Tentang Ibadah Qurban Dan Hal Ihwal Yang Berkaitan Dengan Pelaksanaannya

Tentang Ibadah Qurban Dan Hal Ihwal Yang Berkaitan Dengan Pelaksanaannya

Almunawwar.or.id – Menjelang bulan hajji atau ada pula yang menyebutnya bulan rayagung karena memang di dalamnya terdapat sebuah perayaan agung di samping terdapat pula hikmah-hikmah penting yang bisa di lakukan dan di amalkan sesuai dengan sunnah yang telah di tetapkan.

Banyak amalan penting yang seyogyanya mampu untuk di laksanakan oleh setiap muslim, Mulai dari puasa sunnah dari tanggal 1 sampai 9 dzulhijjah, Takbiran di malam ke sepuluh idul adha, ibadah shalat idul adha berikut dengan khutbahnya juga yang tidak kalah penting dan banyak di tunggu oleh umat islam adalah pelaksanaan ibadah qurban itu sendiri.

Sehingga pemaknaan yang begitu luar biasa di balik pelaksanaan ibadah yang berkaitan dengan bulan dzulhijjah di samping beribadah hajji itu bisa di rasakan oleh semua umat islam baik yang sudah berkecukupan untuk bisa menunaikannya maupun bagi mereka yang masih kurang mampu untuk berqurban.

Semuanya bisa berbaur bersama-sama menikmati dan merasakan begitu sempurna sebuah ajaran dan tuntunan kebersamaan yang di contohkan melalui ibadah qurban itu sendiri. Karena dengan berqurbanlah kita bisa mengukur sejauh mana pengabdian seorang hamba terhadap apa yang di anjurkan dan di perintahkan oleh Agama.

Dan tentunya adanya ibadah qurban itu sangat tergantung pada keinginan kuat seseorang untuk senantiasa menyisihkan sebagian hartanya yang di qurbankan pada jalan lillahi ta’ala melalui penyembelihan hewan qurban sebagai bentuk nyata dari rasa ingin mengabdinya seorang hamba kepada Rabbnya.

Meskipun dalam masalah segi hukmum ibadah qurban itu para ulama mujtahid (Imam Syafi’i. Maliki dan Hambali) bersepakat bahwa hukumnya sunnah muakadah (sunnat yang dikuatkan) atau sunnah wajibah (sunnah yang mendekati wajib) atau sunnah yang kokoh, Adapun menurut Imam Hanafi itu hukumnya wajib.

Akan tetapi jika mengukur pada peletakan pengorbanan seorang hamba itu beribadah qurban serasa wajib dan merupakan sebuah panggilan yang senantiasa di teduni apa yang sudah menjadi sebuah anjuran tersebut, Sehingga dari sikap tersebut lahirlah makna-makna yang terindah ketika jiwa kita mampu terpanggil dan mengurbankan sebagian harta yang menjadi tanggungan dan titipan kita.

Akan kiranya dengan itu maka layak dan penting sekali untuk lebih mengetahui pasti tentang hal ikhwal yang berhubungan dengan permasalahan qurban itu sendiri, mulai dari peninjauan segi hukum, hewan yang layak di jadikan qurban sampai seputar yang menjadi mafhum dalam ibadah qurban itu sendiri. Dan berikut ulasan lengkapnya :

Hukum Berqurban Menurut Imam Madzhab Empat
1. Madzhab Syafi’i
Dalam kitab Matan Abu Syuja’ (Taqrib) dijelaskan:

وَالْأُضْحِيَّةُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ

WAL UDH_HIYYATU SUNNATUN MU`AKKADATUN. Berqurban hukumnya sunnah muakkad

Keterangan : Dalam kitab al Iqna fii Halli Alfaazhi Abi Syujaa’ juz II halaman 278, cetakan Al Ma’aarif / juz II halaman 588, maktabah syamilah, dijelaskan:

وَالْأُضْحِيَّةُ ) بِمَعْنَى التَّضْحِيَةِ كَمَا فِي الرَّوْضَةِ لَا الْأُضْحِيَّةِ كَمَا يُفْهِمُهُ كَلَامُهُ لِأَنَّ الْأُضْحِيَّةَ اسْمٌ لِمَا يُضَحَّى بِهِ

