Terbentuknya Akhlaqul Karimah Itu Berdasarkan Keseimbangan Ilmu Dan Amal

Terbentuknya Akhlaqul Karimah Itu Berdasarkan Kesimbangan Ilmu Dan Amal

Almunawwar.or.id – Terpancarnya cahaya ruhani seseorang itu sangat tergantung pada peletakan dan pengamalan ilmu yang terdapat dalam dirinya, sehingga dengan mampu mengamalkannya tersebut secara perlahan tapi pasti pola pembentukan seorang muslim yang berakhlaqul karimah itu akan datang dengan sendirinya.

Karena yaqinilah apa yang membuat terbukanya jiwa seseorang itu tidak lepas dari sejauh mana pengamalan dan pemanfaatan ilmu tersebut yang tidak hanya sebagai penghias diri saja, akan tetapi jauh lebih bermanfaat lagi apabila bisa memberikan kemaslahatan bagi dirinya dan orang lain.

Untuk itu kesholehan diri sangat signifikan sekali apabila dari ilmu yang di dapatkan sesuai dan seimbang dengan pengamalannya lebih jauh lagi bisa di kaitkan dengan meraih keridhoan Alloh semata,

Begitu pula lahirnya sebuah karakter akhlaqul karimah (kepribadian yang mulya) tidak akan mudah di dapatkan kecuali bagi mereka yang mampu mengimbangi antara kedudukan ilmu dan amal, dalam artian berilmu amaliyah dan juga beramal sesuai dengan ilmunya.

Dan tatkala ilmu itu sudah di amalkan maka dengan sendirinya karakter jiwa yang berakhlaqulkarimah akan menjiwa dengan sendirinya, karena terpancarkan keagungan ilmu yang bersemayam menetap dalam dirinya, semakin bisa di amlakn maka semakin terbuka lebar sinar yang terpancarkan dalam diri dan di wujudkan dalam perangai yang mulia itu.

Salah satu contoh yang real dan sering di lakukan setiap hari seperti dari pengamalan shalat lima waktu yang mampu memberikan kesimbangan dan ketenangan jiwa seseorang yang menunaikannya sesuai dengan penerapan ilmu fiqih, tasawwuf dan tauhid nya.

Dalam artian ilmu fiqih di kenakan ketika melaksanakan syarat, rukun sholat di samping menjauhi hal yang membeatlakn sholat, ilmu tasawwuf untuk mengatur kestabilan hati untuk meraih derajat kekhusuan dalam sholat. Sedangkan Tauhid adalah tujuan dan hakikat dari pelaksanaan dan pengalaman kedua ilmu tersebut lewat pengamalan ibadah sholat.

Karena berdasarkan keterangan ” Jika amalan sholatnya bagus, maka amalan ibadah lainnya akan bagus pula, begitu pula sebaliknya. Sehingga kapasitas dari pengamalan sholat tersebut sangat menentukan karakteristik jiwa seseorang yang melaksanakannya. Oleh sebab itulah mengapa dalam keterangan Alquran di sebutkan :

اتْلُ مَآ أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Artinya : “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Sebab Shalat merupakan salah satu rukun Islam yang lima dan sangat menentukan kualitas keimanan seorang Muslim, apakah kuat atau lemah. Kalau kita rajin mengkaji ayat demi ayat dari Al-Qur’an dan al-Hadits maka akan dijumpai berbagai pengarahan agar manusia Muslim dapat mengerjakan dan menegakkan shalat dengan baik.

Shalat yang baik dan benar adalah shalat yang dikerjakan dengan memenuhi syarat dan rukunnya serta ketentuan-ketentuan lainnya, diikuti dengan gerakan kejiwaan dan disertai rasa khusu’ dan keikhlasan yang mendalam.

Oleh sebab itulah sangat penting kiranya akan makna dari pada pengabdian dan pengamalan shalat sebagai tahap awal dalam membangun karakterisktik jiwa yang di hiasi dengan ahlqul karimah, karena denga sholat yang khusus itu akan memberikan kesimbangan dan kemantapan jiwa sesuai dengan ilmu yang di dapatkannya.

