Tinjauan Fiqih Mengenai Hukum Bitcoin Di Jadikan Sebagai Alat Tukar Pembayaran

Tinjauan Fiqih Mengenai Hukum Bitcoin Di Jadikan Sebagai Alat Tukar Pembayaran

Almunawwar.or.id – Di jaman era digital yang semakin maju dan berkembang ini banyak cara ataupun peralatan khusus untuk menggantikan keumuman sebuah fungsi yang terdapat pada sebuah objek, seperti di kala bitcoin di jadikan sebagai alat tukar pembayaran (pengganti uang konvensional).

Dimana legalitas dari pemberlakuan bitcoin di beberapa di dunia memang bermacam-macam, ada yang memperbolehkan, menyaratkan bahkan ada juga yang tidak memperbolehkan penggunaannya karena memang banyak resiko dan dampak bagi si pemilik dari pada penggunaan bitcoin tersebut.

Bitcoin merupakan sebuah uang elektronik yang di buat pada tahun 2009 oleh Satoshi Nakamoto. Nama tersebut juga dikaitkan dengan perangkat lunak sumber terbuka yang dia rancang, dan juga menggunakan jaringan peer-ke-peer tanpa penyimpanan terpusat atau administrator tunggal di mana Departemen Keuangan Amerika Serikat menyebut bitcoin sebuah mata uang yang terdesentralisasi, seperti yang terlansir dalam situs resmi wikipedia indonesia.

Nah di tengah-tengah masyarakat modern seperti sekarang ini tentu keefektifan yang di timbulkan juga di dapatkan dari sebuah alat itu sangat berpengaruh sekali, terlepas dari keuntungan dan kerugian yang mungkin di dapatkan dari penggunaannya tersebut.

Dan memang secara fluktatif, Uang digital cryptocurrency/bitcoin ‎‎(btc) sangat besar sekali peluangnya jika di banding dengan penggunaan uang konvensional sebagaimana yang sudah lumrah dan lazim di gunakan saat ini, Sehingga sangat pantas sekali apabila permasalahan seperti ini sangat booming di bicarakan.

Sebab terdapat keuntungan dan juga mungkin kerugian ketika berinvestasi dengan menjadikan Bitcoin sendiri sebagai alat tukar utamanya dalam melakukan transaksi ataupun sistem perekonomian lainnya, sesuai dengan kebijakan hukum yang berlaku di sebuah negara ataupun tempat dimana si pemilik bitcoin tersebut berdomisili.

Dari dinamika tersebut tentunya kita sebagai umat islam perlu mengetahui sekaligus mencermati dampak manfaat juga madharat dari penggunaannya, terutama jangan sampai keluar dari pada sistem muamalah syariah yang telah di atur dalam ilmu fiqih. Sehingga muncullah tiga pertanyaan penting mengenai kebijakan dalam penggunaan bitcoin yaitu :

1. Bagaimana hukum penggunaan Bitcoin sebagai alat tukar atau alat pembayaran?

الأشباه والنظائر ص 327 ( لجلال الدين السيوطي الشافعي )
خاتمة: في ضبط المال والمتمول. أما المال, فقال الشافعي: لا يقع اسم مال إلا على ما له قيمة يباع بها وتلزم متلفه, وإن قلت وما لا يطرحه الناس, مثل الفلس وما أشبه ذلك انتهى. وأما المتمول: فذكر الإمام له في باب اللقطة ضابطين: أحدهما: أن كل ما يقدر له أثر في النفع فهو متمول, وكل ما لا يظهر له أثر في الانتفاع فهو لقلته خارج عما يتمول. الثاني: أن المتمول هو الذي تعرض له قيمة عند غلاء الأسعار. والخارج عن المتمول: هو الذي لا يعرض فيه ذلك

Jawabannya : “Menurut fiqh, bitcoin tergolong harta virtual menyerupai dain (piutang). Dengan demikian, bitcoin dapat dijadikan sebagai alat transaksi yang sah dengan proses istibdâl (mengganti piutang dalam bentuk lain)”, referensi lainnya bisa di lihat dari pada keterangan berikut ini :

A. نهاية المطلب في دراية المذهب ج 5 ص 495 (لإمام الحرمين الشافعي)
B. حاشية الترمسى ج 4 ص 29 – 30 (للشيخ محمد محفوظ الترمسي الشافعي)
C. الأشباه والنظائر ص 330 ( لجلال الدين السيوطي الشافعي )
D. نهاية المطلب في دراية المذهب ج 5 ص 194-195 (لإمام الحرمين الشافعي)

2. Bagaimankah hukum melakukan investasi pada bitcoin dalam pandangan Islam?

مشورات اجتماعية صـ 77- 76 (للدكتور محمد سعيد رمضان البويطي)
تباع عندنا بطاقات للدخول الى الملاعب بسعر زهيد, و عليها عرض مغري و هو أن االبطاقاة فيها ثلاثة أجزاء جزء للدخول للملعب والجزء الأخر ( كوبون سحب على سيارة ) والثالث منطقة مغطاة قد اربح فيها 100 دينار أو أكثر فما حكم السحوبات والجزء المخفي الذي قد أربح منه مالا ؟ هذا أسلوب من أساليب الميسر, الذي حرمه الله عز وجل. والقاعدة فيه أن كل مال يدفعه الانسان لقاء فائدة أو هدية أو جائزة مالية, لا يدري هل سينالها أم لا. فهو تعامل محرم لأنه داخل في معنى الميسر

Jawabannya : “Karena nilai tukar bitcoin sangat fluktuatif yang mengakibatkan keuntungan dan kerugian dalam berinvestasi bitcoin tidak pasti, maka hukum investasinya adalah haram dan tidak sah”, Ibaraot dan referensi lainnya bisa di lihat dan di telaah kembali pada keterangan berikut ini :

A. مع الناس مشورات وفتاوى ج 2 ص 49 (للدكتور محمد سعيد رمضان البويطي)
B. المركز الإعلامي بدار الإفتاء المصرية 1-1-2018
C. تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي ج 4 صـ 250

3. Bagaimanakah status uang keuntungan yang di dapatkan saat berinvestasi pada bitcoin dalam pandangan Islam?

الأشباه والنظائر للسبكي ج 1 صـ 294
كل تصرف يقع من المشتري شراء فاسدا فهو كتصرف الغاصب والعين في يده كالمغصوب عند الغاصب اهـ

Jawabannya : “Berdasarkan jawaban pertanyaan kedua, maka status uang keuntungan adalah tetap menjadi milik orang lain (pembeli) dan tidak bisa dimiliki”, Ibarot dan referensi lainnya bisa di lihat pada : فتاوى الرملي ج 2 صـ 470

Spekulasi yang terdapat pada permasalahan serta jawaban dari pada Bitcoin sendiri itu sesuai dengan hasil bahstusl masail yang di selenggarakan pada tanggal 3-4 Jumadil Akhir 1439 H / 19-20 Pebruari 2018 M oleh para santri se- Jawa dan Madura yang bertempat di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id