Tentang Harapan Dan Kecintaan Rakyat Terhadap Tanah Airnya Dari Tinjauan Fiqih

Almunawwar.or.id – Tentunya ada harapan tersendiri bagi setiap rakyat ataupun setiap warga dalam menjadikan negara ini sebagai sebuah wilayah ataupun ruang lingkup yang di penuhi dengan keberkahan dari berbagai aspek yang menopang terhadap kesejahteraan rakyatnya tersebut.

Termasuk dari adanya faktor yang menopang terhadap makna dari pada Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofur yaitu sebuah negara yang penuh dengan keberkahan, loh jinawi dan tentunya berjalan pada keridhan dan selamanya ada dalam lindungan Alloh S.W.T untuk setiap pemimpin dan rakyatnya.

Terlebih dari momen dari pada lahirnya sebuah kemerdekaan sebagai anugerah paling terbesar bagi setiap warga negara untuk bisa mensyukurinya sebagai pemberian karunia dari Alloh S.W.T sekaligus menjadi nilai yang begitu sempurna dalam mewujudkan sebuah negara yang makmur adil dan tentunya sejahtera.

Dalam mewujudkan semua itu tentu sangat di perlukan sebuah kesadaran yang sangat tinggi dalam memaknai arti dari pada cinta terhadap tanah air atau dalam istilah “HubbulWathon Minaliman” bagi setiap aspek warganya, baik untuk rakyat maupun bagi seorang pemimpinnya.

Dan tentu pula hadirnya sebuah anugerah kemerdekaan ini tidak lepas dari perjuangan, pengorbanan dari semua lapisan terutama dari para pahlawan yang berani menumpahkan darahnya demi mendapatkan sebuah kedaulatan negara yang terlepas dari segala bentuk penjajahan.

Bagi kita sebagai penerus bangsa tentu patut untuk bisa mensyukuri atas ni’mat dan karunia terbesar ini dengan mengisi kemerdekaan ini yang mengarahkan pada titik nilai dari estafet perjuangan para pahlawan terdahulu tersebut yang tentunya pula sebagai bagian dari pada mensyukuri ni’mat kemerdekaan itu.

Serta sudah seyogyanya pula untuk lebih memaknai arti dari pada kemerdekaan ini sekaligus mengenang kembali perjuangan yang begitu besar dari para pahlawan adalah unsur yang tepat dan akurat dari semua pihak untuk mengarahkan pada harapan dan tujuan yang sama sesuai dengan cita-cita leluhur bangsa.

Dari pada itulah hal-hal yang mengenai tentang arahan dan tujuan dari pada sebuah negara yang baldatun thoyyibatun warobbun ghofur tidak lepas dari pencerminan terhadap sisi sejarah dari berdirinya sebuah negara yang tidak lepas dari aspek hidup dan kehidupan dari rakyat dan pemimpinnya, berikut gambaran tersebut dan yang di maksudkan.

Tentang kehidupan rakyat sesuai dengan kepribadian Pemimpinnya
Para ahli sejarah telah menceritakan di kitab-kitab mereka tentang keadaan para raja atau pemimpin juga keadaan para manusia yang menjadi rakyatnya, diantaranya adalah :

Manusia pada zaman kepemimpinan Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi ketika mereka saling bertemu, maka mereka akan saling bertanya, siapakah yang dibunuh kemaren?, siapakah yang tekah disalib barusan?, siapakah yang telah dicambuk?, siapakah yang telah dipotong tangannya?, atau pertanyaan-pertanyaan yang semacamnya.

Pada masa kepemimpinan al-Walid bin Hisyam seorang raja yang memiliki banyak sekali perusahaan, pabrik dan harta benda yang melimpah, maka pembicaraan yang banyak menjadi tema percakapan oleh rakyatnya adalah selalu berkaitan dengan ekonomi, membicarakan tentang model-model bangunan, kabar-kabar tentang berbagai perusahaan, membicarakan tentang berbagai jenis barang-barang terbaru, tentang lahan-lahan pertanian, tentang berbagai macam pertanian yang bisa menguntungkan, dan pembicaraan yang sejenisnya.

Pada masa kemimpinan Sulaiman bin Abdul Malik seorang raja yang gemar makan makanan yang enak dan suka sekali menikah, keadaan rakyat pada masa itu yang sering menjadi tema obrolan mereka adalah hal-hal yang berkaitan dengan makanan dan rakyatnya gemar sekali menikah serta memelihara wanita simpanan. Mereka selalu membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan keduanya disetiap pertemuan-pertemuan mereka.

Dan pada masa kepemimpinan khalifah Umar bin Abdul Aziz radliyallahu’anh, tema yang sering menjadi pembicaraan rakyatnya diantaranya adalah; Berapa surat dari al-Qur’an yang telah kamu hafal?, Berapa ayat yang kamu baca dan menjadi kebiasaanmu (wirid) dalam sehari semalam?, Orang itu telah hafal berapa surat dari al-Qur’an?, Berapa kali dia bisa menghatamkan al-Qur’an dalam sehari?, Berapa hari dalam sebulan ia melakukan puasa?, dan hal-hal yang semacamnya.