Begitu pula ketika ilmu yang ada dalam diri berdasarkan pengetahuan yang ada itu tidak terlepas dari eksekusi seorang yang memiliki ilmunya, apakah bisa di jadikan pancaran cahaya dan pelita bagi dirinya atau malah sebaliknya justru akan memberikan kekelaman karena tidak adanya pengamalan dari ilmu yang di dapatkan.

Atas dasar itu mempelajari ilmu keislaman yang nantinya akan menghantarkan pada proses pembentukan aklaqul karimah itu lebih baik dan lebih utama di banding dengan ibadah, karena nilai dan makna ibadah tidak akan di rasakan dan di jumpai apabila tidak didasari dan tidak pula di sertai dengan ilmunya.

Keseimbangan pasti antara ilmu dan pengamalannya yang tertajuk pada sebuah pengabdian amalan ibadah baik yang wajib seperti shalat lima waktu maupun yang hukumnya sunah itu menjadi ukuran tersendiri sejauh mana pancaran cahaya hatinya itu bisa bersinar menerangi hidup dan kehidupannya.

Akan kiranya dengan itu penggapaian ketenangan diri jauh lebih berarti lagi untuk bisa meraih kesempurnaan akhlauq seseorang sesuai dengan pengamalan ilmunya, yang tentu berkaitan dengan hak pribadi dan umum yang sudah menjadi bagian dari sisi kehidupannya.

Dan berikut ini adalah kiat-kiat untuk menggapai ketenangan jiwa dengan ber-ahlaqul karimah sebagaimana diajarkan atau disemangati oleh agama kita,islam,yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadist Nabi saw.

Berkaitan Dengan Umum
* Tidak memaksakan diri diluar batas kemampuan. Tidak ada “TAKALLUF” (pemaksaan diri) dalam agama islam saat melakukan ibadah. Islam justru menyeru bermadya(al-qosda): berlaku sedang,tengah-tengah,dan wajar.
* Menghindari dosa. Pelanggaran terhadap aturan agama atau dosa memberikan pengaruh yang tidak baik pada jiwa. Dosa menjadikan kita tidak tenang,takut,dan was-was. Kita takut dosa itu diketahui orang lain.
* Dzikir,mengingat Alloh. Ia menumbuhkan keyaqinan diri,mendekatkan komunikasi diri dengan Alloh, dan menjadikan hati tidak kering. Dzikir bisa berupa sholat,(paling tidak sholat lima waktu,apalagi bila ditambah tahajud),membaca Al-Qur’an,membaca do’a-do’a,dan sebagainya.

ألا بذكر الله تطمئن القلوب(سورة الرعد 28)

Artinya : “Ingatlah,hanya dengan mengingati Alloh-lah hati menjadi tenteram.(Q.S.Ar-Ra’d 28)”

* Melihat,membaca,menyimak,dan memperhatikan perilaku atau sejarah keteladanan orang-orang sholeh. Pepatah mengatakan “Saat orang-orang shaleh dituturkan,turunlah rahmat-rahmat.”

عند ذكر الصالحين تتنزل رحمات.(الحكمة)

Artinya: “Disaat orang-orang sholih dituturkan maka turunlah rahmat-rahmat(hikmah)

* Ringan tangan,suka menolong,dan dermawan (sakho’). Tidak melihat diri. Tidak melihat apa yang dia keluarkan bagi orang lain. Bermanfaat bagi orang banyak.

نظـرت في السخاء فما وجد له أصلا وفـرعا الا حسن الظن بالله عز وجل, وأصل البخل وفرعه سوء الظن بالله عز وجل.(ألامام الحسن البصري)

Artinya: “Saya melihat dalam kedermawanan tidak menemukan pokok atau cabangnya kecuali berprasangka baik pada Alloh ‘Azza wa Jalla dan pokok dan cabang dari kebakhilan adalah berprasangka buruk pada Alloh ‘Azza wa Jalla. (Imam Hasan Al-Bashriy)”

