Tentang Makna Ridho Seorang Ibu Dari Sepenggal Kisah Nyata Sahabat Jaman Dulu

Tentang Makna Ridho Seorang Ibu Dari Sepenggal Kisah Nyata Sahabat Jaman Dulu

Almunawwar.or.id – Kasih sayang yang begitu luar biasa dan teramat sangat istimewa yang tercurah dari seorang ibu memang tiada yang mampu menggantinya, Karena dengan curahan kasih sayangnya itu seorang anak bisa menjadi seseorang yang sukses dunia dan akhirat.

Lewat panjatan-panjatan doa yang mengalir di setiap hatinya memohon kepada Sang Rabb untuk senantiasa di berikan kasih sayang yang nyata kepada anak-anaknya, Sehingga tiada yang pantas untuk bisa selain mampu berbakti kepada kedua orang tua khususnya untuk seorang ibu tercinta.

Ingatlah ketika baginda Rasululullah S.A.W berwasiat kepada para shahabat, dimana terdapat satu perintah penting tentang bagaimana Rasulallah S.A.W menyebut nama Ibu sampai tiga kali, baru kemudian di sebut seorang ayah bagi anak yang ingin berbakti kepada kedua orang tuanya.

Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah. Sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadits,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali.

Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalammenghadapi masa hamil, kesulitan ketikamelahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya.

Dan tentunya itu menjadi salah satu dalil mengapa seorang ibu sangat begitu berharga dan begitu istimewa di pandang agama, karena tidak hanya perjuangan yang mereka (ibu) lakukan demi tercapainya cita-cita dan keinginan seorang anak, namun di balik jerih payahnya itu selalu terselip panjatan doa yang mengalir dan di tujukan hanya untuk anak-anak tercitnanya.

Sehingga sangat pantas pengorbanan tiada jemu yang di berikan dan di korbankan oleh seorang ibu itu laksana permata yang begitu mahal dan istimewa, bahkan jadi puncak dari pada keridhoan untuk seorang anak yang ingin menggapai dan meraih keridhoan dari Allah S.W.T.

Terlebih di momen-momen penting seperti sekarang ini yang kebetulan menginjak tanggal 22 Desember yang di peringati sebagai hari ibu, tentu sangat tepat sekali bagi seorang anak untuk bisa berbuat baik dan berbakti dengan segala kemampuan yang ada.

Seperti yang terlahir dari sepenggal kisah para shahabat Nabi tentang makna penting di balik meraih keridhoan dari sang ibu tercinta, yang di ambil dari kitab Nuzhatul Majaalis.

“Dikisahkan dari sahabat Anas bin Maalik (semoga Allah meridloinya) : “Di zaman Bani israel dulu ada seorang pemuda yang jika ia membaca kitab Taurat maka banyak pria dan wanita yang keluar rumah untuk mendengarkan bacaannya karena bagusnya suara pemuda itu. Namun sayangnya, pemuda tersebut suka minum arak/pemabuk.

Suatu hari, Ibu sang pemuda berkata kepadanya : ” jikalau orang-orang mengetahui bahwa kau ini suka mabuk maka mereka akan mengusirmu .”

Pada suatu malam, ia pulang kerumah dalam keadaan mabuk. ibunya berkata : ” bangun dan wudhlu lah “. Namun pemuda itu malah memukul wajah ibunya dan mencongkel kedua mata serta gigi-giginya.

Ibunya berkata : ” Allah tidak akan meridhloimu di manapun kamu berada !”
Pagi harinya, pemuda tersebut menemui ibunya dan berkata : “keselamatan bagimu wahai ibuku, aku tidak akan melihatmu lagi setelah ini sampai hari kiamat”.

ibunya berkata : ” Allah tidak akan meridhloimu di manapun kamu berada !”
Kemudian sang pemuda pergi menuju ke sebuah gunung dan beribadah kepada Rabbnya di sana selama 40 tahun sampai2 badannya kurus kering .

Ia menengadahkan kepalanya lalu berdoa : ” wahai Rabbku, jika Engkau telah mengampuniku maka beritahukanlah kepadaku ”
Sejenak kemudian ia mendengar bisikan : ” Ridhlo-Ku kepadamu tergantung pada ridhlo ibumu ”

Akhirnya pemuda yang sekarang sudah tua tersebut pulang ke rumah ibunya dan berseru kepada ibunya : ” wahai kunci syurga, jika engkau masih hidup, aduh betapa bahagianya, dan jika engkau sudah meninggal, aduh betapa sedihnya ! ”

Sang ibu dari dalam rumah berkata : ” siapa diluar sana ?”
Anaknya berkata : ” ini anakmu ”
Ibunya berkata : ” Allah tidak akan meridhloimu ”

Kemudian sang anak menemui ibunya, di depan sang ibu ia memotong kedua tangannya dan berkata : ” kedua tangan ini dan mencongkel kedua mata ibu, mulai sekarang tidak akan bersamaku lagi selamanya.”

Kemudian ia memanggil peduduk dan berkata : ” kumpulkanlah kayu yang banyak lalu bakarlah ”
Orang-orang melakukan apa yang diperintahkan. Setelah apinya siap, sang anak tersebut juga bersiap-siap untuk melompat ke dalam api, ia berkata kepada tubuhnya : ” rasakanlah api dunia sebelum merasakan api akherat ”
Para penduduk memberitahukan hal itu kepada sang ibu, maka ibunya berseru : ” Wahai penentram kedua mataku, kamu dimana ?”

Anaknya berkata : ” aku berada diantara dua api ”
Ibunya berkata : ” wahai anakku, semoga Allah meridhloimu ”

Setelah sang ibu berkata seperti itu, maka Allah ta’ala memerintahkan malaikat Jibril, Jibril mengusap pada mata dan giginya sang ibu dengan sayapnya, maka mata dan gigi sang ibu kembali seperti semula.
Kemudian Jibril mengusap kedua tangan anaknya, maka tanga tersebut kembali seperti semula atas idzin Allah ta’ala.”

Itulah salah satu kisah nyata yang mungkin saja bisa mengetuk dan membukakan hati kita selaku seorang anaknya, guna bisa birrul walidain atau berbuat baik dan berbakti lepada kedua orang tua terlebih khusus kepada sang ibu tercinta. Selamat hari Ibu, Semoga selamanya ada dalam lindungan Allah S.W.T yang selalu menaunginmu di sepanjang waktu.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com