Tinjauan Agama Tentang Tradisi Halal Bihalal di Hari Raya

Tinjauan Agama Tentang Tradisi Halal Bihalal di Hari Raya

Almunawwar.or.id – Semoga Alloh Subhanahu Wa Ta’ala menggolongkan kepada kita semua sebagai orang-orang yang bisa meraih kebahagiaan dan kemenangan di hari lebaran agar kembali ke kesucian. Ungkapan tersebut merupakan salah satu bentuk dari adanya doa yang terselubung dari makna lebaran itu sendiri.

Termasuk ketika mengadakan acara-acara halal bihalal setelah lebaran Idul Fitri yang sudah jamak dan lumrah bahkan sudah menjadi tradisi yang dilakukan umat Islam khususnya di Indonesia. Nah mengungkap fenomena tersebut, berikut penjelasan tentang tinjauan agama dari adanya tradisi halal bihalal di hari raya.

Rasulullah saw. bersabda :

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَمِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

Artinya: “Barang siapa memiliki tanggungan kezaliman terhadap saudaranya, entah dalam hal kehormatan atau pun hartanya, maka hendaklah meminta kehalalannya hari ini. Sebelum datang hari(kiamat) di mana tidak berguna lagi dirham dan dinar. Pada hari kiamat nanti,bila seseorang yang menzalimi belum meminta kehalalan dari saudaranya, maka bila ia memiliki amal kebaikan, sebagian amal kebaikannya itu diambil sekadar kezaliman yang ia lakukan untuk diserahkan kepada orang yang pernah ia zalimi.Bila ia sudah tidak memiliki sisa amal kebaikan, maka dosa yang dimiliki orang yang pernah ia zalimi di dunia akan dilimpahkan kepadanya senilai kezaliman yang pernah ia lakukan. (HR. Bukhari dari Abu Hurairah r.a.)

رَحِمَ اللَّهُ عَبْدًا كَانَتْ لِأَخِيهِ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ فِي عِرْضٍ أَوْ مَالٍ فَجَاءَهُ فَاسْتَحَلَّهُ قَبْلَ أَنْ يُؤْخَذَ

Artinya: ” Allah merahmati seorang hamba yang pernah berbuat zalim terhadap harta dan kehormatan saudaranya, laluia mau datang kepada saudara yang dizaliminya itu untuk minta kehalalannya sebelum ajal menjemput … (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah).

Rasul sendiri menyatakan demikian. Bahwa semua bani Adam adalah khattha’un, adalah banyak berbuat dosa dan maksiat. Dan sebaik-baik khattha’un adalah at-tawwabun, yaitu orang yang banyak bertobat.

Ini hadits diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dari Anas binMalik r.a. Allah sendiri di dalam Al-Quran juga berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak bertobat.”

عن أبي هريرة – رضي الله عنه – أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قال: ((من كانت عنده مظلمة لأخيه فليتحلله منها، فإنه ليس ثم دينار ولا درهم، من قبل أن يؤخذ لأخيه من حسناته، فإن لم يكن له حسنات، أخذ من سيئات أخيه فطرحت عليه))؛ رواه البخاري

Saudaraku, bila kita pernah punya salah kepada saudara, sudah sepantasnya kita meminta maaf dan meminta kehalalannya. Sebab dosa yang terjadi antar sesama hanya akan diampuni oleh Allah bila orang yang kita zalimi itu memaafkan kita.

Lebih dari itu, Allah akan mencurahkan rahmat-Nya kepada seseorang yang jantan mau mengaku salah dan meminta maaf akan kesalahannya itu. Rasulullah saw. bersabda:

Maka, bukan suatu aib dan cela bila kita mengaku salah dan meminta maaf. Bukan merendahkan diri bila kita mengaku khilaf pada sesama. Bahkan semua itu akan mendatangkan curahan rahmat Allah pada diri ini. Bahkan semua itu akan melahirkan cinta-Nya kepada kita.

Jangan sampai dosa itu kita bawa mati. Sebab biayanya akan didebitkan dari tabungan amal kita. Bahkan andai saldo amal baik kita sudah habis tanpa sisa, maka sebagai ganti kezaliman kita di dunia yang belum kita minta kehalalannya, dosa orang yang kita zalimi akan dialihkan menjadi tanggungan kita.

Sungguh celakalah kita bila sampai bernasib seperti itu. Sebab ratapan sudah tak berguna. Penyesalan sudah tanpa daya. Untuk itu manfaatkanlah moment lebaran ini sebagai waktu yang tepat untuk bisa saling bermaafan antara umat islam semua.

Sedangkan adanya lafadz “Minal A’idin Wal Faidziin” itu berasal dari lafadz ” Ja’alnallohu Waiyyakum Minala’idziin Wal Faiziin” Sebagaimana redaksinya berikut ini.

من العائدين والفائزين  Asalnya جعلنا الله واياكم من العائدين والفائزين

Artinya: “Semoga Allah menjadikan kami dan kamu semua dari golongan yang kembali fitrah/suci dan golongan yang berbahagia.”

Dari keterangan redaksi di atas itu bisa disimpulkan bahwa saling bermaafan baik saat lebaran maupun di luar lebaran itu sangat di anjurkan sekali. Apalagi di hari kemenangan ini yang sudah barang tentu nilai halal bihalal lebih istimewa dan bermakna lagi.

Wallohu A’lamu Bishowaab.
Semoga Bermanfaat.