* Lapang dada(salamatus shodri). Hatinya dijauhkan dari dengki,iri hati,dendam,takabur,prasangka buruk,dan semacamnya.
* Menasehati khalayak (an-nushu lilummah) atau berdakwah atau ta’lim(ngaji). Alangkah bahagia melihat ilmu yang kita berikan diterima dan diamalkan orang lain. Orang-orang awam menjadi lepas dari kebodohannya. Dikatakan: “Amal yang menyebar manfaatnya kepada khalayak lebih utama daripada amal yang manfaatnya terbatas pada diri sendiri.
* Berlaku santun (al-hilmu) dan tidak tergesa-gesa(al-anah). Terburu-buru dan reaktif terhadap situasi yang mengelilinginya merupakan tanda ketidaktenangan jiwa. Dengan berfikir jernih,terencana,dan tidak kegabah,jiwa menjadi tenang.
* Puasa dalam arti khusus maupun puasa dalam arti umum yaitu menahan diri(imsak). Puasa bisa menstabilkan jiwa. Para ulama’ banyak memaknai sabar dalam Al-Qur’an sebagai puasa.

Terkait Dengan Keilmuan
* Menambah ilmu. Wawasan menjadi luas,tidak berfikiran sempit. Kapan dan dimana pun kita adalah Thoolib (pencari ilmu) Tidak merasa puas diri ibarat merasa besar didalam aquarium kecil. Diatas orang ‘alim ada yang lebih ‘alim lagi. Betapa tinggi ilmu Nabi Musa, namun Alloh memerintahkannya tetap memburu ilmu dari Nabi Khidlir.

لازلت طالبا الى يوم القيامة.(أبوي السيد محمد بن علوي بن عباس المالكي المكي الحسني)

Artinya: “Telah berkata Ulama’ Besar Makkah Al-Mukarromah pada abad ini,beliau adalah As-Syaikh As-Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasaniy: “Sampai hari qiyamat kamu adalah murid”.
* Memahkotai ilmu yang dimiliki dengan akhlaq terpuji,meliputi makrifat (kesadaran),tawadlu’(kerendahan hati),amal,dan taqwa. Ilmu tidak akan bermanfaat dengan sendirinya. Orang berilmu harus sadar diri,ikhlas. Berilmu tapi sombong dibenci masyarakat. Ilmu tanpa amal,jiwa terasa dikejar-kejar. Dan seandainya ilmu menjadi baik tanpa taqwa,maka manusia termulya adalah iblis.

Terkait Dengan Kekayaan Materi
* Melihat kepada orang/tingkatan yang berada dibawahnya.

أنظروا الى من أسفلكم ولا تنظروا الى من فوقكم. (الحكمة)

Artinya: “Lihatlah orang yang ada di bawahmu dan jangan kau melihat orang yang di atasmu.(al-Hikmah)”

* Menyadari kekayaan yang hakiki dan atau tempat kembali yang hakiki,bahwa harta yang kita makan akan menjadi kotoran dan yang kita pakai akan menjadi rusak,dan begitu kita mati,itu semua menjadi milik ahli waris,sementara yang kekal adalah sedikit harta yang telah kita sedekahkan.

يقول ابن أدم: مالي..مالي.. قال:يابن أدم ما من مالك الا ما أكلت فأفنيت, وما لبست فأبليت, وما تصدقت فأمضيت. (الحديث)

Artinya:” Anak Adam berkata: Hartaku..hartaku.. Rosululloh j bersabda: Hai Anak Adam tidak ada dari hartamu kecuali sesuatu yang kau makan akan menjadi kotoran,dan sesuatu yang dikau pakai akan rusak,dan sesuatu yang engkau shodaqohkanlah harta yang sebenar-benarnya.(al-Hadist)”

* Ridlo dan puas terhadap pembagian yang diterimanya. Apa yang ada ini dinikmati.

لا تحقرن من المعروف شيئا.(الحكمة)

Artinya: “Jangan remehkan sedikitpun dari suatu kebaikan yang diperoleh.(Al-Hikmah)”

Terkait Dengan Ujian
* Sabar dan tegar menerima ujian,karena semua telah diatur oleh Alloh SWT.

الصبر عند الصدمة الاولى.(رواه الترمذي)

Artinya: “Sabar yang sempurna adalah disaat hatinya dituntut bersedih dia tidak merasa sedih dan dengan sabar ini dia terus akan dapat pahala.(H.R.Turmudzi)”

* Ihtisab,yakni mengharap pahala dari Alloh SWT,atas mushibah yang menimpanya.
* Meyakini dibalik ujian ada pelajaran (hikmah) dan setelah kesusahan pasti ada kegembiraan.

