Terkait Khutbah Jum’at Di Dulukan Serta Kesetaraan Tumaninah Antara Dua Khutbah

Terkait Khutbah Jum'at Di Dulukan Serta Kesetaraan Tumaninah Antara Dua Khutbah

Almunawwar.or.id – Khutbah jum’at yang merupakan salah satu dari sekian banyak amalan ibadah wajib memang memiliki ketnteuan dan syarat dari pelaksanaannya, termasuk dari hal yang berkaitan dengan khutbah tersebut salah satunya adalah dengan melakukan tumaninah di antara dua khutbah dan yang lainnya.

Hal ini tentu berdasarkan alasan tertentu yang menyebabkan persyaratan dalam khutbah tersebut sangat berpebgaruh sekali terhadap amalan yang berkaitan dengannya, oleh karena itu memahami lebih jauh tentang apa yang di maksud engan ketentuan khutbah itu adalah pembelajaran pasti sebelum melakukannya.

Dan yang seyogyanya perkara tersebut mampu menjadi perbandingan sesaat sebelum ibadah khutbah jum’at tersebut di laksanakan terutama bagi mereka yang akan menjadi khatib, agar dari segi tinjauan hukumnya itu selaras dengan apa yang menjadi syarat dan rukun khutbah itu sendiri dan tentunya sah dalam pelaksanaan.

Seperti misalnya perspektif dari pertanyaan mengapa khutbah jum’at itu di akhirkan berbeda dengan khutbah ied? ataupun kesetaraan hukum tumaninah di antara khutbah dua bagi si khotib dengan tumaninah dalam shalat.

Dimana kedua permasalahan tersebut sering kali di lontarkan sebagai pertanyaan penting bagi orang-orang selama ini, karena memang selain ibadah shalat dan khutbah jum’at itu hukumnya wajib, juga dari segi keterangan dalilnya pun mampu mencakup apa yang menjadi sebuah keharusan dalam segi pengamalan.

Untuk itu ulasan mengenai tata cara khutbah jum’at di dahulukan serta kesetaraan hukum tumaninah kiranya penting untuk di bahas lebih lanjut untuk lebih memberikan sebuah dalil yang nyata tentang bagaimana kedudukan hukun keduanya termasuk dari pelaksanaannya itu sendiri.

Alasan khutbah Jum’at di dahulukan
1. Karena ittiba’ atau mengikuti apa yang telah dipraktikkan Rasulullah S.A.W saat melaksanakan khutbah jum’at

قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ : ثَبَتَتْ صَلَاتُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ خُطْبَتَيْنِ ، بِخِلَافِ الْعِيدِ فَإِنَّ خُطْبَتَيْهِ مُؤَخَّرَتَانِ لِلِاتِّبَاعِ،وَلِأَنَّ الْجُمُعَةَ إنَّمَا تُؤَدَّى جَمَاعَةً فَأُخِّرَتْ لِيُدْرِكَهَا الْمُتَأَخِّرُونَ ، وَلِأَنَّ خُطْبَةَ الْجُمُعَةِ شَرْطٌ وَالشَّرْطُ مُقَدَّمٌ عَلَى مَشْرُوطِهِ

Artinya : “Muhyiddin Syaraf An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab berkata, ‘Shalat Jumat Nabi SAW dilakukan setelah selesai dua khutbah, berbeda dengan shalat Id di mana kedua khutbahnya diakhirkan (setelah selesai shalat Id) karena ittiba` (mengikuti apa yang sudah dipraktikan Rasulullah saw, pent).’ Di samping itu karena shalat Jumat hanya dilaksanakan secara berjamaah, shalatnya diakhirkan agar orang-orang yang belakangan bisa menjumpainya. Alasan lain adalah karena khutbah Jumat merupakan syarat sahnya shalat Jumat, sedangkan syarat harus didahulukan dari yang disyarati (al-masyruth),” (Lihat Muhammad Khathib Asy-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz I, halaman 285).

2. Agar orang-orang yang datang belakang bisa menjumpainya. Hal ini tentunya berbeda dengan shalat Id di mana tidak harus dilakukan secara berjamaah.

3. Sebab khutbah Jumat adalah salah satu syarat sah shalat Jumat, sedangkan syarat harus didahulukan dari yang disyarati. Hal ini tentunya berlainan dengan khutbah shalat Id yang jelas bukan syarat yang menentukan keabsahan shalat Id.

Diriwayatkan Bukhari-Muslim dari Ibnu Umar RA, ‘Bahwa Rasulullah S.A.W berkhutbah pada hari Jumat dengan dua khutbah dan duduk di antara keduanya.’ Dilakukannya kedua khutbah sebelum shalat Jumat adalah didasarkan kesepakatan para ulama (ijma’), kecuali orang yang menyimpang, dengan hadits yang menyatakan: ‘Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat’. Dan Nabi SAW tidak melakukan shalat Jumat kecuali setelah melaksanakan dua khutbah. (Lihat Muhammad Khathib Asy-Syarbini, Mughnil Muhtaj, Beirut, Darul Fikr, juz I, halaman 285).

Hukum Tumaninah di antara dua Khutbah
Adalah Duduk di antara dua khutbah termasuk syarat khutbah yang ke empat, dan dalam duduk ini diwajibkan tuma’ninah. Berdasarkan keterangan yang ada pada :

1. Kitab roudhoh imam Nawawi :

الرابع : الجلوس بينهما ، وتجب الطمأنينة فيه ، فلو خطب قاعدا لعجزه ، لم يضطجع بينهما للفصل ، بل يفصل بينهما بسكتة ، والسكتة واجبة على الأصح . ولنا وجه شاذ : أن القائم أيضا يكفيه الفصل بينهما بسكتة .

Yang keempat itu adalah duduk antara dua khutbah dan wajib hukunya tumaninah dalam duduk tersebut, Sehingga jika khutbah duduk karena ketidakmampuannya maka jangan sampai menyender untuk membedakannya, akan tetapi cukup untuk berdiam dan berdiam diri itu (tumaninah) hukumnya wajib menurut qaul unggul.

2. Kitab fathul mu’in dan syarahnya i’anah :

(و) شرط (جلوس بينهما) بطمأنينة فيه، وسن أن يكون بقدر سورة الاخلاص، وأن يقرأها فيه.ومن خطب قاعدا لعذر فصل بينهما بسكتة وجوبا.وفي الجواهر: لو لم يجلس حسبتا واحدة، فيجلس ويأتي بثالثة.(وولاء) بينهما وبين أركانهما، وبينهما وبين الصلاة، بأن لا يفصل طويلا عرفا.وسيأتي أن اختلال الموالاة بين المجموعتين بفعل ركعتين، بل بأقل مجزئ، فلا يبعد الضبط بهذا هنا، ويكون بيانا للعرف

Yang menjadi syarat duduk antara dua khutbah tersebut adalah di sunnatkan berdiam seukuran membaca surat Al ikhlas dan barang siapa berkhutbah sambil duduk karena ketidakmampuannya itu maka di pisahkan dengan berdiam (Saktah) yang hukumnya wajib.

Walhasil ketentuan yang mendasar dari pelaksanaan khutbah dan yang terkait di dalamnya seperti tumaninah itu adalah karena memang sudah di contohkan oleh baginda Rasulullah S.A.W dan di perjelas lagi oleh qaul para Ulama untuk lebih mampu di terima dan di mengerti oleh kaum awam, Sebagaimana yang sudah di jelaskan tadi.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id
piss-ktb.com