UDHIYYAH dengan arti TADHIYAH (berqurban) sebagaimana dalam kitab ar Raudhah, bukan arti Udhiyyah sebagaimana yang difahami dari ucapan mushannif. Karena Udhiyyah adalah nama hewan yang untuk berqurban

سُنَّةٌ ) مُؤَكَّدَةٌ فِي حَقِّنَا عَلَى الْكِفَايَةِ إنْ تَعَدَّدَ أَهْلُ الْبَيْتِ فَإِذَا فَعَلَهَا وَاحِدٌ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ كَفَى عَنْ الْجَمِيعِ وَإِلَّا فَسُنَّةُ عَيْنٍ

Hukumnya sunnah muakkad untuk kami (umat Islam) dengan sunnah kifayah (jika ada satu yang melakukan, maka yang lain gugur perintah melakukannya) apabila ahli rumah berbilang jumlahnya. Jika tidak berbilang (maksudnya hanya satu orang) maka hukumnya sunnah ‘ain.

Imam Maawardi dalam Kitab al Haawi Al Kabiir juz 15 halaman 75, maktabah syamilah, menerangkan:

وَإِذَا ضَحَّى بِشَاةٍ أَقَامَ بِهَا السُّنَّةَ ، وَإِنْ كَثُرَ أَهْلُهُ وَلَا يُؤْمَرُ أَنْ يُضَحِّيَ عَنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ

Jika seseorang (dalam keluarga) telah berqurban dengan kambing maka dia telah menjalankan sunnah walaupun banyak keluarganya. Masing-masing orang dari keluarga orang tersebut tidak diperintahkan berqurban.

2. Madzhab Hanafi
Dalam kitab Fathu Qadiir Libni Humaam juz 22 halaman73, maktabah syamilah:

الْأُضْحِيَّةُ وَاجِبَةٌ عَلَى كُلِّ حُرٍّ مُسْلِمٍ مُقِيمٍ مُوسِرٍ فِي يَوْمِ الْأَضْحَى عَنْ نَفْسِهِ وَعَنْ وَلَدِهِ الصِّغَارِ ) أَمَّا الْوُجُوبُ فَقَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ وَمُحَمَّدٍ وَزُفَرَ وَالْحَسَنِ وَإِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنْ أَبِي يُوسُفَ رَحِمَهُمُ اللَّهُ .
وَعَنْهُ أَنَّهَا سُنَّةٌ

Udhiyyah (berqurban) hukumnya wajib bagi setiap orang merdeka (bukan budak), muslim, mukim dan kaya pada hari Adha untuk dirinya dan anak-anaknya yang kecil. Adapun hukum wajib berqurban adalah pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Muhammad, Imam Zufar, Imam al Hasan dan salah satu riwayat dari Imam Abu Yusuf rahimahumullaah. Riwayat lain dari Imam Abu Yusuf sesungguhnya berqurban adalah sunnah.

3. Madzhab Maliki
Dalam kitab Attaaj Wal Ikliil Li Mukhtashari Khaliil juz IV halaman 352, maktabah syamilah:

قَالَ مَالِكٌ : الْأُضْحِيَّةُ سُنَّةٌ وَاجِبَةٌ لَا يَنْبَغِي تَرْكُهَا لِقَادِرٍ عَلَيْهَا مِنْ أَحْرَارِ الْمُسْلِمِينَ إلَّا الْحَاجَّ فَلَيْسَتْ عَلَيْهِمْ أُضْحِيَّةٌ ،

Imam Malik berkata : Berqurban hukumnya sunnah yang wajibah (yang kokoh), tidak seyogyanya meninggalkan berqurban bagi orang merdeka yang muslim kecuali orang-orang yang berhaji, bagi mereka tidak diwajibkan (disunnahkan dengan kokoh) melakukan udhiyyah (berqurban).

4. Madzhab Hanbali
Dalam kitab Kasysyaaful Qinaa’ Lil Buhuuti juz VII halaman 434, maktabah syamilah:

وَالْأُضْحِيَّةُ ) مَشْرُوعَةٌ إِجْمَاعًا إلى أن قال وَهِيَ ( سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ لِمُسْلِمٍ )

Udhiyyah (berqurban) adalah disyari’atkan menurut ijma. Udhiyyah (berqurban) hukumnya sunnah muakkad bagi orang Islam.

