Tinjauan Prospek Keadilan Ekonomi Dalam Kajian Islam Menurut Imam Al Ghazali

Tinjauan Prospek Keadilan Ekonomi Dalam Kajian Islam Menurut Imam Al Ghazali

Almunawwar.or.id – Sudah sepatutnya umat islam menjadi ledaer dalam segi pengembangan perekonomian yang menunjang ke semua aspek kehidupan, karena hal tersebut akan mengacu pada nilai kesenjangan kehidupan masyarakat luas sehingga sangat di butuhkan sebuah arahan mekanisme perekonomian yang jelas sesuai dengan ajaran syari’at islam.

Untuk itu lebih jelas mengenai pemaparan masalah perekonomian itu merupakan persoalan yang fundamentalis bagi semua kalangan, terlebih kestabilan ekonomi merupakan bagian penting untuk lebih mensejahterakan taraf hidup banyak orang selama ini.

Dalam artian semakin mampunya menguasai sistem perekonomian tersebut yang di kembangkan melalui berbagai macam kecanggihan media saat ini, semakin besar pula peluang umat islam untuk bisa memimpin sekaligus mengendalkan salah satu hal yang menjadi sumber kehidupan tersebut.

Namun di balik itu penting kiranya untuk lebih mengetahui sebuah keadilan dalam ekonomi, jangan sampai menguntungkan sebelah pihak atau malah justru merugikan pihak lainnya. Dimana konseskuensi adil dalam ekonomi merupakan landasan yang terlahirkan dari tujuan sebuah transaksi menurut kajian islam.

Karena puncaknya sebuah transaksi tersebut terletak dari adanya kerelaan dan keridhoan di antara kedua belah pihak yang melakukan proses transaksi tersebut, baik yang di lakuakn secara langsung ataupun melalui sebuah fasilitas tertentu yang sangat memungkinkan untuk bisa melakukannya.

Untuk itu adanya perihal mengenai keadilan dalam bidang perekonomian seperti yang telah di jelaskan oleh seorang Ulama terkenal yaitu Imam Al Ghazali, setidaknya itu akan memberikan kepastian dari pengembangan khusus mengenai keadilan dalam sebuah perkonomian dalam kajian Islam.

Keadilan Ekonomi dalam Islam Menurut Imam al-Ghazali
Ekonomi Islam pada dasarnya dibangun berdasarkan sistem ekonomi pasar. Anda bisa lihat kembali kitab fiqih. Pasal pertama dalam muamalah selalu berbicara soal jual beli (bai‘) yang berisikan penjelasan tentang syarat dan rukun jual beli, serta pembagian jual beli apakah sah atau tidak dilihat dari sisi akad dan barang. Menurut al-Ghazali, krisis moneter terjadi karena hal berikut:

وكل من عامل معاملة الربا على الدرهم والدنانير فقد كفر النعمة وظلم لأنهما خلقا لغيرهما لالنفسهما إذ لاغرض في عينهما فإذا اتجر في عينهما فقد اتخذهما مقصودا على خلاف وضع الحكمة إذ طلب النقود لغير ما وضع له ظلم وكموقع المرآة من الألوان فأما من معه نقد فلو جاز له أن يبيعه بالنقد فيتخذ التعامل على النقد غاية عمله فيبقى النقد مقيدا عنده وينزل منزلة المكنوز

Artinya: “Setiap orang yang melakukan muamalah riba (pertukaran uang) atas (mata uang) dirham dan dinar maka sesungguhnya ia telah kufur nikmat dan telah berbuat dhalim karena keduanya diciptakan bukan untuk ditukarkan dengan selain keduanya dan bukan untuk sesamanya. Hal ini mengingat keduanya bukan untuk tujuan ‘ain-nya, maka dari itu apabila keduanya diperdagangkan, maka sama artinya dengan telah memperlakukannya tidak sebagaimana dimaksud sebelumnya. Oleh karena itulah, maka memperlakukan keduanya tidak sebagaimana fungsinya merupakan sikap dhalim. Ibarat cermin yang merefleksikan warna-warna, demikianlah seseorang yang bersamanya sebuah mata uang. Apabila ia diperbolehkan untuk menjual uang, padahal uang menjadi perantara muamalahnya sehari-hari, jadilah kemudian uang yang beredar menjadi terbatas. (Al-Ghazali, Ihyâ Ulûm al-Dîn, juz 4, Beirut: Dâr al-Fikr, tt.: 94)

Al-Ghazali mengibaratkan uang layaknya sebuah cermin. Cermin tidak punya warna namun dapat merefleksikan semua warna. Jika cermin dijual, maka tidak akan terefleksi lagi warna-warna. Uang bukanlah komoditas sehingga tidak dapat diperjualbelikan. Memperjualbelikan uang adalah ibarat memenjarakannya, sebab hal ini akan mengurangi jumlah yang beredar dan berfungsi sebagai alat tukar. Efeknya kemudian adalah timbul krisis.

