Terkait Politisasi Mimbar Khutbah Dalam Islam Bagi Pelaksanaan dan keabsahannya

Terkait Politisasi Mimbar Khutbah Dalam Islam Bagi Pelaksanaan dan keabsahannya

Almunawwar.or.id – Banyak hal yang harus di perhatikan ketika pelaksanaan ibadah khutbah sedang berlangsung, termasuk dari soal materi khutbah sendiri yang sangat di anjurkan untuk di isi dengan ajakan-ajakan ke jalan ketaqwaan, kesabaran dan tentunya ketaatan kepada Allah S.W.T.

Karena isi dari pada khutbah tersebut merupakan dasar dari keunggulan dari ibadah shalat jum’at, Sehingga tidak di perkenankan bagi seorang khotib untuk mengisi materi khutbahnya tersebut dengan hal yang bersifat khusus seperti politisasi dan lain sebagainya yang memang sedang menjadi polemik di masyarakat umum.

Hal seperti ini tentunya harus senantiasa menjadi perhatian tersendiri, terlebih khusus bagi mereka yang di percaya dan di tunjuk untuk menjadi seorang khatib, memberikan nasihat yang baik sesuai dengan anjuran Alquran dan Assunah dalam khutbah itu adalah cara terbaik untuk lebih mengafdholkan peribadahan dari ibadah shalat jum’at dan khutbahnya.

Apalagi jelang memasuki tahun politik seperti sekarang ini, yang dimana tidak sedikit adanya ajakan untuk cenderung memilih satu golongan ataupun sebaliknya sehingga tanpa di sadari itu keluar dari pada hakikat dan tujuan dari ibadah shalat jumat dan khutbahnya.

Untuk mengetahui dan mengatasi cara tepat dalam meluruskan ajakan umat lewat tausiha yang ada dalam materi khutbah tersebut, mari kita sama-sama mengkaji kembali salah satu keterangan penting yang telah di fatwakan oleh para Ulama, salah satu di antaranya adalah

يستحب كون الخطبة فصيحة بليغة مرتبة مبينة من غير تمطيط ولا تقعير ولا تكون الفاظا مبتذلة ملفقة فانها لا تقع في النفوس موقعا كاملا ولا تكون وحشية لانه لا يحصل مقصودها بل يختار الفاظا جزلة مفهمة قال المتولي ويكره الكلمات المشتركة والبعيدة عن الافهام وما يكره عقول الحاضرين واحتج بقول علي بن أبي طالب رضي الله عنه ” حدثوا الناس بما يعرفون أتحبون ان يكذب الله ورسوله” رواه البخاري في اواخر كتاب العلم من صحيحه

Artinya: “Seorang khatib dalam khutbahnya disunahkan menggunakan kata-kata yang jelas dan lancar, teratur, terang, tanpa dipanjangkan dan tanpa teriak. Jangan pula khutbah menggunakan kata-kata klise (seperti slogan dalam propaganda politik maupun iklan) karena tidak mengena dengan sempurna di hati pendengar. Jangan juga menggunakan kata asing karena dapat menjauhkan dari maksud pesan ketakwaan itu sendiri. Seorang khatib hendaknya menggunakan kata-kata secara bijak dan mudah dipahami. Imam Al-Mutawalli berpendapat, khatib makruh menggunakan kata-kata yang mengandung banyak makna (polisemi) dan sulit dipahami. Khatib juga makruh menggunakan kata-kata yang tidak masuk logika sebagian jamaah Jumat. Al-Mutawalli berargumentasi dengan perkataan Sayyidina Ali RA, ‘Bicaralah kepada orang lain sesuai daya pikir mereka. Apakah kalian senang kalau Allah dan Rasul-Nya didustakan?’ (HR Bukhari di akhir Bab Ilmu),” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Majemuk, Maktabah Taufiqiyyah, Kairo, Mesir, Tahun 2010, Juz 4, Halaman 363).

Dari keterangan tersebut tentunya bisa di fahami dan di mengerti lebih lanjut apa yang menjadi sebuah keharusan bagi seorang khatib ketika peribadahan khutbahnya sedang berlangsung, untuk mengajak, mengarahkan jamaah ke hal yang lebih maslahat dan manfaat bagi semua umat.

Apalagi jauh dari pada wasiat ketaqwaan dan ketaatan yang menjadi rukun dari pada khutbah itu sendiri, rambu-rambu khutbah yang selama ini menjadi sebuah aturan laksana tidak di perhatikan demi kepentingan dan tujuan tertentu yang di tertujukan pada argumentasi dari khutbah itu sendiri.