Urutan Keutamaan Hewan Ternak Untuk Berqurban
1. Urutan keutamaan jenis ternak :
• Unta
• Sapi
• Kambing domba
• Kambing kacang
Karenanya kambing domba umur setahun lebih utama ketimbang kambing jawa umur dua tahun (ulama sepakat)
2. Berkurban dengan seekor kambing lebih utama ketimbang bersekutu bersama 7 orang dalam berkurban seekor unta ataupun sapi (ulama sepakat), dan 7 ekor kambing lebih utama ketimbang seekor unta ataupun sapi karena lebih banyaknya darah ternak yang teralirkan (menurut pendapat yang paling shahih) sedang pendapat lainnya menyatakan lebih utama unta atau sapi dengan menimbang semakin banyaknya daging.

وأفضلها بدنة ثم بقرة ثم ضائنة ثم عنز ثم شرك من بدنة ) ثم من بقرة لأن كلا مما ذكر أطيب مما بعده أي من شأنه ذلك ( وسبع شياه ) من الضأن أفضل من سبع من المعز وسبع من المعز ( أفضل من البدنة ) لازدياد القربة بكثرة الدماء المراقة ( وأفضلها ) من حيث اللون ( البيضاء ثم الغبراء ) وهي التي لا يصفو بياضها ( ثم البلقاء ) وهي ما بعضها أبيض وبعضها أسود ( ثم السوداء ثم الحمراء ) هذا ضعيف والذي قاله الماوردي أن الحمراء قبل البلقاء والتفضيل في ذلك قيل للتعبد وقيل لحسن المنظر وقيل لطيب اللحم

(Paling utamanya Qurban adalah Unta kemudian sapi kemudian kambing domba kemudian kambing kacang/jawa kemudian persekutuan orang banyak dalam seekor unta kemudian persekutuan orang banyak dalam seekor sapi) karena kenikmatan daging masing-masing ternak diatas lebih nikmat dibanding dengan daging ternak setelahnya.

7 ekor kambing domba lebih utama ketimbang 7 ekor kambing jawa, 7 ekor kambing jawa lebih utama ketimbang seekor unta karena semakin terdapatnya pendekatan dengan Sang Khaliq dengan banyaknya darah yang dialirkan dari ternak.

Warna ternak yang lebih utama adalah putih, kemudian putih semu, kemudian binatang yang sebagian warnanya putih dan sebagiannya hitam kemudian binatang yang berwarna hitam kemudian yang berwarna merah, hanya saja menurut al-Mawardi binatang yang berwarna merah justru urutannya lebih utama ketimbang binatang yang sebagian warnanya putih dan sebagiannya hitam.

Keutamaan tersebut dikatakan (oleh ulama) karena mengandung nilai ibadah, dikatakan sekedar keindahan dipandang mata, dikatakan karena mempengaruhi kenikmatan dagingnya. (Minhaj al-Qawiin I/266-267).

Jenis dan Umur Hewan Yang Bisa dijadikan sebagai hadyu (qurban)

.وهي أى الأضحية اسم لما يذبح من النعم أى التي هي الإبل والبقر والغنم فشرط الأضحية أن تكون من النعم التي هي هذه الثلاثة__ويجزئ فيها الجذع من الضأن وهو ماله سنة وطعن في الثانية والثني من المعز وهو ما له سنتان و طعن في الثالثة والثني من الإبل ما له خمس سنين و طعن في السادسة والثني من البقر ما له سنتان و طعن في الثالثة. الباجوري ٢/٢٩٧-٢٩٥

Dalam masalah kambing ada pendapat yang mencukup umur 6 bulan untuk domba dan 1 tahun untuk kambing kacang
A. Jenis hewan yang bisa dibuat qurban :
1. Unta
2. Sapi
3. Kambing baik domba maupun kacang.