Sudah semestinya bagi seorang pemimpin untuk menempuh jalan-jalan yang dilalui para sahabat dan orang-orang salaf radliyallahu’anhum, selalu menjadikan mereka sebagai contoh yang diikuti dalam setiap ucapan dan perbuatan. Barangsiapa yang menyelisihi mereka, maka pasti akan mengalami sebuah kehancuran. Tiada kedudukan yang lebih tinggi bagi seorang pemimpin yang adil kecuali kedudukan Nabi yang menjadi utusan dan kedudukan Malaikat yang dekat dengan Allah Ta’ala.

Negeri Impian Negeri Harapan
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”.[QS. Saba’ (34): 15]

{بلدةٌ طيبةٌ} أي : هذه البلدة التي فيها رزقكم بلدة طيبة ، {وربُّ غفور} أي : وربكم الذي رزقكم وطلب شكركم ربٌّ غفور لمَن شكره. قال ابن عباس : كانت سبأ على ثلاثة فراسخ من صنعاء ، وكانت أخصب البلاد ، فتخرج المرأة على رأسها المكتل ، وتسير بين تلك الشجر ، فيمتلىء المِكْتَل مما يتساقط فيه من الشجر ولقد كان الرجل يخرج لزيارة أقاربه ، وعلى رأسه مكتل ، أو قُفة ، أو طبق فارغ ، فلا يصل إلى حيث يريد إلا والطبق قد امتلأ فاكهة ، مما تسقطه الرياح ، دون أن يمد يده إلى شيء من ثمرها. ومن طيبها : أنها لم تُرَ في بلدهم بعوضة قط ، ولا ذباب ، ولا برغوث ، ولا عقرب ، ولا حية. وإذا جاءهم الركب في ثيابهم القمل والدواب ؛ ماتت الدواب والقمل ؛ لطيب هواها.

Ibn Abbas ra, berkata “Adalah SABA’ terletak jarak 3 farsakh dari Ibu kota Yaman, Saba’ adalah negeri yang subur, gemah ripah loh jinawi, aneka pepohonan tumbuh rindang dan berbuah lebat disana.

Digambarkan saat seorang wanita keluar rumah dengan keranjang anyaman diatas kepalanya berjalan diantara pepohonan yang tumbuh dinegeri itu, dipastikan keranjangnya penuh dengan aneka buah-buahan yang berjatuhan.

Digambarkan saat seorang pria keluar rumah hendak mengunjungi sanak familinya dengan keranjang anyaman atau pinggan diatas kepalanya, dipastikan pinggannya penuh dengan aneka buah-buahan sebelum ia sampai tujuan dengan aneka buah-buahan yang berjatuhan oleh hembusan angin tanpa perlu menjulurkan tangan meraihnya.

SABA’ adalah negeri nyaman, bersih berudara segar hingga tiada tertemui seekor nyamuk, lalat, kutu, kalajengking dan ular pun disana.Saat datang rombongan tetamu dari negeri lain dengan hewan kutu dan binatang-binatang kotor dipakaiannya, dipastikan binatang-binatang tersebut akan mati oleh kesegaran dan kebersihan udara negeri SABA’.
Al-Bahr al-Madiid VI/115

Tentang Hadits ‘HUBBUL WATHAN MINAL IIMAAN
Dalam kitab Asnal Mathalib hadits ini memang masuk kategori Maudhu.tapi menurut pen-tahqiq,a Syaikh Mahmud Al Arnauthi,”Imam Assakhawi dlm ktb Maqashidul Hasanah mengatakan tidak Mengenal Hadits ini.tapi Makna haditsnya Sohih”.
Wallahu A’lam.

Asnal Mathalib,hal 181 dalam karangan Almuhaddits Muhammad bin Darwisy Albayruti Rh Al Hafizh Assuyuthi menulis dalam Kitab Addurar al Muntatsirah halaman 9

حديث حب الوطن من الإيمان
لم أقف عليه.

Aku tidak menemukan asalnya

Al Hafizh Assakhawi dalam Kitab ‘Al maqashid al Hasanah halaman 100 menulis:

حديث: حب الوطن من الإيمان، لم أقف عليه، ومعناه صحيح في ثالث المجالسة للدينوري من طريق الأصمعي، سمعت أعرابياً يقول: إذا أردت أن تعرف الرجل فانظر كيف تحننه إلى أوطانه، وتشوقه إلى إخوانه، وبكاؤه على ما مضى من زمانه

Hadits ‘HUBBUL WATHAN MINAL IIMAAN’ , aku tidak menemukan asalnya, maknanya shahih, didalam ‘Tsalitsil Mujalasah’ karya Addinawari, dari jalan al Ashmu’i, aku mendengar seorang A’rabi berkata: Jika engkau ingin mengetahui seorang laki-laki, maka lihatlah kecintaannya kepada tanah airnya……dst

Al Hafizh Ibn Hajar dalam kitab Fathul Bari juz 3 halaman 261, ketika mensyarahi hadits Imam Bukhari dari shahabat Anas:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَأَبْصَرَ دَرَجَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ نَاقَتَهُ وَإِنْ كَانَتْ دَابَّةً حَرَّكَهَا

Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila pulang dari bepergian dan melihat dataran tinggi kota Madinah, Beliau mempercepat jalan unta beliau dan bila menunggang hewan lain beliau memacunya”

Al Hafizh berkata:

وفي الحديث دلالة على فضل المدينة ، وعلى مشروعية حب الوطن والحنين إليه

Didalam hadits menunjukkan tentang keutamaanya kota Madinah, dan disyari’atkannya cinta tanah air dan rindu kepadanya.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com