مَعْدُوْداً مِنْ خِطَّةِ الْبَلَدِ فَإِنْ بَعُدَ عَنِ الْبَلَدِ بِحَيْثُ يَتَرَخَّصُ الْمُسَافِرُ إِذَا انْتَهَى إِلَيْهِ لَمْ تَنْعَقِدْ اَلْجُمُعَةُ فِيْهَا

Artinya : “Jum’at tidak disyaratkan dilakukan di surau atau masjid, bahkan boleh di tanah lapang apabila masih tergolong bagian daerah pemukiman warga. Bila jauh dari daerah pemukiman warga, sekira musafir dapat mengambil rukhshah di tempat tersebut, maka jum’at tidak sah dilaksanakan di tempat tersebut.” (al-Ghazali, al-Wasith, juz 2, hal. 263, Kairo, Dar al-Salam, cetakan ketiga tahun 2012)

Oleh sebab itu, mendengarkan khutbah Jumat boleh dilakukan di luar masjid. Di halaman masjid, di jalan, di rumah sendiri atau di tempat manapun, asalkan dapat mendengar khutbah, maka sah. Jamaah yang mendengarkan khutbah di luar masjid terhitung dari 40 orang yang dapat mempengaruhi keabsahan Jumat asalkan dari kelompok yang dapat mengesahkan Jumat.

Syekh Ibnu hajar al-Haitami ditanya, apakah orang yang mendengarkan khutbah saat ia sedang berada di kamar mandi atau tempat lainnya, apakah tergolong 40 orang yang dapat mengesahkan Jumat. Dalam fatwanya, beliau menjawab:

فأجاب بأن الذي يصرح به كلامهم أن يعتد بسماع من بالخلاء ونحوه فقد قالوا لا بد من سماع أربعين من أهل الكمال والمراد بهم من تلزمهم الجمعة فتنعقد بهم ولا شك أن من بالخلاء ونحوه تلزمه الجمعة وتنعقد به

Artinya : “Bahwa sesungguhnya pendapat yang dijelaskan oleh para ulama, mendengar khutbahnya jamaah yang berada di kamar mandi dan tempat lainnya adalah sesuatu yang sah. Ulama mengatakan khutbah wajib didengar 40 jamaah yang sempurna, mereka adalah jamaah yang wajib dan mengesahkan Jumat. Tidak diragukan lagi bahwa orang yang tengah berada di kamar mandi atau tempat lainnya tergolong orang yang wajib dan mengesahkan Jumat.” (Syekh Ibnu hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Kubra, juz 1, hal. 234).

Lebih lanjut beliau menjelaskan, orang yang mendengarkan khutbah dalam kondisi yang tidak siap melaksanakan shalat, tidak mempengaruhi kebolehan dan keabsahan pelaksanaan khutbah. Beliau menegaskan:

وكونه حالة السماع على هيئة تنافي الصلاة لا أثر له لأن القصد من اشتراط سماعهم اتعاظهم بما يسمعون في الجملة وهذا المقصود حاصل بسماع من بالخلاء ونحوه

Artinya : ““Dan keberadaan orang di kamar mandi tersebut dalam kondisi yang bertentangan dengan shalat tidak mempengaruhi dampak apapun. Sebab tujuan dari syarat mendengarkan khutbah oleh jamaah jumat adalah mereka menerima pesan khutbah yang mereka dengar secara umum. Dan tujuan ini dapat dihasilkan dengan mendengar khutbah di kamar mandi dan tempat lainnya.” (Syekh Ibnu hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Kubra, juz 1, hal. 234).

Bila melihat pertimbangan keutamaan, mendengarkan khutbah di masjid tentu lebih memiliki pahala yang besar, sebab ada nilai lebih seperti pahala I’tikaf.

2. Ketentuan jarak Makmum dan Imam dalam Shalat Jum’at
Kalau antara tempat imam dan makmum itu ada penghubungnya serta tidak sampai 300 dzira’ dan melihat terhadap gerakannya imam atau orang yang di belakang imam maka sah. Ini adalah syarat imam dan ma’mum yang beda tempat. Lihat Bughyah bab salat jama’ah :

فتشترط خمسة شروط العلم بالإنتقالات الامام.وامكان الذهاب اليه من غيرازوراروانعطاف.وقرب المسافةبان لايزيدمابينهمااوبين احدهماواخرالمسجدعلى ثلاثمئة ذراع.ورؤيةالامام أوبعض المقتدين وانتكون الرؤيةمن محل المرور.فيضرهناتخلل الشباك والباب المردود

Sholat berjama’ahnya sah dengan syarat tidak lebih dari 300 dzira’, sebab sungai bukanlah penghalang (ha’il) yang dapat mencegah melihat imam atau makmumnya yang di halaman masjid. Kalau sungai tersebut tak ada jembatannya ? Bagaimana kalau pakai rakit / perahu, atau berenang apa tidak mungkin.. ? di ibarotnya tertulis “IMKAN” :

وامكان الذهاب اليه من غيرازوراروانعطاف

Memungkinkan pergi ke imam tanpa berbelok. (Tidak masalah si ma’mum bisa berenang atau tidak).

