Tiga Konsep Rumus Kebahagiaan Menurut Imam Al Ghazali

Tiga Konsep Rumus Kebahagiaan Menurut Imam Al Ghazali

Almunawwar.or.id – Sebuah kebahagiaan yang merupakan hal paling harpakan oleh setiap orang adalah salah satu titik pencapaian dari sebuah perbuatan, Banyak tipe dalam memandang arti bahagia yang sesungguhnya, Ada yang berpandangan dari adanya pencapaian harta, jabatan, kedudukan dan lai sebagainya namun tidak sedikit pula yang menafikan semua hal tersebut, tentunya dengan argumen yang bisa di pahami sesuai dengan jalurnya.

Prinsip bahagia bagi seseorang tidak hanya serta merta bisa meraih apa yang di inginkan, akan tetapi jauh dari pda semua itu adalah sebuah pengenalan diri sebagai langkah awal dalam memberdayakan arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Sebab semakin orang mengenal dirinya tentu dia tahu siapa yang menciptakannya. Juga dengan mengenal diri sendiri maka akan tahu pula kekurangan dan kelemahan dirinya.

Konsep sebuah kebahagiaan juga tidak hanya di artikan dari segi materi dan kedudukan saja, Konsep kebahagiaan justru timbul dan lahir dari konsep mengenal diri sendiri yang nantinya bermuara pada hakikat dan tujuan hidup yang sesungguhnya. Bahagia pula tidak cukup di ukur dari kesempurnaan apa yang selama ini di cita-cita kan, Namun justru keniscayaan sering kali lahir sebagai titik terang seseorang dalam memaknai arti sebuah kebahagiaan.

Itulah sebabnya mengapa para Ilmuwan-Ilmuwan dunia sering kali mengemukakan pandangan dan pendapatnya tentang arti kebagiaan itu, Karena memang berangkat dari cara penilaian filosofis seseorang dalam menjalankan kehidupannya. Salah satu Ilmuwan ternama di dunia Saint sebut saja seperti Albert Einstein juga dikenal lewat theory of happiness-nya, Ia mengatakan: A calm and modest life brings more happiness than the pursuit of success combined with constant restlessness.

Ilmuwan penemu teori relativitas itu menyebutkan bahwa hidup yang tenang dan sederhana membawa lebih banyak kebahagiaan daripada mengejar kesuksesan yang dikombinasikan dengan kegelisahan yang terus menerus. Baginya kebahagiaan mengajarkan kita kepada kebenaran yang mendalam (profound truth) berdasarkan nilai bukan materi.

Jauh sebelumnya, Imam Al-Ghazali yang dikenal sebagai sang “Hujjatul Islam”, memahami kebahagiaan ini adalah sebuah proses, di mana siapa pun bisa meraihnya. Tentu hanya orang-orang tekun yang mampu mendapatkannya, bukan jalan dan laku orang biasa. Proses ini ia tuangkan dalam risalahnya yang berjudul Kimiya’ as-Sa’adah (Kimia Kebahagiaan).

Karya beliau memiliki folosofi yang sangat dalam. Penulis Ihya’ Ulumiddin ini menyebutkan sebuah proses manusia sebagai salik senantiasa meniti jalan kebahagiaan melalui laku mujahadah yang terus menerus, sehingga sampailah ia kepada musyahadah karena tersingkapnya tabir antara makhluk dan sang khalik. Kenikmatan inilah yang ia maknai sebagai kembalinya manusia kepada sang pencipta an-Tarji’a Min ad-Dunya Ila Allah. Karena pencapaian ini baginya adalah nikmat kebahagiaan yang tak terkirakan. Lalu, bagaimana kita bisa meraihnya?

Ma’rifat an-Nafs
sebuah Analisis SWOT Al-Ghazali berpandangan bahwa yang paling pertama harus dilakukan seorang salik adalah mengenali dirinya sendiri karena ini merupakan kunci untuk mengenal Allah Swt. Baginya tidak ada yang lebih dekat dari dirimu kecuali diri sendiri. Orang yang sudah masuk dalam maqam ini disebut sebagai ‘arif.

Orang ‘arif adalah orang yang telah mengenal dirinya dan Tuhannya. Seperti apa yang disabdakan oleh Nabi Saw: “Barang siapa yang mengenal dirinya maka benar-benar mengenal Tuhannya”. Maka dari itu pengenalan diri sebagai manusia sangatlah penting guna mencapai derajat selanjutnya yaitu mengenal Allah Swt.

Jika kita lihat, usaha ini bisa dikategorikan sebagai analisis SWOT terhadap diri sendiri. Analisis ini dilakukan agar kita mengetahui kualitas diri dengan seksama. Hal ini penting dilakukan terutama di awal tahun seperti sekarang ini. Tujuannya agar kita mengetahui kekuatan (strengths) apa yang kita miliki, kelemahan (weaknesses) apa yang harus kita benahi. Sehingga kita bisa menganalisis apa yang menjadi kesempatan (opportunities) di kemudian hari, serta mengantisipasi ancaman (threats) yang mungkin akan dihadapi.

Mujahadah
Upaya optimalisasi diri Ketika seseorang sudah mengetahui kekuatan serta kelemahan yang ada dalam dirinya, step selanjutnya adalah mengoptimalkan apa yang ia miliki. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekuranganya masing-masing. Fokus kepada pengembangan kapasitas diri menjadi salah satu jalan agar kekuatan yang dimiliki bisa senantiasa dimaksimalkan.

Mujahadah yang dianjurkan oleh Imam Al-Ghazali tidak hanya dimaknai sebagai laku spiritual dengan zikir dan berdoa semata. Melainkan dengan menyeimbangkan (balancing) antara keduanya. Tentunya doa tanpa dibarengi dengan adanya usaha yang maksimal akan sia-sia, begitu juga sebaliknya.

Mujahadah harus dimaknai sebagai kesungguhan yang optimal, karena barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil, man jadda wajada. Perilaku optimis ini penting ditanamkan dalam diri, agar segala macam kegiatan yang kita lakukan menjadi maksimal.

Sa’adah
Sebuah pencapaian akhir Step by step yang telah diajarkan oleh Imam Ghazali harus dilakukan dengan maksimal. Dimulai dari pengenalan diri, melakukan analisis SWOT, kemudian bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu, dengan itu bukan tidak mungkin kebahagiaan akan tercapai. Di tengah kondisi global yang belum menentu, pandemi yang tak kunjung usai, ada satu hal yang tak boleh dilupakan oleh kita yaitu: “jangan lupa bahagia”.

Kalimat ini mungkin sederhana, tetapi jika di sugestikan ke dalam alam bawah sadar kita maka akan memunculkan sikap optimis di segala hal. Kalimat ini juga menjadi stimulus agar pekerjaan yang kita jalani menjadi ringan karena dilakukan dengan hati yang bahagia. Mindset ini juga bisa menjadi imun bagi tubuh kita, agar pikiran tetap terjaga nalar positifnya, sehingga bisa memunculkan ide-ide kreatif yang tentunya menjadikan kita semakin produktif.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id