B. Umur hewan yang dijadikan qurban ato aqiqoh :
· Kambing domba Umurnya 1 tahun
· Kambing kacang Umurnya 2 tahun
· Unta Umurnya 5 tahun
· Sapi Umurnya 2 tahun

Hukum Berqurban Untuk Anak Yang Belum Baligh
Dalam al Fiqhu ‘Alal Madzahibil Arba’ah 1/1109 disebutkan :

أما البلوغ فليس شرطا لسنيتها فتسن للصبي القادر عليها ويضحي عنه وليه ولو كان الصبي يتيما عند المالكية والحنابلة
الحنفية قالوا : البلوغ ليس شرطا لوجوبها فتجب على الصبي عندهما ويضحي وليه من مال الصبي إن كان له مال فلا يضحي الأب عن ولده الصغير الشافعية قالوا : لا تسن للصغير فالبلوغ شرط لسنيتها

Baligh bukan merupakan syarat kesunnahan Qurban. Maka Qurban disunnahkan bagi anak kecil yang kuasa berqurban. Dan walinya boleh berqurban untuknya walaupun anak tersebut yatim, demikian menurut Malikiyyah dan Hanabilah. Hanafiyah berkata : Baligh bukan merupakan syarat diwajibkannya berqurban

(Catatan: Qurban menurut madzhab Hanafi hukumnya wajib). Maka Qurban wajib atas anak kecil, dan walinya berqurban untuk si anak tersebut dengan harta yang dimiliki si anak. Jika si anak mempunyai harta maka bapaknya tidak boleh berqurban (dengan harta bapaknya) untuk anaknya yang masih kecil

Syafi’iiyyah berkata : Bagi anak kecil tidak disunnahkan berqurban. Baligh merupakan syarat disunnahkannya berqurban
·Sah kah anak kecil yang belum baligh yang berkurban yang dikurbanin oleh walinya,
·Sah, jika uangnya dari walinya

– Dalam Qalyubi 16/95-96 :

وَلَيْسَ لِلْوَلِيِّ فِعْلُهَا مِنْ مَالِ مَحْجُورِهِ ، وَيُسَنُّ مِنْ مَالِهِ عَنْ الْمَوْلُودِ لَا عَنْ الْجَنِينِ .

Bagi wali tidak boleh berqurban dari harta mahjurnya. Sunnah berqurban dari harta si wali untuk anak yang dilahirkan, tidak untuk janin

Macam-macam Anak / orang yang dilarang menasarrufkan hartanya ialah sebagaimana dalam kitab Taqrib berikut :

( فصل ) والحجر على ستة الصبي والمجنون والسفية والمبذر لماله والمفلس الذي ارتكبتهالديون والمريض المخوف عليه فيما زاد على الثلث والعبد الذي لم يؤذن له في التجارة

– Dalam Kitab Tuhfah 41/41 :

ثُمَّ مَذْهَبُنَا أَنَّ التَّضْحِيَةَ ( سُنَّةٌ ) فِي حَقِّنَا لِحُرٍّ أَوْ مُبَعَّضٍ مُسْلِمٍ مُكَلَّفٍ رَشِيدٍ نَعَمْ لِلْوَلِيِّ الْأَبِ أَوْ الْجَدِّ لَا غَيْرُ التَّضْحِيَةِ عَنْ مُوَلِّيهِ مِنْ مَالِ نَفْسِهِ

Hukum Qurban Yang Hanya Diberikan Kepada Satu Orang
Hukumnya boleh, dan qurbannya sah. Namun perlu diperhatikan efek sosialnya. Dalam Kitab Qolyubi juz IV hal. 254 :

(وَاْلأَصَحُّ وُجُوبُ تَصَدُّقٍ بِبَعْضِهَا) وَهُوَ مَا يَنْطَلِقُ عَلَيْهِ الاِسْمُ مِنْ اللَّحْمِ وَلاَ يَكْفِي عِنْهُ الْجِلْدُ وَيَكْفِي تَمْلِيكُهُ لِمِسْكِينٍ وَاحِدٍ، وَيَكُونُ نِيئًا لاَ مَطْبُوخًا.

“Menurut pendapat yang paling shahih, qurban itu wajib disedekahkan sebagiannya berupa daging, tidak boleh berupa kulitnya. Sudah mencukupi walaupun diberikan kepada seorang miskin, dan yang diberikan itu harus berupa daging mentah tidak dimasak”.

Ta’bir untuk kurban yang diberikan hanya kepada satu orang :

,حاشية الجمل – (ج 22 / ص 187)( ويجب تصدق بلحم منها ) وهو ما ينطلق عليه الاسم منه لظاهر قوله تعالى { وأطعموا البائس الفقير } أي الشديد الفقر ويكفي تمليكه لمسكين واحد ويكون نيئا لا مطبوخا –

Terus semisal yang berkurban bilang…..”ini nanti kulitnya saya bagikan (bukan upah) kepada yang menyembelih…”Bolehkah hal tersebut? Bila diberikan sebagai upah maka tidak boleh, tapi kalo bukan sebagai upah misalnya sebagai sedekah maka boleh.

