Tafakur Diri Pada Medan Perenungan Sebagai Media Untuk Bisa Uzlah Hati

Tafakur Diri Pada Medan Perenungan Sebagai Media Untuk Bisa Uzlah Hati

Almunawwar.or.id – Banyak cara untuk bisa mengerti akan sejatinya jati diri ini dalam dan jauh lebih mengenal tugas daripada seorang hamba di muka bumi ini, salah satunya dengan bisa bertafakkur (berfikir merenung) kepada diri dan semua hal yang ada di alam sekitar.

Sehingga dari makna tersebut lahirlah penemuan jati diri yang sesungguhnya dan mengerti betul bagaimana tingah dan polah hati dan jiwa ketika harus di hadapkan ke semua makna hidup ini sebagai bagian penting dari pada arti penghambaan diri untuk meraih kesempurnaan dalam beribadah.

Sebab satu hal yang pasti barang siapa yang ingin tahu Rabb nya, maka ketahuilah terlebih dahulu siapa diri sesungguhnya, untuk itu bertafakkur atas apa yang telah di terima dan di berikan kepada kita itu merupakan langkah awal dalam menemukan arti dari pada tujuan hidup ini.

Terutama ketika mampu mengolah hati yang menjadi pusat dari pada mobilitas diri dalam melaksanakan tugas dan tujuan hidup ini, sebab tiada sesuatu pun yang berguna bagi hati sebagaimana uzlah untuk memasuki medan perenungan dalam meraih haqiqat dan tujuan.

Luqmanul Hakim berkata :

القلوب مزارع فازرع فيها الكلمة الطيبة ، فإن لم تتمتع بثمرها تتمتع بخضرها ( لقمان الحكيم )

Artinya : “Hati itu seperti ladang, maka tanamlah kalimat-kalimat (ucapan)yg baik, maka kalau kamu tidak bisa mendapatkan kesenangan dari buahnya maka kamu akan mendapatkan kesenangan dari hijau daunnya”.

Untuk itu jaga dan peliharalah hati dari hal-hal yang menodainya terutama dari perkara yang bisa menjauhkan dari rahmat alloh S.W.T dengan banyaknya bertafakkur, berdzikir dan tentunya mengisi hati itu dengan berbagai amalan ibadah yang di anjurkan dan di perintahkan.

Dalam firmanNya juga kita bisa mengetahui, bahwa tafakur merupakan diantara ibadah yang melekat pada diri orang-orang yang cerdas di mata Allah SWT.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ . الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (cerdas). (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (Ali Imran 190-191).

Sehingga dari penuaian makna tafakkur tersebut sejatinya rahasia yang ada pada diri kita masing-masing bisa di pahami sekaligus mampu menghantarkan ke dalam nikmat duniawi dan ukhrowi, terutama ketika mampu di jadikan sebagai bagian untuk meraih kesempurnaan dari tujuan hidup ini.

Rasulullah Saw. pernah bersabda:

تفكر ساعة خير من عبادة سنة

Artinya :”Tafakur sesaat lebih baik daripada ibadah satu tahun (HR. Bukhari).

Untuk itulah tafakkur juga merupakan salah satu media dalam meraih haqiqat sebuah perkara sebelum menyatakan dan mengartikan kesiapan hati dan jiwa dalam melaksanakan semua hal yang menjadi tugas dan perintah ketika umat manusia di lahirkan ke alam dunia yang fana ini.

Maka sangat pantas apabila Imam Ahmad bin Sahl menjelaskan kepada kita dengan berkata, ”Musuhmu ada empat, yaitu:
1. Dunia, Senjatanya adalah makhluk dan penjaranya adalah uzlah
2. Syetan, Senjatanya adalah kenyang dan penjaranya adalah lapar
3. Nafsu, Senjatanya adalah tidur dan penjaranya adalah terjaga
4. Hawa, enjatanya adalah berbicara dan penjaranya adalah diam

Sebab hal ini karena dengan berfikir, manusia dapat mengetahui substansi sesuatu, dan semakin menambah makrifat kepada Allah. Akal sehat dan pikiran yang jernih akan membiarkan manusia memilih mana yang maslahat dan mana yang mafsadah, mengetahui bujuk rayu syetan dan rendahnya kehidupan dunia ini.

Sedangkan uzlah akan memberi kesempatan bagi si hamba untuk menyibukkan diri dengan kesucian hati, lidah dan perilaku, serta menghindarkan diri dari kesibukan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Uzlah yang mendorong berfikir jernih merupakan salah satu metode yang tepat untuk menuju makrifat kepada Allah.

Sebagaimana dikatakan oleh Rabi’ah Al-Adawiyah:

“Sungguh saya telah menjadikan-Mu sebagai pujaan dalam hati
Dan saya mencari-cari orang yang menginginkan kedudukan saya
Fisik saya bersikap lemah lembut terhadap orang yang berinteraksi dengan saya
Sedangkan kekasih hati saya itulah yang bisa menghibur saya”

Dan ketahuilah bahwa uzlah itu harus dilakukan dengan sepenuh hati dan dengan menjauhkan diri dari keramaian manusia. Tetapi terkadang ada juga yang hanya menggunakan dengan hati saja, sedangkan fisiknya selalu berinteraksi dengan mereka dan hatinya selalu mendekatkan diri kepada Allah S.W.T.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id