Tiga Syarat Diperbolehkannya Wanita Berkarir Menurut Pandangan Islam

Tiga Syarat Diperbolehkannya Wanita Berkarir Menurut Pandangan Islam

Almunawwar.or.id – Pada perkembangan era globalisasi seperti sekarang ini pesatnya ekonomi yang berdampak pada sisi kesenjangan ekonomi serta berdampak pada kesejahteraan hidup, semua orang seolah di tuntut untuk lebih peka lagi terhadap perubahan yang ada khususnya dalam meningkatkan taraf kehidupan manusia.

Tidak terkecuali bagi mereka para wanita yang mempunyai nilai dan ketentuan khusus dalam kaca mata islam. Dimana ada keterbatasan tertentu bagi setiap wanita untuk bisa menjalani tatanan kehidupan ini baik terutama bagi mereka yang sudah berumah tangga.

Terlebih lagi bagi mereka wanita karir yang tentunya sudah terbiasa melakukan segala jenis pekerjaannya tersebut sebagai bagian penting dalam memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya. Dan pastinya ada interaksi dalam melakukan aktivitas tersebut yang sekarang cenderung pada hal yang kirang bijak dan terpuji menurut islam.

Lalu bagaimana pandangan islam mengenai hukum daripada seorang wanita karir tersebut? Dalam kajiannya penting sekali untuk lebih selektif lagi dalam mencerna dam menjawab semua permasalahan yang seolah tidak bisa lepas dari sisi kehidupan modern seperti wanita karir ini. Dan berikut ulasan selengkapnya.

Hadist riwayat Imam Bukhori dari Ibn Umar :

قَالَ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ حَقٌّ مَالَمْ يُؤْمَرْ بِالمَعْصِيَةِ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سُمِعَ وَلاَ طَاعَةَ

Artinya : “Nabi saw bersabda: “Mendengarkan dan ketaatan (dari seorang isteri kepada suami, atau dari seorang murid kepada guru, atau dari rakyat kepada pemerintah… dst.) adalah wajib, selama tidak diperintah dengan kemaksiatan. Jika diperintah dengan kemaksiatan, maka tidak wajib mendengarkan dan mentaati”.

Keterangan hadits tersebut mengisyaratkan bahwa seseorang yang sudah terikat pada sebuah ikatan seperti nikah misalnya itu wajib mentaati apa yang di lakukan oleh pemimpinnya dalam hal ini suami, selagi perintahannya tersebut tidak keluar dari hukum-hukum Agama.

Lalu bagaimana jika syarat dari sebuah pekerjaan yang seolah menuntut untuk keluar daripada kewajiban seorang muslimah? Masalah seperti ini memang sedang dan banyak terjadi di berbagai tempat terutama di kota-kota besar, dimana keprofesioanlan dalam pekerjaan itu jauh lebih bernilai dan berharga dibanding dengan nilai agama.

Apalagi jika perusahaan tersebut menerpakan sebuah sistem peraturan yang jauh daripada nilai-nilai islami. Dan memang masalah seperti ini juga seolah sulit untuk dipecahkan karena memang berbentur dengan masalah kebutuhan hidup. Nah disinilah kebijakan diri sangat menentukan dan memastikan.

Untuk menjawabnya kita kaji bersama-sama sebuah keterangan Ulama yang di ambil dari kitab Albajuri Juz 2 bab Nikah dengan redaksinya sebagai berikut:

(قَولُهُ إلَى أجْنَبِيَّةٍ) اى إلَى شَيءٍ مِنْ امْرَأةٍ أجْنَبِيَّةٍ اى غَيْرِ مَحْرَمٍ وَلَوْ أمَةً. شَمَلَ ذَلِكَ وَجْهَهَا وَكَفَّيْهَا فَيَحْرُمُ النَّظْرُ إلَيْهِمَا وَلَو مِنْ غَيْرِ شَهْوَةٍ او خُوفِ فِتْنَةٍ عَلَى الصَّحِيْحِ كَمَا فِى المِنْهَجِ وَغَيْرِهِ إلَى أَنْ قَالَ: وَقِيْلَ لاَ يَحْرُمُ لِقَولِهِ تَعَالَى: ولاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَهُوَ مُفَسِّرٌ بِالوَجْهِ وَالكَفَّيْنِ. وَالمُعْتَمَدُ الأوَّلُ, وَلاَ بَأسَ بِتَقْلِيْدِ الثَّانِى لاَ سِيَمًا فِى هَذَا الزَّمَانِ الَّذِى كَثُرَ فِيْه خُرُوجُ النِّسَآءِ فِى الطُّرُقِ وَالأسْوَاقِ وَشَمَلَ ذَلِكَ ايْضًا شَعْرَهَا وَظُفْرَهَا.

Artinya: (Ucapan Mushonnif : kepada wanita lain ), artinya kepada sesuatu dari wanita lain, yaitu yang bukan muhrim,meskipun budak belian. Hal itu meliputi mukanya dan kedua telapak tangannya, sehingga haram memandang muka dan kedua telapak tangan,meskipun tanpa sahwat atau rasa takut terhadap fitnah,menurut pendapat yang benar sebagaimana tersebut dalam kitab Al-Minhaj dan lainnya

Sampai pada ucapan Mushanif: Dan dikatakan: tidak haram berdasar firman Allah ta’ala: “dan janganlah para wanita menampakan tempat perhiasan mereka kecuali apa yang nampak darinya. Apa yang nampak ini ditafsirkan dengan muka dan kedua telapak tangan. Pendapat yang dapat dipegangi adalah yang pertama.dan tidak berdosa mengikuti pendapat yang kedua,lebih lebih pada zaman ini yang banyak para wanita keluar ke jalan-jalan dan pasar. Dan itu juga termasuk rambut kukunya”.