Syarat Dan Ketentuan Penyembelih Hewan Qurban
Syarat dan ketentuan penyembelih hewan qurban tidak ada yang khusus, sama dengan penyembelih biasa yang hasil sembelihannya jadi halal. Orang-orang yang halal sembelihannya :
1. Muslim
2. Baligh
3. Anak yang sudah mumayyiz yang mampu untuk menyembelih menurut qoul shohih
4. Ahli kitab baik nashroni maupun yahudi dengan syarat mereka halal dinikahi, namun saat ini sudah tidak ada ahli kitab maka orang kafir haram dinikahi dan haram sembelihannya

Terdapat khilaf namun saya bawakan yang telah dinash imam syafi’i, sebagai berikut :
1. Halal namun makhruh tanzih sembelihanya Orang gila, mabuk
2. Orang yang belum mumayyiz sembelihan mereka bertiga halal karena mereka semua memiliki tujuan yaitu menyembelih.
3. Telah sepakat para ulama halalnya sembelihan Orang Buta namun makhruh.
4. Sembelihanya orang bisu jika bisa di paham isyaratnya maka halal namun jika isyaratnya tidak bisa di paham maka terdapat khilaf namun menurut qoul shohih tetap halal sama halnya sembelihan orang gila.
5. Wanita walaupun sedang haidl

Catatan :
“Disunnahkan hewan qurban disembelih oleh orang yang mengurbankanya bagi laki-laki yang mampu menyembelihnya sendiri namun bagi wanita, orang yang berkelamin ganda (khuntsa musykil),dari dolongan laki-laki yang tidak mampu menyembelih,di sunnah muakkkadkan bagi orang buta dan orang-orang yang di makhruhkan sembelihanya untuk mewakilkan menyembelih hewan qurbanya kepada laki-laki yang lainya.karena terkadang mereka salah dalam menyembelih bagian yang seharusnya disembelih saat menyembelih hewan kurbanya (putusnya kerongkongan putusnya tenggorokan (saluran makanan dari tenggerokan sampai usus besar), berada di bawah kerongkongan.)”

Tidak halal sembelihanya penyembah matahari,patung,murtad dan selainya yang tidak mempunyai kitab termasuk orang kafir saat ini karena tidak ada yang murni,kitab-kitabnya banyak yang di ganti. Haram sembelihan karena di sembelih kepada selain Alloh misal kepada nabi muhammad, ka’bah, jin dan lain-lain.

Hukum Qurban Dengan Dana Iuran Bersama
Bila keberadaan ternak yang disembelih mencukupi untuk dikurbankan pada jumlah anggota yang berurunan maka SAH seperti seekor unta atau sapi untuk tujuh anggota

اتفق الفقهاء (1) على أن الشاة والمعز لا تجوز أضحيتهما إلا عن واحد، وتجزئ البدنة أو البقرة عن سبعة أشخاص، لحديث جابر: «نحرنا مع رسول الله صلّى الله عليه وسلم بالحديبية: البدنة عن سبعة والبقرة عن سبعة» (2) . وفي لفظ مسلم: «خرجنا مع رسول الله صلّى الله عليه وسلم مهلين بالحج، فأمرنا رسول الله صلّى الله عليه وسلم أن نشترك في الإبل، والبقر، كل سبعة منا في بدنة» (1) .

(1) البدائع:70/5، تبيين الحقائق: 3/6، تكملة الفتح: 76/8، الدر المختار: 222/5، القوانين الفقهية: ص 186، بداية المجتهد: 420/1، الشرح الكبير: 119/2، مغني المحتاج: 285/4، 292، المهذب: 238/1، المغني: 619/8 وما بعدها، كشاف القناع: 617/2.

(2) أخرجه الجماعة (نصب الراية: 209/4).
(1) استنبط الشافعية من هذا الحديث خلافاً للحنفية كما بينت جواز الاشتراك بين من يريد القربة ومن لا يريدها، فقالوا: وظاهره أنهم لم يكونوا من أهل بيت واحد، وسواء اتفقوا في نوع القربة أم اختلفوا كما إذا قصد بعضهم التضحية، وبعضهم الهدي، وبعضهم اللحم، ولهم قسمة اللحم، لأن قسمته قسمة إفراز على الأصح.