Terkait Dengan Kehidupan Berumah tangga
* Suami tasamuh(toleran)terhadap istri.
* Suami taghoful (melupakan perangai istri yang tidak disukai) karena dibalik hal yang dia tidak sukai masih begitu banyak hal yang dia sukai dari istrinya.
* Suami memenuhi hak-hak istri.
* Suami tabah,sabar,dan tahan atas gangguan dari istrinya.
* Suami mendidik dan membimbing istri dengan baik dan lembut,sebab bila pendidikan dilakukan dengan keras niscaya terjadi cerai,sedang bila tidak dididik atau dibiarkan sama sekali,istri akan tetap pada kebengkokkannya.

المرأة كالضلع ان ذهبت تقيمها كسرتها, وان تركتها استمتعت بها على عوج.(رواه الترمذي حسن-صحيح)

Artinya: “Sesungguhnya wanita itu seperti tulang iga (diciptakan keluar dari tulang rusuk kiri laki-laki yang paling bawah)bila kita berusaha meluruskan (dengan sikap keras) dia akan putus (mutung:jawa),dan apabila kita biarkan atau meninggalkannya (tidak mendidiknya) dia akan bengkong selamanya.(H.R.Turmudzi)”

* Istri patuh pada suami.
* Istri tidak banyak bicara.
* Istri tekun beribadah.
* Istri menjaga kehormatan dirinya,memelihara kehormatan suami dan hartanya,serta menjaga anak-anaknya.

والرجل راع على أهله وهو مسئول, والمرأة راعية على بيت زوجها وهي مسئولة.(رواه البخاري)
والمرأة راعية على بيتها وولدها.(في كتاب الترغيب والترهيب)

Artinya: “Laki-laki bertanggung jawab atas istrinya,wanita bertanggung jawab atas suaminya (suami dan anaknya didalam kitab At-Targhib wa Tarhib).(H.R.Bukhori)”

Terkait Dengan Kehidupan Berjama’ah
* Hidup berjama’ah dengan misi kebenaran yang mengikatnya. Indah. Penelitian menyatakan hidup mengisolir diri atau induvidual adalah sumber berbagai penyakit kejiwaan. Di setiap jama’ah manapun pasti ada konflik. Tapi bila pandai mensikapinya,itu akan membuat kita dewasa dan matang. “Seburuk-buruk kehidupan berjama’ah lebih baik daripada hidup sendirian.”
* Taat pada Murobbi (guru sekaligus yang mengomando kita) sekaligus pada sistem yang dibina olehnya. Kita bergaul dengan orang-orang yang jujur. Kita mempunyai pembimbing. Ada yang mengingatkan begitu kita teledor dan menyimpang. Perhatikanlah orang yang tidak patuh pada komando/komando jauh dari murobbi,jiwanya bisa goncang.

لولا مربي ما عرفت ربي. (الحكمة)

Artinya: “Andai tidak ada guru pembimbingku aku tidak akan tahu siapa Tuhanku.(Al-Hikmah)

* Silaturrahmi. Memperbanyak teman,melenyapkan permusuhan.
* Menghilangkan Ghil (unek-unek tdk baik) dan mengedepankan Husnudzon kepada sesama jama’ah. Kedengkian dan prasangka buruk adalah belenggu dalam jiwa.

Berkaitan Dengan Secara Luas
* Tafakkur dan tadabbur alam (mengagungkan ciptaan Alloh) dalam rangka menyegarkan jiwa yang lelah (refresing/piknik).
* Istiqomah, dalam arti ulet,tekun,konsisten,teguh memegang prinsip,dan bersungguh-sungguh. Tangguh.
* Optimis percaya diri tidak berputus asa. Pantang menyerah. Ibarat dian (pelita) yang tak kunjung padam. Betapapun rintangan menghadang. Tentu,setelah kiat-kiat tersebut diatas dilaksanakan. Sebab,optimisme tanpa kerja keras tak ubahnya mimpi.

Itulah sebabnya eksistensi dari pada penggapaian kita untuk meraih kemulyaaan dari kepribadian yang baik sangat penting sekali sebagai cara untuk bisa meletakan ilmu sebagai jalan untuk meraih sebuah perangai yang baik dan indah sebagaimana yang berkaitan erat dengan pembahasan tadi.

Wallohu A’lanu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com