Tata Cara Hukum Niat Hikmah Shalat Gerhana Matahari Berikut Artinya

Tata Cara Hukum Niat Hikmah Shalat Gerhana Matahari Berikut Artinya

Almunawwar.or.id – Alloh S.W.T telah menjadikan semua ciptaannya berjalan dan berfungsi sesuai dengan tugasnya masing-masing, Seperti misalnya Matahari yang selalu menerangi dunia beserta isinya pada siang hari begitu pula dengan bulan yang memancarkan cahaya indahnya pada bumi di setiap malam, Namun ada kalanya hal tersebut yang menjadi fungsi atau tugasnya itu mengalami kejadian yang luar biasa seperti adanya gerhana bulan atau gerhana matahari.

Jika di tinjau dari segi ilmu sains atau alama Gerhana itu merupakan sebuah fenomena astronomi apabila sebuah benda yang berada di angkasa berjalan atau bergerak ke dalam bayangan benda angkasa lainnya atau yang dikenal pada umumnya sebagai gerhana matahari dimana posisi bulan pada saat itu terletak antara bumi dan matahari, sehingga bagi sebagian bumi itu tidak dapat mendaptakn sinar matahari karena terhalang oleh bulan.

Sedangkan gerhana bulan itu merupakan fenomena alam dimana saat sebagian atau keseluruhan penampang Bulan tertutup oleh bayangan Bumi. Sehingga bulan tidak bisa menerangi bumi dengan cahayanya pada malam hari. Atau juga menurut para Ilmuwan yang ada pada beberapa artikel menyebutkan bahwa adanya gerhana itu tidak hanya di sebabkan oleh kedua hal tadi namun bisa terjadi pada fenomena lain yang tidak berhubungan dengan Bumi atau Bulan, misalnya pada planet lain dan satelit yang dimiliki planet lain.

Nah sebagai Umat Islam tentunya mempercayai akan semua itu terjadi atas idzin alloh S.W.T dan alam sebagai media dalam menggambarkan kejadian tersebut, dalam hal ini di anjurkan bagi setiap umat islam untuk mengerjakan shalat kusuf bagi gerhana matahari dan shalat khusuf saat terjadi gerhana bulan. hal ini sebagaimana yang pernah di lakukan oleh Rasullalloh S..A.W ketika peristiwa gerhana itu terjadi.

Dan fenomena tersebut merupakan bentuk dari adanya kekuasaan Alloh S.W.T yang mengendalikan semua tatanan kehidupan di bumi dan di luar angkasa termasuk dari adanya peristiwa dua gerhana tersebut. Alloh S.W.T berfirman dalam QS Fushilat: 37 yang berbunyi :

وَمِنْ اٰيٰتِهِ الَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُۗ لَا تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

Artinya: “Sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud pada matahari dan jangan (pula) pada bulan. Bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya jika kamu hanya menyembah kepada-Nya,” (QS Fushilat: 37).

Dalam sebuah hadits di terangkan, bahwasannya Rasulalloh S.A.W bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللّٰهِ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَادْعُوا اللّٰهَ وَصَلُّوا حتَّى تَنْكَشِفَ

Artinya: “Matahari dan bulan merupakan setengah dari beberapa tanda kekuasaan Allah, bukan karena matinya seseorang atau bukan (pula) karena hidupnya, maka ketika kalian melihat gerhana, berdoalah dan shalatlah sampai gerhana tersebut hilang (terang)” (HR al-Bukhari).

SHALAT GERHANA MATAHARI
1. Hukum dan Waktu
Para ulama sepakat bahwa hukum melaksanakan shalat sunnah gerhana matahari adalah sunnah, baik bagi laki-laki maupun perempuan, bepergian (musafir) dan orang yang diam di rumah (muqim), sesuai dengan dua dalil di atas tadi, Sedangkan waktu pelaksanaannya itu mulai dari awal perubahan matahari sampai sinarnya terang kembali, atau sampai terbenamnya matahari meskipun masih dalam keadaan gerhana. Demikian kata Ulama ahli Fiqih (Habib Zain bin Smith, Taqriratus Sadidah fil Masailil Mufidah, [Darul Mirats an-Nabawi], 2003, h. 347).

2. Tata Cara Pelaksanaan
Dua rakaat, yaitu dimulai dengan niat. Adapun lafal niatnya, yaitu:

أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin : Ushallî sunnatan likusûfisy syamsi rak’ataini lillâhi ta’âlâ

Artinya: “Saya niat shalat sunnah gerhana matahari dua rakaat karena Allah ta’âla.”

– Berniat sholat gerhana
– Takbiratul ihram
– Membaca do’a istiftah dan berta’awudz, kemudian membaca surat Al-Fatihah dan membaca surat
– Kemudian ruku’
– Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal)
– Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al-Fatihah dan membaca surat
– Kemudian ruku’ kembali (ruku’ kedua)
– Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal).
– Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali.
– Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama
– Salam.

3. Anjuran Shalat gerhana Matahari
– Disunnahkan mandi sebelum melaksanakan shalat gerhana matahari, tanpa berhias, dengan niat sebagai berikut:

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِصَلَاةِ الْكُسُوْفِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

latin: Nawaitul ghusla lishalâtil kusûfi sunnatan lillâhi ta’âlâ

Artinya: “Aku niat mandi untuk gerhana matahari sunnah karena Allah ta’ala.”

– Disunnahkan untuk tidak mengeraskan bacaan-bacaannya dalam shalat. Sebab, shalat gerhana matahari termasuk bagian shalat yang dikerjakan di siang hari (nahariyah).

– Jika dilakukan secara berjamaah, maka disunnahkan bagi Imam untuk berkhutbah, sebagaimana khutbah shalat Jumat. Namun, dalam hal ini hendaklah bagi khatib memotivasi para jamaah terhadap kebaikan, berupa taubat, sedekah, dan kebaikan lainnya, serta mengajak untuk meninggalkan kemaksiatan dan segala kejelekan lainnya. Anjuran khutbah ini tidak berlaku bagi orang yang melakukan shalat gerhana secara sendiri.

– Disunnahkan untuk tidak dilakukan secara berjamaah apabila terjadi gempa, petir yang menakutkan, dan angin kencang. (Habib Zain, Taqriratus Sadidah fil Masailil Mufidah, 2003, h. 348).

4. Hikmah
Sebagai peringatan kepada orang-orang yang menyembah dan mempertuhankan matahari dan bulan, bahwa kedua benda langit itu tidak memiliki daya dan kekuatan apa pun, tidak bisa mendatangkan kebaikan dan keburukan, tidak pula memberikan manfaat dan mudarat. Keduanya sama-sama makhluk Allah ﷻ yang tidak boleh disembah. Sebab, seandainya matahari dan bulan memiliki kekuatan maka ia akan menolak kekurangan yang ada pada dirinya, dan sinarnya tidak akan pernah hilang (Habib Zain, Taqriratus Sadidah fil Masailil Mufidah, 2003, h. 347).

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
piss-ktb.com
almunawwar.or.id