Seperti misalmya Shalat jama’ah yang antara ma’mum dipisah dengan sungai hukumnya sah walaupun tidak ada jembatan sekira ma’mum bisa sampai pada imam meski dengan cara berenang, karena sungai itu tidak termasuk penghalang, asalkan ma’mum mengetahui gerakan imam dan jaraknya antara ma’mum yang terakhir dengan ma’mum yang paling akhir yang ada di masjid tidak melebihi 300 dzira’ / kurang lebih 144 meter, sebagaimana keterangan yang ada di ta’bir di atas. :

.ولا يضر في جميع ما ذكر شارع ولو كثر طروقه ولا نهر وإن أحوج الى سباحة وهي بكسر السين العوم وهو علم لا ينسى لأنهما لم يعدا للحيلولة. الباجوري ١/٢٠٠

تقريرات السديدة ٢٩٩
ولايضر تخلل الشارع بين الإمام والمأمو، وكذلك النهر الكبير، ولاالبحر بين سفينتين.

Tak mengapa antara imam dan ma’mum dipisah jalan besar, sungai besar dan lautan antara dua perahu (imam dan ma’mum beda perahu).

Jika sholat di atas loteng masjid sedangkan imam di atas loteng rumah atau di atas loteng masjid yang lain yang terpisah tapi jaraknya dekat (kurang dari 300 dziro’) dan antara keduanya tidak ada penghalang maka ada yang bilang Tidak sah, karena berada dalam bangunan yang berbeda dan tidak adanya sambungan dan karena udara juga tidak mempunyai tempat yang tetap, tapi pendapat yang lebih dekat dengan kebenaran mengatakan SAH sebagaimana contoh sahnya jama’ah antara makmum dan imam berada dalam 2 bangunan yang dihalangi jalan dan sungai.

أسنى المطالب في شرح روض الطالب – (ج 1 / ص 225)
وَلَوْ صلى فَوْقَ سَطْحِ مَسْجِدٍ وَإِمَامُهُ فَوْقَ سَطْحِ بَيْتٍ أو مَسْجِدٍ آخَرَ مُنْفَصِلٍ مع قُرْبِ الْمَسَافَةِ وَلَيْسَ بَيْنَهُمَا حَائِلٌ فَقَدْ يُقَالُ بِعَدَمِ الصِّحَّةِ لِاخْتِلَافِ الْأَبْنِيَةِ وَعَدَمِ الِاتِّصَالِ لِأَنَّ الْهَوَاءَ لَا قَرَارَ له وَالْأَقْرَبُ الصِّحَّةُ كما لو وَقَفَا في بِنَاءَيْنِ على الْأَرْضِ وَحَالَ بَيْنَهُمَا شَارِعٌ أو نَهْرٌ وَإِنْ كان الْإِمَامُ أو من على الْمَنْفَذِ أو الْمَأْمُومُ الْمُحَاذِي له في عُلْوٍ وَالْآخَرُ في سُفْلٍ وَقَدَمُ الْأَعْلَى مُحَاذٍ لِرَأْسِ الْأَسْفَلِ وَلَيْسَ بَيْنَهُمَا فُرْجَةٌ تَسَعُ وَاقِفًا إنْ صلى بِجَنْبِهِ وَلَا أَكْثَرُ من ثَلَاثَةِ أَذْرُعٍ إنْ صلى خَلْفَهُ لم يَضُرَّ فَإِنْ لم يُحَاذِهِ على الْوَجْهِ الْمَذْكُورِ بَطَلَتْ صَلَاةُ الْمُقْتَدِي لِأَنَّهُمَا حِينَئِذٍ لَا يُعَدَّانِ مُجْتَمِعَيْنِ في مَكَان وَاحِدٍ بِخِلَافِ ما لو كان ذلك في الْمَسْجِدِ لِمَا مَرَّ

Lebih fokus lagi:

وَكَذَلِكَ لَوْ صَلَّى فِي سَفِينَةٍ وَالْمَأْمُومُ عَلَى الشَّطِّ ، أَوِ الْإِمَامُ عَلَى الشَّطِّ وَالْمَأْمُومُ فِي سَفِينَةٍ ، أَوِ الْإِمَامُ فِي أَحَدِ جَانِبَيْ نَهْرٍ وَالْمَأْمُومُ فِي الْجَانِبِ الْآخَرِ ، فَصَلَاةُ الْمَأْمُومِ جَائِزَةٌ إِذَا عَلِمَ بِصَلَاةِ إِمَامِهِ وَكَانَ بَيْنَهُمَا قُرْبٌ ، وَلَيْسَ الْمَاءُ حَائِلًا يَمْنَعُ مِنْ صِحَّةِ الصَّلَاةِ : سَوَاءٌ كَانَ رَاكِدًا أَوْ جَارِيًا

Begitu juga umpama imam sholat dalam perahu sedangkan makmum di tepi sungai atau imam ada di salah satu tepi sungai dan makmum ditepi sungai yang satunya maka sholatnya makmum boleh-boleh saja jika tahu dengan sholatnya imam dan jarak mereka dekat (tidak lebih dari 300 dziro’) dan masalah air tidaklah dianggap penghalang yang bisa mencegah sahnya sholat berjama’ah entah air itu mengalir atau tidak.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
nu.or.id
piss-ktb.com