Tingkatan Ikhlas Menurut Syekh Nawawi Al Bantani

Tingkatan Ikhlas Menurut Syekh Nawawi Al Bantani

Almunawwar.or.id – Ikhlas dalam beramal adalah puncak dari titik pelaksanaan amalan ibadah seseorang, dikatakan demikian karena memang ikhlas merupakan pondasi yang kuat dalam segala bentuk ibadah yang bisa bernilai dan berharga apabila di barengi dengan niat yang ikhlas dan tulus. Dalam arti dengan semua keiikhlasan dalam berbuat itu akan memberikan efek psikolog yang dahsyat bagi seseorang tentang bagaimana berinteraksi dengan sesama mahkluq dan kholik.

Ikhlas juga merupakan tolak ukur ketaatan seorang hamba dalam melaksanakan sebuah perintah agama, Tanpa disertai dengan ikhlas semuanya itu sia-sia, Oleh sebab itulah sangat tidak di perbolehkan mengharap sesuatu dari orang lain tanpa ada haknya, Bahkan di larang oleh Agama. Terlebih jika dalam masalah fisik itu masih mampu untuk berusaha, berikhtiyar dan tentunya bertawakkal dalam mencari dan menjemput rizqi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tidak hanya itu ikhlas juga harus di terapkan dalam semua urusan termasuk ketika dalam keadaan sakit, jangan sampai terbersit dalam hati sesuatu hal yang justru akan menutupi dirinya dari pintu rahmat dan maghfroh Alloh S.W.T. Menerima dan mensyukuri semua bentuk pemberiannya itu menjadi lebih baik bagi seorang hamba, Karena percaya akan semua yang ada dan di terima itu tidak lepas dari Qodho dan Qodar sang maha Kuasa.

Itulah pencerminan diri yang tertanam dari adanya ikhlas dalam hati, meskipun untuk merealisasikannya itu tidak mudah dan butuh proses karena belum terbiasa, tetapi setidaknya dengan berusaha menanamkan sifat ikhlas dalam hati sesuai dengan kemampuan itu jauh lebih baik dari pada tidak ada perbuatan sama sekali dalam menggapai keilhlasan di hati, Sehingga dalam hal ini Salah satu Ulama besar ahli Usuluddin dan fiqih yaitu Syekh Nawawi Banten, Beliau menerangkan dalam Nashâihul ‘Ibâd :

فأعلى مراتب الاخلاص تصفية العمل عن ملاحظة الخلق بأن لا يريد بعبادته الا امتثال أمر الله والقيام بحق العبودية دون اقبال الناس عليه بالمحبة والثناء والمال ونحو ذلك

Artinya: “Tingkatan ikhlas yang paling tinggi adalah membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk (manusia) di mana tidak ada yang diinginkan dengan ibadahnya selain menuruti perintah Allah dan melakukan hak penghambaan, bukan mencari perhatian manusia berupa kecintaan, pujian, harta dan sebagainya.” Pada tingkatan ini orang yang melakukan amalan atau ibadah tidak memiliki tujuan apapun selain hanya karena menuruti perintah Allah semata.

Ia menyadari bahwa dirinya adalah hamba atau budaknya Allah sedangkan Allah adalah tuannya. Maka baginya sudah selayaknya seorang hamba taat dan patuh serta menuruti apapun yang diperintahkan oleh tuannya tanpa berharap mendapatkan imbalan apapun. Orang yang beramal dengan keikhlasan tingkat ini sama sekali tak terpikir olehnya balasan atas amalnya itu. Pun ia tak peduli apakah kelak di akhirat Allah akan memasukkannya ke dalam surga atau neraka. Ia hanya berharap ridlo Tuhannya. Adapun tingkatan ikhlas yang kedua Syekh Nawawi menuturkan lebih lanjut:

والمرتبة الثانية أن يعمل لله ليعطيه الحظوظ الأخروية كالبعاد عن النار وادخاله الجنة وتنعيمه بأنواع ملاذها

Artinya: “Tingkat keikhlasan yang kedua adalah melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian-bagian akhirat seperti dijauhkan dari siksa api neraka dan dimasukkan ke dalam surga dan menikmati berbagai macam kelezatannya.” Pada tingkatan kedua ini orang yang beramal melakukan amalannya karena Allah namun di balik itu ia memiliki keinginan agar dengan ibadahnya kelak di akherat ia akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah.

Ia beribadah dengan harapan kelak di hari kiamat terselamatkan dari berbagai keadaannya yang mengerikan, terlindungi dari panas yang menyengat, dimudahkan hisabnya, hingga pada akhirnya ia tidak dimasukkan ke dalam api neraka tapi sebaliknya Allah berkenan memasukkannya ke dalam surga sehingga ia dapat menikmati berbagai fasilitas yang tiada duanya. Beribadah dengan niat dan motivasi seperti ini masih dikategorikan sebagai ikhlas, hanya saja bukan ikhlas yang sesungguh-sungguhnya ikhlas.

Keikhlasan seperti ini ada pada tingkatan kedua di bawah tingkat keikhlasan pertama. Ini diperbolehkan mengingat Allah dan Rasulullah sangat sering memotivasi para hamba dan umatnya untuk melakukan amalan tertentu dengan iming-iming pahala yang besar dan kenikmatan yang luar biasa di akhirat kelak.

Lebih lanjut Syekh Nawawi menuturkan:

والمرتبة الثالثة أن يعمل لله ليعطيه حظا دنيويا كتوسعة الرزق ودفع المؤذيات

Artinya: “Tingkatan ikhlas yang ketiga adalah melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian duniawi seperti kelapangan rizki dan terhindar dari hal-hal yang menyakitkan.” Tingkat keikhlasan yang ketiga ini adalah tingkat keikhlasan yang paling rendah di mana orang yang beribadah dilakukan karena Allah namun ia memiliki harapan akan mendapatkan imbalan duniawi dengan ibadahnya itu. Sebagai contoh orang yang melakukan shalat dluha dengan motivasi akan diluaskan rejekinya, aktif melakukan shalat malam dengan harapan akan mendapatkan kemuliaan di dunia, banyak membaca istighfar agar dimudahkan mendapatkan keturunan dan lain sebagainya.

Hal yang demikian ini masih tetap dianggap sebagai ikhlas karena agama sendiri menawarkan imbalan-imbalan tersebut ketika memotivasi umat untuk melakukan suatu amalan tertentu. Hanya saja tingkat keikhlasannya adalah tingkat paling rendah. Lalu bagaimana bila seorang yang beribadah atau melakukan suatu amalan dengan motivasi selain tiga hal di atas? Semisal orang beribadah dengan harapan akan dipuji dan dianggap orang lain sebagai orang yang taat, mencari ilmu dengan harapan akan dihormati orang lain sebagai orang yang alim, bersedekah dengan harapan akan mendapatkan suara banyak dalam pemilihan lurah, kepala daerah atau wakil rakyat. Masih menurut Syekh Nawawi bahwa yang demikian itu termasuk sikap riya yang tercela, bukan ikhlas.

Beliau menegaskan:

وما عدا ذلك رياء مذموم

Artinya: “Selain ketiga motivasi di atas adalah riya yang tercela.”.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id