Ulasan Penting Daripada Hukum Menyemir Rambut Bagi Seorang Muslim

Ulasan Penting Daripada Hukum Menyemir Rambut Bagi Seorang Muslim

Almunawwar.or.id – Ada ketentuan tertentu dalam menggunakan dan memakai sesuatu yang memang seolah sudah menjadi hal yang lumrah di masyarakat modern saat ini seperti mengecat rambut dengan berbagai warna pilihan terutama warna hitam, Yang secara menyeluruh hal tersebut sudah ada dalam konteks kajian islam khususnya dalam ilmu fiqih.

Sehingga nampak seolah hal tersebut sudah menjadi sisi ataupun bagian hidup masyarakat modern seperti sekarang ini, selain menjadi kepuasan tersendiri, cara tersebut merupakan salah satu alasan bagi mereka untuk memenuhi tuntutan gaya hidup ataupun tuntutan keprofesionalan dalam bidang kerja misalnya.

Akan tetapi secara pemahaman dasar itu kiranya penting untuk lebih mengetahui tentang di perbolehkan dan tidaknya menyemir rambut bagi seorang muslim. Dan tentunya ini tidak lepas dari maksud dan alasan tertentu mengapa cara tersebut bisa dan tidaknya dilakukan oleh seorang muslim.

Nah dalam hal ini terdapat sebuah penerangan dan penjelasan mengenai kebiasaan tersebut, sebagaimana yang di terangkan dan di kisahkan dalam sebuah hadits dengan redaksinya sebagai berikut:

غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ

Artinya : “Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam.” (HR. Muslim).

Lebih tepatnya hadits ini di ucapkan oleh baginda Rasululloh S.A.W Pada saat hari penaklukan Makkah terjadi, Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) datang dalam keadaan kepala dan jenggotnya telah memutih (seperti kapas, artinya beliau telah beruban). Sebagaimana yang di riwayatkan dari Dari Jabir ra.

Berdasarkan penerangan hadits tadi, maka para ulama fiqih khususnya dari kalangan Syafi’iyyah memberikan pendapatnya bahwa ” unsur pelarangan ini karena dikatagorikan TAGHYIIRUL KHILQOH (merubah penciptaan Allah) terkecuali bagi Wanita yang telah menikah yang bertujuan khusus untuk menyenangkan hati suaminya dan atas izin suaminya maka yang seperti ini diperbolehkan.

Seperti halnya malah disunnahkan bagi wanita untuk mewarnai kuku tangan dan kakinya bila suaminya memang suka dengan hal yang demikian. Hal ini tertuang pada isi surah yang ada pada kitab (Itsmid al’Aini halaman 78).

Terlebih khusus untuk mengecat atau menyemir rambut dengan warna hitam itu tidak diperbolehkan karena itu justru menyerupai kaum-kaum tertentu, sebagaimana yang telah di terangkan dalanm hadits “Pada akhir zaman nanti akan muncul suatu kaum yang bersemir dengan warna hitam seperti tembolok merpati. Mereka itu tidak akan mencium bau surga.” (HR. Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Hibban dalam shahihnya, dan Al Hakim. Al Hakim”).

Dalam hal ini terdapat penjelasan mengenai warna hitam yang di maksud yaitu warna hitam asli bukan hasil dari warna campuran, Namun untuk kehatian-hatian sebaiknya hal tersebut di hindari dan jangan dilakukan terkecuali bagi:

1. Bagi wanita yang telah menikah yang bertujuan khusus untuk menyenangkan hati suaminya dan atas izin suaminya maka yang seperti ini diperbolehkan.

2. Lelaki yang bertujuan untuk Irhaab Al’Aduww (memberikan rasa gentar pada musuh islam dimedan perang) seperti yang pernah dilakukan oleh sahabat Utsman, Abi dujanaah, ‘Uqbah bin ‘Aamir, Hasan Husen dll hanya karena peperangan dizaman ini sudah tidak ada berarti alasan diperkenankannya dengan sendirinya juga tidak ada. Keterangan dalam Syarh Annawaawy ala Muslim 14/80.

Bersumber pada sebuah hadits: “Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak menyemir uban mereka, maka selisilah mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi, HR. Bukhari dan Muslim).

Penjelasan mengenai hadits ini adalah jangalah meniru ataupun menyerupai kaum nashrani dan yahudi, salah satunya dengan membedakan warna pada rambut selain warna hitam. Sebab dalam hadits lain menyebutkan bahwa:

من تشبه بقوم فهو منهم

Artinya: “barang siapa menyerupai suatu kaum berati menjadi bagiannya.

Lalu bagaimana jika menyemir dengan warna selain warna hitam apakah itu diperbolehkan atau sebaliknya? Adapun hukum daripada menyemir rambut dengan selain warna hitam itu terdapat dua hukum yang terperinci sebagai berikut:

1.Dalam kondisi rambut beruban dan pada saat model semir tersebut menyerupai (tasyabbuh) pada kebiasaan (adat) orang-orang fasik, maka hukum bersemir merah dan kuning bagi laki-laki atau wanita yang belum bersuami terjadi khilaf (perbedaan ulama). Menurut Imam Al-Ghazali hukumnya haram Dan menurut Imam ‘Izzuddin Ibnu ‘Abdissalam tetap diperbolehkan.

2.Dalam kondisi rambut tidak beruban, maka diperbolehkan bagi wanita yang sudah bersuami atas seijin suaminya. Namun bagi wanita yang belum bersuami terjadi khilaf (perbedaan ulama). Menurut sebagian ulama haram karena tasyabbuh bil fussaq (menyerupai kebiasaan orang-orang fasik). Dan menurut pendapat yang lain diperbolehkan apabila ada tujuan yang dibenarkan syariat (gharad shahih).

Walhasil hukum daripada menyemir ataupun mengecat rambut dengan warna hitam itu tidak diperbolehkan, sedangkan warna selain hitam itu terjadi perbedaan pendapat bagi seorang muslim, adapun argumentasinya sebagaimana yang telah dijelaskan pada kajian di atas tadi.

Sekedar catatan: Imam Al Ghozali menyatakan bila suatu kesunahan sudah menjadi sebuah TREND ahli bid’ah maka berarti tidak boleh dikerjakan lagi karena khawatir akan menyerupai mereka. Meskipun pendapat ini ditentang oleh sebagian ulama lain seperti Izzudin Ibn Abdis Salam.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id