Semua Ulama sepakat bahwa kambing domba dan kambing jawa tdak dapat dikurbankan kecuali untuk satu orang sedangkan unta dan sapi dapat dikurbankan untuk 7 orang berdasarkan hadits riwayat Sahabat Jabir berkata : ” Kami berqurban bersama Rasulullah saw di Hudaibiyyah, satu ekor unta atas nama 7 orang dan satu ekor sapi atas nama 7 orang ” (HR. Jama’ah- Nasb ar-Raayah IV/209)
Juga berdasarkan hadits riwayat Muslim ”Kami keluar bersama Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam dengan tahallul haji kemudian beliau memerintahkan kami berserikat dalam unta dan sapi setiap tujuh orang dari kami dalam seekor unta” (HR. Muslim). (Al-Fiqh al-Islaam IV/265).

• Bila keberadaan ternak yang disembelih tidak mencukupi untuk dikurbankan pada jumlah anggota yang berurunan maka TIDAK SAH seperti seekor kambing 7 anggota atau sapi untuk 10 anggota maka panitia harus menjelaskan syarat rukun berqurban yang sesuai dengan tuntunan agama dan bila tidak mampu bisa mengikuti anjuran Imam Abu Yahya Zakariya Al-Ansori atau uang urunan tersebut dibelikan kambing yang kemudian diniatkan untuk qurban seseorang. Pada waktu menyembelih orang yang berqurban itu diminta meniatkan pahala qurban untuk orang yang membantu urunan membeli hewan qurban.

(فَائِدَةٌ) عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ يَكْفِى فِى الأُضْحِيَةِ إِرَاقَةُ الدَمِ وَلَو مِنْ دَجَاجَةٍ وَأَوْزٍ كَمَا قَالَهُ المَيْدَنِى وَكَانَ شَيْخُنَا يَأَمُرُ الفَقِيْرَ بِتَقْلِيْدِهِ وَيَقِيْسُ عَلَى الأُضْحِيَةِ العَقِيْقَةَ وَيَقُولُ لِمَنْ وُلِدَ لَهُ مَولُودٌ عَقَّ بِالدِّيْكَةِ عَلَى مَذْهَبِ إِبْنِ عَبَّاس (مَسْأَلَةٌ) مَذْهَبُ الشَّافِعِي وَلاَ نَعْلَمُ لَهُ مُخَالِفًا عَدَمَ جَوَازِ التَضْحِيَّةِ بِالشَّاةِ عَنْ أَكْثَرَ مِنْ وَاحِدٍ … إِلَى أَنْ قَالَ قَالَ الخَطِيْبُ وَ م ر وَغَيْرُهُمَا لَو أَشْرَكَ غُيْرُهُ فِى ثَوَابِ أُضْحِيَةِ كَأَنْ قَالَ عَنِّى وَعَنْ فُلاَنٍ أَوْ عَنْ أَهْلِ بَيْتِى جَازَ وَحَصَلَ الثَوَابُ لِلْجَمِيْعِ

(Faidah) dari Ibn Abbas ra: “Sesungguhnya dalam berqurban cukup dengan mengalirkan darah meskipun dari ayam jago atau angsa sebagaimana dikatakan oleh Al-Maidani. Syaichuna (Imam Abu Yahya Zakariya Al-Ansori) menganjurkan orang-orang fakir untuk mengikuti madzhab tersebut, aqiqah juga di analogkan pada masalah qurban. Syaichuna juga mengatakan bagi orang yang melahirkan bayi dapat meng-aqiqahi dengan ayam jago menurut madzhab Ibn Abbas. (Masalah) Madzhab Syafii dan saya tidak mengetahui ulama yang berbeda pendapat dengannya tentang ketidakbolehan berqurban dengan seekor kambing untuk orang yang lebih banyak dari satu orang … sampai pada pernyataan pengarang, Imam Khatib, Imam Ramli dan ulama yang lainnya berpendapat kalau orang lain bersekutu dalam masalah pahala qurban seperti ucapan seseorang: untukku atau ahli baitku maka hukumnya boleh dan pahalanya dapat diperoleh semuannya. (Bughyah al-Mustarsyidiin I/255).

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id