Tinjauan Seputar Niat Puasa Ramadhan Menurut Persepsi 4 Ulama Madzhab

Tinjauan Seputar Niat Puasa Ramadhan Menurut Persepsi 4 Ulama Madzhab

Almunawwar.or.id – Ketentuan yang berlaku dalam pelaksanaan tata cara ibadah terutama yang bersifatnya wajib itu sangat berpenagruh sekali dari pengucapan niatnya, karena salah menempatkan niat dan timengnya (waktu dan tempat pengucapannya) maka ibadah tersebut tidak sah menurut fiqh.

Dari hal inilah para Ulama khususnya Ulama madzhab yang empat itu memberikan pandangannya tentang kedudukan niat seperti yang di laksanakan pada bulan suci ramadhan, Dimana dalam hal ini tidak menutup kemungkinan adanya perbedaan dalam segi pelaksanaan pengucapan niat tersebut.

Meskipun secara hakikatnya itu tertuju pada sebuah ibadah puasa ramadhan, namun untuk lebih memperjelas kedudukan hukunya tersebut maka para Ulama itu memberikan pandangannya sesuai dengan dalil dan ilmu yang bersumber pada keterangan yang terdapat pada Alquran dan Al hadits.

Lalu bagaimana penjelasan tentang pendapat tinjauan niat puasa ramadhan menurut keempat ima madzhab tadi? Berikut uraiannnya berdasarkan kajian-kajian ilmu fiqih,

Jumhur ulama menggmbarkan kewajiban niat puasa Ramadhan dilaksanakan umat Islam setiap malamnya. Artinya, umat Islam harus melakukan niat pada setiap malam ketika hendak berpuasa besoknya. Satu niat hanya berlaku untuk puasa sekali, yakni puasa di pagi harinya.

Argumen jumhur ulama adalah karena setiap hari berpuasa merupakan ibadah tersendiri. Satu hari dengan hari lainnya terhitung sendiri-sendiri. Hal itu juga berlaku ketika seseorang yang batal puasanya di suatu hari, maka hari-hari yang lainnya tidak ikut batal. Hal itu, menurut jumhur ulama, merupakan bukti bahwa masing-masing hari itu adalah ibadah yang terpisah-pisah dan tidak satu paket yang menyatu.

Imam as-Sarakhsi dalam kitab al-Mabsuth menjelaskan, tiap hari puasa membutuhkan niat tersendiri. Beliau merupakan salah satu ulama Madzhab Hanafiyah (w. 483 H).

أن صوم كل يوم عبادة على حدة ألا ترى أن فساد البعض لا يمنع صحة ما بقي وأنه يتخلل بين الأيام زمان لا يقبل الصوم، وهو الليل، وإن انعدمت الأهلية في بعض الأيام لا يمنع تقرّر الأهلية فيما بقي فكانت بمنزلة صلوات مختلفة فيستدعي كلّ واحد منهما نيةً على حدة

“puasa tiap harinya merupakan satu ibadah yang berdiri sendiri. Bukankah batalnya sebagian itu tidak menghalangi bagian yang lain? Dan diantara har-hari itu terselip masa yang tidak boleh berpuasa yaitu malam. Bila hilang ahliyah pada sebagian hari tidak menghalangi ahliyah di bagian yang lain. Maka hari-hari puasa itu seperti shalat-shalat yang berbeda. Tiap satu hari puasa membutuhkan satu niat tersendiri”.

Imam Ibnu Qudamah dari Madzhab Hanabilah mengatakan dalam kitab al-Mughni, wajib melakukan niat pada tiap malamnya. Sebab, satu hari dengan hari lainnya tidak saling merusak.

ولنا أنه صوم واجب فوجب أن ينوي كل يوم من ليلته، كالقضاء. ولأن هذه الأيام عبادات لا يفسد بعضها بفساد بعض ويتخللها ما ينافيها

“Bagi kami itu adalah puasa wajib maka wajib berniat untuk tiap hari pada malamnya seperti puasa qadha’. Dan karena hari-hari ini merupakan ibadah yang tidak saling merusak satu dengan lainnya, dan diselingi hal-hal yang menghalanginya”.

Sedangkan Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab menjelaskan, kewajiban niat puasa Ramadhan dilakukan tiap malamnya. Imam Nawawi adalah seorang pembesar Madzhab Syafi’i.

تجب النية كل يومٍ سواء رمضان وغيره وهذا لا خلاف فيه عندنا فلو نوى في أول ليلةٍ من رمضان صوم الشهر كله لم تصح هذه النية لغير اليوم الأول

“Wajib niat untuk tiap-tiap hari, baik Ramadhan atau lainnya. Tidak ada perbedaan pendapat dalam mazhab kami. Bila seseorang berniat di awal malam Ramadhan untuk puasa sebulan penuh, niatnya tidak sah kecuali hanya untuk niat malam pertama saja”.

Berbeda dengan kalangan Madzhab Malikiyah. Di dalam madzhab malikiyah, tidak ada kewajiban niat dilakukan setiap malamnya. Madzhab Malikiyah memperbolehkan niat puasa satu kali untuk satu bulan penuh.

Ulama Madzhab Malikiyah berpendapat bahwa tidak ada dalil nash yang mewajibkan niat setiap malam. Bahkan menurut mereka, Surat al-Baqarah ayat 185 secara jelas memerintahkan untuk berniat puasa itu untuk satu bulan secara langsung, tidak diniatkan setiap harinya.

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Artinya : “Barangsiapa diantara kalian yang menyaksikan bulan (Ramadhan), maka berpuasalah…” (QS. al-Baqarah: 185)

Dalam pandangan ulama Madzhab Malikiyah, ayat di atas menjelaskan bawah ketika seseorang melihat bulan (Ramadhan), maka baginya untuk berpuasa. Penyebutan kata bulan di dalam Surat al-Baqarah ayat 185 mengisyaratkan sebuah rentan waktu. Sehingg, menurut Madzhab Malikiyah berpuasa sejak hari awal hingga hari terakhir dalam bulan itu merupakan sebuah paket ibadah yang menyatu.

Imam Ibnu Abdil Bar dalam kitab al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah menjelaskan, niat puasa Ramadhan cukup dilakukan pada awal puasa dan tidak harus mengulanginya di setiap harinya.

فتجزئه النية في أول ذلك كله دون تجديد نية لكل ليلة منه عند مالك

Artinya : “”Dibolehkan niat pada awalnya saja tanpa harus memperbaharui niat pada tiap malamnya menurut Imam Malik”.

Perbedaan pandangan ulama fikih terkait pelaksanaan niat puasa Ramadhan merupakan keberkahan bagi umat Islam. Maka, terkadang kita menyaksikan pada hari pertama puasa, malah harinya orang-orang melafadzkan niat untuk satu bulan penuh. Akan tetapi mereka tetap melakukan niat puasa tiap malamnya.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
dutaislam.com