Sehingga dari adanya keterangan barusan bisa di simpulkan, jawaban dari permasalahan seperti bagaimana hukum daripada tuntutan pekerjaan yang mengharuskan seorang wanita membuka hijab misalnya, ataupun pertanyaan dari pilihan antara lebih baik mana menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga.

Dan pertanyaan andai ada suami yang menyuruh isterinya bekerja keras karena dua alasan diatas, apakah wajib dipatuhi? Nah jawabannya adalah qiyas yang ada pada keterangan kitab Al Bajuri tadi dengan kesimpulan jwabannya sebagai berikut ini.

Pertama hukum membuka tutup kepala bagi wanita dewasa untuk kepentingan bekerja, menurut pendapat yang muktamad (bisa dijadikan pegangan) adalah tetap haram. Menurut pendapat lain boleh bagi wanita yang keluar untuk jual beli dengan terbuka muka dan kedua telapak tangannya.

Menurut madzhab Hanafi, demikian itu boleh, bahkan dengan terbuka kakinya, apabila tidak ada fitnah.Langkah yang terbaik untuk anda, jika ingin menjadi wanita yang shalihah yang berpegang teguh (disiplin) pada ajaran Islam, anda harus berusaha terus mencari tempat bekerja yang mengizinkan pegawainya berjilbab sambil memohon kepada Allah. Insya Allah akan berhasil.

Selanjutnya ibu rumah tangga yang berhasil mendidik putra-putrinya menjadi orang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa, adalah jauh lebih baik daripada wanita karir yang manapun juga. Sebab menjadikan anak yang berhasil dalam mencapai tujuan hidupnya adalah jauh lebih mahal daripada gaji seorang presiden sekalipun.

Dan jawaban dari pertanyaan ketiga itu adalah tidak wajib dipatuhi, sebab patuh kepada seseorang itu diperbolehkan oleh agama dalam hal-hal yang tidak menyangkut kemaksiatan. Sebagaiman keterangann lain tentang tata cara menjalani kehidupan bagi seorang wanita muslimah yaitu menerangkan.

آداب حياة الزوجية ص: 163ليس في الإسلام ما يمنع المرأة أن تكون تاجرة أو طبيبة أو مدرسة أو محترفة لأي حرفة تكسب منها الرزق الحلال ما دامت الضرورة تدعو إلى ذلك وما دامت تختار لنفسها الأوساط الفاضلة وتلتزم خصائص العفة التي اسلفنا بعضها اهـإسعاد الرفيق الجزء الثانى ص: 136ومنها خروج المرأة من بيتها متعطرة او متزينة ولو كانت مستورة وكان خروجها بإذن زوجها إذا كانت تمر فى طريقها على رجال أجانب-إلى أن قال-قال فى الزواجر وهو من الكبائر لصريح هذه الأحاديث وينبغى حمله ليوافق قواعدنا على ما إذا تحققت الفتنة أما مجرد خشيتها فإنما هو مكروه ومع ظنها حرام غير كبيرة كما هو ظاهر وعد من الكبائر أيضا خروجها بغير إذن زوجها ورضاه لغير ضرورة شرعية كاستفتاء لم يكفها إياه أو خشية نحو فجارة أو انهدام المنزل

Dari keterangan tersebut bisa ditarik kesimpulan dalam segala hal wanita diharuskan berpegang dan mentaati peraturan syariat, baik dalam aspek tingkah laku, berpakaian maupun profesi. Seperti halnya ketika seorang wanita muslimah beraktifitas di luar rumah, maka beberapa ketentuan menjadi etika syariat yang wajib dilakukan di antaranya:

1. Ke luar rumah karena adanya keperluan (hajat).
2. Mendapatkan ijin suami atau wali.
3. Terjamin dari ancaman fitnah
4. Dengan menutup aurat
5. Harus menghindari terjadinya ikhtilath dengan laki-laki bukan mahram.
6. Tidak dengan cara tasyabbuh.
7. Tidak berhias
8. Tidak berpakaian ketat dengan menonjolkan bentuk tubuh.
9. Bentuk profesi yang dilakukan diperbolehkan (tidak dilarang) syariat seperti, menjadi pedagang, pengajar dsb.

Pandangan islam ini yang secara khusus menyoroti masalah kebijakan kepada seorang wanita ini itu tidak lepas dari sisi kemaslahatan bagi wanita itu sendiri,  sesuai dengan hakikat wanita yang sesungguhnya yaitu sebagai manusia yang mempunyai nilai lebih dan istimewa dalam agama.

Walhasil pandangan Fiqih tentang hukumnya Wanita karir Tidak Boleh kecuali :
1. Aman dari fitnah yakni aman dari hal-hal yang membahayakan dirinya hartanya serta aman dari maksiat,
2. Suami miskin / tidak mampu menafkahi keluarganya
3. Mendapat izin dari wali / suami jika suami masih mampu memberi nafkah

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com