Tiga Rincian Jawaban Jika Membaca Doa Dengan Bahasa ‘Ajam di Dalam Shalat

Tiga Rincian Jawaban Jika Membaca Doa Dengan Bahasa 'Ajam di Dalam Shalat

Almunawwar.or.id – Terdapat beberapa perincoan pasti mengenai tentnag bagaimana tata cara seorang yang sedang sholat terutama dari segi bacaannya yang memang itu sangat penting sekali terhadap sah dan tidak sahnya pelaksanaan dari pada sholat tersebut.

Karena sebagaimana yang banyak di jelaskan dalam kitab-kitab fiqh bahwa dalam sholat itu terdapat tiga rukun yaitu rukun quoli (ucapan), rukun Fa’li (amalan/pekerjaan) dan juga rukun qolbi (hati) yang dimana ketiga-tiga nya tersebut harus di jalankan sesuai dengan ketentuan dan kaidahnya.

Namun jika terdapat sesuatu yang memang tidak mampu untuk di lakukan saat melaksanakan sholat tersebut, seperti misalnya membacakan doa dengan menggunakan bahasa yang bukan arab apakah itu hukumnya sah atau bagaimana? Nah tiga perincian jawaban di bawah ini akan menjelaskan pertanyaan tersebut.

Dasar pengambilan dalil bisa di lihat dari surah (penjelasan) yang ada pada kitab Mughni al-muhtaj juz I halaman 177 dengan redaksi sebagai berikut :

( وَمَنْ عَجَزَ عَنْهُمَا ) أَيْ: التَّشَهُّدِ وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَهُوَ نَاطِقٌ،(تَرْجَمَ ) عَنْهُمَا وُجُوبًا ؛ لِأَنَّهُ لَا إعْجَازَ فِيهِمَا . أَمَّا الْقَادِرُ فَلَا يَجُوزُ لَهُ تَرْجَمَتُهُمَا ، وَتَبْطُلُ بِهِ صَلَاتُهُ ( وَيُتَرْجِمُ لِلدُّعَاءِ ) الْمَنْدُوبِ ( وَالذِّكْرِ الْمَنْدُوبِ ) نَدْبًا كَالْقُنُوتِ وَتَكْبِيرَاتِ الِانْتِقَالَاتِ وَتَسْبِيحَاتِ الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ ( الْعَاجِزُ ) لِعُذْرِهِ ( لَا الْقَادِرُ ) لِعَدَمِ عُذْرِهِ ( فِي الْأَصَحِّ ) فِيهِمَا. أَمَّا غَيْرُ الْمَأْثُورِ بِأَنْ اخْتَرَعَ دُعَاءً أَوْ ذِكْرًا بِالْعَجَمِيَّةِ فِي الصَّلَاةِ فَلَا يَجُوزُ. انتهى

Walhasil Hukum dari pada tingkah seperti itu adalah tafshil dengan rincian sebagai berikut ini:
1. Apabila do’a atau adzkar tersebut termasuk rukun shalat, maka wajib membaca terjemahannya bagi orang yang tidak mampu berbahasa arab (‘ajiz).

2. Apabila do’a atau adzkar tersebut bukan termasuk rukun shalat dan do’a itu ma’tsuroh / mandubah, maka sah sholatnya bagi orang yang memang ‘ajiz.

3. Apabila do’a atau adzkar tersebut tidak ma’tsuroh (mengarang sendiri), maka sholatnya batal secara mutlaq (baik ‘ajiz atau bukan).

Dan penting untuk di perhatikan mengenai ketentuan membacakan doa dan bacaan lainnya dalam sholat itu minimal harus di dengar sendiri oleh orang yang mengucapkannya, hal ini di landasi dengan keterangan berdasarkan surat Al-Isro’ ayat 110

ﻭﻻ ﺘﺠﻬﺮ ﺑﺻﻼﺗﻚ ﻭﻻ ﺗﺨﺎﻔﺖ ﺑﻬﺎ ﻭﺑﺗﻎ ﺑﻴﻦ ﺫﺍﻟﻚ ﺴﺑﻴﻼ

Artinya : “ Dan janganlah kau keraskan do’a mu dan jangan pula kau sembunyikan (dalam hatimu), dancarilah jalan tengah diantara keras dan tersembunyi itu”. (Q. S. Isro’ ayat 110)

Sebab bagian ini termasuk dalam kerangka syari’at, jadi dalam kerangka tingkatan yang lebih tinggi mungkin sah sah saja (wallaahu a’lam) dan kita sebagai orang yang masih maqom nya syari’at maka wajib mengikuti apa apa yang telah di gariskan dalam syari’at dalam semua amalan ibadah termasuk dari bacaan sholat tersebut.

Sebagaimana yang di terangkan dan di uraikan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al- Adzkar Lin- Nawawi dengan penjelasannya sebagai berikut :

ﺇﻋﻟﻡ ﺃﻥ ﺍﻷﺬﻜﺎﺭ ﺍﻟﻤﺷﺮﻭﻋﺔ ﻔﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﻏﻴﺮﻬﺎ ﻭﺍﺠﺑﺔ ﺃﻭ ﻤﺴﺘﺤﺑﺔ ﻻ ﻴﺤﺴﺐ ﺷﺊ ﻤﻨﻬﺎ ﻭﻻ ﻴﻌﺗﺩ ﺑﻪ ﺤﺘﻰ ﻴﺗﻟﻔﻆ ﺑﻪ ﺒﺤﻴﺚ ﻴﺴﻤﻊ ﻧﻔﺴﻪ ﺇﺫﺍ ﻜﺎﻦ ﺼﺤﻴﺢ ﺍﻟﺴﻤﻊ ﻻ ﻋﺎﺭﺽ ﻟﻪ

Artinya : “Ketahuilah bahwa dzikir yang sah dalam sholat dan selain nya yang wajib atau boleh tidak dihitung kecuali diucapkan dengan lafadz sehingga ia dapat mendengar yang di ucapkannya sendiri apabila pendengarannya sehat”.

Wallohu ‘Alamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id