Menyinggung permasalahan tersebut, Terkait kata-kata asing yang sulit dijangkau oleh daya pikir sebagian jamaah ini, Syekh Sulaiman Jamal mengingatkan agar para khatib menghindarkan untuk mengeluarkan kata-kata yang terlalu berat untuk dipahami atau bahkan kontroversial seperti istilah-istilah para filsuf atau para sufi yang “berat-berat”.

قَوْلُهُ : لَا غَرِيبَةً وَحْشِيَّةً ) أَيْ غَيْرَ مَأْلُوفَةِ الِاسْتِعْمَالِ قَالَ الْقَمُولِيُّ وَتُكْرَهُ الْكَلِمَاتُ الْمُشْتَرَكَةُ بَيْنَ مَعَانٍ عَلَى السَّوَاءِ وَالْبَعِيدَةُ عَنْ الْأَفْهَامِ وَمَا يُنْكِرُهُ عُقُولُ بَعْضِ الْحَاضِرِينَ، وَقَدْ يَحْرُمُ الْأَخِيرُ إنْ أَوْقَعَ فِي مَحْظُورٍ ا هـ . بِرْمَاوِيٌّ .

Artinya: “(Tidak menggunakan kata aneh dan asing) tidak lazim dalam penggunaan. Syekh Al-Qamuli berkata bahwa khatib dilarang dengan makruh menggunakan kata yang mengandung banyak makna (polisemi) dan sulit dipahami. Khatib juga dimakruh menggunakan kata-kata yang tidak masuk logika sebagian jamaah Jumat. Yang terakhir ini menjadi haram bila khatib terjatuh melakukan hal yang diharamkan melalui ucapannya. Selesai penjelasan Syekh Barmawi,” (Lihat Syekh Sulaiman Jamal, Hasyiyatul Jamal ala Syarhi Manhajit Thullab, Juz 5 halaman 478).

Jadi patut dan layak untuk diketahui dan di fahami lebih lanjut bagi mereka seorang khatib yang akan mengangkat tema khutbah itu yang di jadikan sebagai media dalam meraih derajat keimanan, ketaqwaan dan juga ketataan sesuai dengan hakikatnya.

Sebagaimana yang tertuang dari wasiat khutbah sebagai penjabaran dari realisasi ajakan umat untuk lebih menyatakan, menyatukan serta menjadikan khutbah bagian penting dari pelaksanaan dan keabsahan ibadah shalat jum’at yang tentunya dengan arahan-arahan yang telah di atur dalam kaidahnya.

الوصية بالتقوى ) للاتباع روى مسلم عن جابر أنه صلى الله عليه وسلم كان يواظب على الوصية بالتقوى في خطبته.(ولا يتعين لفظها) أي الوصية بالتقوى (على الصحيح) لأن غرضها الوعظ ، وهو حاصل بغير لفظها فيكفي أطيعوا الله .

Artinya: “(Washiyyat ketakwaan) karena mengikuti sunah. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Jabir RA bahwa Rasulullah SAW selalu mewashiatkan ketakwaan dalam khutbahnya. (Tidak ada ketentuan mengenai redaksinya) terkait bahasa pesan ketakwaan (menurut pendapat yang shahih). Karena tujuan dari washiat ini adalah penyampaian nasihat. Penyampaian nasihat ini dianggap memadai meski dengan lafal selain “washiat”. Maka dianggap memadai dengan lafal ‘Taatlah kamu kepada Allah’,” (Lihat Al-Mahalli, Kanzur Raghibin ala Minhajit Thalibin [Hamisy Hasyiyah Qaliyubi wa Umairah], Masyhad Al-Husainy, Kairo, Juz I, Halaman 277).

Rambu-rambu seperti di atas memang sengaja dirumuskan para ulama karena mempertimbangkan penyampaian nasihat sebagai tujuan pokok dari pesan ketakwaan itu sendiri. Hal ini diuraikan Syekh Jalaluddin Al-Mahalli dalam karyanya Kanzur Raghibin atau lebih dikenal Al-Mahalli yang kami kutip berikut ini.

Meskipun tidak ada ketentuan perihal redaksi wasiat, khatib dianjurkan untuk membatasi diri pada lafal “washiat” itu sendiri. Ini yang lebih utama sebagaimana usul Syekh Qaliyubi yang kami kutipkan berikut ini.

قوله : ( أي الوصية بالتقوى ) لو اقتصر على لفظ الوصية لكان أولى لأن عدم تعين لفظ التقوى لا خلاف فيه

Artinya: “Perihal (washiat ketakwaan), kalau khatib hanya menggunakan lafal ‘washiat’, tentu lebih utama karena tidak adanya ketentuan perihal lafal ketakwaan disepakati para ulama,” (Lihat Qaliyubi, Hasyiyah Qaliyubi wa Umairah, Masyhad Al-Husainy, Kairo, Juz I, Halaman 277).

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
nu.or.id