Singkatnya bahwa perdagangan mata uang merupakan pangkal dari krisis. Namun, apakah benar bahwa krisis moneter dapat berlaku sebagai tolok ukur ketidakadilan pasar? Menurut al-Ghazali, pasar memiliki tabiat dasar yang bersifat alami. Ia tidak dipengaruhi oleh jumlah uang yang beredar, melainkan dipengaruhi oleh faktor distribusi barang dan permintaan.

Kurang lebihnya al-Ghazali menjelaskan bahwa bisa saja petani hidup tanpa keberadaan alat-alat pertanian di sisinya. Namun hal itu tidak dapat dilakukan oleh tukang kayu yang tidak memiliki lahan pertanian. Kebutuhan imbal balik untuk saling melengkapi antara tukang kayu dan petani merupakan akar dari pasar. Tabiat ini akan selalu ada seiring manusia tidak dapat memenuhi beberapa kebutuhannya sendiri.

Pada prinsipnya, keadilan ekonomi tidak dipengaruhi oleh peredaran keuangan, melainkan oleh tabiat dasar manusia yang membentuk pasar. Tabiat pasar ini akan dengan sendirinya terbentuk seiring ruang dan waktu yang memisahkan antara produsen dan konsumen.

Dua konsep dasar yang menjadi sumber dari pada pengembangan sebuah perekonomian tersebut yang du terpakn oleh Al Ghazali sendiri yaitu terletak pada dasar model pemikiran ekonomi yang ditawarkan al-Ghazali adalah pemikiran yang bercirikan dab berlandaskan pada :

1. Dimensi ilahiyah (ketuhanan)
artinya bertolak dari Allah, bertujuan akhir kepada Allah (akhirah) dan menggunakan sarana tidak lepas dari norma dan etika syariah. Kedua, Dimensi Insaniah (kemanusian), artinya ekonomi al-Ghazali berupaya untuk menciptakan kesejahteraan ummat (maslahah).

Hal ini, tidak lepas dari latar belakang dua faktor, sehingga membentuk pemikiran ekonomi yang al-Ghazali sendiri yaitu, pertama, faktor intern (dari dalam) al-Ghazali banyak dipengaruhi oleh latar belakang pendidikannya sendiri, antara lain berguru pada beberapa guru dan para tokoh agama yang bergabung di dalamnya adalah ulama’ fiqh dan teolog. Hal ini, terlihat dari pendapatnya yang pasti sesuai dengan setting sosio kultural tersebut akan mewarnai masing-masing pendapat para tokoh yang telah banyak mewarnai pemikiran al-Ghazali.

2. Faktor ekstern (dari luar)
Al-Ghazali yaitu sistem pemerintahan yang otonom, dan terjadinya pemberontakan-pemberontakan masyarakat terhadap kebijakan-kebijakan pemerintahan yang sering mengabaikan hak-hak masyarakat serta menindas kaum lemah. Al-Ghazali tumbuh dan berkembang pada saat situasi sosial, politik, dan ekonomi yang kurang stabil, karena pada saat itu kekuasaan Abbasyiah laksana boneka yang di setir langsung dinasti Saljuk.

Jadi, dalam mewujudkan keadilan pasar, maka peran pokok keempat rukun ekonomi pasar di atas, merupakan sarana pokok yang mutlak diusahakan. Semakin kecil hambatan yang menghalangi sampainya distribusi barang ke konsumen, maka semakin kecil pula jurang terjal ketidakadilan bisa dikurangi.

Demikianlah penuturan dan pemaparan mengani sistem dan konsep dasar dari berprilaku adil dalam menjalankan stabilitas sebuah perekonomian menurut Imam Al Ghazali.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
nu.or.id