Tata Letak Perbedaan Shalat Pria dan Wanita Menurut Kajian Hukum Fiqh

Tata Letak Perbedaan Shalat Pria dan Wanita Menurut Kajian Hukum Fiqh

Almunawwar.or.id – Kewajiban melaksanakan amalan ibadah sholat terutama sholat lima waktu adalah suatu amalan yang mesti dilaksanakan dalam setiap hari oleh setiap individu umat islam baik laki-laki maupun perempuan. Untuk itu terdapat kajian tertentu dalam tata cara melaksanakan amalan sholat tersebut.

Terutama dalam melaksanakan dari mulai sholat yang di awali dengan membacakan niat pada takbirotul ikhrom sampai akhir salam pertama begitu juga dengan syarat-syarat yang ditentukan dalam masalah sholat itu sendiri. Demikian halnya terdapat perbedaan dari tata cara pelaksanaan sholat untuk laki-laki dan perempuan.

Karena sejatinya antara laki-laki dan perempuan menurut pandangan islam itu terdapat sebuah perbedaan yang mesti diketahui pasti oleh setiap individunya. Termasuk dalam masalah pada gerakan sholat secara fisik antara keduanya, tidak pada pelaksanaan rukun, syarat dan yang membatalkan shalat antara keduanya tidak terdapat perbedaan

Hal ini berdasarkan eberapa keterangan hadits nabi diantaranya : “Sholatlah kalian, sebagaimana kalian melihat aku sholat.” (HR. Bukhori, Muslim, dan Ahmad).

Begitu juga dengan hadits yang di riwayatkan oleh Ibrahim An-Nakha’i menyatakan : “Dalam sholat, wanita melakukannya sama dengan yang dilakukan oleh laki-laki” (HR. Ibnu Syaibah 1/75/2, dengan sanad shahih).

Senada dengan itu maka berbagai sumber keterangan lain yang termaktub ataupun yang terlansir dalam sebuah kitab Fiqih, dimana redaksinya menerangkan tata letak sisi perbedaan sholat pria dan sholat wanita, terutama ketika melaksanakan rangkaian tertentu pada waktu sholat. Berikut redaksinya:

( فصل ) والمرأة تخالف الرجل في خمسة أشياء

فالرجل يجافي مرفقيه عن جنبيه ويقل بطنه عن فخذيه في الركوع والسجود ويجهر في موضع الجهر وإذا نابه شيء في الصلاة سبح وعورة الرجل ما بين سرته وركبته والمرأة تضم بعضها إلى بعض وتخفض صوتها بحضرة الرجال الأجانب وإذا نابها شيء في الصلاة صفقت وجميع بدن الحرة عورة إلا وجهها وكفيها

Artinya: ” Dalam sebuah pasal yang menjelaskan tentang perbedaan antara sholat pria dan wanita yang terdapat pada lima perkara. dengan kesimpulannya sebagai berikut:

Sholat Pria
1.Mengangkat siku dan merenggang, jauh dari lambungnya, perut diangkat, juga merenggang jauh dari paha sewaktu ruku’ ketika sujud, serta bersuara keras pada tempatnya (pada shalat jahr).

2.Jika terjadi sesuatu kekeliruan imam dalam shalat, maka bertashbih dengan mengucapkan “subhanalloh” (dengan maksud dzikir, atau dengan maksud pemberitahuan (kepada Imam). Maka hal ini tidak membatalkan shalat, berbeda jika memang bermaksud memberitahu saja, maka batal shalatnya).

3.Aurat pria (batasannya dalam shalat) mulai dari anggota tubuh diantara pusar sampai lutut, tapi bukan berarti pusar dan lutut itu aurat, dan tidak pula anggota tubuh di luar batasan tersebut.

Sholat Wanita berbeda dengan pria dalam 5 perkara, yaitu :
1.Bahwasanya wanita itu menghimpitkan setengah anggota tubuh pada anggota lain, baik ketika ruku’ maupun sujud, yakni perut berhimpit dengan pahanya.

2.Suaranya dipelankan, sewaktu melakukan shalat di sebelahnya banyak pria lain (bukan suami/bukan mahramnya), berbeda jika shalat munfarid yang jauh dari mereka (kaum pria), maka boleh jahr/bersuara keras.

3.Sewaktu shalat berjamaah, terjadi sesuatu kekeliauran pada Imam, maka wanita mengingatkannya dengan bertepuk tangan, yakni perut telapak tangan kanan (bagian dalam telapak tangan kanan) memukul punggung (bagian luar telapak tangan kiri).

4.Jika melenceng dari ketentuan tersebut, maka batal shalatnya, misalnya bertepuk tangan dengan perut kedua telapak tangannya dengan maksud main-main (bergurau) walaupun pelan, padahal ia telah mengetahui bahwa tindakan tersebut terlarang, maka batal shalatnya. Dan ketentuan pada wanita berlaku pula pada banci ( الخنثى ).

5.Seluruh tubuh wanita merdeka adalah aurat yang wajib ditutupi selain wajah dan telapak tangan, apabila mengerjakan shalat, bahkan seluruh tubuhnya adalah aurat di luar shalat (kepada selain mahramnya).

Sebagai rujukan dari keterangan itu mengacu pada kajian Matan Abi Sujaa’ juz I halaman 64, dan pada kitab al-Iqna juz I halaman 46, Kitab Hasyiyah al-Bujairomi ala al-Khotib juz IV halaman 413, juga kitab Kifaayah al-Akhyaar juz I halaman 117.

Sekiranya penjelasan tadi mengenai sisi perbedaan antara sholat pria dan sholat wanita dalam rangkaian sholat tertentu bisa menjadi ilmu dasar yang bermanfaat bagi kita semua, tentang bagaimana cara menjadikan sholat sebagai bagian penting amalan sehari-hari yang bukan hanya sekedar kewajiban saja.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com