Terdapat Dua Belas Perbedaan Ulama Fiqih Dalam Masalah Wudhu

Terdapat Dua Belas Perbedaan Ulama Fiqih Dalam Masalah Wudhu

Almunawwar.or.id – Selain menjadi sebuah amalan wajib bagi setiap umat islam yang ingin melaksanakan sebuah amalan penting lainnya seperti sholat misalnya, wudhu juga mempunyai ketentuan dalam pelaksanaan baik dari mulai sunnah wudhu sampai dengan fardhu wudhu.

Hal ini rupanya menjadi perhatian khusus bagi para Ulama ahli Fiqih dalam memberikan pengertian yang lebih detail dari tata cara pelaksanaan ibadah wudhu itu sendiri. Meskipun dalamm masalah ini ataupun masalah fiqih lainnya itu terdapat beberapa perbedaan menurut pandangannya masing-masing.

Akan tetapi layaknya kepada kita semua selaku kaum awam adalah lebih mengetahui secara pasti letak yang menjadi perbedaan tersebut, supaya dalam pelaksanaannya itu sesuai dengan kaidah ilmu-ilmu fiqih. Dan berikut 12 perbedaan para Ulama dalam bab wudhu.

1. Niat Wudhu
Para ulama’ berbeda pendapat apakah niat termasuk syarat sah wudhu atau tidak ?menurut madzhab syafi’i, malik, ahmad, abu tsaur dan dawud niat termasuk syarat sahnya wudhu.sedangkan menurut yang lannya yaitu abu hanifah dan sas tsaury, niat tidak termasuk syarat sahnya wudhu. Keterangan kitab bidayatul mujtahid ibnu rusydy.

2. Membasuh Kedua Telapak Tangan
a. Menurut sebagian ulama’ bahwa memasukkan tangan kedalam cawan termasuk sunnah wudhu secara mutlak walaupun diyakini sucinya tangan, ini adalah pendapat masyhur madzhab malik dan as syafi’i.
b. Qaul lain hukumnya mustahab bagi yang ragu-ragu tentang suci tidaknya tangan, ini juga riwayat dari imam malik.
c. Qaul lain membasuh tangan hukumnya wajib bagi orang yang baru bangun dari tidur, ini adalah pendapatnya dawud dan yang lainnya.
d. Qaul lain diperinci antara tidur malam dan tidur siang, jika bangun dai tidur malam maka wajib jika bangun dari tidur siang maka tidak wajib, ini adalah pendapatnya imam ahmad. Keterangan kitab bidayatul mujtahid (1/13).

3. Madhmadhoh (berkumur) dan Istinsyaq (menghirup air kedalam hidung)
a. Pendapat imam malik, as syafi’i dan abu hanifah keduanya termasuk sunnah wudhu.
b. Pendapat ibnu abi laila dan segolongan kawan-kawannya dawud keduanya fardhu.
c. Istinsyaq termasuk fardhu sedangkan madhmadhoh itu sunnah, ini adalah pendapatnya abu tasur, abu ubaidah dan segolongan ulama’ ahli dhohir. Keterangan kitab bidayatul mujtahid (1/14).

4. Masalah Batasan Wajah
Tentang rambut tepi pipi yang berhadapan dengan telinga)
a. Pendapat yang masyhur dalam madzhab malik bahwa putih-putih bukanlah termasuk bagian wajah
b. Menurut abu hanifah dan imam syafi’i bahwa putih-putih tersebut termasuk wajah
Tentang rambut yang menjutai dari jenggot
a. Menurut imam malik wajib mururul ma’ pada rambut tersebut
b. Menurut abu hanifah dan imam syafi’i tidak wajib
Tentang mensela selai jenggot
a. Menurut Imam Malik, Imam Hanafi dan Imam Syafi’i tidaklah wajib.
b. Menurut abdul hakim (ashabnya malik) mensela selai jenggot hukumnya wajib. Ket: kitab bidayatul mujtahid (1/14).

5. Masalah Batasan Membasuh Kedua Tangan
a. Para ulama’ jumhur seperti Malik, As syafi’i dan Abu hanifah sepakat bahwa membasuh kedua tangan dan kedua lengan bawah termasuk fardhunya wudhu ‘ sebab friman Allah :”dan tanganmu sampai siku.
b. Memenurut ahli dhohir sebagian ashab malik akhir dan at tobary bahwa siku tidak masuk dalam membasuh. Keterangan kitab bidayatul mujtahid (1/15).

6. Masalah Batasan Mengusap Kepala
a. Menurut Imam Malik wajib mengusap seluruh kepala
b. Menurut Asyafi’i, sebagian ashabnya malik dan Abu Hanifah bahwa mengusap sebagian saja yang fardhu.
c. Abu hanifah berpendapat seper empat, sedangkan imam syafi’i tidak memberi batasan tentang mengusap ini. Ketreangan kitab bidayatul mujtahid (1/15).

7. Masalah Fadhilah Hitungan Yaitu Mengulangi Tiga Kali
a. Menurut ima syaf’i bahwa orang yang wudhu dengan tiga kali tiga kali maka mengusap kepalanya juga tiga kali
b. Menurut kebanyakan fuqoha’ berpendapat bahwa mengusap itu tidak terdapat fadhilah dalam pengulangannya. Keterangan kitab bidayatul mujtahid (1/16).

8. Masalah Mengusap Serban
a. Imam Ahmad, Abu Tsaur, Qosim bin salam dan segolongan ulama’ membolehkannya.
b. Imam syafi’i dan abu hanifah itu melarangnya. Keterangan kitab bidayatul mujtahid (1/17).

9. Masalah Mengusap Kedua Telinga
a. Menurut jama’ah dari sahabatnya imam malik hukumnya wajib dan menggunakan air yang baru, dan menurut madzhab malik bahwa kedua telinga termasuk bagian kepala.
b. Menurut abu hanifah dkk termasuk fardhu tapi kedua telinga ini di usap bersamaan dengan kepala dengan air yang satu.
c. Menurut imam syafi’i mengusap kedua telinga hukumnya sunnah dan memakai air yang baru. Keterangan kitab bidayatul mujtahid (1/18).

10. Masalah Pensucian Kedua Kaki
a. Menurut jumhur ulama’ pensuciannya adalah dengan di basuh
b. Menurut lainnya bahwa fardhunya adalah di usap
c. Menurut Ulama lain berpendapat boleh di basuh dan boleh di usap. Keterangan kitab bidayatul mujtahid (1/18).

11. Masalah Tartib Dalam Af’al Wudhu
a. Menurut ashab malik, abu hanifah, ats tsauri dan dawud bahwa tartib hukumnya sunnah
b. Menurut imam syafi’i, ahmad dan abu ubaid bahwa tartib hukumnya wajib. Keterangan kitab bidayatul mujtahid (1/19).

12. Masalah Muwalah (berkelanjutan)
a. Menurut imam malik bahwa muwalah termasuk fardhu jika ingat dan mampu, dan bisa gugur jika lupa, dan jika ingat tapi udzur selama jaraknya tidak keterlaluan.
b. Menurut imam syafi’i dan abu hanifah bahwa muwalah tidak termasuk wajibnya wudhu.

Itulah penjelasan mengenai titik perbedaan yang ada pada amaliyah wudhu semoga bisa menjadi tambahan wawasan penting bagi kita semua khususnya dalam masalah wudhu ini. Sehingga menjadi hikmah terbaik dalam pelaksanaan amalan ibadah-ibadah lainnya.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id